Pak Cristian telah sadar, tapi dia belum bisa membuka matanya. Sayup sayup dia mendengarkan pembicaraan dari Xania dan kak Lola. Jadi Saya sebenarnya adalah Devan, siapa Devan?! Katanya dalam hati. kemudian, ia terus menyimak, pura pura masih tak sadarkan diri.
" Kamu jangan khawatir, Kazel belum tau bahwa pak Cristian ini adalah Devan, suami yang sedang dicari carinya." Jawab kak Lola dengan tersenyum.
Oh, jadi Kazel adalah istri saya. Terus kenapa pula saya dan dia terpisah, bahkan sama sama tak mengenali? Ripanya kami adalah suami istri. Lalu, kemana Kazel selama ini?
Berbagai pertanyaan melanda pada diri pak Cristian. Rasanya sudah pria ini ingin bangun dari tidurnya. Mau bertanya, tetapi kedua mata dan persendiannya benar benar tak berdaya.
" Bila pak Cristian kini amnesia, berarti hal ini telah dialaminya untuk yang kedua kali." Kak Lola memulai kembali obrolannya.
" Maksud kak Lola?" Xania tak mengerti.
" Dulu, beliau pernah Amnesia. Sewaktu mau membesuk Kazel melahirkan dirumah sakit. Saat diperjalanan, roda mobil beliau menabrak trotoar. Pak Cristian mengalami koma tiga hari. Dan saat sadar, beliau tak ingat apa apa lagi." Kak Lola menjelaskan.
Xania terdiam mendengarkan. Lalu Wanita ini melihat kembali pada tubuh pak Cristian," Terus, kemana anak mereka berada?" Sambungnya.
" Maaf Xania, lain kali kita akan melanjutkan cerita ini ya. Saya harus segera keluar dari sini, sebelum Kazel kembali..." Kak Lola beranjak dari duduknya.
" Baiklah kak, hati hati dijalan." Balas Xania.
" Bila ada perkembangan dari pak Cristian, tolong kabari lagi ya...Saya pamit dulu." Kak Lola lalu berjalan keluar, pergi dari dalam ruangan itu.
Kasian juga nasib pak Cristian dan Kazel. Tapi, saya terlanjur mencintai pria ini. Sudah dua tahun kami menjalin hubungan. Walaupun, pada awalnya saya hanya bersandiwara, tapi lama lama saya jadi mencintainya. Xania berujar dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Kazel datang bersama Vixo. Mereka langsung disambut muka kecut oleh Xania.
" Gimana Xan, beliau sudah sadar belum?" Vixo mencoba untuk mencairkan suasana itu.
" Belum Vixo..." Jawab Xania. Dia sengaja menarik kursi yang tadi diduduki oleh Kazel, lantas menaikan sebelah kaki. Agar Kazel tak bisa duduk disitu.
Tiba tiba saja, mata pak Cristian terbuka, tubuhnya pun bergerak secara perlahan. " Haduh..." Ujar pria itu sambil memegangi dahi dan kepalanya.
" Pak...anda telah sadar..." Ujar Xania dan Kazel bersamaan...
" Sa, saya dimana...?" Ucap pak Cristian kembali.
" Tenang sayang, jangan banyak bergerak ya..." Xania membelai pucuk kepala lelaki itu. Kazel hanya dapat terdiam, disisi kiri tubuh pak Cristian.
" Mana Xania?" Pak Cristian menatap kewajah Xania.
" Ini saya sayang, saya Xania." Ujar Xania dengan perasaan cemas.
Hah, pria ini lupa pada saya... Kata Xania dalam hati.
" Tidak, bukan...Kamu siapa? Mana Xania?" Pak Cristian lalu menepiskan tangan perempuan itu. Sepertinya sedang berpura pura amnesia.
" Cristian, ini saya...Saya adalah Xaniamu sayang..." Lanjut Xania mengeraskan nada suaranya.
Vixo dan Kazel berpandangan. Merasa terharu melihat pak Cristian sudah sadar dari koma. Namun, mereka juga tampak kebingungan. "Pak, apa kabar?" Ujar Vixo berbasa basi.
Pak Cristian mengalihkan wajah dari Xania, kini dia melihat pada Vixo, " Kamu..." Katanya.
" Ya, saya pak, Vixo..." Ucap Vixo dengan senyum lebar.
" Sayang...Xania, Kemarilah..." Pak Cristian kini bicara pada Kazel. Dia tersenyum, meraih pelan jemari Kazel, " Kenapa kamu diam saja, sayang..." Lanjutnya.
Kazel terperangah, namun dia segera mendekati tubuh pak Cristian. Kazel juga membalas genggaman tangannya.
" Sayang..." Ujar Kazel dengan suara lirih. " Saya Kazel, bukan Xania pak..."
" Hah, ti, tidak! Kamu Xania... kamu bukan Kazel..." Dengan senyum yang sangat manis, pak Cristian menciumi kening Kazel.
Lalu memeluknya erat erat.
Huh, kenapa jadi begini. Lelaki ini salah orang. Haduh, gimana ini...Dia mengira Kazel adalah diri saya! Gawat...Pikir Xania.
" Cepat sembuh ya sayang..." Kazel menarik tubuhnya dari dekapan pak Cristian. Dia tak mau menyinggung perasaan pria tersebut. Dia juga bersikap mesra. Seolah olah dia adalah Xania.
" Terimakasih Xan, Kamu jangan tinggalkan saya ya..."
" Iya, saya tak kemana mana..."
Lalu Kazel menarik kursi dari hadapan Xania, lantas duduk didekat pak Cristian. Keduanya masih bergenggaman tangan.
wah, ini gimana ceritanya? Pak Cristian sekarang merasa Kazel adalah kekasihnya...Pastilah Xania merasa sangat dongkol. Haduh, kalau begini, gua juga bisa ikut amnesia ni...Kata Vixo didalam hati.
Hah, makin parah ni, Kazel bisa mengambil kesempatan ini... Ia makin bisa berdekatan dengan suaminya. Ini tak boleh terjadi! Saya akan melaporkannya pada kak Lola! Xania mendadak pergi meninggalkan orang orang itu. Dia tak berkata apa apa, keluar begitu saja. Wajahnya tampak marah dan sangat emosi...
Kazel dan Vixo menatap Xania dengan perasaan tak menentu. Hingga tubuh wanita itu hilang dari balik pintu. Hem, sekarang Xania pasti memberitahukan hal ini kepada om Riyan dan kak Lola. Biarlah, biar mereka jadi kebingungan. Saya akan terus membuat pak Cristian nyaman dengan saya. Saya harus dapat mengetahui, kenapa mereka memisahkan kami...Ujar Kazel dalam hati.
" Sebenarnya ini Kazel, pak..." Vixo berkata kembali pada pak Cristian, " Yang barusan pergi, itu adalah Xania. Kekasih anda."
" Tidak, saya tidak mengenli dia. Dan...Kamu juga...Kamu siapa?" Pak Cristian terus memainkan actingnya.
" Saya Vixo, pak.Karyawan yang bekerja sebgai DJ di Club anda."
Vixo menegaskan suara. Dia menatap kewajah pak Cristian lekat lekat.
" Club...Apa lagi itu? Karyawan? haduh...maaf, saya semakin tak mengerti..." pak Cristian malah menatap lurus kesatu arah. Dia termenung disana.
" Vixo sudahlah, kita jangan memaksakan ingatannya. Sabar dulu ya..." Sela Kazel pada Vixo.
Selanjutnya semuanya terdiam. Berpikir kedalam benak masing masing. Tiba tiba saja, seorang perawat hadir disitu.
" Maaf, tolong keluar sebentar ya, kami akan memberikan obat dan suntikan kedalam infus pak Cristian. Terima kasih." Ujarnya.
" Baiklah pak..." Kazel dan Vixo lalu berjalan menjauhi tempat itu. Mereka duduk berhadapan, disebuah bangku panjang yang terdapat didalam ruang tunggu.
" Gimana ini, Zel...Gua khawatir ini akan berkepanjangan.." Ujar Vixo. Wajahnya tampak cemas.
" Ya, mau gimana lagi, Vix. Kita terimalah dulu apa adanya. Semoga saja Dokter mampu untuk segera mengembalikan daya ingatan pak Cristian." Kata Kazel. Dia sebenarnya, tak mau Pak Cristian berubah. Karena, sudah pasti dia akan kembali bersama Xania lagi.
" Tapi gua tak bisa menerima ini semua..." Lanjut Vixo perlahan.
" Maksud kamu gimana?" Tanya Kazel. Dia menatap kewajah Vixo dengan dahi berkerut, " tak bisa menerima apa, Vix?" Lanjut Kazel lagi.
Sesaat Vixo menghela nafas, lantas..." Gua merasa cemburu melihat elo bersamanya..." Kata Vixo membalas tatapan itu.
" Maksudmu...?" Kazel bagai tak mampu bersuara.
Dia tahu, kini Vixo telah jatuh cinta padanya. dia juga mulai mengerti, dengan semua sikap yang telah Vixo berikan. Tetapi, Kazel harus berpura untuk tak menyadarinya...
" Gua sayang pada elo...Maaf, gua ingin menjalin hubungan dengan elo. Bahkan, gua telah jatuh cinta saat pertama kita berjumpa." Bisik Vixo dengan suara tenang.
Ya allah, saat pak Cristian ingin bersama saya, kenapa kini ada lelaki lain yang mencintai diri saya. Jujur, saya juga menyukai Vixo sejak awal bertemu. Tetapi saya juga mengharapkan untuk dapat kembali bersama dengan suami saya...
Kini Kazel terpuruk didalam dua perasaan. Apakah yang harus ia lakukan? Memilih Vixo, ataukah pak Cristian?!
"karya ini merupakan karya jalur kreatif"
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments