“Yi Xing! Yi Xing!”
Yi Xing membuka matanya. Samar-samar dia mendengar suara bibi Ning. Benar, itu suara bibi Ning. Dia ada di depan mata Yi Xing kala anak itu membuka matanya.
Bibi tersenyum sangat ramah. Tangannya mengusap kepala Yi Xing. Dia sudah berada di desa saint jiwa. Di rumah kayu bibi. Ada tumpukan jerami, ember kayu dan pakaian yang dijemur.
Yi Xing menatap kedua tangannya. Ini pasti mimpi. Bagaimana mungkin ada bibi Ning di sini. Dia ingat kalau bibi Ning sudah pergi meninggalkannya bersama guru Mo empat tahun lalu. Waktu itu terasa relatif cepat. Cepat sekali.
“Bibi Ning, kau kembali?” kata Yi Xing. Anehnya dia melontarkan kalimat itu.
Bibi tersenyum lagi. “Bibi kembali menjemputmu.”
“Menjemputku? Untuk apa?” Dahi Yi Xing mengernyit. Ada yang janggal. Tapi apa?
Bibi Ning membawa Yi Xing masuk ke dalam rumah kayunya. Duduk di sana. Yi Xing berdiri, masih menatap wajahnya tidak percaya. Ini bagaikan mimpi.
“Kau sudah cukup kuat. Sudah bisa ikut bibi pergi.” Bibi melanjutkan ucapannya.
Wajah cantik bibi Ning mengukir senyum. Rambut hitamnya semakin terlihat enak dipandang. Namun bukan itu yang membuat Yi Xing bingung.
“Bibi, aku bahkan belum mencapai battle ranking seratus ribu. Bagaimana bisa aku pergi denganmu.” Yi Xing menyanggah.
Bibi masih mengulas senyum. Tangannya menjulur, mengusap pipi keponakannya. “Kau sudah cukup hebat untuk bisa ikut dengan bibi.”
“Hebat?” Yi Xing mengulangi kata-kata tadi. “Aku masih jauh dari kata itu, Bibi. Aku belum berhasil. Aku masih gagal. Bagaimana mungkin ....”
Saat mendengarnya, Yi Xing makin merasa ada yang salah. Kata-kata hebat belum pantas disematkan padanya saat ini. Dia belum sehebat itu. Buktinya dia kalah dalam melawan Yu Lingzhi. Dia ditekan dalam tehnik surga habis-habisan. Dia hampir tidak bisa bernapas. Bagaimana mungkin dia bisa disebut hebat.
Yi Xing menatap tajam wajah bibi Ning. “Tidak! Ini pasti salah!” teriaknya.
Seketika dunia di desa saint jiwa berubah lagi. Bagai dirobek. Ilusi itu membawa Yi Xing ke dunia spiritualnya. Tempat ini lagi. Di depan Yi Xing Dewi itu muncul lagi. Dewi roh. Dewi yang tidak terlihat bagaimana rupa aslinya. Hanya ada bayang-bayang semu semata.
“Bagaimana? Apakah kau akan menyerah di bawah tekanan Yu Lingzhi?” Dewi roh berkata. Dia mendekati Yi Xing.
“Tidak! Aku tidak ingin kalah! Aku ingin hebat. Aku tidak mau mati secepat itu di bawah tekanannya!” Yi Xing menyangkal. Tangannya membentuk gerakan penolakan.
Dewi roh itu tersenyum. Suaranya terdengar seperti puas mendengar ambisi bocah sepuluh tahun ini. “Apakah kau bisa membuktikan kau layak disebut hebat!”
Yi Xing tertunduk. Ditatapnya pantulan badannya di atas air kaca dunia spritual. Dia ragu mengungkapkan. Tetapi dia juga tidak mau dianggap lemah.
“Aku akan melakukan apapun supaya bisa mengalahkan Yu Lingzhi. Kejahatannya tidak bisa dimaafkan.” Yi Xing berkata menggebu-gebu.
