Memasuki tengah malam Bar tampak ramai didatangi oleh para pengunjung. Kazel dan Bryan jadi sibuk, membuatkan menu pesanan para tamu.
" wah kamu mulai mengantuk ya?" Kata Bryan, saat mereka telah selesai menyediakan pesanan. Dia melihat kearah Kazel.
Sejak tadi tadi Kazel berulang ulang menguap, kepalanya juga tampak terangguk angguk. Menahan rasa kantuk yang sangat berat.
" Iya Bryan, saya terbiasa tidur awal." Jawab Kazel tersenyum malu. Kedua pelupuk matanya terlihat sayu.
" Coba minum air kopi, katanya sih bisa menahan rasa kantuk untuk sementara waktu..." Bryan menuangkan air hitam kedalam gelas, lalu menyodorkan kepada Kazel.
" Terimakasih Bry, tapi maaf, saya tak pernah minum kopi. Apa rasanya?" Kazel melihat pada isi gelas tersebut.
" Yah, lebih baik kamu coba saja, ini saya buatkan rasa kopi manis loh. hehe..." Bryan tertawa kecil. Dia merasa lucu, menyaksikan kepolosan dari wanita itu.
" Iya, baiklah, saya coba ya..." Kazelpun mulai menghirup air hitam tersebut.
Ya allah, saya harus melakukan sesuatu yang tak pernah saya buat. Ini Demi bang Devan. Kata Kazel dalam hati. Dia sedikit meringiskan wajah, menelan air tadi. " Wah, rasanya manis bry, tidak pahit ya..." Ujarnya kemudian tersenyum.
" Nah kan, kalau kita tak coba, kita pasti tak tahu rasanya." Sahut Bryan. Dia mengharapkan pertolongan pertamanya ini, bisa membantu Kazel agar terbebas dari rasa ngantuknya.
Kini keduanya duduk bersantai didalam Bar. Karena para tamu sepertinya sudah mulai keluar satu demi satu. Waktu sudah memasuki jam satu malam. Bryan dan Kazel duduk secara berdampingan.
" Bryan, siapa nama bos kita?" Tanya kazel tiba tiba.
" Namanya pak Cristian Rionaldo." Jawab Bryan.
" Oh..." Kazel berujar lagi. " Apa beliau sudah menikah?"
" Belum. beliau masih muda seperti kita. Mungkin berbeda sedikit saja." Bryan menatap kewajah Kazel. " Kenapa Kazel, apa kamu telah bertemu dengannya?" Sambungnya.
" Iya, tadi saya jumpa didepan pintu kantor..."
" Oh...Awas loh jangan sampai jatuh cinta dengannya hehe..." Goda Bryan.
" Hem, kamu ada ada saja Bry..." Kazel tertawa kecil.
Hari ini dia merasakan suasana yang sangat nyaman. Karena Bryan memberikan sikap santai dalam berkata dan bertindak. Pria yang lebih tua satu tahun dari Kazel ini, juga sangat sabar. Bila mengajari kerja pada Kazel, ada saja warna canda tawanya.
" Hem, kamu sendiri, apa sudah menikah?" Bryan balik bertanya.
cowok jomblo dan berambut pirang ini, melirik Kazel. Dia tak segan untuk memperlihatkan semua sikapnya. Bagai merasa, sudah lama telah mengenali diri Kazel.
" Iya, saya sudah kawin. Saya seorang ibu yang mempunyai satu anak..." Jawab Kazel. Dia mulai menyukai Bryan. Selain sopan, Bryan juga type lelaki yang lembut dan perhatian...
" Oh..." Ujar Bryan.
" Awas hati hati, jangan sampai jatuh cinta kepada saya hehe..." Kazel membalikan candaan dari Bryan tadi.
Bartender tampan dan bekulit putih ini pun jadi ikut tertawa. Baru pertama kali Bryan melihat Kazel tertawa dan bercanda. Ia menjadi senang, karena ia bisa membuat diri perempuan itu menjadi santai dan percaya diri.
" ya iya dong, saya takut, nanti suamimu marah pada saya..." Sahut Bryan dengan wajah polos. Reflek mereka tertawa. Sedang asyik mengobrol, tiba tiba om Bryan datang kesitu.
" Selamat malam tuan..." Sapa Bryan.
" Selamat tengah malam Bryan, jangan panggil saya tuan, cukup panggil om Riyan saja ya..." Balas Om Riyan, sambil duduk pada sebuah kursi.
" Om mau minum apa?" Kazel menimpali.
" Minuman yang seperti biasa saja, Zel..." Om Riyan menjawab sambil tersenyum lebar. Kazel segera menyediakannya. Satu botol air telah ada didepan Om Riyan.
" Terimakasih nak, apa kamu sudah paham tentang cara kerja disini?" Kata om Riyan lagi.
" Alhamdulillah om, sidikit demi sedikit saya memahaminya..." Jawab Kazel dengan nada pasti
Selanjutnya mereka bercerita dengan santai. Bryan juga ikut mengobrol disitu.
Kazel sesekali melirik kelorong jalan ruang, yang menuju kearah kantor. Dia menunggu bos yang bernama Cristian itu keluar. Moga saja pak Cristian kemari, jadi om Riyan bisa melihatnya dengan jelas. Sekalian, saya akan mengenalkan mereka berdua. Pikir Kazel dalam hati.
Ternyata benar saja, dari depan lorong jalan yang dimaksud, pak Cristian tampak disana. Lelaki itu berjalan menuju kearah Bar, tetapi beliau berhenti diujung meja.
" Selamat malam pak!" Kata Bryan menganggukan kepala. Pak Cristian membalasnya dan tersenyum.
" Iya, selamat malam semua..." Jawabnya seraya melemparkan pandangan kepada tiga orang itu.
Oh ini bos mereka. Wajah dan suaranya ternyata sangat mirip dengan Devan cahya. Bisik om Riyan dalam hati. Dari jarak satu meter ia menatapi wajah pak Cristian dalam dalam.
Beberapa menit kemudian, pak Cristian menerima telepon. Dia sesaat bicara dihandphonenya, sambil menatap kearah pintu masuk Bar. Ada beberapa saat dia begitu. Lalu setelah selesai, ia mematikan telepon tersebut, kemudian terdiam lagi. Berdiri ditempatnya. Sepertinya, kini ia sedang menunggu seseorang...
" Halo..." Ujarnya, melambaikan tangan kearah pintu.
Seorang wanita cantik memakai gaun sexy tampak telah berdiri disana. Gadis seusia dengan Kazel itu, juga melambaikan tangan sambil tersenyum.
" Hayo, langsung masuk saja...!" Lanjut Pak Cristian lagi. Gadis cantik tersebut, lalu melangkah mendekatinya.
Hah, wanita ini kan sahabat baik saya, sewaktu disekolah menengah atas dulu. Namanya, Xania...Ucap Kazel dalam hati. Dia menatap kewajah cewek cantik kenalan sibos itu, dengan rasa heran. Kenapa dia datang kemari? Tanyanya sendiri.
Wanita yang bernama Xania tadi, kini telah berdiri didepan pak Cristian. Mereka saling bersalaman dan berpelukan sejenak, seperti telah lama tak berjumpa.
" Apa kabar, Crist? Tanya Xania. Wajah cewek berambut lurus sebahu ini, sangat cantik. Dia juga memiliki tubuh yang begitu indah. Hingga ketika melangkah melewati meja bar, terlihatlah lekuk lekuk dari tubuhnya...
" Saya baik baik saja, gimana keadaanmu sendiri? Mari kita ngobrol diruang kantor saya..." Ajak pak Kristian. Kedua bola mata coklat miliknya tampak berbinar binar. Merasa sangat bahagia.
" Oh baiklah kalau begitu, Saya juga tak mau berada disini..." Xania melihat kesekelilingnya, dengan wajah angkuh... Dia sama sekali tak menyapa orang orang yang ada disitu.
hem, ternyata kini Xania sudah berubah. Dulu dia tak pernah mau berpenampilan sesexy itu. Dikelas, dia terkenal paling
cupu dan pendiam. Dan, apakah dia pura pura tidak mengenali saya? Dia juga terlihat sangat sombong...Kata Kazel lagi pada dirinya sendiri. Pandangannya terus melihat kearah keduanya, hingga tubuh mereka hilang dari pandangan.
" Kazel, kenapa melamun?" Ujar om Riyan mengejutkannya.
Sejenak Kazel tergagap, " Eh... anu...itu om, itu teman saya..." Sahutnya perlahan.
" Kamu mengenali pacar sibos ya?" Bryan menyela.
" Iya Bryan. Kalau tidak salah... Dulu dia adalah teman akrab saya."
" Oh, begitu ya..." Bryan dan om Riyan saling berkata, hampir bersamaan. Kedua pria tersebut mengangguk anggukan kepala.
Kalau saja bos saya itu adalah Devan, tentu saja mereka telah saling mengenal. Tetapi kenapa saat melihat saya, Xania bagai acuh tak acuh... Padahal dulu kami bersahabat, dari kelas satu hingga selesai sekolah.
Jangan jangan mereka sengaja menunjukan sikap pura pura, dihadapan saya...Ya allah, bila benar pria tersebut adalah suami saya, berarti keduanya telah melakukan hal yang...?!
"karya ini merupakan jalur kreatif"
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
It Is.
hayo knpa mereka tor/Facepalm/
2024-03-07
1
wes boi
wah ...
2024-03-05
0