Vixo, Bryan dan Sarah sudah tiba dirumah pak Cristian. Disitu hanya ada Kazel saja. Mereka duduk berhadapan diruangan tamu.
" Gimana kabar kalian?" Tanya Kazel. Wajahnya tampak ceria.
" Alhamdulillah, kami semua sehat..." Sahut Bryan mewakili teman temannya.
" Kazel, kapan kamu masuk kerja lagi? Kami kangen loh sama kamu." Sela Sarah.
" Ya mudahan besok atau lusa saya bisa bekerja lagi. Pak Cristian juga sudah sehat. Semoga saja beliau memberi izin buat saya." Jawab Kazel.
" Oh iya, pak kristian kemana?"
" Beliau sedang pergi menemui pengacaranya. Mau mengurus perusahaannya yang lain."
" Hem, perusahaan yang mana lagi ya? Setahu saya, hanya Night Club itulah usahanya." Ujar Bryan menambahkan.
" Benar tidak Vix, kamu kan paling lama kenal dengan pak Cristian..." Sambungnya.
Vixo sesaat berpikir, lalu..." Ya, begitulah..." Katanya bernada tanpa gairah. Sedari tadi pria ini diam dan duduknya pun tampak bagai tak bertulang...bersandar tanpa semangat.
Kazel menatap kearah pria tersebut, " vix, kamu kenapa? kok lemas sekali, apa kamu sedang sakit?" Katanya lembut.
Vixo diam saja. Wajah pria ini kelihatan cemberut. Kazel lalu tersenyum padanya.
" Hayo... kenapa ngambek gitu? Marah ya pada saya?" Ujar Kazel lagi.
" Hem iya ni Vixo, lagi kena angin apa?" Bryan mencandai Vixo.
Kini semua mata tertuju pada wajah Vixo. Bryan dan Kazel telah memahami akan sikap kekanak kanakan yang dimiliki oleh Vixo. Keduanya saling berpandangan.
" Hem, Sarah...Ayo temani saya keruangan tivi." Ajak Bryan, dia sengaja mengajak Sarah pergi dari situ. Supaya Vixo dan Kazel dapat bebas berbicara.
Sarah segera mengikuti Bryan. Keduanya lalu duduk diruangan tengah.
" Ada apa sih Bry?" Tanya Sarah kebingungan.
" Tak ada apa apa. Kita mojok berdua saja disini." Jawab Bryan sambil tertawa kecil.
" Ah kamu, ada ada saja. Tidak bosan ya berduaan dengan saya. Ditempat kerja berdua, disini pun juga berduaan..." Sarah menggerutu karena merasa belum puas mengobrol dengan Kazel.
" Hem, saya memang selalu ingin bersama dengan kamu sayang... hehehe..." Bryan geli sendiri, melihat kewajah Sarah.
" Idih, mulai kumat ni gilamu..." Sarah akhirnya tertawa. Tak lupa menunjukan khas gaya manjanya, yang membuat Bryan selalu terpesona.
" Sudahlah, jangan terus lihat mereka, mendingan tatap wajah saya yang keren ini. hehehe..." Goda Bryan lagi. Dia menarik sebelah tangan Sarah dengan lembut, mengajaknya duduk disampingnya.
Sementara itu, Kazel dan Vixo masih terdiam. Mereka berada dalam pikiran masing masing. Kazel tahu Vixo sedang kecewa. Sedangkan Vixo seakan akan sengaja menampakan semua rasa itu.
" Jadi kamu datang kesini, hanya mau melamun sajakah?" Kazel tak tahan juga, dia mulai bicara.
Vixo tetap diam. Dia malah memainkan handphonenya.
" Vixo, bicaralah...Kalau saya ada salah, saya minta maaf ya." Ulang Kazel.
" Hem, tak ada yang dimaafkan kok, gua hanya kesal sedikit sama elo..." Jawab Vixo.
" Kesal kenapa? Bicaralah, apa salah saya, Vix?"
" Tanyalah pada diri elo sendiri!"
" Ya ampun Vix, jangan buat saya sedih dong...Saya tak mengerti, tolonglah jelaskan, apa salah saya...?" Kazel kini yang terduduk lemas.
" Gua menunggu jawaban dari elo, tapi elo mengabaikannya..." Vixo kini memandangi kewajah Kazel.
" Jawaban apa Vix?" Kazel pura pura tak tahu.
Vixo terkesiap, dia tak menduga ternyata Kazel tak mengingat pada perasaan yang pernah dia ungkapkan...
" Kazel...elo sungguh tega ya, pantas saja elo tak menjawab, ternyata elo tak pernah ingat, apalagi untuk memikirkannya. Sungguh tak gua sangka..." Vixo lalu berdiri, kemudian berkata pada Bryan dan Sarah.
" Kalian mau ikut apa tidak? Saya mau pulang sekarang! Kata Vixo setengah teriak. Pria ini sama sekali tak melihat pada Kazel, yang tampak melongo longo dibuatnya.
" Hah, beneran mau pulang?" Balas Bryan.
Haduh, kenapa lagi siVixo ini ya...Ucap Sarah bertanya dalam hati.
" Iya, ayolah kalau mau bareng!"
" Iya iya Vixo! Hayo Sarah, kita ikuti saja dia, nanti kita pulang pakei apa..." Bryan dan Sarah pun bergegas keruangan tamu.
" Kazel, kami pamit ya. Maafkan Vixo ya, dia lagi kumat kali..." Ujar Bryan setengah berbisik didekat telinga Kazel.
" Iya, kalian hati hati ya..." Jawab Kazel.
Selanjutnya, ketiga orang itu sudah berada didalam mobil. Vixo memainkan pedal gas sejenak. Suaranya mengaung dengan lantang. Terdengar sangat berisik. Sepertinya Vixo mengungkapkan rasa kesalnya dimobil itu.
" Vix, kamu aman kan...?" Sapa Bryan menepuk pelan kebahu kiri Vixo. Dia merasa Khawatir, jangan sampai gegana yang dialami Vixo akan membuat dia lepas kendali.
" Ya...gua oke Bry, kamu tenang sajalah...!" Jawab Vixo diantara kerasnya suara mesin mobil itu. Sesaat kemudian Vixo tancap gas, tanpa berbasa basi lagi dengan Kazel.
Mobil terlihat melaju dengan pesat, menembus kejalan raya. Pergi meninggalkan diri Kazel, yang sedari tadi mematung ditempatnya.
Maafkan saya Vixo. Saya tak bisa menerima cintamu. Karena saya masih setia pada suami saya. Saya hanya mencintai pak Cristian...Kata Kazel dalam hati. Walaupun merasa bersalah pada Vixo, namun dia telah memutuskan untuk tetap setia terhadap pak Cristian...
**********
Jam dua siang pak Cristian telah pulang. Dia tampak letih dan sedikit pucat. Kazel jadi khawatir melihatnya.
" pak, apa anda sudah makan?" Tanya Kazel dengan lembut.
" Sudah Xania, tadi saya sudah makan diluar. Kalau kamu?" Pak Cristian balik bertanya. Dia kini duduk ditepi ranjang kamarnya.
" Iya, saya juga sudah makan." Jawab Kazel.
" Kenapa berdiri didepan pintu, kesinilah sayang..." Ujar pak Cristian sambil tersenyum.
Kazel lalu duduk dihadapan pria itu.
" Saya mau memberitahu kamu, bahwa besok saya akan pergi keluar kota." Kata pak Cristian dengan nada mantap.
" Anda pergi dengan siapa? Dan ada urusan apa disana?" Tanya Kazel keheranan.
" Saya pergi dengan pengacara saya. Ada urusan penting yang mesti kami selesaikan."
" Oh..." Kata Kazel lagi.
" Apa kamu mau ikut, Xania?"
" Hem, tolonglah anda jangan panggil saya dengan nama itu lagi. Panggil saya Kazel ya..." Pinta Kazel.
Sudah selayaknya pria ini untuk diingatkannya, supaya merasa makin nyaman bersama. seperti dulu lagi. Kazel pun juga sudah gerah, dengan sebutan itu.
" Hem, baiklah. Siapapun nama kamu, buat saya itu sama saja. Saya tetap menyayangi kamu, Kazel..." Pak Cristian membelai pucuk kepala Kazel dengan perlahan, lalu mengecupnya.
" Apa kamu juga sayang pada saya?" Lanjutnya.
Kazel bagai melayang keawan awan, mendengar bisikan dari pria itu. Dia merasa sangat bahagia.
" Ya, saya juga sayang pada anda..." Kazel menundukan wajah. Sejenak ia meresapi belaian itu.
" Terimakasih Kazel. Saya mau menjalani hubungan ini dengan serius. Saya akan melamarmu, maukah menjadi istri saya...?"
Kata kata dari pak Cristian tadi kembali membuat Kazel kaget. Dia tak menyangka, kalau pria ini akan berpikir hingga kesana. Tentu saja dia mau! Memang itu lah yang sangat diharapkannya.
" Iya pak, tentu saya bersedia menjadi istri anda." Sela Kazel.
" Terimakasih sayang..." Balas pak Cristian.
Sebelum Xania kembali, lebih baik saya menikahi wanita ini. Agar perkawinan dengan Xania tak jadi berlangsung. Tapi saya harus mengetahui dulu, apakah benar Xania mengandungi anak saya... Pikir pak Cristian dalam hati.
"karya ini merupakan karya jalur kreatif"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Nana
hayo...
2024-03-18
0
It Is.
hayo nikahin Devan Ama Kazel tor/Grin/
2024-03-07
1
sheren dida
penasaran lagi,torrrr help😆
2024-03-06
3