Om Riyan dan Kazel sudah tiba dirumah pak Cristian. Mereka disambut oleh seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan. Dia mengatakan kalau pak Cristian sedang tak berada dirumah.
" Tapi benar ya pak, ini rumah beliau?" Tanya om Riyan.
" Benar pak..." Sahut lelaki tadi dengan wajah tegang dan kaku. Dia kelihatan sangat sadis.
Mungkin pria ini pengawal pribadi pak Cristian, pikir om Riyan. Lalu, " Baiklah, lain kali kami datang lagi. permisi ya pak..." Lanjut om Riyan. Lalu berjalan meninggalkan pria tersebut. Dia kembali kedalam mobil.
" Gimana om?" Tanya Kazel, saat om Riyan sudah duduk didepan kemudi. Sedari tadi ia hanya menunggu disitu.
" Pak Cristian tak ada dirumah, Zel." Sahut om Riyan. " Mari Kita kembali kerumah saja ya."
" Iya om..." Sahut Kazel dengan kecewa. Sebelum kendaraan itu keluar dari halaman rumah, ia melirik lagi kedepan pintu, dia melihat Pak Cristian baru saja keluar bersama Xania.
" Itu mereka om, ternyata pria dirumahnya tadi membohongi kita." Ujar Kazel dengan suara lirih.
Om Riyan tetap menjalankan mobilnya..." Ya begitulah kalau kita mau mengunjungi orang penting. Ada ada saja alasan mereka. Agar kedatangan kita, tak mengganggu urusan pribadi mereka." Jawab Om Riyan.
Kazel diam saja, ia tenggelam dalam lamunannya. Kenapa lagi Xania ada dirumah itu, apa tadi malam menginap disitu? Huh, kenapa saya bisa cemburu ya? Bisik Kazel dalam hati.
Mobil pun terus melaju, menuju kerumah Kazel. Tak beberapa lama kemudian, kedua orang itu sudah tiba. Om Riyan tidak mampir lagi, dia terus kembali kekediamannya.
**********
Dihari kedua. Kazel bekerja lagi. Lepas Isya, om Riyan datang dan mengantarnya. Setengah jam kemudian, wanita ini sudah tiba disana.
" Bry, sibos udah datang belum ya?" Tanya Kazel. Mereka baru selesai mencolek mesin absen dengan jempol masing masing. Peralatan hadir buat staf itu, letaknya ada didepan kantor.
" Sepertinya belum kelihatan tu, karena saya datang satu jam sebelum absen." Sahut Bryan.
Merekapun mulai bersiap siap untuk mengerjakan pekerjaan seperti biasa. watress, waiter dan para karyawan yang lain juga tampak disana. Jumlah karyawan ada sepuluh orang. Tiga pelayan wanita dan pria. Dua bartender dan satu scurity. Sedangkan satu orang lagi, merupakan cleaning service disitu.
Kini isi bar sudah lengkap dan tertata rapi. Bryan dan Kazel duduk kembali didepan meja, sambil menunggu para tamu datang kedalam Club.
" Selamat sore..." Pak Cristian hadir disitu. Dia berdiri ditengah tengah kedua orang itu.
" Iya pak, selamat sore..." Jawab Bryan dan Kazel bersamaan.
" Kazel mari ikut saya kekantor ya. " Kata pak Cristian lagi.
" Baik, pak." Kazel bangun, lalu melangkah dibelakang tubuh pak Crustian. Beberapa menit kemudian, Kedua orang itu kini telah duduk berhadapan, dalam ruangan kerja pak Cristian.
" Saya memerlukan seorang kasir, apa kamu bersedia?" Kata bos pada Kazel.
" Iya pak, saya mau. Tapi saya belum punya pengalaman apa apa didalam bidang itu." Kazel menjawab sambil tersenyum.
Sebenarnya ia merasa tak enak pada para karyawan lama. Bila ia menerima jabatan itu, pasti semua staf akan memandang, ini adalah suatu hal yang ganjil. Bisa saja ada karyawan yang akan membenci dirinya. Tapi disatu sisi, ia tak enak juga bila menolak keinginan pak Cristian ini.
" Tak jadi masalah Kazel, nanti saya akan mengajari kamu. Kita bekerja sama secara perlahan. Saya yakin, nanti kamu pasti cepat memahami pekerjaan ini." Sambung pak Cristian lagi.
Kazel hanya pasrah menerima. Nantilah urusan yang lain, saya tak boleh untuk memikirkannya. Yang penting, mulai sekarang saya bisa semakin dekat sama pak Cristian. Katanya didalam hati. Lalu keluar meninggalkan ruangan itu. Dia Masuk kembali kedalam bar. Tak beberapa lama kemudian, pak Cristian menyusulnya.
" Mari kita mulai, dari membuka laptop dan mesin pembayaran ya." Kata pak Cristian.
