Anjali berlari menyusuri koridor sekolahnya sambil menahan tangisannya, tujuan utamanya saat ini adalah kamar mandi.
Setelah tiba di kamar mandi, Anjali segera masuk ke salah satu bilik toilet dan langsung menangis tersedu-sedu.
“Hikss,, hikss, hiksss.. Kenapa kak Calvin jahat banget..” gumam Anjali sambil terisak.
Namun tiba-tiba Anjali kembali menutup mulutnya karena mendengar seseorang masuk ke dalam toilet.
“Gila lo Ra! Lo tau kan kalo kak Calvin udah punya cewek? Mereka berdua pasangan terkenal di sekolah kita.” Ucap seseorang.
“Hahaha, gue ga perduli! Kak Calvin bilang dia lebih milih gue dari pada ceweknya yang kuper itu!”
“Kurang pergaulan maksud lo?! Lo ga takut kalo kak Calvin deketin lo cuma ada maunya aja yang ga bisa dia dapetin dari ceweknya.”
“I don’t care! Yang penting Calvin udah di tangan gue, gue bisa ngelakuin apa aja biar dia ga bisa lepas dari gue!”
“Udah ah balik yuk, pertandingannya udah mau di mulai! Tim cheers gue pasti udah nungguin.”
Keduanya pun keluar dari toilet membuat Anjali kembali membuka kedua tangannya dan kembali menangis tersedu-sedu.
Drrtt,, drrtt.. ponsel Anjali berdering, dengan segera Anjali melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata itu adalah Nurul sahabatnya.
“H-halo!” ucap Anjali yang napasnya masih tercekat.
“Jel? Lo nangis?!” tanya Nurul yang seketika panik karena mendengar suara sahabatnya yang sesenggukan.
“Engga kok Nur, gue ga nangis.” Balas Anjali yang masih mencoba untuk menutupi kesedihannya kepada sang sahabat.
“Ga usah bohong sama gue! Gue sama lu kenal dari SD, jadi ga mungkin gue ga tau lo kayak gimana Jel, apa lagi kalo lagi sedih!” tegas Nurul.
“Haaaa Nurul, lo emang ga bisa gue bohongin ya..” balas Anjali dengan tangisan yang akhirnya pecah.
“Iya lah! Lo tuh jarang banget sedih, jadi sekalinya sedih udah pasti ketauan banget!”
“Udah, ayo cerita ada Apa? Lo di mana sekarang!?” tanya Nurul yang tidak sabar.
“Gue di toilet Nur,, hikss, hikss gue ga bisa keluar, malu..” balas Anjali.
Setelah mendapat jawaban dari Anjali, Nurul langsung mematikan telfonnya begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.
Anjali yang sedang sedih itu pun hanya bisa mengerutkan keningnya sambil menatap layar ponselnya, dia heran kenapa Nurul tiba-tiba mematikan ponselnya.
Brakk!! Tiba-tiba Anjali terlonjak kaget saat mendengar suara pintu toilet di buka secara kasar.
“Jeli! Lo di mana?!” teriak seseorang yang sangat familiar di telinga Anjali.
Anjali menghela napas panjang sebelum akhirnya dia keluar dari bilik toilet untuk absen dan memberi tahunya kalau dia ada di sana.
“Lo tuh nyariin gue apa mau ngajak ribut sih Nur? Kenceng bener kayak orang nagih utang!” ketus Anjali sambil menghapus sisa air matanya yang ada di pipinya.
Nurul tidak membalas ucapan Anjali, wanita itu langsung menoleh ke arah Anjali dengan tatapan tajam dan langsung berjalan cepat menghampiri Anjali seperti orang kesambet sampa-sampai Anjali melangkah mundur beberapa langkah.
“N-Nur? L-lo kenapa? kok kayak gini tiba-tiba sih?” tanya Anjali yang seketika takut karena melihat wajah Nurul.
Nurul tetap tidak menggubris ucapan Anjali, dia segera memutar tubuh Anjali ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa apakah Anjali memiliki luka atau semacamnya yang membuat wanita itu menangis.
“Lo ga luka kan Jel?” Nurul yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka mulutnya dan mengeluarkan suaranya untuk bertanya.
“Ih, emangnya gue bilang gue luka?” Anjali membalas pertanyaan Nurul dengan pertanyaan juga.
“Ya habisnya kalo ga luka lo kenapa nangis? Ga mungkin kan gara-gara kak Calvin? Hahaha.” Ucap Nurul yang niatnya hanya bercanda.
Tetapi setelah mendengar pertanyaan Nurul, seketika ekspresi wajah Anjali berubah membuat Nurul yang awalnya tertawa seketika langsung diam.
“Kok wajah lo tiba-tiba berubah gitu Jel? Ga mungkin beneran gara-gara kak Calvin kan?” tanya Nurul kembali.
