AAC □ 17. Kita Putus!!

Di dalam restoran, semua area depan dipakai untuk acara ulang tahun, ada banyak undangan dan umumnya sedang menikmati hidangan pesta sambil mengobrol.

Melody mengambil napas berulang-ulang meredakan gelora dalam hatinya. Emosi masih bergemuruh di aliran darahnya karena Zeff dan sekarang ditambah debaran tentang seperti apa jika Max melihatnya.

Dari jauh Melody kemudian bisa melihat Max, ada Gina di samping. Melody segera melangkah ke sana tanpa berpikir lagi.

Kali ini dia seperti merasa punya kekuatan untuk menghadapi Max, ada untungnya Zeff membuatnya marah tadi karena sekarang yang dia rasakan di dada rasa marahnya beralih untuk Max, apalagi saat melihat betapa mesranya Max dan Gina saling menggenggam tangan.

Gina lebih dahulu menyadari kehadiran Melody, dan sengaja mencium bibir Max sekilas.

Huhh, pamer?? Melody menggerutu, dugaannya tidak salah. Hati terasa perih karena dia tidak pernah seintimm itu dengan Max, tapi rasa marah lebih mendominasi membuat dia ingin membuktikan sesuatu.

Saat semakin dekat, Melody berusaha membebaskan semua hal sambil menenangkan diri, ingin bersikap senatural mungkin dan menghadapi sebiasa mungkin.

Keuntungannya malam ini adalah bahwa banyak teman Max yang mengetahui hubungannya dengan Max, kedatangannya akan membuat orang punya pandangan berbeda soal Gina.

“Max… hai…” Melody sendiri kaget dia bisa tersenyum.

Max juga terlonjak, ada ekspresi tidak senang tapi beberapa detik memandangi Melody, dan ketahuan arah pandangnya kemudian, sekarang dia melepaskan dengan kasar genggaman tangan Gina serta mendorong memberi jarak.

“Sayang… aku pikir kamu lupa ulang tahunku, aku menunggumu sejak tadi…” Max tersenyum sangat manis lalu merentangkan dua tangannya.

Tiba-tiba Melody merasa jijik, dan dia tahu perasaannya telah selesai untuk Max. Dia tahu sekarang siapa dirinya untuk Max, karena mata itu berganti-ganti memandangi wajahnya dan benda yang ada di tangan Melody. Memang benda itu sengaja dia pegang di depan dadanya.

“Sayangg? Tidak memberikan aku ucapan?” Max berkata dengan suara semanis permen.

Melody mempertahankan senyuman sambil berusaha menyimpan marahnya sedapat mungkin, “banyak orang Max, nanti aja…”

Dalam hati dia tidak ingin lagi bersentuhan dengan cowok itu, dia sepakat dengan Zeff dan Rahel, lelaki ini memang brengsek.

Beberapa orang di sekeliling mulai memperhatikan, ada teman yang mengetahui siapa Melody, kemudian berujar, “ci Melody sih gak pengen pamer kemesraan, itu privacy kan ci Mel?”

“Hahaha, iya kak, itu sangat pribadi,” Melody menjawab dengan senyum gusar di wajahnya.

Dia bisa melihat wajah sinis Gina yang sekarang berdiri beberapa langkah dari Max, dan dia kemudian merasa ada yang lebih bodoh dari dirinya, karena Gina tak mampu bereaksi apapun meskipun terlihat sudah dibakar cemburu.

Melody menyimpan sinisnya untuk Gina, memilih tidak berurusan dengan Gina, untuk apa marah pada cewek yang tidak punya hati? Mungkin saja dia yang lebih dahulu merayu Max, dan biarkan orang brengsek bersama dengan orang brengsek. Kalau saja dia tidak berhasil mengubah pikirannya tentang Max mungkin dia akan mencakar gadis itu.

Yang ada di otak Melody sekarang adalah menyabarkan diri menunggu saat yang tepat untuk mengatakan putus.

“Wah bener kata orang-orang, gadis-gadis di sini cantik-cantik.” Seorang pria tampan datang mendekati dan tersenyum serta memandangi Melody dari atas ke bawah.

