Ada hal yang begitu ingin dibagi Melody dengan teman-temannya, maka di rumah setelah membersihkan diri Melody terhubung dalam obrolan video call di ponsel dengan tiga temannya.
“Mel, udah go public dong, ciee yang mo nikah postingannya sweet banget,” Lindzy langsung heboh mengawali percakapan.
“Go public? Postingan apa? Aku iklan-iklan aja kan ada promo apa di toko,” Melody menjawab sedikit bingung, sejak siang dia tidak menggunakan ponselnya untuk hal-hal di luar pekerjaan.
“Aiihhh, calon suami dijadiin bintang iklan, mau pamer kan kamu, ciee yang calon suaminya ganteng abiszz...” Lindzy masih menggoda Melody dengan gaya randomnya di layar ponsel.
Melody segera membuka jendela baru di ponselnya mencari akun medsosnya, sementara tiga sahabatnya sambung mengobrol tentang maksud Lindzy. Melody kaget menemukan foto close up Zeff di instastory miliknya.
Astaga cowok ini, tadi alasannya mengambil foto selfie berdua karena diminta tante Meisy dan mama, memang sih gayanya seperti sedang mengiklankan roti, di tangannya ada roti yang sudah digigit setengah, tapi posisi mereka boleh dibilang cukup intimm dengan pipi Zeff yang berjarak hanya beberapa inci dari pipinya.
“Itu kerjaannya si Anya,” sungut Melody saat kembali ke layar vc mereka.
Tapi dibalik sungutannya sesungguhnya dia tidak keberatan tentang postingan itu. Jadi ingat tadi siang ponsel Zeff kehabisan baterei dan sempat menggunakan ponsel Melody menelpon sekretarisnya, mungkin saat itu Zeff iseng masuk ke akun ignya.
Cerita yang bergulir kemudian adalah tentang Zeff dan dirinya, godaan-godaan dilancarkan tiga sahabatnya, dan Melody tidak merasa itu sebagai gangguan lagi. Tapi jujur dia enggan untuk bergerak maju jika tentang perasaannya pada Zeff, dia tidak punya cinta, dan dia tidak ingin menikah tanpa cinta.
Saat nama Max disinggung…
“Ehh aku pengen cerita, hari ini Max ulang tahun, dia buat pesta di resto XXX, aku ke sana,” tak sabar Melody mulai cerita tentang peristiwa yang baru terjadi.
“Astagaaa?? Kamu bodoh atau apa sih? Kenapa di otak kamu cuma ada Max? Pasti kamu gak diundang deh, tapi kamu nekad pergi,” sambar Rahel segera naik spaning.
Lindzy hanya menyimak, sementara Nola tenang-tenang saja selain memang orangnya easy going dia lagi menggunakan masker di wajah.
“Ihhh, jangan marah-marah kenapa, denger dulu ceritaku,” Melody sedikitnya mengakui tadi dia memang nekad.
“Iyaaa, apa? Kalau itu tentang kamu membujuk Max lagi, aku beneran marah kali ini Mel,” Rahel memajukan bibirnya.
“Aku memang membujuk dia biar gak ngusir aku, aku bawain kado jam XXX…” Melody sekarang mau mengusili Rahel, terbawa kelakuan Zeff yang sering muncul usilnya.
“Asli, kamu emang bodoh, Mel… sangat bodoh! Itu barang mahal banget, mending kamu kasih ke Zeff, kenapa ngasih ke Max? Berapa banyak kamu habisin uangmu untuk dia, Mel? Sadar gak kamu royal banget menunjukkan cinta sementara si Max gak pernah memberi apapun kan?” Racau Rahel.
Jika divisualisasikan api bertanduk muncul di dua sisi kepala Rahel, sangat emosi karena kekerasan hati Melody. Rahel sambil menunjuk-nunjuk di layar ponsel, sangking menghayati marahnya Melody sampai menghindari layar ponselnya seolah telunjuk Rahel sedang menunjuk langsung jidatnya.
“Gak aku kasih kali, ihh… jahat deh, marahin aku. Dengerin dulu,” Melody tidak jadi meneruskan keusilannya mengganggu Rahel melihat reaksi temannya itu.
“Gak penting kali kamu ke sana, aku bener-bener marah!” Rahel belum puas.
“Iya, makanya dengerin aku. Kalian tahu kan, aku selalu ingin kepastian untuk apapun, aku ingin mendengar bahwa hubungan kami sudah berakhir, itu aja alasan aku ke sana, bukan pengen balikan kok,” Melody membela diri.
“Mel… Mel… sumpah baru kamu ya cewek yang pengen banget denger kata putus dari cowok. Kenapa harus seribet itu sih pikiran kamu? Kalau cowok itu udah menjauh, dia udah ngasih clue bahwa dirimu udah gak penting, tau gak? Gak usah menyiksa diri nungguin dia ngucapin kata putus, itu tanda kamu masih berharap untuk balikan,” Lindzy sekarang yang kasih ceramah.