Dewi roh mendekati Yi Xing lagi. “Kau tahu dia siapa?”
Yi Xing menggeleng, “Tidak.”
Dewi roh terbang ke sana-kemari sembari menjelaskan. “Jika usia mudanya sudah sekuat ini, sudah pasti bahwa lawanmu itu bukan manusia level saint, melainkan seorang Dewi. Ketika kau ingin menolong seseorang, kau juga harus memikirkan sebab dan akibat yang akan ditimbulkan.”
“Apakah dengan usia seperti itu dia jauh lebih hebat dari manusia biasa?”
Dewi roh mengangguk. “Satu-satunya yang layak menjadi lawan mereka adalah seorang dewi juga. Manusia biasa seperti kalian itu hanyalah semut di matanya.”
“Lantas, bagaimana caranya aku mengalahkan dia?!” Yi Xing bertanya cepat.
Dewi roh menggeleng. “Tidak ada yang bisa kau lakukan selain menjadi hebat. Dengan begitu kekuatan kalian akan sebanding.”
Yi Xing terdiam. Hebat? Bagaimana caranya hebat? Dalam usianya yang masih belia, menembus level saint saja harus berjuang keras. Bagaimana mungkin dia harus jadi hebat di usianya yang terbilang kecil ini.
Melihat Yi Xing diam, membuat Dewi roh mendekatinya. Ada banyak keraguan terlihat di wajah anak itu.
“Kau memang belum bisa mengalahkannya. Tetapi aku bisa membantumu untuk menyelamatkan dua gadis cantik itu.”
Yi Xing langsung mendongak. Tidak pikirin panjang. “Aku tidak peduli apa bayarannya. Aku hanya mau kau membantuku menyelamatkan mereka. Tidak boleh ada yang terluka.”
“Sebagai guru spiritualmu, aku tidak meminta imbalan apapun. Karena dengan memastikan kau baik-baik saja, maka aku akan tenang.” Dewi roh putar badan, menatapnya lagi. “Kau sudah siap?”
Yi Xing mengangguk, “Ya, aku siap.”
Anak itu menjawab menatap dan tegas. Dewi roh langsung bertindak. Dia masuk ke dalam simbol dewi di antara alis Yi Xing. Lenyap seketika. Dunia spritual juga hilang. Yi Xing kembali ke dunianya saat ini. Dewi roh menyatu dengan tehnik Yi Xing.
Mata anak itu terbuka perlahan. Pelan-pelan sakit akibat kekangan di tubuh lenyap. Efek tehnik surga sudah tidak berlaku lagi padanya. Tehnik pengekangan mulai hancur, Yi Xing terbebas.
Yu Lingzhi dibuat terkejut. Bukan main. Yi Xing satu-satunya manusia yang bisa melewati situasi mematikan ini. Belum sempat Yu Lingzhi mengeluarkan tehnik berikutnya, Yi Xing sudah menyerang gadis itu.
Dengan serangan pedang, Yi Xing berhasil memukul mundur tubuh Yu Lingzhi. Dewi itu sampai harus terpental ke tanah, tetapi tidak sampai terjatuh.
“Tehnik pertama, hujan pedang!” Yi Xing menambahkan serangannya.
Ribuan pedang roh menghujani badan Yu Lingzhi. Perempuan itu menghindar lagi. Dia cepat bergerak. Tetapi hujan pedang roh mampu mengejar pergerakan anak itu. Yi Xing mengendalikan dengan tangannya. Bergerak ke sana dan ke sini, mengejar Yu Lingzhi ke manapun dia pergi.
Mata anak itu bercahaya. Lagi-lagi mata merah dan emas itu muncul. Pesona dewi kali ini bertindak, dirasa hujan pedang tidak bisa mengatasi Yu Lingzhi.
“Tehnik ketiga, pesona dewi, pengekangan!” Yi Xing menggerakkan lagi jemarinya, memerintah kekuatan untuk melawan Yu Lingzhi.
Tehnik pesona dewi berhasil mengekang dan mengunci pergerakan Yu Lingzhi. Hujan pedang juga terus menghujani gadis itu.
Yi Xing tahu, hanya dengan menahannya saja tidak cukup. Cepat atau lambat tehnik miliknya bisa dikalahkan oleh Yu Lingzhi. Sehingga saat ini Yi Xing hanya ada satu pilihan. Untuk sekarang menghindarinya. Mata bercahaya itu masih mengawasi serangan pada Yu Lingzhi. Dia menangkis setiap ribuan pedang yang menyangsang ke arahnya.
Tehnik penguncian perlambatan gerak dari pesona dewi bahkan masih bisa membuat gerakan Yu Lingzhi lincah. Memang patut disebut sebagai seorang Dewi. Padahal usianya masih sangat kecil. Yi Xing takjub akan hal itu.
“Tehnik surga, pedang kematian!” Yu Lingzhi akhirnya mengeluarkan tehniknya yang cukup kuat.
Yi Xing sudah tidak ada kesempatan. Kedua tehniknya telah dihancurkan. Maka dengan secepat kilat, dia harus membawa Wei Lin dan Yu Chan pergi menjauh dari sana.
“Kau tidak akan bisa kabur dariku, manusia sampah!” teriak Yu Lingzhi. Dia ingin menyerang Yi Xing, tetapi gerakannya tertahan.
“Tehnik kedua pesona dewi, perlambatan!” Yi Xing bertindak lagi.
Sayap besar Yu Lingzhi kaku. Tidak bisa bergerak leluasa. Seperti diikat oleh rantai besi. Tulang-tulangnya juga mati rasa. Yi Xing sialan. Dia berhasil mengunci pergerakan Yu Lingzhi. Gadis itu hanya bisa terdiam melihat Yi Xing berhasil membawa kembarannya pergi. Yu Lingzhi mendesis marah.
“Lain kali aku akan membunuhmu manusia tidak berguna!” kata Lingzhi murka.
Dalam sekejap mata, Yi Xing sudah lenyap dari pandangan. Yu Lingzhi tidak memiliki kesempatan untuk mengejar anak itu.
Tehnik pesona dewi Yi Xing berakhir. Reaksinya amat singkat. Yu Lingzhi merobek langit dengan pedangnya. Terciptalah portal untuk berpindah alam.
“Aku akan mengingat penghinaan hari ini. Akan aku pastikan kalian mati di tanganku.” Yu Lingzhi sempat melirik ke belakang, ke arah hutan luas di depan sana. Yi Xing dan dua gadis itu dibawa ke sana.
Dia mengingat kejadian ini. Seumur hidupnya dia akan mengingat wajah anak itu. Kemudian sedetik berikutnya, Yu Lingzhi masuk ke dalam robekan yang diciptanya tadi. Lenyap dari sana. Sebuah kekuatan teleportasi yang sangat hebat.
“Dia tidak mengejar,” kata Yi Xing. Sesekali dia melirik ke belakang. Matanya masih berpencar cahaya.
Untungnya Yi Xing bisa menghindari Yu Lingzhi. Jika tidak, kemungkinan mereka bertiga akan mati. Yi Xing membawa Wei Lin dan Yu Chan ke dalam hutan akademi. Di sana dia merasa akan aman. Dua gadis itu sudah terkapar tak berdaya.
“Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai.” Yi Xing menambahkan kecepatannya. Melesat melintasi setiap dahan pohon. Dua gadis itu pingsan. Mereka sama-sama terluka parah. Kehabisan tenaga. Untungnya nyawa mereka masih ada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Jemmy Mangkey
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⚡⭐⭐⭐⭐💤💤💤💤
2024-05-16
0