Yi Xing dan Wei Lin telah berada di pinggir hutan akademi. Mereka mempelajari tehnik roh kupu-kupu di sana bersama. Sudah duduk bersila, mata terpejam dan tangan diletakkan di kaki. Semacam meditasi. Sinar kekuatan muncul. Yi Xing mempelajari tehnik kupu-kupu tahap lanjutan. Sedangkan Wei Lin mempelajari tahap sayap.
Wei Lin dan Yi Xing kemudian terhubung di dalam dunia spritual. Di mana dunia itu tercipta karena mereka sama-sama mempelajari tehnik kupu-kupu roh biru ini. Dunia spiritual mereka luas. Tempat yang tenang dan nyaman.
“Tehnik roh kupu-kupu, bersinar!” Wei Lin berseru. Matanya yang tertutup seketika terbuka. Diikuti dengan sayap biru kupu-kupu roh keluar dari punggungnya.
Di antara kedua alisnya, muncul gambar roh kupu-kupu itu. Nampaknya tehnik yang dipelajari Wei Lin berhasil. Kemudian giliran Yi Xing. Tehnik roh kupu-kupunya bertambah satu.
Warna biru sayap itu kini disusul warna merah terang. Ada dua warna. Wei Lin menatap bocah lelaki itu dengan mata memicing. Namun tidak lama kemudian, mereka meninggalkan dunia spiritual.
“Kau sudah berhasil meningkatkan kekuatan roh kupu-kupu. Kerja bagus.” Yi Xing berkata. Lantas berdiri.
“Aku kira akan gagal!” Wei Lin menimpali.
Yi Xing menggeleng. Lalu kakinya melangkah pertama. Ingin kembali ke asrama murid. Namun ....
“Awas!” Yi Xing berseru. Suaranya setengah berteriak.
Tanpa diperintah, sayap kupu-kupu roh muncul. Dengan kecepatannya, Yi Xing berhasil menangkap badan Wei Lin yang hampir dihujam anak panah. Mereka terjatuh, terpental di tanah hingga berguling-guling.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Yi Xing. Pipinya memar, akibat terbentur tanah tadi.
“Ehm ..., aku baik-baik saja. Terima kasih,” jawab Wei Lin. Kemudian matanya menatap bocah lelaki yang memegang panah itu. Dia terbang. Dia memiliki sayap. Nampaknya murid akademi satu ini berhasil mengembangkan sayap Phoenix surga. Sayap itu merah menyala.
“Akhirnya kita bertemu lagi, adik akademi,” kata anak itu congkak.
Wei Lin menatap sebal. Bocah itu lawannya tempo hari. BR-nya berada di angka dua puluh ribuan. Wei Lin berhasil mengalahkan bocah lelaki itu saat di arena pertandingan. Meski mereka berbeda nilai pertempuran. Hanya kalah tipis, bukan kalah memalukan. Lagi pula, Wei Lin mengalahkannya bukan di arena pertandingan sungguhan, hanya di arena pertempuran latihan.
“Hei, bocah tengik. Kau ingin kuhajar lagi, hah?” Wei Lin menunjuknya kasar. Gadis itu menantang.
Bocah pemanah itu tertawa sombong. “Kali ini kau tidak akan bisa mengalahkan aku!”
Yi Xing memicing, memerhatikan Wei Lin dan anak yang tengah terbang itu. Di akademi ini ada murid jenius lain—selain Wei Lin. Dilihat dari pakaiannya, pasti anak ini keturunan bangsawan di kekaisaran Guiyang. Tampilannya berbeda.
“Kau harus merasakan kekuatan baruku, gadis angkuh!” Bocah itu bernama Tian Heng. Dia memang suka mencari perkara.
Dalam hitungan detik, Tian Heng langsung mengeluarkan kekuatan besarnya. Menyerang Wei Lin tanpa aba-aba. Untungnya kekuatan kecepatan Wei Lin tak kalah. Dengan sigap dia langsung memposisikan diri, menghindar, lantas balas menyerang Tian Heng di udara.
“Tehnik pertama, serangan dewi malaikat!” Kekuatan utama Wei Lin dikeluarkan. Itu sukses mengenai sasaran.
Namun perlu diingat, Tian Heng kali ini tidak mau dikalahkan sama sekali. Dia tidak akan dipermalukan dua kali. Sehingga dengan kekuatannya, dia mampu membuat tameng dari senjata. Dia berhasil menahan serangan dewi malaikat berkat formasi dari busur panah.
“Tehnik pertama, badai salju!” Tian Heng kembali membalikkan serangan.
Badai salju yang tercipta cukup mengerikan, meski itu kekuatan kecil di mata para saint. Serangan dewi malaikat itu dipukul mundur. Di mata calon saint dengan BR di bawah dua puluh ribu, ini adalah kekuatan yang cukup mengerikan. Bahkan Wei Lin juga terdorong di udara. Untungnya sayap kupu-kupu roh cukup tangguh. Bisa menahan Wei Lin sejauh ini.
Wei Lin menatap sebal. Kali ini dia tidak mengeluarkan kekuatan dewa. Namun langsung menyerang dengan tipe serangan cepat. Ini cukup efektif membuat Tian Heng kewalahan.
“Kecepatan petir!” Wei Lin berseru lagi. Serangannya jauh lebih cepat.
Tian Heng untuk sesaat hanya bisa menahannya. Selain itu, dia juga sudah terpukul berkali-kali oleh serangan tipe kecepatan ini. Hingga dia akhirnya menemukan titik terbaik untuk membalas.
Tian Heng berhasil mendapatkan kaki Wei Lin. Dengan cepat dia menghempaskan tubuh musuhnya itu ke tanah. Wei Lin ceroboh. Sebelum badannya jatuh, Yi Xing sigap membantu. Lekas terbang dan segera menjauhi Wei Lin dari Tian Heng.
“Lihat, kau bahkan tidak bisa mengalahkanku di sini!” Tian Heng tertawa sumbang.
Wei Lin maju, ingin menghajar lagi Tian Heng yang sombong. Tapi tangan Yi Xing berhasil menahannya. “Biarkan aku yang menyelesaikannya.”
“Kau tidak akan bisa. Meskipun battle ranking-mu besar, tapi tehniknya tidak tertandingi!” Wei Lin mengingatkan.
Yi Xing tidak peduli. Dia belum mencobanya. “Aku akan menggunakan tehnik kekuatan semampuku.”
Wei Lin menghela napas sengal. “Hah, kau susah diberitahu!”
Yi Xing maju. Dia menantang. Tian Heng menyeringai di udara. “Battle rangking yang besar. Tetapi belum tentu kau bisa mengalahkan aku! Kau tidak memiliki tehnik apapun.”
“Kau belum mencobanya. Kita tidak tahu siapa yang akan menang.”
Tian Heng tertawa makin sombong. “Rupanya ada pahlawan kesiangan di sini.”
“Mari kita putuskan. Jika aku berhasil mengalahkanmu, maka kau berhenti mencari masalah dengan nona Wei.” Yi Xing berkata lagi. Sayap kupu-kupu roh sudah keluar. Yi Xing telah terbang, menyamai ketinggian Tian Heng.
“Baiklah. Tapi jika kau kalah, maka kalian berdua harus jadi budakku!” Tian Heng balas menantang.
Yi Xing menyanggupi. Maka pertarungan saat itu dimulai. Tian Heng menyerang pertama. Yi Xing tidak tinggal diam. Tipe serangannya juga kekuatan. Sebelum Tian Heng sampai mendekati badannya, Yi Xing sudah berada di belakang sang lawan.
Dalam satu pukulan, Yi Xing berhasil meninju pinggang Tian Heng. Anak itu terpental. Tapi tidak sampai terjatuh di tanah. Dia mengesot di udara. Terdorong cukup keras.
“Baiklah. Rupanya aku terlalu meremehkanmu!” Tian Heng menghapus lelehan darah di sudut bibirnya. Sedetik berikutnya, Tian Heng mengeluarkan lagi tehnik dewanya. “Tehnik pertama, badai salju. Serang!”
Badai salju itu cukup cepat. Yi Xing harus dibuat bergerak lincah. Sebab tiap serangan Tian Heng mengunci. Empat-lima berhasil dihindari. Yi Xing tidak melawan kekuatan ini secara langsung. Tetapi dia tengah memikirkan rencana untuk membalasnya. Badai salju muncul di mana-mana. Dia mengetahui pergerakan Yi Xing. Pusaran itu sangat kencang.
Yi Xing memerhatikan sekitar. Dia harus menemukan titik lumpuh. Dan ya! Yi Xing berhasil mendapatkannya. Satu-satunya kekuatan badai salju, dia tidak menyerang pemiliknya. Justeru dikendalikan. Tian Heng mendengus tertawa. Dia di atas angin. Dia takkan dikalahkan kali ini. Dia pemenangnya.
“Jika aku tidak bisa membalas serangan badai salju, maka aku akan mengembalikan serangan itu pada pemiliknya!” Yi Xing berkata lirih.
Dalam sekejap mata, Yi Xing terbang cepat menuju ke belakang Tian Heng. Bocah itu tidak menyadarinya. Hingga matanya melotot tidak percaya kalau serangan badai salju telah di depan mukanya. Itu sukses menumbangkan sayap burung surga milik Tian Heng. Bocah itu seketika langsung lumpuh, terjatuh ke tanah.
Wei Lin tersenyum penuh kemenangan. “Kau hebat!” ujarnya pada Yi Xing.
“Dia hanya lumpuh sementara. Dua jam lagi dia akan pulih. Ayo kita pergi.” Yi Xing sempat menoleh ke arah Tian Heng.
Sesaat berikutnya, mereka benar-benar pergi. Meninggalkan padang rumput di pinggiran hutan akademi Tianmen. Kemenangan kali ini tidak terlalu memuaskan, sebab Tian Heng tidak kalah telak. Hanya kalah taktik.
Beberapa jam berikutnya, malam, di asrama murid akademi Tianmen.
“Terima kasih.” Wei Lin mendatangi tempat tidur Yi Xing.
Untungnya asrama saat itu sepi. Hanya ada mereka berdua. Murid-murid asrama sedang mengikuti kelas malam. Hanya Wei Lin dan Yi Xing yang telah menyelesaikan kelas mereka bersama guru Mo.
“Lupakan. Aku melakukannya karena kita sesama murid guru Mo.” Yi Xing berdiri.
Wei Lin menundukkan kepalanya. Dia malu. Sebab sudah meremehkan anak desa ini. Meskipun Yi Xing asal-usulnya tidak diketahui, bocah itu nyatanya sopan. Dia menghargai orang lain. Dan ..., Yi Xing bisa dikatakan satu-satunya murid paling tampan di akademi Tianmen. Rambut peraknya sangat cocok dengan penampilan itu. Yi Xing sempurna dalam hal fisik. Wei Lin mengakui itu.
“Ehm ..., aku minta maaf jika selama ini telah membuatmu kesal.” Wei Lin mencicit pelan.
Yi Xing menoleh ke arah gadis itu. “Aku tidak merasakannya.”
“Benarkah?” Mata Wei Lin mendadak berbinar.
Yi Xing mengangguk. “Kita sesama murid guru Mo. Tidak perlu ada perselisihan.”
“Apakah kita bisa berteman?” tanya Wei Lin.
Yi Xing mengangguk lagi. “Tentu.”
Maka malam itu keduanya resmi menjadi teman akrab.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Jemmy Mangkey
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
2024-05-16
0
Sintapriyanti Andini
ntar lama2 manja deh tuh cwekya. apa2 ngadu minta bntu...lengket bgtt nempel terus
2024-05-05
1