Melody kikuk dipandangi seperti itu, saat matanya memandangi Max, Melody seperti melihat mata Max mengirim sebuah isyarat pada pria itu.

“Iyalah bro, tidak rugi kan ke sini? Kamu bisa puas-puasin ditemenin cewek cantik,” Max menjawab.

“Hello, aku Jordan… kamu aku panggil princess ya, yaa… secepat ini kamu langsung jadi putri di hatiku,” sebuah perkataan bernada nakal dari mulut pria itu dengan sikap yang sangat tidak sopan.

Si Jordan segera mendekat dan mengambil tangan Melody, menggenggam bukannya mengajak bersalaman, menarik tubuh Melody merapat padanya.

Melody kaget langsung menarik paksa tangannya dan melangkah mundur. Mata melihat Max, dan tahu bahwa Max membiarkan itu.

“Oww, menarik, “ Jordan menyeringai.

Melody bingung harus melakukan apa. Blank, semua di luar dugaan, tadinya dia seperti berdiri di atas angin saat melihat Max dan Gina dia tidak merasa apa-apa, tinggal menunggu momen untuk serangan telaknya, tapi sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa.

“Ikut aku ya, sayang…” Tiba-tiba tangannya di tarik Max ke sebuah ruangan yang lebih privat, ada partisi yang memisahkan dari bagian depan restoran itu, dan di sini penerangan hanya remang-remang.

Melody mengikuti tidak bisa berpikir. Semakin bingung saat melihat di depannya si pria yang bernama Jordan sedang memagutt intimm bibir Gina, tangannya sedang merangkul ketat pinggang Gina. Mereka melakukan itu sambil berjalan. Melody menatap Max.

Ini apa? Bukannya Gina dengan Max? Melody menggelengkan kepala.

Semua semakin aneh, dia mulai merinding, belum pernah masuk hingga ke sini sebelumnya, di sini terasa menakutkan sekarang. Sesaat kemudian di sofa justru Max telah berada di samping Gina dan terlihat merangkul, sementara Jordan justru duduk di sampingnya.

Ketika tangan Jordan memeluk dirinya, Melody terperanjat dan segera sadar, ini tidak pada tempatnya. Secepatnya Melody melepaskan tangan Jordan dan berdiri, tapi tangannya justru ditangkap pria itu sehingga terduduk lagi.

“Wowwww, aku suka yang seperti ini,” Jordan berkata dalam seringainya dan mencengkeram erat tangan Melody, hendak membungkus tubuh Melody dengan tangannya yang lain.

Melody bukan cewek bodoh, hanya tentang Max saja dia begitu bodoh, tapi sistem pertahanan dirinya segera bekerja. Dia berusaha sekuat tenaga membawa tangan Jordan ke mulutnya lalu mengigit dengan semua kekuatannya.

“Ahkkkk!” Cengkeraman Jordan membuat Melody leluasa bangkit dan pergi.

“Sialan! Kamu tidak boleh lepas dariku cantik!” Jordan teriak geram dan mulai mengejar.

Tak pernah menduga mengalami hal seperti ini dalam hidupnya, gaya Max bergaul ternyata sekotor itu. Pantas sikap Max sangat kasar dan tidak menghormati wanita, entah matanya terhalang apa selama ini sehingga tak dapat melihat kepribadian Max.

Dan pahlawan selalu datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan putri.

“Mel?” Zeff segera paham situasi saat melihat Melody terburu-buru melangkah dan ada Jordan yang mengejar. Tubuh Melody langsung ditangkapnya, mendekapnya dengan dua tangan tapi pandangan siaga pada Jordan.

 “Heiii, Zeff… lepasin dia, aku lebih dahulu bertemu dengannya,” ujar Jordan.

Ini yang tidak Zeff inginkan, Jordan bertemu Melody. Jika Jordan datang ke sini berarti Max sudah terperangkap hutang dengannya dan yang pasti Max akan melakukan apa saja untuk Jordan.

Zeff merasakan tubuh Melody sedikit bergetar, mungkin sesuatu telah dilakukan Jordan tadi. Kemarahannya pada Melody langsung menguap. Dia mengecup kepala Melody berulang-ulang, rasa takut yang menyerang membuat Melody tidak memprotes tapi justru balas memeluk tubuh Zeff. Berada di pelukan Zeff Melody baru tahu dada Zeff sebidang itu dan dua tangan kokoh serasa menjadi benteng untuknya.

“Dia adikku, Jordan… hormati itu. Aku menghormati Janice adikmu, tolong lakukan yang sama,” Zeff berkata tajam, dia harus melindungi Melody.

“What?? Jangan bohong, Zeff, memangnya aku gak tahu kamu anak tunggal orang tuamu?”

“Gak, aku punya adik perempuan, dia Melody, aku sengaja tidak memberitahu kalian, kalian brengsek semua!” Zeff berkata sangat dalam, tanpa mengalihkan pandangannya dari Jordan.

Jordan melihat tatapan membunuh seorang Zeff, itu sangat mengintimidasi. Sejak lama, dari antara lelaki yang dikenalnya, Zeff adalah seseorang yang tidak dapat dia remehkan.

“Baiklah, aku percaya. Max tidak memberitahu soal itu, jadi bukan salahku. Tapi sayang sekali, dia terlalu cantik, dia seleraku,” Jordan masih menatap penuh naffssu pada Melody.

“Jordan!” Zeff menggertak, niat Jordan masih sangat terbaca.

“Oke… kamu merusak kesenanganku. Oke, kamu menyinggung Janice, sialan… kamu tahu kelemahanku. Oke… aku gak akan mengganggu adikmu,” Jordan mundur.

Walaupun belum sepenuhnya percaya tapi Zeff bisa bernapas lega. Sekali lagi dia mencium kali ini di pelipis Melody, agak lama. Melody memejamkan mata, bersyukur dia tidak datang sendiri ke sini, bersyukur dia punya Zeff yang begitu melindungi dirinya, ada perasaan nyaman di dalam pelukan erat Zeff.

Jordan sudah kembali ke ruangan tadi.

“Ikut aku pulang, ya??” Lembut suara Zeff sambil melepaskan pelukan.

Melody hanya mengangguk, baru bisa bernapas setelah melihat Jordan meninggalkan mereka. Saat melangkah ke luar, dia ingat sesuatu. Melody berputar kembali.

“Meelll, mau apa lagi sih? Kamu gak boleh ada di sini,” ucap Zeff gusar, dia tahu Jordan licik, bisa saja menjebak Melody dengan cara lain, dan Melody seperti mendatangi harimau di kandangnya.

“Bentar, aku melupakan sesuatu…” Melody meraih tangan Zeff.

Dan, Melody hanya bisa melongo saat kembali ke ruangan tadi dia kembali melihat pemandangan Gina sedang bercumbbu dengan Jordan, di depan mata Max??

Ohhmaigat!!

Dunia memang sedang terbalik nampaknya, norma dan nilai etis tak lagi memiliki kekuatan.

Max sedang memakai jam tangan yang dibawa Melody tadi, wajahnya sedang senyum, hepi sekali karena benda impian kini bisa dia gunakan. Benda itu rupanya terlempar saat Melody bertarung dengan Jordan.

Dengan cekatan Melody merebut kembali jam mahal itu beserta kotaknya.

“Kembalikan!” Galak suara Melody.

“Hei… sayang, apaan sih, ini kado ulangku kan? Kenapa kamu ambil lagi sih? Aku pengen… me.. memakainya sekarang.” Intonasi tinggi di awal kemudian berakhir lemah, Max hampir tidak dapat menuntaskan kalimatnya, Melody yang berdiri di hadapannya begitu berbeda.

“Sejak kapan aku memberikan ini sebagai kado?” Kasar suara Melody sambil memasukkan jam itu ke kotaknya.

“Tapi… sayang, itu buatku kan?” Suara Max merayu, jangan sampai benda mahal itu batal menjadi miliknya.