Kazel pun mengangguk dan duduk dekat sibos. Mereka lalu membahas dan bertanya jawab tentang semua urusan kerja buat casir. Sekitar setengah jam berlalu, akhirnya keduanya telah selesai.
" Nah, tak terlalu sulit kan?" Ujar pak Cristian pada Kazel.
" Iya pak..." Kata Kazel sambil tersenyum. Dia menduduki kursi kasir dengan segera.
" Kalau kamu tak sibuk, sesekali kamu boleh membantu Bryan." Pak Cristian melihat kewajah Bryan. " Bukankah begitu Bry?" Sambungnya.
Bryan tertawa kecil, " Iya pak..." Jawabnya.
" Ada pertanyaan lagi, Zel?" Ujar pak Cristian lagi.
" Tidak pak, terimakasih..." Kata Kazel.
Baru saja Kazel selesai bicara, Xania tampak membuka pintu. Dia melangkah kedepan meja bar. Saat tiba didepan ketiga orang itu, gadis ini memasang wajah sinis...
" Huh, emang dia pantas jadi kasir? Dia kan calon menjanda!" Kata Xania, mempermalukan Kazel dengan sengaja.
" Xania, kenapa kamu bersikap begitu pada saya?" Balas Kazel dengan wajah memerah. Akibat menahan rasa mindernya.
" Oh, kamu tak lupa padaku ya? Aku kira, setelah koma bertahun tahun, kamu akan mengalami amnesia..." Ujar Xania kembali. Dia benar benar akan membuka semua rahasia hidup Kazel.
" Maaf Xania, apa pantas kamu membicarakan semua hal saya disini..." Nada Kazel tertahan. Dia mencoba menahan amarah.
" Iya pantaslah! Itu kenyataan kok...Huh, kenapa mesti ditutup tutupi. Aku lebih lama kenal Pak Cristian dan semua karyawan disini. Jadi wajar dong bila aku bicara apa saja pada mereka." Xania lalu menyibirkan bibirnya kesamping. Memandang remeh pada Kazel.
" Xania, sudahlah...Jangan terus bicara sembarangan... " Tegur pak Cristian. Wajahnya merah padam melihat sikap dari Xania.
" Heh, kenapa kamu marah?! Apa kamu suka dengan janda sengketa ini?"
" Xania! Sudah, Sudah!!! " Kini suara pak Cristian meninggi.
Kazel hanya bisa berlinangan air mata. Dia begitu terpukul pada ucapan sahabat SMA nya itu. Xania benar benar telah berubah...Pikirnya.
" Kazel, ingat ya, jangan coba coba untuk tebar pesona disini. Walaupun kamu cantik, tetapi harus tahu diri ya, kamu hanya anak yang dipungut dari panti asuhan." Xania masih tak peduli pada peringatan pak Cristian.
Kazel ahirnya tak tahan juga. Ia langsung terisak isak didalam duduknya. Dia memang tak bisa membalas amarah atau hinaan dari orang lain. Dia sedari kecil memiliki jiwa sabar,yang sangat luar biasa. Selain mengadukan pada Allah SWT, diaa hanya bisa menangis saja...
" Kazel... Maafkan sikap Xania ya..." Ujar pak Cristian dengan suara perlahan. Dia mengusap usap bahu kanan milik Kazel.
" Huh, dasar manja! Sudah Crist, kenapa kamu malah membelai nya!" Xania melotot pada pak Cristian.
Jelek sekali muka wanita ini! Kata Bryan dalam hati. Sedari tadi dia geram melihat pada kelakuan Xania. Kini matanya berpindah kearah Kazel. Oh... ternyata nasib saya dan Kazel sama. Dia juga berasal dari sebuah panti asuhan...Sambung Bryan pada dirinya sendiri.
" Sekarang, kamu harus pecat dia, atau aku akan pergi dari hidupmu!" Xania mengancam Pak Cristian. Suaranya lantang, membuyarkan lamunan Bryan...
Baguslah kamu pergi, jadi pak Cristian tak jadi menikah sama kamu, wanita yang tak punya perasaan... Bryan berkata lagi dalam hati.
" Sudahlah Xania, sekarang ayo kita selesaikan dikantor..." Lalu Pak Cristian berjalan cepat, ia meninggalkan ruang bar. Xania membuntutinya dari belakang. Kedua orang tersebut, bergegas masuk kedalam ruangan kantor.
Hem rasain! Semoga saja pak Cristian memutuskan hubungan mereka...huh!!! Sambung Bryan lagi. Bicara pada diri sendiri.
"karya ini merupakan karya jalur kreatif"
Bersambung...
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
It Is.
putus atw trus...
2024-03-07
2
wes boi
bryan kepo haha...
2024-03-05
1
sheren dida
putus apa tidak ya xanianya?
2024-03-03
0