Pertandingan berlangsung lagi. Hari kedua.
“Perhatikan anak itu. Dia termasuk jenius yang harus kau waspadai.” Satu guru murid akademi membisik pada muridnya.
Orang itu memerhatikan dari atas panggung arena. Di tribun penonton pertandingan. Matanya awas mewaspadai. Yi Xing sedang bertarung di atas arena pertempuran, melawan murid dengan BR yang berada di atasnya.
“Guru, anak itu cerdik. Aku tidak yakin bisa mengalahkannya.” Murid tadi berkata pelan.
Sang guru menatap marah. Dia tak senang. “Bodoh. Jangan jadi sampah akademi jika kau ingin masuk ke akademi Guiyang. Kau pikir para saint kekaisaran Guiyang dari mana? Sebagian besar berasal dari akademi Tianmen.”
“Maaf guru. Aku akan berusaha!” Sang murid membungkukkan badannya.
Guru itu menaruh dendam dan tak senang dengan guru Mo. Dia membencinya. Semua murid pilihan guru Mo selalu berada di atas murid-murid para guru lainnya di akademi ini. Menjengkelkan.
Anak tidak jelas asal-usulnya itu mendominasi setiap pertandingan. Guru ini tak suka. Mau bagaimanapun, harusnya murid yang diajarinya yang berhak berada dalam daftar sepuluh besar pertandingan kali ini.
Kembali pada pertandingan Yi Xing di arena pertempuran.
“Junior, kau mungkin bisa mengalahkan You Gang kemarin. Namun hari ini, keberuntunganmu akan terkikis.” Lawan Yi Xing berkata sumbang.
Nada bicara angkuh itu sudah biasa Yi Xing dengar. Remaja itu tidak membalasnya dengan kata-kata kasar. Yi Xing memerhatikan gerak-geriknya. Dia memiliki tehnik dewa petir. Akan sulit mengalahkannya jika berhadapan langsung. Sengatan tehnik dewa petir harus diwaspadai. Jika terkena sambarannya, maka lawan akan lumpuh sementara.
“Yi Xing, battle rangking dua puluh tujuh ribu, siap menantang senior Wang Yue.” Yi Xing mengeluarkan tehnik pertama roh kupu-kupu.
Wang Yue memutar tangannya, mengeluarkan cincin dewa pertama. “Wang Yue, battle ranking dua puluh sembilan ribu, menerima tantangan junior Yi Xing.”
Wang Yue menyerang pertama. Dia maju secepat kilat. Kecepatan petir. Hampir sama dengan kecepatan Wei Lin. Sayangnya, dia masih belum secepat Wei Lin dalam bergerak. Dia tidak lincah. Wei Lin gesit. Sekejap mata dia ada di depan lawan. Sedangkan Wang Yue masih terlihat celah pergerakannya. Anak itu belum mempelajari banyak tehnik. Jauh tertinggal di belakang Wei Lin.
“Jiwa keempat, pesona dewi, perlambat gerakan.” Mata Yi Xing mengeluarkan cahaya. Lensanya berubah menjadi merah dan emas.
Pedang tajam Wang Yue menyasar tepat di depan muka Yi Xing. Tetapi dalam gerakan lambat ini, Yi Xing bisa menghindarinya dengan mudah. Yi Xing ada di belakang Wang Yue, dengan tinjuan kuatnya, dia menghantam punggung belakang Wang Yue.
Ketika pesona iblis berakhir, Wang Yue dibuat jatuh ke lantai arena pertarungan. Orang-orang terkesan. Berbisik-bisik. Yi Xing mengalahkan Wang Yue dalam sekali gerakan.
“Aku tidak akan kalah!” kata Wang Yue. Tatapannya marah. Dia berdiri tertatih-tatih. Sakit sekali rasanya ketika tehnik pertamanya berhasil dipatahkan Yi Xing begitu saja.
Yi Xing menapakkan kakinya di lantai arena. Mereka berhadapan muka. Wang Yue mengeluarkan lagi tehnik keduanya.
“Tehnik kedua, gelombang petir!” Wang Yue mengayunkan senjatanya. Kekuatan roh pedang menyerang Yi Xing lagi.
Tapi serangan itu gagal lagi. Yi Xing cepat menghindar, terbang berlainan arah. Dari atas, Yi Xing memanfaatkan momentumnya. Menyerang balasan dari udara.
“Tehnik ketiga, perangkap pesona dewi!” Yi Xing berseru.
Kekuatannya memenjarakan Wang Yue. Anak itu berusaha menahan. Tetapi tekanan yang diberikan Yi Xing tidak bisa dibendung. Portal kekuatan itu terus mengikis pergerakan Wang Yue.
Yi Xing menambahkan serangannya melalui pesona dewi. “Tehnik kedua, pesona dewi, hipnotis!”
Wang Yue yang tidak sengaja melihat tatapan mata Yi Xing yang indah, membuatnya terbuai. Dia terlena. Menganggap Yi Xing di depannya sangat mempesona. Bak seorang wanita paling cantik yang pernah ditemuinya. Wang Yue masuk ke dalam perangkap Yi Xing. Tanpa disadarinya, anak itu telah keluar dari arena.
Semua orang menatap terkejut. Pemenang sudah ditentukan. Dewi arena, perempuan itu datang. Mengumumkan hasil pertandingan.
“Lagi-lagi peserta Yi Xing mendominasi pertempuran. Selamat kepada Yi Xing yang telah memenangkan pertandingan lima kali beruntun. Dan mendapatkan MVP keduanya.”
Para murid, terutama murid-murid perempuan terpesona. Ikut terbuai. Pelepasan pesona dewi membuat mereka terhipnotis. Yi Xing mengukir senyum di wajahnya. Senyum malu-malu.
Dewi arena berkata lagi. “Pertandingan ini sudah ditentukan. Yi Xing sebagai pemuncak klasemen saint putra, mendapatkan battle point tertinggi, menembus angka tiga puluh ribu point.”
Penonton bersorak. Nilai pertempuran diumumkan. Ada layar khusus yang menampilkan daftar nama peserta pemilik nilai pertempuran tertinggi. Semua bisa menyaksikannya. Sepuluh teratas akan ditampilkan secara langsung.
“Meski belum mendapatkan MVP, Tian Heng berada diperingkat kedua dengan nilai point pertempuran delapan belas ribu dari lima pertandingan.” Dewi arena memberitahu lagi.
Dia mengucapkan selamat kepada semua peserta. Sementara Yi Xing kembali ke tribun penonton menemui Wei Lin, di seberang sana Tian Heng dan gurunya memerhatikan anak itu.
“Dia merebut posisi MVP lagi. Anak itu cukup harus diwaspadai.” Guru Long, guru pribadi Tian Heng berkata pelan.
Tian Heng menatap gurunya. “Aku akan merebut posisi pertama itu guru. Kau jangan khawatir.”
“Anak itu belum mengeluarkan tehnik saint-nya. Kau harus berhati-hati.” Guru Long mengingatkan.
Tian Heng tertawa remeh. “Kita lihat saja guru. Apakah dia bisa bertahan dari panah mematikan milikku ini. Aku akan membuat guru Long bangga padaku.”
Guru Long mendengus. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulutnya. Sedangkan para tetua akademi menatap takjub anak itu. Nampaknya pertandingan calon saint ini makin heboh dan meriah.
“Guru Yao Hao, bagaimana menurutmu anak itu.” Ketua akademi bertanya pelan.
Ketua akademi terlihat sangat masyhur. Memakai mahkota dan tongkat emas. Bajunya adalah jenis kain paling mahal. Dia sepertinya seorang jenderal perang dengan uban putih sempurna di kepala.
Ketua akademi duduk di kursi tertinggi dalam aula pertemuan ini. Itu adalah posisi paling mulia seorang tetua pendiri akademi. Tetua yang bijaksana dalam memimpin.
Guru Yao balas berkomentar, “Entah dari mana asal-usul anak itu, yang pastinya Yi Xing ini bisa membuat nama akademi akan membumbung tinggi lagi, ketua.”
“Siapa gurunya?” tanya tetua akademi.
“Dia berada di bawah naungan guru Mo. Bersama dengan putri keluarga bangsawan Wei.” Guru Yao menjelaskan pendek.
Tetua berjanggut putih itu menganggukkan kepalanya pelan. Oh, pantas saja. Tidak heran kalau Yi Xing bisa memuncaki klasemen pertandingan. Tutornya adalah guru Mo. Reputasinya di akademi tidak diragukan. Dia adalah guru akademi paling banyak mengirim muridnya ke akademi Guiyang. Dia hebat dalam membuat taktik untuk para muridnya.
Pertandingan berakhir lagi. Sekian untuk kali ini. Yi Xing dan Wei Lin hanya kebagian bertarung sekali. Sebenarnya pertandingan masih berlangsung, tetapi guru Mo meminta Wei Lin dan Yi Xing meninggalkan arena lebih awal. Mereka perlu berlatih.
“Pertahananmu jauh lebih baik hari ini daripada kemarin.” Guru Mo menyampaikan komentarnya atas pertandingan Yi Xing tadi.
Wei Lin dan Yi Xing menemui guru Mo di ruangan pribadinya. Guru Mo berkata santai. Bergantian melirik dua anak didiknya.
“Untuk pertandingan Wei Lin, meskipun belum mendapatkan MVP, setidaknya kau lebih baik. Kau mendapatkan battle ranking yang cukup signifikan. Dari lima pertandingan, kau sudah menembus angka empat puluh ribu battle ranking. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam pertandingan.”
Wei Lin merapatkan kedua tangannya. Bibir itu berbicara penuh kehormatan. “Semua berkat guru Mo.”
Guru Mo menarik napas panjang. Kemudian dia berbicara lagi pada Yi Xing. “Meski battle ranking-mu hanya naik tiga ribu, setidaknya ini kemajuan yang baik. Kau juga mendapatkan MVP dua kali. Secara taktis, kau lebih banyak bekerja menggunakan otak daripada tehnik yang aku ajarkan. Kau termasuk baik, karena belum mengeluarkan tehnik pedang.”
“Aku akan berusaha lebih keras lagi, guru Mo.”
Guru mengibas tangannya. “Pertahankan taktik yang selama ini kau pelajari. Di final, aku yakin kau akan bertemu dengan Tuan muda Tian Heng. Dia salah satu jenius yang bisa membuatmu kerepotan dalam arena.”
“Guru, bisakah aku menantang dalam ronde campuran!?” Wei Lin menyahut.
Guru menggeleng. “Kau hanya perlu fokus pada ronde saint putri. Jangan pernah terpancing. Mengatur emosional adalah salah satu latihan yang guru ajarkan pada kalian.”
Wei Lin kecewa saat guru menjawab demikian. Namun sebagai seorang murid, Wei Lin tidak punya kuasa membantah perintah sang guru. Dia patuh. Wei Lin sudah berubah menjadi Tuan putri yang tidak lagi keras kepala. Dia benar-benar sudah tidak mengenal apa itu sikap arogansi.
Yi Xing menekan bahu Wei Lin pelan. “Urusan Tian Heng tidak perlu kau pikirkan. Aku bisa mengatasinya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Jemmy Mangkey
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⚡⚡⚡⚡⚡⚡⚡
2024-05-16
0