Anjali tidak menjawab apa-apa, dia hanya menundukkan kepalanya yang membuat air matanya mulai terjatuh lagi.
“Beneran lo nangis gara-gara kak Calvin!? Serius Jel? Kenapa?” tanya Nurul yang tidak percaya dengan pemikirannya.
“T-tadi gue, tadi gue liat kak Calvin Nur, hikss, hikss terus aku liat mereka lagi c-ciuman!” ucap Anjali terbata-bata.
“Mereka siapa?! Kak Calvin? Sama siapa!?”
“Iya lah! Kak Calvin sama anggota cheers, gue ga tau siapa soalnya gue ga liat wajahnya.” Balas Anjali.
“Haaah...” nurul menghela napas panjang meratapi nasib sahabatnya yang malang itu.
“Udah yuk kita keluar dari sini, emang ga ngerasa ada bau bau pesing gitu? Hahaha..” lanjut Nurul yang mulai ngelawak agar Anjali tertawa, dan ternyata rencananya itu berhasil.
“Hahaha, apaan sih Nur! Kalo udah ketemu lo kayaknya ga bisa galau gue!” balas Anjali yang sudah mulai tertawa.
“Ya lagian ngapain juga galau? Lo kan udah punya tunangan yang ganteng dan gagah banget gitu!” ucap Nurul dengan bibir yang di miring-miringkan.
“Berisik lo! Kalo ada yang denger gimana coba! Udah ayo keluar.” Ajak Anjali.
“Biarin aja denger! Kalo bisa si Calvin tuh juga denger biar dia ciut nyalinya, saingannya bukan sembarang saingan!” ucap Nurul.
“Apaan sih lu lebay deh!” ucap Anjali sambil meninju lengan Nurul perlahan.
Keduanya pun akhirnya keluar dari toilet setelah mengobrol di dalam sana.
“Lo mau ke mana sekarang?” tanya Nurul.
“Gue mau balik aja deh, gue males banget liat muka si tukang selingkuh!” balas Anjali dengan nada yang penuh dendam.
“Jangan balik! Lo harus bersikap biasa aja kayak ga terjadi apa-apa, terus lo bisa bales dendam ke dia!” ucap Nurul memberi ide.
“Gimana caranya?” tanya Anjali.
“Duh Jeli, lu cantik doang tapi oon ya? lu harus bikin dia lebih sakit hati gimana pun caranya!” balas Nurul.
“Lu ngatain gue oon? Lu juga cuma pinter masalah percintaan doang kali, seenggaknya gue pinter kalo masalah pelajaran!” ucap Anjali tidak terima.
“Iya deh serah lo! Intinya sekarang gue yang pinter, jadi lo ikutin aja perintah gue!” tegas Nurul.
“Ya ya pakar cinta, jadi lo mau gue ngapain sekarang? Gue udah bertekad ga akan nangisin si tukang selingkuh itu!” ucap Anjali yang masih mengingat jelas sekali apa yang sudah dia lihat tadi.
“Good girl! Lo emang ga pantes nangisin dia! Sekarang kita harus nonton pertandingan itu dan lo harus pura-pura mendukung dia dengan sepenuh hati.” Nurul mulai menjelaskan idenya.
“What!? Lo nyuruh gue apa? Nyemangatin dia dengan setulus hati? Di saat gue masih sakit hati?!” ucap Anjali tidak terima dengan ide yang di jelaskan Nurul.
“Ga bisa! gue tau lo sakit hati, tapi gue lebih tau kalo lo bisa ngendaliin perasaan lo dengan baik! Lo kan jago akting!” ucap Nurul.
“Kenapa gue jadi jago akting? Gue bukan artis, bukan ratu drama kayak lo juga!” balas Anjali.
“Heh! Selebgram juga bisa di bilang artis tau! Gue tau kok, waktu lo nangis kejer gara-gara burung kesayangan lo mati lo masih bisa ngonten dengan ceria kayak ga ada masalah apa-apa!”
Mendengar ucapan Nurul membuat Anjali teringat kejadian beberapa bulan yang lalu saat burung beo kesayangannya mati karena di gigit kucing liar, dia menangis sangat kencang bahkan sampai tersedu-sedu.
Tapi karena masih ada endorse yang belum dia kerjakan akhirnya dia tetap ngonten dengan wajah yang ceria seperti tidak terjadi hal buruk.
“Ya itu kan beda Nur!”
“Sama aja! Udah ayo, tetap seperti Jeli yang Calvin kenal oke?! Buat Calvin tergila-gila sama lo sampe dia ga mau jauh dari lo, dan buat si cewek gatel yang udah goda Calvin cemburu buta!” jelas Nurul dengan semangat membara.
Anjali yang mendengar ide sahabatnya itu mengangguk perlahan, dia merasa kalau ide sahabatnya itu memang ada bagusnya juga untuk di coba.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments