AAC □ 11. Step yang Terbalik

Walaupun dongkol, tidak mungkin Melody tidak mengantarkan mamanya berangkat. Banyak pesan-pesan sang mama tapi tidak ada yang menempel di otaknya. Dan dia tidak protes saat mama kembali mengulangi berpesan banyak hal pada Zeff tentang dirinya.

Melody bersikap diam sejak berangkat dari rumah, sedih, dengan perasaan tak menentu seperti ini sejujurnya dia lebih tenang bila ada sang mama. Zeff nampaknya mengerti suasana hati Melody, tak membuka percakapan hingga tiba di toko.

Saat di parkiran khusus mobilnya, Melody turun dan mengambil dua tasnya yang selalu dia bawa ke mana-mana.

“Sini, aku bawain,” Zeff segera mengambil-alih.

“Aku aja… jangan sok ngurusin aku… emang aku bayi?” Melody menjawab dengan judes.

Dan kalimat beda sama tindakan, dia tidak menahan saat tangan Zeff mengambil dua tasnya, juga membiarkan saat Zeff menggenggam tangannya dan mengikuti langkah Zeff kemudian.

Tubuhnya otomatis menurut saja walau hati dongkol, Zeff terlalu menguasai dan dia kesulitan menolak, hanya mulutnya saja yang tetap konsisten mengatakan ketidaksukaannya.

Saat beberapa langkah berjalan Melody kemudian menyimpan senyum saat memandangi tasnya di lengan cowok itu, gimana sih menjabarkan seorang cowok tinggi berotot membawa tas wanita?

“Masuk dari toko sebelah aja Anya,” Melody tiba-tiba ingin menghindari karyawan di toko roti yang lumayan usil, mereka tak akan sungkan menggodanya, maklum dia termasuk boss yang cukup akrab dengan semua karyawannya, ini karena usia mereka yang tidak jauh berbeda.

“Itu toko siapa sih?” Zeff memutar lehernya mencari tatapan Melody.

“Tokoku lah,” Melody menjawab ringkas.

Zeff hanya mengangguk paham, lalu segera mengganti arah. Melody mengkuti selangkah di belakangnya.

Sebenarnya ini sama saja, dinding toko roti seluruhnya kaca, dan dia menangkap tatapan menggoda para karyawan, bahkan Stenly si kepala toko segera membuat pengumuman hingga beberapa karyawan terlihat berjejer di dekat dinding kaca dengan semua tatapan menggoda mereka.

Hal itu membuat Melody ingin secepatnya berlalu dari situ, Melody gantian mendahului Zeff, berusaha melepaskan tangan tapi tak bisa, akhirnya dia seperti menarik Zeff berjalan.

“Ini toko apa?” Tanya Zeff saat melihat nuansa toko yang jauh berbeda, hanya ada beberapa karyawan di dalam, berbeda dengan di toko sebelah.

“Toko souvenir,” singkat jawaban Melody sambil menarik Zeff supaya lebih cepat melangkah, mengabaikan sapaan dua karyawan lainnya di bagian depan karena grogi dengan adanya Zeff di belakangnya.

Mereka naik tangga yang tersembunyi di belakang rak besar berisi aneka ragam oleh-oleh, Melody hanya membalas sekedarnya sapaan Tuti, staff administrasi di toko ini, ingin cepat-cepat ke lantai dua.

Pastilah cerita tentang Zeff sudah beredar luas di kalangan karyawannya, dan Melody belum nyaman dengan itu, secara, umumnya karyawannya sudah mengenal Max.

“Berapa banyak karyawanmu Melow?” Zeff ingin tahu.

Jadi penasaran sekarang dengan usaha calon istri yang terlihat bagus dan berprospek, berjalan sambil mengamati area yang dilalui ternyata ada tangga lain untuk naik ke atas, dan ternyata keseluruhan unit ruko ini adalah milik Melody.

“Empat puluh enam orang, kenapa nanya-nanya?” Keluar lagi mode ketus Melody.

“Oww, bagus sih, bisnis kamu lancar kayaknya. Kamu hebat aku bilang sih,” Zeff malah memuji tidak terpengaruh dengan jawaban ketus Melody.

Melody tidak dapat menahan senyum kecilnya, senang dipuji ternyata. Zeff pun tersenyum, gadis ini sesuatu, bahkan pembawaannya pun tidak berubah dari yang ada di ingatannya.

Dulu dia pikir karena Melody belum dewasa dan baru lepas dari masa puber yang dipengaruhi perubahan hormon sehingga pembawaannya tidak suka mengalah, suka ketus dan sensi. Hal lain karena Melody dimanja banyak orang, ada orang tua, ada kakaknya, termasuk dirinya dan mami papinya.

Enam tahun berlalu, Melody tetap sama, moodnya yang gampang sekali berubah, menjadi sesuatu untuk Zeff. Mungkin semacam angin segar karena hubungan dengan Gracia seperti lautan tenang yang tidak pernah mengenal musim gelombang.

“Semalam kayaknya kita lewat di sebuah toko roti yang mirip dengan punya kamu, ini franchise?” Zeff meneruskan menggali info, mulai penasaran, cewek yang terlihat masih kekanakan ternyata bisa menekuni sebuah bisnis, pasti tidak main-main melihat performa dua toko di sini.

“Gak, itu punyaku juga,” kali ini menjawab dengan suara yang enak di telinga. Moodnya cepat berganti setelah dirinya dipuji.

“Wow… ada berapa toko roti milikmu?” Zeff masih ingin mendengarkan tentang Melody.

“Semua ada empat, tapi di sini pusatnya, roti sama kue dibuat di sini, toko souvenir satu doang tapi sejauh ini lumayan laris juga,” Melody menjelaskan dengan senyum bangga.

Zeff mangut-mangut, dalam hati benar-benar mengakui bahwa Melody yang tergolong masih muda tapi boleh dibilang sudah mampu menekuni bisnisnya dengan serius. Bisa dia pastikan omzetnya lumayan.

Di dalam kantornya, Melody belum sempat duduk, tangan memegang remote menghidupkan AC, tiba-tiba…

“Minum dulu, sayang,” Zeff menyodorkan sebuah botol air mineral yang sudah dibuka tutupnya.

“Sejak pagi aku perhatiin kamu gak minum sampai sekarang. Aku udah konfirmasi ke tante Lina, ternyata bener kamu males minum air putih,” lanjut Zeff sambil mendekatkan botol berniat membuat Melody minum dari tangannya.

Melody bengong sesaat, mulutnya menghindari botol… tapi akhirnya hanya bisa meneguk dengan hati menggerutu.

“Kamu gak sarapan juga tadi kan? Aku pesenin makan aja ya?” Zeff berkata sambil melap tepi bibir Melody dengan tissue.

Melody menatap Zeff dan jadi risih diladeni seperti ini, sangat berbahaya untuk dirinya, dia takut Zeff semakin banyak bersentuhan dengannya akan berakibat lain untuk dirinya.

“Anya… biasa aja kenapa sih? Ini terlalu aneh, terlalu canggung, tau gak? Tiba-tiba ada kamu ngerusuhi hidupku… coba kamu jadi aku, terus kamu aku perlakukan kayak gini, pasti kamu marah juga kan?” Melody mengeluh sekarang. Tidak bisa menghindari makhluk ini untuk hari-hari ke depan membuatnya bingung harus bagaimana.

Sesaat Zeff menatap Melody. Bukannya tak punya hati dan tidak peka terhadap perasaan Melody, tapi menghadapi sikap frontal Melody Zeff tidak ingin mengalah. Zeff memilih terus menyerang hingga Melody menyerah. Dari gesture tubuh Melody, Zeff bisa tahu bahwa kadang kala Melody tidak sungguh-sungguh menolak.

Karenanya Zeff menatap lekat-lekat wajah Melody, menahan sesuatu di hatinya saat tubuh otomatis mengikis jarak, ingin mencium bibir Mel saja, tapi logikanya segera menahan, maka tangannya saja yang terulur mengusap lembut kepala Melody.

“Aku minta maaf ya?” Lembut suara Zeff, “aku hanya sedang berusaha memperlakukan kamu sebagaimana seharusnya sebagai calon suamimu, maaf kalau perhatianku justru membuat kamu gak nyaman.”

Sesuatu datang menyerbu diri Melody, Zeff minta maaf padanya, itu sesuatu. Zeff menghargai kenyamanan dirinya, ini menenangkan sekali.

Melody kemudian menghindari tangan Zeff bukan karena jengkel tapi karena jengah dan grogi dengan posisi mereka yang terlalu intimm dan frasa ‘calon suami’ yang diucapkan Zeff. Sedikitnya dia mulai terbiasa dengan tindakan Zeff sebenarnya, tapi ada bagian dalam hati yang masih melarangnya untuk menikmati itu.

“Ini terlalu mendadak Zeff, menganggap kamu seperti itu, lagian aku masih pacar orang,” ujar Melody pelan, di otaknya masih tersistem bahwa dia itu cinta pada Max.

Zeff tersenyum, meskipun bibir itu beberapa kali menyatakan siapa yang dia cintai, tapi sejak dia datang dia tidak pernah mendengar Melody menyangkali statusnya sebagai calon suami dalam semua penolakan yang dia ucapkan.

“Oke-oke. Aku tahu, kamu ingin menyelesaikan hubungan dengan pacarmu baru kamu bisa menerimaku dengan benar, begitu kan?” Zeff masih bersuara lembut.

“Hahh? Maksudnya?” Melody terlonjak.

“Ya gak mungkin juga kita akan nikah terus kamu masih mempertahankan hubunganmu dengan Max,” ujar Zeff sambil menatap lembut tepat di bola mata Melody.

Melody diam. Secara resmi masih ada ikatan dengan Max belum ada kata putus terucap. Tetapi, mungkin hanya hatinya sendiri yang menganggap ikatan itu masih ada.

“Aku gak akan mendesakmu untuk melakukannya sekarang Mel… tapi aku mohon jangan musuhin aku lagi ya? Kita temenan kayak dulu aja deh, boleh?” Zeff berkata dengan nada yang sama.

Melody menatap geli mendengar kalimat Zeff, “jadi aneh malahan, Anya…”

“Aneh??” Kening Zeff terlipat.

“Iya, kamu bilang kamu memperlakukan aku sebagai calon istri, tapi minta kita temenan, aneh kan? Gak ada kali yang kayak kita di dunia ini, stepnya kebalik-balik gitu… lagian, emang kita pernah musuhan ya?”

Zeff tertawa senang, jelas ini adalah kalimat pengakuan dan penerimaan untuk dirinya, serasa semakin dekat saja mereka ke tujuan.

“Ya udah, gak usah temenan, langsung aja jadi calon istri, muaccch…” Sebuah ciuman bersarang di pipi Melody.

Bobol akhirnya kegemasan yang sudah ditahan Zeff karena tingkah Melody yang kadang seperti menerima di lain waktu menolak.

“Anyaaaaaa,” Melody mendorong Zeff dengan semua kekuatannya. “Aku bilang jangan macem-macem, kamu ihhh,” Melody meninju lengan Zeff karena tubuh Zeff tidak berpindah seinci pun.

Zeff meringis, gadis ini melakukannya dengan sekuat tenaga tanda emosinya naik lagi, tapi reaksi otomatis Zeff adalah tangannya terulur mengambil kepalan tangan Melody, muat di tangannya. Dan lagi-lagi setuhan Zeff membuat arus balik dalam aliran emosi Melody, tiba-tiba surut dan teduh, dia membiarkan tangannya dalam genggaman Zeff.

“Tanganku sakit, ihh, lenganmu terbuat dari apa?” Sungut Melody menyimpan resah karena ciuman Zeff masih terasa hangat.

Zeff tertawa lagi lalu mengusap bagian tangan Melody yang dipakai meninjunya tadi. Risih, Melody melepaskan diri segera bergerak berniat keluar ruangan saja. Lebih baik melihat kerjaan saja.

“Aku pakai mejamu ya? Banyak yang harus aku kerjakan,” Zeff segera duduk di balik meja kerja Melody tanpa persetujuan, itu tempat yang nyaman untuk bekerja, dia punya setumpuk file dan email yang dikirimkan sekretarisnya untuk dia pelajari.

Melody tidak menjawab hanya mengirim dengusan, Zeff menggeleng saja dengan senyum geli. Kalau saja hubungan sudah lebih baik, dia pasti melakukan sesuatu di wajah yang cemberut padanya sekarang.