Melody tersenyum jijik, “aku tidak mengatakan ini buat kamu kok.”

“Sayanggg,” rayuan semakin manis. Melody hanya sinis.

Melody semakin yakin bahwa Max hanya menginginkan uangnya, menjadikan dia sebagai orang yang mengongkosi keinginan mewahnya. Tidak pernah ada cinta untuknya, dan sekarang sakit yang dia rasakan bukan lagi soal cintanya pada Max tapi lebih dikarenakan dirinya sendiri yang terlalu buta.

“Dengar Max… KITA PUTUSSSS!!” Melody meneriakkan kalimat yang menjadi tujuannya datang ke sini.

Max hanya melongo, kaget tidak percaya. Gina pun sama. Sementara Jordan memandangi Melody dengan seringaian misterius.

Melody berbalik dengan anggun dengan langkah kemenangan, ya dia berhasil memenangkan pertarungan hatinya. Dan saat berhenti sejenak di hadapan Zeff dia melihat mimik tak percaya tapi terlihat puas juga tergambar di sana.

Melody tersenyum lebar untuk Zeff.

.

💥

.

Terpopuler

Comments

Bunda Titin

Bunda Titin

udh terbuka mata hatimu,. kamu cuma di jadikan tambang emas ..........dan aku seneng banget kamu bisa setegas itu,. itu baru namanya Melody anaknya mama Lina,. mantab Mel !! 👍👍👍

2024-04-15

0

ein

ein

nahh itu kerennn

2024-03-24

1

lihat semua
Episodes
1 AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2 AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3 AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4 AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5 AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6 AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7 AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8 AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9 AAC □ 9. Aku Norak
10 AAC □ 10. Otoritas
11 AAC □ 11. Step yang Terbalik
12 AAC □ 12. Lupakan Max
13 AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14 AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15 AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16 AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17 AAC □ 17. Kita Putus!!
18 AAC 18. Keadaan Hati
19 AAC □ 19. Go Public
20 AAC □ 20. Peran Baru
21 AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22 AAC □ 22. Kartu Hitam
23 AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24 AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25 AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26 AAC □ 26. Gracia
27 AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28 AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29 AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30 AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31 AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32 AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33 AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34 AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35 AAC □ 35. Romantis
36 AAC □ 36. Mulai Belajar
37 AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38 AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39 AAC □ 39. Kamu Banget
40 AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41 AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42 AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43 AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44 AAC □ 44. Genting dan Penting
45 AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46 AAC □ 46. Terorr Baru
47 AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48 AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49 AAC □ 49. Side B
50 AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51 AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52 AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53 AAC □ 53. Ciuman Pedas
54 AAC □ 54. Fitting
55 AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56 AAC □ 56. Si Bunglon
57 AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58 AAC □ 58. Memilih Cinta
Episodes

Updated 58 Episodes

1
AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2
AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3
AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4
AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5
AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6
AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7
AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8
AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9
AAC □ 9. Aku Norak
10
AAC □ 10. Otoritas
11
AAC □ 11. Step yang Terbalik
12
AAC □ 12. Lupakan Max
13
AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14
AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15
AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16
AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17
AAC □ 17. Kita Putus!!
18
AAC 18. Keadaan Hati
19
AAC □ 19. Go Public
20
AAC □ 20. Peran Baru
21
AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22
AAC □ 22. Kartu Hitam
23
AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24
AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25
AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26
AAC □ 26. Gracia
27
AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28
AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29
AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30
AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31
AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32
AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33
AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34
AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35
AAC □ 35. Romantis
36
AAC □ 36. Mulai Belajar
37
AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38
AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39
AAC □ 39. Kamu Banget
40
AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41
AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42
AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43
AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44
AAC □ 44. Genting dan Penting
45
AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46
AAC □ 46. Terorr Baru
47
AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48
AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49
AAC □ 49. Side B
50
AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51
AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52
AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53
AAC □ 53. Ciuman Pedas
54
AAC □ 54. Fitting
55
AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56
AAC □ 56. Si Bunglon
57
AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58
AAC □ 58. Memilih Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!