kazel dan pak Cristian terkejut! Keduanya menatap ketubuh Xania yang tiba tiba telah berdiri didepan pintu...
" Xania, ini tak seperti yang kamu pikirkan..." pak Cristian menjauhi tubuh Kazel. Dia melangkah mendekati Xania.
" Terus ngapain kalian berdua berada disini? Sementara diluar para pengunjung ramai, semua karyawan sibuk, tapi kalian malah mojok didalam kantor ini!" Xania makin kalap. Nafas wanita ini memburu. Dadanya tampak turun naik dengan cepat.
" Kamu!!!" Setengah berlari Xania maju, akan meraih tubuh Kazel.
Pak Cristian menghalanginya. Dia menarik tubuh Xania. Tapi tangan kanan Xania telah merengkuh kerah baju Kazel.
" Haduh, lepaskan saya!!!" Kazel berteriak. Tubuhnya melayang kedepan, sehingga menabrak pada pundak pak Cristian.
Gerakan itu sangat cepat dan kuat. Pak Cristian terlempar kesamping. Keplanya langsung membentur pada meja, lalu pria itu tersungkur kelantai.
" Lepaskan...Lepaskan Xania!!!"
Kazel memberontak. Sekuat tenaga ia menepiskan tangan Xania, cengkraman itu pun lalu terlepas. Kazel cepat berlari memeluk pak Cristian. Lelaki itu telah pingsan ditempatnya.
" Pak, pak...Bangunlah pak!!!" Katanya, seraya menggerakan seluruh tubuh pak Cristian.
" Ini akibat ulahmu, dasar!!!" Xania emosi, melototkan kedua matanya, menghardik Kazel.
Sedangkan Kazel, terus saja menangis, sambil berupaya untuk dapat menyadarkan pak Cristian.
Setelah beberapa saat Xania terdiam, dia baru menyadari bahwa pak Cristian telah tak sadarkan diri. Dia pun berlari keluar, mencari pertolongan.
" Bryan, tolong pak Cristian Bry!" Kata Xania dengan suara keras.
Bryan terkejut melihat Xania, yang datang dengan wajah pucat pasi, " Ada apa dengan pak Cristian?" Tanyanya.
" Pak Cristian pingsan didalam Kantor Bry..."
" Hah? Pak Cristian kenapa?!" Ulang Bryan tak percaya.
" Iya, beliau pingsan. Tolong kamu lihat kesana, aku akan memberitahu pada yang lain. Sarah tolong tutup saja Bar ini!" Kata Xania.
Bryan segera berlari masuk kedalam kantor. Sedangkan Xania, menyuruh para karyawan untuk menghentikan semua aktifitas. Tempat itu pun lalu ditutup. Semua pengunjung kini mulai bersiap siap untuk pulang.
" Cepat telepon ambulance pak!" Kata Bryan pada pak Ade yang merupakan Scurity disitu.
" Baik Bry..." Pria ini segera menghubungi pihak rumah sakit.
Tak beberapa lama kemudian, mobil ambulance datang. Pak Cristian segera diangkat dan dimasukan kedalam. Kazel dan Bryan ikut serta. Lalu kendaraan tersebut kembali melaju menuju kerumah sakit.
**********
Pak Cristian kini telah terbaring didalam ruang perawatan. Pria ini memakai infus dan beberapa peralatan lainnya. Kazel duduk disisi kiri. Sedangkan Xania ada disisi kanan ranjang. Mereka sama sama menunggui tubuh pak Cristian, yang masih belum sadar dari pingsannya.
" Xania, apa kata dokter...?" Ujar Bryan. Dia datang bersama Vixo dan Sarah.
" Pak Cristian telah mengalami benturan yang sangat keras dari bagian kepalanya." Balas Xania.
Semua yang mendengarnya jadi terkejut didalam hati.
" Semoga saja beliau tak apa apa..." Sambung Xania lagi. Kini pandangan mata mereka tertuju pada tubuh pak Cristian.
" Tapi, kata pak Dokter apakah beliau tak amnesia?" Sela Vixo.
Xania menatapnya, menghela nafas dalam dalam, " Ya bisa jadi, kemungkinan itu ada." Ujar Xania perlahan.
Gimana kalau benar benar pak Cristian amnesia? Apa yang akan terjadi? Pikir Xania. Dia belum bertunangan, apalagi untuk menjalankan pernikahan. Terus, urusan actingnya ini akan jadi berantakan... Rencana kak Lola dan om Riyan pasti makin kacau balau...
Xania berpikir sendiri. Sekarang lebih baik aku menelepon kedua orang itu. Xania pamit kepada Bryan dan yang lainnya. Dia lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
" Bryan, Sarah, tolong sekarang kalian kembali ke Bar. Menutup dan menyelesaikan urusan yang belum kelar. Panggil saja Budi. Ajak Cleaning Service tersebut untuk menolong membersihkan ruangan." Kata Vixo. Dia orang lama bekerja disitu. Jadi, sering diberi kepercayaan oleh pak Cristian, untuk mewakilinya.
" Baik Vix, kami segera kesana. Ayo Sarah..." Ajak Bryan. Lantas keduanya meninggalkan tempat itu.
" Kazel, elo belum laparkah? Mau gua belikan kue, atau mau makan apa?" Tanya Vixo. Dia menggeserkan kursi, duduk didekat Kazel.
" Terima kasih, tapi Saya tak bisa makan apa apa sekarang..." Kazel menjawab perlahan. Dari tadi wanita ini menggenggam tangan kanan pak Cristian. Vixo melihatnya. Pria ini merasa ada sesuatu yang aneh, dalam sikap Kazel.
" Elo tampak sangat sedih dan khawatir, sebenarnya apa yang telah terjadi diantara elo dan pak Cristian?"
Kazel terpana mendengrnya...
" Tak ada apa apa Vix, Xania saja yang telah salah paham pada saya..." Jawabnya.
" Hem begitu, elo harus hati hati menjaga sikap. kekasih beliau memang emosian. Dia juga tak suka, bila ada orang lain dekat dengan pak Cristian. Jangankan elo, kami para karyawan lelaki pun, selalu jaga jarak terhadap pak Cristian..." Vixo mengusap lembut bahu Kazel. Setelah itu, dia melepaskan genggaman Kazel dari jemari pak Cristian.
" Jangan diteruskan, nanti Xania melihat dan akan marah lagi."
" Biar Vix, biar saja dia marah. Ini sudah terlanjur, pak Cristian jadi begini karena ulahnya." Ujar Kazel.
" Kenapa elo jadi berpikir begitu"
" iya Vix, mulai sekarang saya akan membuktikan prasangka buruknya itu terhadap saya. Pak Cristian juga sudah sakit. Saya mesti bertanggung jawab. Apa pun terjadi, saya tak akan jauh darinya. Saya tak takut pada Xania lagi." Lanjut Kazel dengan tegas.
Vixo jadi terdiam. Dia berpikir, ternyata Kazel adalah sosok wanita yang keras. Padahal selama ini Kazel anggun dan keibuan. Rupanya dia punya mental yang sangat tegar.
" Ya sudahlah, kalo menurut elo itu hal yang terbaik. Gua juga tak bisa berbuat apa apa." Sahut Vico datar. Ada rasa sedikit kecewa padanya.
Kazel sebenarnya tau akan perasaan pria itu terhadapnya. Walau ia menyukai Vixo, tetapi dia pasti memilih pak Cristian. Biarlah semuanya memandang buruk padanya. Kazel tak akan perduli.
Sesaat suasana menjdi sunyi. Kazel dan Vixo membisu. Tak beberapa lama kemudian, dua orang perawat masuk. Mereka meminta Vixo dan Kazel untuk keluar, karena akan memeriksa kembali tubuh pak Cristian. Kazel dan Vixo pun lalu berlalu.
Kini para medis telah selesai melakukan tugasnya. Perawat perawat tersebut segera keluar lagi dari dalam ruangan. Lima menit kemudian, Xania datang bersama kak Lola.
" Kazel tak ada kak, mari kita masuk..." Ajak Xania.
" Apa yang terjadi, Xania?" Kak Lola terkejut melihat kondisi dari pak Cristian.
Xania segera bercerita. Kedua orang itu lalu tenggelam dalam pembicaraan yang serius. Kak Lola sesekali menyela, ia juga tampak mengangguk anggukan kepala, hingga Xania selesai. Selanjutnya mereka terdiam, tenggelam dalam perasaan masing masing.
" Sekarang gimana kak?" Tanya Xania memecahkan keheningan itu.
" Ya, kita lihat dulu reaksi dari pak Cristian. Kalau dia sadar dan tidak amnesia, kita terus melanjutkan rencana kita." Kak Lola menjawab dengan suara berbisik.
Xania mengangguk. Lalu, " Kak, apa Kazel belum tahu, bahwa pak Cristian ini adalah Devan?" Lanjut Xania lagi.
Hah, Devan! Siapa Devan?!" Ujar Pak Cristian dalam hati. Lelaki ini rupanya telah sadar, tetapi dia belum bisa membuka kedua matanya...
"karya ini merupakan karya jalur kreatif"
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
It Is.
hayo sadar Devan...
2024-03-07
1