Yi Xing tiba di asrama. Pelayan akademi hanya mengantar saja, tidak sampai menjelaskan detail di tempat ini. Namun pelayan akademi bilang, dia bebas memilih tempat tidur yang manapun dalam ruangan besar asrama itu. Yi Xing akan bergabung dengan murid asrama lainnya. Anak itu tidak banyak bertanya. Dia cenderung mematuhi apa yang kata orang bilang.
Tetapi ....
“Jangan sentuh tempat itu. Aku pemiliknya!” Perempuan sebaya dengan Yi Xing memberitahu. Nada bicaranya sombong dan arogan.
Tatapan gadis itu menyalak, seperti akan menelan orang. Yi Xing menelan ludah tercekat. Dia tidak berniat mencari perkara, tetapi gadis kecil ini seakan menantang. Dia galak. Yi Xing mendelik melihat betapa ketusnya bibir itu berkata.
“Pelayan akademi bilang siapa saja boleh memilih tempat tidur. Artinya aku berhak memilikinya. Aku yang pertama di sini!” Yi Xing menjawab mantap.
Dia tidak gentar membalas ucapan bocah mungil di depannya. Gadis itu Wei Lin, dia murid nomor satu guru Mo. Tempat yang mereka perebutkan adalah tempat tidur besar dan rapi. Asrama sangat luas. Bisa menampung lebih dari dua puluh murid. Ada pilar penyangga. Ada patung dewi keadilan di tengah-tengah bangunan itu. Megah sekali.
Wei Lin mendengus, tak suka dibantah. “Aku dari keluarga bangsawan. Aku berhak membeli tempat itu.”
“Tetapi semua yang ada di sini bebas dimiliki siapapun!”
“Aku tidak peduli! Tempat itu milikku!” ucap Wei Lin tegas. Dia mutlak ingin memilikinya.
Yi Xing sempat mengerutkan keningnya. Dia tidak suka gadis ini. Ingin rasanya Yi Xing menghajar Wei Lin. Tetapi Yi Xing ingat, dia tidak perlu mengeluarkan kekuatan hanya untuk berhadapan dengan gadis menyebalkan ini. Apalagi harus berhadapan dengannya.
Yi Xing menghela napas. Dia mengalah. Okelah, Wei Lin menang. Yi Xing tidak akan mempermasalahkan hal ini. Bocah lelaki itu menjauh dari tempat yang semula akan dimiliknya. Merelakan tempat itu diambil alih oleh si gadis menyebalkan.
Wei Lin mendengus. Merasa menang, maka dia tidak perlu menguras tenaga. Tetapi tetap saja, dia arogan. Dia memandang rendah sosok Yi Xing. Gadis itu menilai kalau Yi Xing berasal dari keluarga susah. Identitasnya mudah ditebak. Dia hanya pencari keuntungan di akademi ini.
“Ehm ..., kau pasti murid baru?” Wei Lin bertanya. Kali ini ucapannya agak santai.
Yi Xing menjawab sopan. “Ya.”
“Siapa gurumu?”
“Guru ..., Guru Mo.” Yi Xing menjawab ragu.
Bocah perempuan itu melotot. Terkejut. “Tidak mungkin!”
“Kau tahu guru Mo?”
“Ya, aku tahu! Dia guruku! Dia guru yang dibayar oleh keluarga untuk menjadi guruku selama di akademi. Kau tahu, aku berasal dari keluarga bangsawan!” Wei Lin menjawab tegas.
Tangannya melipat di dada. Dia marah besar. Bisa-bisanya guru Mo memiliki murid lain—selain dia. Guru Mo harus diadukan kepada tetua keluarga. Reputasinya selama ini sangat baik. Guru Mo hanya mau menerima satu murid. Ini menjadi yang menggemparkan bagi Wei Lin.
••••
“Guru, aku bertemu dengan murid guru.” Yi Xing menjelaskan singkat.
Sore itu dia menemui guru Mo di taman belakang akademi. Guru ada urusan dengan tetua akademi. Namun urusan itu sudah berakhir. Guru Mo menghela napas kecil dan tipis. Satu tangannya melipat di belakang punggung.
“Kau sudah mengenalnya?” Guru Mo balik bertanya.
Yi Xing menggeleng. “Tidak. Tapi dia memberitahuku kalau dia berasal dari keluarga bangsawan.”
“Ya, dia memang putri seorang bangsawan di pinggiran kota Guiyang.”
“Apakah guru akan terlibat masalah? Aku dengar, setiap guru di akademi ini hanya boleh memiliki satu murid, terutama dari keluarga bangsawan?” Yi Xing menatap sendu wajah guru Mo.
Pria itu mengulum senyum tipis. Tangannya terangkat, mengusap pelan bahu kanan Yi Xing. “Aku akan mengurus itu nanti.”
Guru memandang ke depan. Cakrawala sore mulai muncul. Matahari turun di ujung langit. Di depan guru dan murid itu adalah lapangan rumput hijau. Tempat paling indah menurut Yi Xing adalah datang ke sini. Menikmati setiap pemandangan dengan pikiran tenang. Namun, percakapan keduanya terganggu saat Wei Lin datang bersama tetua keluarga bangsawannya.
“Kakek, guru Mo berkhianat! Dia memiliki murid lain—selain aku!” Wei Lin menunjuk kasar wajah guru Mo.
“Aih ....” Kakek tetua menghela napas sengal. Langkahnya terbata-bata mendekati guru Mo. Kakek tetua sudah sangat sepuh. Dia bungkuk. Jalannya amat lambat. Suaranya saja sudah bergetar saat didengar. Parau pula. Serak-serak berantakan.