Bagi Zeff hubungan ini telah dimulai walau masih terkendala dengan Melody yang terlihat masih gamang. Memang cara mereka memulai cukup aneh, benar kata Melody step mereka agak random (acak). Tidak ada pdkt, tidak ada naksir-naksir, tidak ada roman-roman, langsung masuk jalur cepat yaitu dia datang menggunakan embel-embel perjodohan otw menikah. Walau memang pernah ada suatu masa dia pernah menyukai Melody, tapi itu sudah lama berlalu.

Dan sesuatu sementara bekerja di dalam hatinya, dia hepi berada di dekat Melody, dia hepi bisa menikmati semua ekspresi Melody, setiap emosi yang ditunjukkan seolah segera memberitahu dirinya apa yang ada dalam hati gadis ini.

Dan sepertinya dia lebih menyukai hal yang seperti ini, karena tidak perlu menebak-nebak, dan ini sesuatu yang baru dalam hubungannya dengan seorang gadis, membuat dia excited dan bersemangat untuk terus melangkah. Dalam hati dia mantap bahwa dia sedang ada di jalur yang benar untuk masa depannya.

.

🐧🤍🐧

.

Terpopuler

Comments

Bunda Titin

Bunda Titin

pertahankan sikapmu Zeff,. buat Mel luluh dan menyadari klo dia pantas di perlakukan dngn lbh baik dan lbh di hargai kehadirannya...........pantas untuk di cintai dngn semestinya..........🙏😊

2024-04-15

0

Sri Astuti

Sri Astuti

ayo Zeff buat Mel takluk .. hapus nama Max dr pikiran dan hati Mel

2024-03-09

1

lihat semua
Episodes
1 AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2 AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3 AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4 AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5 AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6 AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7 AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8 AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9 AAC □ 9. Aku Norak
10 AAC □ 10. Otoritas
11 AAC □ 11. Step yang Terbalik
12 AAC □ 12. Lupakan Max
13 AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14 AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15 AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16 AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17 AAC □ 17. Kita Putus!!
18 AAC 18. Keadaan Hati
19 AAC □ 19. Go Public
20 AAC □ 20. Peran Baru
21 AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22 AAC □ 22. Kartu Hitam
23 AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24 AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25 AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26 AAC □ 26. Gracia
27 AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28 AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29 AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30 AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31 AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32 AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33 AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34 AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35 AAC □ 35. Romantis
36 AAC □ 36. Mulai Belajar
37 AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38 AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39 AAC □ 39. Kamu Banget
40 AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41 AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42 AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43 AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44 AAC □ 44. Genting dan Penting
45 AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46 AAC □ 46. Terorr Baru
47 AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48 AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49 AAC □ 49. Side B
50 AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51 AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52 AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53 AAC □ 53. Ciuman Pedas
54 AAC □ 54. Fitting
55 AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56 AAC □ 56. Si Bunglon
57 AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58 AAC □ 58. Memilih Cinta
Episodes

Updated 58 Episodes

1
AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2
AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3
AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4
AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5
AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6
AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7
AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8
AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9
AAC □ 9. Aku Norak
10
AAC □ 10. Otoritas
11
AAC □ 11. Step yang Terbalik
12
AAC □ 12. Lupakan Max
13
AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14
AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15
AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16
AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17
AAC □ 17. Kita Putus!!
18
AAC 18. Keadaan Hati
19
AAC □ 19. Go Public
20
AAC □ 20. Peran Baru
21
AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22
AAC □ 22. Kartu Hitam
23
AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24
AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25
AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26
AAC □ 26. Gracia
27
AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28
AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29
AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30
AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31
AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32
AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33
AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34
AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35
AAC □ 35. Romantis
36
AAC □ 36. Mulai Belajar
37
AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38
AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39
AAC □ 39. Kamu Banget
40
AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41
AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42
AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43
AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44
AAC □ 44. Genting dan Penting
45
AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46
AAC □ 46. Terorr Baru
47
AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48
AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49
AAC □ 49. Side B
50
AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51
AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52
AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53
AAC □ 53. Ciuman Pedas
54
AAC □ 54. Fitting
55
AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56
AAC □ 56. Si Bunglon
57
AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58
AAC □ 58. Memilih Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!