“Aku beda, aku butuh kepastian bukan masih berharap. Jujur aku penasaran kenapa dia tiba-tiba udah gak sayang, apa penyebabnya?” Melody membantah tidak ingin dianggap masih berharap.
“Mel, berapa kali harus aku katakan bahwa Max itu gak bener-bener sayang kamu, itu sejak lama seperti itu bukan baru kejadian, penyebabnya ya mungkin ada cewek lain, ngerti gak?” Rahel geregetan pengen menonjok kepala Melody jika ada di hadapannya, gemas dengan cara Melody melihat Max, belum nampak perubahan berarti walau saat mencermati tidak terlihat lagi ada kesedihan di wajah itu.
“Iya juga sih, aku jadi yakin dia memang pacaran sama sekretarisnya, tapi aku malah kasihan sama si Gina itu,” ujar Melody.
“Aduuh Mel, kamu ajaib banget deh, selingkuhan dikasihani? Kalau aku sih, aku siram air cabe ke wajahnya,” geram Lindzy, tak paham cara berpikir Melody.
“Emang kasihan, dia lebih bodoh dari aku… bayangin, dia mau aja dijadiin selingkuhan, sering ngeliat aku sama Max berduaan kan, pasti dong sakit hati? Aku sih gak sakit hati karena gak tahu mereka punya hubungan. Terus ya… ini parah guys,” Melody cerita penuh semangat dan sengaja berhenti di akhir kalimat, ini hal yang berputar-putar di kepalanya sejak tadi.
“Parah apanya?” Lindzy menjadi tak sabar.
“Ini ihhh… aku bersyukur aku ke sana bareng Zeff, jadi aku lolos, ihhh,” Melody bergidik. Pengalaman tadi baru sekali ini terjadi.
“Ohh, kamu ke sana berdua Zeff, ohh bagus itu biar Max tahu bahwa dia bukan apa-apa, kamu mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik kan,” Rahel tersenyum lega, sebelum ini dia benar-benar gusar karena belum tahu semua cerita.
Pengganti? Zeff malahan mengaku aku adiknya? Sebeeel. Melody membatin gusar mengingat pengakuan Zeff tadi.
“Eh tapi, kamu lolos dari apa sih?” Timpal Lindzy.
“Itu, duuh mengerikan guys, kan ada teman Max namanya Jordan, aku gak kenal tapi si Anya ternyata kenal. Tau gak, di depan Max dia ciuman sama Gina, dibiarin sama si Max, herannya si Gina mau aja digituin,” Melody cerita dengan mimik antara kasihan bercampur rasa jijik dan tidak mengerti dengan kebodohan Gina.
“Astaga…” Nola.
“Serius? Kamu gak bohong kan?” Rahel.
“Ohmaigat? Beneran parah, gilaa!” Lindzy.
Tiga gadis itu sama-sama teriak di ponsel mereka. Melody otomatis menjauhkan ponselnya karena teriakan tiga sahabatnya memekakkan telinganya.
“Memang gilaa, heran deh, si Gina mau aja. Tadi pun aku hampir jadi mangsanya si Jordan, untung ada Zeff,” ungkapan Melody disertai rasa syukur dia masih dilindungi dari sesuatu yang jahat.
“Aduuh Mel, kamu tuh beruntung banget punya Zeff sekarang…”
“Beruntung?” Melody berkata sambil berpikir.
Keresahan dan kegalauan mengenai Max sudah berakhir, tapi muncul keresahan yang lain tentang Zeff.
Pria itu akan menjadi suaminya, usaha Zeff menjalin kedekatan dengan semua kepeduliannya selama beberapa waktu ini bukan sesuatu yang bisa dijadikan landasan untuk mulai mempercayai cowok itu.
Dia tak ingin Zeff jadi pelarian cintanya, dia ingin benar-benar jatuh cinta lebih dahulu, dan semua hal yang Zeff lakukan untuknya, kebersamaan mereka yang layaknya orang pacaran karena sesekali Zeff melakukan tindakan romantis untuknya, tidak bisa menstimulasi rasa di hati untuk menganggap Zeff istimewa.
Kata orang perasaan cinta bisa tumbuh perlahan ketika menjalin kebersamaan. Sejauh yang dia rasa perasaannya untuk Zeff tidak beranjak, tetap hambar.
Hingga lewat tengah malam cerita masih mengalir, membahas sesuatu yang di luar jangkauan pikiran mereka tentang perilaku orang tertentu yang melanggar nilai-nilai yang sesungguhnya perlu dijunjung tinggi.
.
.
🐧🐧🐧🐧
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sri Astuti
miris dgn kelakuan orang" macam Max, Jordan dan Gina
2024-03-16
0