“Nona Wei Lin mungkin salah paham!” Guru Mo berusaha menjelaskan. Namun tetua keluarga Wei lebih paham dari segalanya.
“Hanya masalah anak-anak, tidak perlu dibesar-besarkan,” ujar tetua Wei. Suaranya parau nan ringkih. Kemudian tetua itu melirik cucunya yang sedang menahan sebal. “Lin’er, kau tidak harus melaporkan ini kepada keluarga.”
“Tapi kakek, guru Mo melanggar aturan khusus akademi!”
Kakek menggeleng pelan. “Dia tidak melanggar aturan akademi. Hanya saja, keluarga kita yang egois memintanya untuk menjadi guru pribadimu, Lin’er.”
Wei Lin mendengus. Dia tidak suka jawaban kakek. Alih-alih membelanya, Wei Lin malah disalahkan. Guru Mo bahkan harus dibuat memijit kepala. Dia selama ini sabar melatih Wei Lin selagi dalam pengasuhannya.
Kakek tetua lantas memandang takzim wajah polos Yi Xing. Bocah itu memiliki penampilan yang akan membuat orang senang melihatnya.
“Siapa namamu?” tanya kakek.
Yi Xing memberanikan diri menatap pria tua itu. “Aku Yi Xing.”
“Hoo ..., kau murid guru Mo?”
“Ya, tetua!” jawab Yi Xing tegas.
Kakek tetua mengusap surai jenggotnya yang tebal dan panjang. Dia memerhatikan dengan seksama. “Rupanya kau juga ingin menjadi seorang saint.”
“Benar tetua. Aku meminta bimbingan guru Mo!” Yi Xing masih menjawab sopan.
Melihat kesungguhan anak di depannya, tetua Wei jadi takjub. Anak muda ambisius. Dia takkan mempermasalahkan guru Mo memiliki murid lain. Baginya ini bukan masalah besar.
“Lin’er, aku ingin bicara berdua dengan guru Mo. Bisakah kau bawa Yi Xing meninggalkan kami berdua?” Tetua melirik sekilas cucunya.
Wei Lin ingin menolak. Tetapi yang memerintahnya saat ini kakek. Orang yang dicintainya. Maka Wei Lin tidak punya pilihan selain membawa Yi Xing menjauh dari sana
“Ikut aku!” kata Wei Lin. Dia masih berkata ketus dan menyebalkan.
Guru Mo mengangguk pelan ketika Yi Xing menatapnya. Yi Xing mengekori bocah perempuan di depannya, meninggalkan guru Mo dan kakek tetua. Meskipun Wei Lin gadis yang menyebalkan, tetapi dia cukup cantik. Satu-satunya bocah paling cantik di akademi Tianmen.
Tidak hanya itu. Di bawah pengawasan guru Mo, gadis kecil ini bahkan sudah memiliki battle ranking yang cukup tangguh. Satu-satunya gadis yang mampu mengalahkan seniornya yang memiliki nilai BR di atas lima belas ribu.
“Jangan hanya karena kakek berkata seperti tadi, bukan berarti dia memihakmu!” Wei Lin menatap marah bocah lelaki di depannya.
Yi Xing menelan ludah tertahan. Senyum jenaka tercipta. Dia sedang meledek Wei Lin. Gadis itu sadar, senyum itu menyebalkan.
“Hei ..., kau tidak mendengarkanku?” Wei Lin berteriak.
Dia berseru. Suaranya menggelegar. Yi Xing tidak memperdulikannya sama sekali. Putar badan, bersiap meninggalkan halaman akademi, dekat dengan aula arena pertandingan.
Wei Lin terlanjur marah. Dia tidak bisa seperti ini. Semua orang harus hormat padanya. Tidak berpikir dua kali, Wei Lin segera mengeluarkan jurusnya. Melangkah cepat, menghajar lawan dan siap memukulinya.
Untungnya, gerakan Yi Xing tak kalah cepat. Dengan sigap dia menghindari serangan Wei Lin. Kecepatannya cukup besar.
Serangan Wei Lin hampa. Namun dia tidak berhenti. Serangan Wei Lin bertubi-tubi. Sebagai murid akademi baru, Yi Xing belum tahu tehnik apa yang harus dikeluarkannya. Selain menghindar dan siap menerima pukulan keras Wei Lin. Melompat ke sana-sini, mencari peluang menghindar.
“Aku akan memukulmu sampai kau terluka parah!” ujar Wei Lin.
Pukulan-pukulan menghantam tangan Yi Xing. Dia menggunakannya sebagai pertanahan badan.
“Aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha untuk melawanmu!” Yi Xing menjawab.
Dia tidak takut. Tetapi tetap saja, Yi Xing pada akhirnya akan kalah oleh lawan yang battle ranking di bawahnya. Yi Xing hanya kalah tehnik.
Bocah itu terpental berguling-guling di rumput. Bahkan mengeluarkan darah di mulutnya. Dia terluka. Tapi langsung cepat berdiri. Wei Lin kembali mengeluarkan serangannya. Namun kali ini Yi Xing berhasil memblokade.
Serangan Wei Lin memang mengenai dada Yi Xing. Itu cukup membuatnya terdorong mundur. Hal berlaku juga untuk Wei Lin. Dia juga dibuat mundur ulah kekuatan yang dikeluarkan. Bahkan harus mengeluarkan darah.
“Kau ....”
“Hentikan seranganmu! Kita tidak ada masalah!” Yi Xing mengingatkan.
Saat itu juga, Wei Lin yang berada di puncak amarah mendadak menurunkan tensinya. Meski tatapan mata itu ingin sekali membunuh orang di depannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Jemmy Mangkey
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
2024-05-16
0