“Ma, kenapa sih mama minta si Anya datang terus tinggalnya harus di rumah kita?”
Pagi-pagi di meja makan bukannya mengucapkan salam Melody malahan langsung melayangkan kalimat keberatannya saat duduk berdua sang mama di meja makan.
“Biar kamu ada temennya kan?” Tegas mama memberi alasan.
“Ya ampun ma, ada bi Nah, bi Yemi, si Eky sama om Son di sini...” Melody menyebut semua asisten di rumah mereka.
Mama hanya mengeluarkan tatapan berisi otoritas terhadap sang anak. Melody melengos.
“Mama gak takut anak gadis ditinggalkan serumah bersama seorang pria?” Melody coba menakuti mamanya.
Melody tahu mamanya mengagungkan etika dan norma selama ini. Selalu berulang-ulang memberi nasehat tentang bagaimana dia harus menjaga dirinya sebagai anak gadis.
“Emang kalian mau melakukan apa?” Mata mama Lina menantang putrinya.
Bukannya tidak khawatir tentang itu, tapi dia percaya Zeff tidak akan bertingkah melampaui prinsip-prinsip yang mereka anut. Lagi pula dia tidak akan meninggalkan dua kekasih yang dimabuk cinta sehingga sulit untuk dipisahkan.
Justru Zeff sengaja didatangkan untuk 'menjinakkan' Melody. Memang sih awalnya Zeff yang meminta persetujuan untuk membuat hubungannya dengan Melody menjadi nyaman.
Melody salah tingkah lalu berkata gusar, “apa sih mama, gak lah, gak mungkin.”
Dalam hati muncul pemikiran bagaimana mengusir Zeff dari rumah? Melody bergidik karena adakalanya dia tidak bisa menghindari perlakuan Zeff padanya.
“Mama mungkin dua minggu di sana.” Mama Lina ingat harus memberitahu lama perjalanannya.
“Hahh? Kenapa lama sekali ma?” Akhir-akhir ini Melody banyak kali shock dengan semua kenyataan yang harus dia hadapi.
“Urusan pernikahan banyak Mel, Meisy minta bantuan mama, kan di sini mama lebih banyak menganggur,” balas mama kalem.
“Katanya uangnya banyak, orang kaya, kenapa gak pakai EO aja?” Sungut Melody.
“Udah ada EO tapi Meisy pengen turun tangan mengurusi beberapa hal sendiri,” jelas mama.
“Aneh kan ngerepotin diri sendiri padahal udah bayar EO.” Melody berkata dengan wajah manyun.
“Hussh, jangan mengata-ngatai calon mertuamu! Zeff anak satu-satunya, wajar kalau Meisy menginginkan pernikahan kalian sempurna.”
Melody mengerucutkan bibirnya.
Kalian yang menginginkannya, aku gak, batinnya meronta.
“Setelah mama balik, kamu berdua yang ke sana untuk pesen gaun pengantin,” lanjut mama.
“Hahh??? Astagaaa, ma… males ahh! Gak! Masa bodo dengan itu!” Intonasi putrinya meninggi.
Mama Lina tidak ingin mendebat anaknya sekarang, itu dia serahkan pada Zeff saja untuk membawa putrinya dengan caranya.
“Terus kue untuk tokoku, siapa yang buatin? Maaaa… kue mama udah banyak dicariin pelanggan,” rajuk Melody.
“Kamu buat sendiri ahh!” Mama menatap galak.
“Cita rasanya beda mama,” debat Melody walau tak berdaya di hadapan mamanya.
Mama hanya tersenyum menanggapi putrinya yang mencari-cari alasan untuk membatalkan perjalanannya. Pada dasarnya, kue buatannya hanya tambahan saja untuk toko anaknya.
Merenungkan semua hal, sebenarnya walau Melody melayangkan seribu protes, itu hanya perlawanan tak bermakna, dia sadar kata-katanya tidak akan menghentikan proses yang telah berlangsung.
Dia tidak akan bisa menghadapi empat orang yang punya keinginan kuat untuk pernikahan ini, para orang tua yang begitu antusias ditambah dengan sikap-sikap Zeff padanya.
Jika saja Max menginginkan pernikahan maka dia akan benar-benar melawan keinginan mereka tanpa takut, dia akan berjuang untuk rencana hidup masa depan yang dia inginkan.
“Selamat pagi tante Lina.” Zeff langsung duduk di sebelah Melody.
“Pagi Zeff,” mama menjawab ceria.
“Pagi, sayang...” Zeff mengusap sejenak bahu Melody, dibalas delikan tajam dengan bibir maju beberapa senti.
Sayang… sayang… menggelikan, norak!! Aura penuh wibawa sang mama yang sedang menatap dirinya membuat otot bicara Melody melemah, tidak jadi mengeluarkan gerutuan itu, hanya bisa bersungut dalam hati.
“Pagi-pagi udah bete aja mukanya, jelek tahu,” ujar Zeff menoel pipinya.
“Biarin! Kamu juga di rumah orang bangunnya telat, ihh… gak malu sama pemilik rumah,” desis Melody sinis.
“Ini bakal jadi rumahku juga… untuk apa malu sama calon istri?” Zeff menjawab tenang.
“Ihh… paling gak malu sama mama kan? Terus kalau rumah sendiri, bangun pagi-pagi ngepel, buang sampah, bersihin halaman, kerjain sesuatu,” balas Melody sembarangan sangking kesalnya.
Entah kenapa dia sejak awal tidak bisa protes tentang frasa calon istri yang sering diulang-ulang Zeff.
“Jangan ladeni dia Zeff, sarapan aja… Melody memang suka seenaknya ngomong,” tante Lina berkata dengan senyum pada calon menantu. Tidak ada istilah sungkan atau canggung, Zeff sudah dikenalnya sejak orok dan sekarang paling diinginkan jadi menantu.
“Gakpapa tante, malah aku suka liatin dia kayak gitu...” Zeff mengusap punggung Melody, dan itu membuat Melody diam sebab ada rasa asing merayap di punggung hingga ke hati, rasa yang ingin dia nikmati saja tanpa sanggahan.
Zeff menyimpan senyum melihat reaksi tubuh Melody. Dan tadi itu adalah pengakuan jujurnya, melihat Melody dengan emosi yang melompat-lompat dan bisa berganti dengan cepat menjadi sesuatu yang memberikan perasaan berbeda, sesuatu yang menggelitik hatinya.
Sebelum ini Zeff terbiasa dengan ketenangan wanitanya. Mengingat Gracia, dia adalah perempuan yang sangat terjaga emosi dan perkataannya, perempuan matang yang boleh dikata punya kecerdasan emosional yang tinggi. Dengan Zeff pun dia bisa mengendalikan emosinya dengan baik, hampir tidak pernah menunjukkan kelemahannya, hal ini yang paling menarik dalam diri Gracia.
Jika membandingkan, Melody sangat berbeda sejak pertama kali bertemu dirinya, tidak memusingkan bagaimana citranya di hadapan Zeff. Terang-terangan menolak dirinya dengan semua sikap ketus dan kasarnya, dengan penampilan yang seharusnya sangat tidak menarik untuk seorang gadis. Tapi entah kenapa sejak malam pertama berjumpa lagi, justru sisi ini yang membuat dia penasaran.
Memandangi sekarang saja, cewek di sampingnya terlihat sangat tidak peduli bagaimana harus berpenampilan di hadapan pria yang bakal jadi suami, rambut panjang yang selalu dicepol tanpa disisir, serta piyama kedodoran, kelihatan sekali milik pria. Jangan-jangan milik om Yan atau si Nada. Begitu berantakan.
Selanjutnya Zeff dan si calon mertua bercakap dengan lancarnya, antara lain meinggalkan pesan-pesan untuk menjaga dan mengawasi Melody, sekaligus meminta Zeff untuk memaklumi jika Melody bersikap menyebalkan, malahan seperti memberi otoritas pada Zeff melakukan sesuatu bila Melody bersikap kurang ajar.
Seolah mereka tidak peduli dengan sikap protes Melody yang nyata dalam ekspresinya dan sesekali menghentak-hentakkan kursi yang dia duduki sehingga berbunyi, sangat tidak suka dua orang di hadapannya seenaknya mengobrol tentang dirinya, menempatkan dia seperti anak kecil yang tidak tahu mengurus diri sendiri.
“Pokoknya tante percayakan Melody padamu Zeff, dijitak aja kepalanya kalau dia melawanmu,” pungkas mama Lina setelah menitip banyak pesan.
“Astagaaa mama??? Mama memberikan otoritas sebanyak itu pada orang asing?” Melody terkesiap.
“Memang sekarang Zeff masih kategori orang asing? Dia calon suamimu, Melody!” Mama menegaskan status Zeff lagi.
“Mulutnya memang suka sembarangan, tapi cuekin aja,” kali ini mama bicara dengan pandangan mengarah pada Zeff.
“Oke, siap tante.” Zeff tersenyum simpul untuk perkataan Melody.
Saat menoleh dan bertemu pandang dengan Melody Zeff mengangkat dua keningnya dengan mata membesar, seolah berkata, kamu ada di bawah kekuasaanku sekarang.
“Apa???” Melody balas melotot, “awas kamu macem-macem!” Melody mengancam dengan kepalan tangan kanannya terarah pada Zeff.
“Emang aku bisa apa, kamu galak gitu,” balas Zeff lalu tertawa geli.
“Tuh, lihat dia, umurnya udah mau dua puluh tujuh, tapi masih suka kekanakan. Tante yang salah manjain dia…” Tante Lina menggeleng melihat tingkah anaknya.
“Maaa? Siapa yang manja? Ihh mama ihh!!!” Melody berang lagi mama terus-menerus menekan dirinya.
Kehadiran Zeff di rumah ini segera membuat suasana pagi di meja makan mendadak berubah untuk Melody, membuat dia kehilangan selera untuk menikmati sarapannya, karena gelombang kekesalan terus bertambah besar.
“Tuh lihat kelakuannya… maaf ya, nanti bakal merepotkan kamu loh Zeff,” cerocos mama, seolah begitu senang membahas tentang Mel dengan calon menantu.
“Tenang tante, dengan senang hati aku bakal ngurusin dia, nanti aku bantuin tante manjain dia,” balas Zeff kalem.
Astagaaa, cowok ini? Emang bisa dia lakuin itu? Tapi dia mau manjain aku katanya?
Tidak bisa lagi menahan hati dengan situasi yang ada, Melody berdiri memilih menuju kamarnya di lantai atas, semua rasa datang dan pergi, kadang begitu kesal terhadap perlakuan dan perkataan Zeff, tapi kadang menyukai apa yang Zeff katakan dan lakukan. Kenapa dia jadi ambigu begini?
“Mandi Mel, anterin mama ke bandara sebelum kamu ke toko.” Mama Lina bicara di belakang anaknya.
“Minta calon menantu mama aja, aku males,” ketus Melody berteriak jengkel, padahal baru beberapa langkah berjalan.
“Ohh, jadi kamu udah mengakui Zeff menantu mama kan? Aduuh mama tenang sekarang, Mel.” Mama Lina berkata girang.
“Dia gak pernah menyangkali statusku kok tante… mulutnya aja yang menolak diriku, tapi sebenarnya hatinya gak,” timpal Zeff kemudian.
Melody terpancing, membalikkan badan dengan tatapan marah pada Zeff, tapi cowok itu tersenyum lebar padanya, diakhiri dengan mengedipkan mata kanannya.
“Dihhh… ganjen!”
Jengah, Melody meneruskan langkah sambil menghentakkan kaki. Apa benar hatinya tidak menolak Zeff lagi? Jujur memang dia kesulitan menghadapi Zeff padahal belum sehari Zeff di sini, cowok itu sangat mendominasi dalam semua tindakannya.
Di sisi lain, sebulan tanpa komunikasi tapi bayangan Max masih begitu menguasai pikirannya, masih sangat mengharapkan Max menghubunginya lagi, terlebih saat ini dia ingin mencurahkan semua kekesalannya. Tapi, seandainya pun Max menelpon apa dia bisa curhat? Sudah sejak lama dia tidak pernah lagi berbicara lebih dalam dengan Max.
Max, apa kita berakhir saja, apa aku harus mulai melupakan cintaku untukmu? Aku masih ingin menunggumu Max…
Hatinya terasa sakit, setiap kali harapan tentang Max melintas.
.
.
🐧
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Bunda Titin
ngabisin energi aj kamu Mel mikirin si Max yg bahkan inget sama kamu aj ga,. boro2 menghubungi inget aj ga Ita kan ?????
2024-04-14
0
ein
lupain maax
2024-03-09
0
Sri Astuti
buat apa mikirin orang yg ga mikir kamu Mel.. buang ke laut aja tuh si Max
2024-03-08
0