Lagi-lagi hari ini guru Mo mengajak dua muridnya keluar. Tidak berlatih di kelas atau di arena. Guru Mo mengajarkan muridnya dengan cara yang berbeda dari dekan akademi yang lain. Wei Lin dan Yi Xing berada di dalam hutan. Melewati seberang sungai kecil, bisa dilompati. Ada bebatuan licin di sana. Mereka mencari dan mengamati obat-obatan beracun.
“Guru, mengapa Anda sangat tertarik untuk mempelajari tumbuhan beracun?” Wei Lin bertanya. Dia berada dekat dengan guru Mo. Sedangkan Yi Xing memilih mencari jauh dari keduanya.
Guru Mo menjawab, “Bahkan ketika kau menjadi dewa, jika kau tidak mempelajari ilmu racun, kau tetap akan kalah. Ilmu racun adalah kekuatan tak tertandingi. Dalam arena, jika kau tidak bisa memahami kekuatan ini, kau bisa mati.”
Wei Lin mengurut dagunya perlahan. Otaknya sedang berpikir. “Apakah dalam pertandingan akan ada saint dari kekuatan racun?”
Guru menganggukkan kepalanya. Suara berat dan serak itu lanjut menjelaskan. “Ada akademi yang mempelajari ilmu pengetahuan tentang racun. Akademi itu berada di kekaisaran Tianjin. Meski mereka bukan akademi yang kuat, setidaknya mereka telah lima kali masuk final, menantang murid dari akademi suci balai dewa.”
“Sehebat itu?” Wei Lin antusias berkata.
Guru menjawab lagi. “Meskipun mereka tidak terprediksi, tetapi kekuatan racun mereka terbukti bisa merepotkan akademi suci balai dewa. Bahkan dua di antaranya sempat keracunan parah. Jika guru tidak mempelajari tehnik racun ini, takut-takut guru tidak akan bisa mengamati mereka nanti.”
Guru Mo kemudian mengambil jamur beracun. Dimasukkan ke dalam keranjang. Wei Lin juga mengambil tanaman beracun yang diperintahkan oleh guru.
Sedangkan Yi Xing, bocah itu malah duduk bersila di atas batu. Dia meningkatkan kultivasinya. Kekuatan cincin dewa kembali muncul. Yi Xing sedang menyerap kekuatan alam. Dia merasa cocok meningkatkan kekuatannya di sini.
“Eh ...,”
“Ada apa?”
Wei Lin menunjuk jemarinya ke arah tebing batu. Guru Mo mengerutkan keningnya. Tangannya meminta tangan Wei Lin turun. Mengganggu.
“Dia sedang meningkatkan kekuatan roh kupu-kupu. Dia sangat serius dengan tehnik ini.” Guru berujar pelan.
Wei Lin menatap serius wajah gurunya. “Yi Xing telah mencapai level lanjutan untuk tehnik roh kupu-kupu. Bahkan sangat indah.”
“Tehnik kupu-kupu roh bukanlah tehnik spesial. Kebanyakan saint enggan meningkatkan kultivasinya, sebab dianggap tidak berguna. Namun di tangan orang yang tepat, kupu-kupu roh bisa menjadi kekuatan pelindung.” Guru bergumam.
Penjelasan guru Mo sedikit menarik bagi Wei Lin. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang luas, wajar jika guru Mo adalah guru paling diminati di akademi Tianmen. Beberapa murid bahkan sudah menjadi saint tingkat emas di bawah pengasuhannya. Bukan hanya itu, guru Mo juga masuk dalam kandidat paling diincar oleh murid dari keluarga bangsawan.
Beberapa saat memerhatikan Yi Xing, anak itu mengakhiri kultivasi roh kupu-kupu itu. Yi Xing mengatur napas. Guru Mo mendekatinya.
“Bagus, bagus. Kultivasi roh kupu-kupu sudah masuk tahap spiritual. Jika kau rajin mengembangkan kultivasinya, maka cincin roh kupu-kupu bisa menjadi teknik sayap utamamu.”
Yi Xing mengiakan kata guru Mo. “Tentu, guru.”
“Sekarang tugas kalian adalah menghapal tumbuhan beracun. Sepulang dari hutan ini, kalian akan berlatih mengekstrak sari racun.” Guru memberitahu lagi.
Dua anak itu patuh. Mereka menuruti perintah sang guru. Lalu kaki melangkah lagi. Berjalan jauh menuju ke pedalaman hutan. Mencari tumbuhan aneh dan mengamatinya kemudian.
••••
Beberapa waktu berikutnya.
“Guru Mo memintamu menemuinya di kediamannya.” Wei Lin memberitahu singkat.
Yi Xing menoleh ke arah bocah perempuan itu. Kemudian mengangguk. Yi Xing sedang merapikan tempat tidurnya. Sejenak kemudian, langkah kakinya membawa anak itu menuju ke istana akademi. Tempat tinggal para guru. Di sisi barat akademi Tianmen, di antara lapangan luas, tempat para murid berkumpul.
Guru berdiri di depan meja kerjanya. Ada tumpukan buku di sana. Yi Xing mengetuk pintu, sebelum dipersilakan guru Mo masuk. Matanya sempat melihat-lihat ruangan guru Mo. Agak berantakan.
“Guru memanggilku?”
Guru menjawab dengan dehaman pendek. Balik badan, memandang Yi Xing lamat-lamat. “Bagaimana tahap kenaikan BR-mu?”
Yi Xing menatap kedua telapak tangannya. Kepala menggeleng lemah. “Tidak ada kemajuan.”
Guru Mo melangkah mendekati Yi Xing, tangan menepuk pundak kiri anak itu pelan. “Itu wajar, karena kau telah mencapai level BR maksimal. BR-mu akan bertambah setahun lagi, saat umurmu naik.”
“Tapi bagaimana dengan Wei Lin? Kenaikan battle ranking-nya hampir mendekatiku!”
“Meskipun kalian berbeda seribu nilai BR, tetapi memang tidak memungkinkan kalau Wei Lin bisa mengejarmu. Dalam hal ini, Wei Lin adalah jenius dari keluarga bangsawan. Sudah tentu usaha yang dikeluarkan olehnya sangat besar. Pengorbanannya tidak bisa dikatakan mudah.”
Yi Xing menundukkan kepalanya. Dia merasa tertinggal kalau begini ceritanya. Dalam setahun terakhir, Wei Lin sudah menembus battle ranking dua puluh empat ribu. Sedangkan Yi Xing masih tetap di angka yang sama. Belum berubah. Tidak naik sama sekali.
Guru Mo menyadari keresahan hati ini.
“Bagaimana dengan pesona dewi? Apakah ada kemajuan?” tanya guru Mo.
Yi Xing langsung mengeluarkan tehnik bawaannya. Menunjukkan sudah sejauh mana tehnik pesona dewi selama setahun ini dilatih. Guru Mo takjub saat melihat tehnik itu. Yi Xing melatih tehnik bawaannya sampai ke tahap spiritual. Warna tehnik itu juga mulai berubah menjadi merah. Sebelumnya berwarna emas.
“Tehnik ini mulai terbentuk. Besok guru akan membawamu mencari binatang iblis untuk menguji sekuat apa pertahanan tehnik bawaan ini.” Guru lanjut berkata.
Yi Xing mengangguk. Sebelum anak itu pergi, guru Mo sempat memberikannya buku tehnik. Buku itu harus dipelajari oleh Yi Xing sebelum bertarung besok, melawan binatang iblis.
“Kau bisa memilih binatang iblis mana yang akan kau lawan,” ujar guru kala itu. Di dalam buku itu ada ribuan binatang iblis, jenisnya, kualifikasi, tulang dewa dan lain-lain. Dijelaskan detail.
Yi Xing tiba di asrama. Sembari itu, dia sibuk membaca buku di depan matanya. Wei Lin sesekali curi perhatian. Ingin tahu apa yang anak itu baca, meski tidak penasaran amat.
Sementara itu, murid lain sudah berkumpul semua di asrama. Telah ambil posisi. Sekali satu-dua murid akan menyinggung soal pertandingan dunia dewa tahun depan.
“Aku kira Tian Heng akan jadi yang pertama dalam pertandingan ini.”
“Wei Lin juga tidak kalah hebat. Dia pasti bisa memenangkan pertarungan di tempat kedua.”
Yang lain berkomentar, “Ya Fei dan Yun Jia tak kalah hebat. Mereka juga sudah berada di battle ranking dua puluh ribu ke atas.”
Wei Lin mendengus saat itu. Dia tidak suka mendengar percakapan ini. Jika menilik sikapnya yang arogan, bisa saja Wei Lin menantang anak-anak itu. Mereka terlalu banyak omong.
Namun Wei Lin akhir-akhir ini sudah mengubah sikapnya. Entah karena bergaul dengan anak desa itu atau memang terbawa suasana, sifat Wei Lin sudah total sulit dikenali.
“Kau sudah mempersiapkan untuk pertandingan saint tahun depan?” Wei Lin duduk di samping Yi Xing.
Anak itu masih fokus pada buku di depannya. Tetapi mendengarkan perkataan Wei Lin tadi. Yi Xing menggeleng lemah.
“Entahlah.”
“Kau harus berada di dua besar. Dengan begitu, kau bisa dipromosikan. Selain itu, kau juga akan dapat tempat pelatihan di aula dalam.” Wei Lin menjelaskan.
Kali ini Yi Xing menoleh ke arah temannya itu. “Ada apa dengan aula dalam?”
“Itu adalah tempat di mana murid-murid terbaik akademi berlatih. Beberapa di antaranya sudah masuk ke dalam akademi Guiyang. Akademi kita bukan termasuk akademi elit. Batu loncatan untuk masuk ke akademi itu harus berada di dua besar murid terbaik akademi Tianmen.” Wei Lin menambahkan penjelasan.
Kini gadis itu duduk santai. Tidak ragu menjelaskan apapun yang diketahuinya. Wei Lin melanjutkan ucapannya tadi.
“Akademi Guiyang menerima murid dua besar dari semua akademi di kekaisaran Guiyang. Meskipun begitu, akademi juga menerima murid dari keluarga bangsawan. Namun bayaran untuk masuk ke sana cukup mahal. Akademi Guiyang memprioritaskan jenius, bukan uang.”
“Akademi Guiyang berada di sepuluh besar akademi terbaik dalam arena pertandingan. Sedangkan akademi Tianmen berada di peringkat seratus sembilan puluh empat dari dua ratus lima akademi di kekaisaran Guiyang ini.”
“Kau lihat, jauh sekali perbedaan peringkatnya. Itu jalan satu-satunya untuk bisa sampai ke akademi Guiyang. Selain itu, jika berhasil menembus akademi Guiyang, murid akademi akan mendapatkan tulang dewa level dua puluh ribu ke atas atau lebih.”
Yi Xing menelan ludah saat mendengarkan penjelasan Wei Lin. Sebuah nilai prestisius yang harus digapai. Kapan lagi memang bisa ditahap itu. Tulang dewa. Kedengarannya pertandingan di jalan dewa ini tidak semudah yang dibayangkan Yi Xing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Jemmy Mangkey
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐🙏
2024-05-16
0