Pertandingan calon saint sudah dekat. Wei Lin dan Yi Xing tidak banyak waktu untuk bersantai-santai. Porsi latihan dari guru Mo ditingkatkan. Tidak ada libur. Tidak ada waktu bersantai juga. Hari ini mereka latihan kecepatan di dalam hutan akademi. Terbang melompat di atas dahan pohon ke dahan yang lain. Tehnik kecepatan tak tertandingi. Guru melatih gerakan mereka supaya lincah.
Ini adalah musim gugur di tahun ini. Guru Mo menguji kecepatan Wei Lin dan Yi Xing. Mereka harus tiba di bukit kembar sebelum dupa di sana padam.
“Aku akan memastikan satu tempat dalam lima besar pertandingan calon saint nanti.” Wei Lin berkata di sela lompatan kecepatannya.
Kecepatan guntur itu tak bisa diukur. Guru melatih mereka sungguh-sungguh. Kecepatan Wei Lin bahkan bisa membuat dedaunan yang dilaluinya rontok.
Yi Xing mengimbangi langkahnya. Padahal Yi Xing bisa saja jauh lebih cepat daripada Wei Lin. Karena dia memiliki kecepatan tipe cahaya. Rajanya tipe kecepatan yang tak tertandingi. Namun anak itu lebih memilih untuk mengimbanginya. Alih-alih mengalahkan Wei Lin.
“Kau harus memastikan satu tempat di dalam pertandingan ini.” Wei Lin mengingatkan.
Yi Xing mengangguk. Dia paham. Dia tahu harus bagaimana bertindak. “Aku tidak akan mengecewakan guru Mo.”
“Ingat. Jalan menjadi dewa masih panjang. Tujuan kita saat ini mendapatkan tempat dalam lima besar, bagaimanapun caranya. Hanya dengan masuk ke akademi Guiyang bisa membuat peringkat akademi Tianmen naik.”
“Ya, aku akan berusaha lebih keras. Kau tak perlu khawatir.”
Wei Lin mendengus. Senyum tipis remehnya muncul lagi. “Ingat, kau hanyalah anak desa yang tidak diketahui asal-usulnya. Kau harus membuatku bangga menjadi temanmu. Aku tidak mau teman akademiku menjadi bahan olok-olokan di pertandingan nanti.”
“Terima kasih atas perhatian Nona Wei. Aku tidak akan mengecewakan siapapun.” Yi Xing berkata sopan. Dia masih rendah hati.
Wei Lin mempercepat gerakannya. Melompat ke sana-sini. Akurasi lompatannya sudah jauh lebih berkembang daripada setahun lalu.
Sekali gadis itu melewati binatang iblis besar di depannya. Melompat gesit. Jemari mungilnya menyentuh kulit kasar binatang iblis sampai kegelian. Wei Lin menyeringai lagi. Dia berhasil menggoda binatang iblis. Tujuan mereka kali ini tidak untuk memburu binatang iblis, melainkan segera sampai di bukit di depan sana. Mereka sudah dekat.
Wei Lin sudah di depan bibir bukit kembar. Dia mengira dalam hal kecepatan, dia mengalahkan tehnik milik Yi Xing. Sayangnya dia kalah. Yi Xing menggunakan tehnik kecepatan cahayanya, jelas itu tidak bisa dikejar meski Wei Lin memiliki kecepatan petir.
“Kecepatan kalian makin hari makin mengesankan.” Guru Mo berkomentar. Wei Lin dan Yi Xing sudah berada di depan guru Mo. “Sekarang, latihan kali ini mengenai tehnik serangan.”
Dua anak itu mendengar. Belum berkomentar. Guru balik badan, memunggungi keduanya. Lanjut menjelaskan lagi.
“Melihat tipe kekuatan kalian, guru telah menetapkan kalau kalian menjadi peserta tim penyerang. Yi Xing lebih cocok menjadi penyerang tengah dan Wei Lin, kau lebih cocok menjadi penyerang sayap kanan atau kiri.” Guru melirik Wei Lin sekilas
Gadis itu merapatkan kedua tangannya. Kepala menunduk. “Baik guru. Keputusan terbaik, Anda yang membuat.”
“Ikut denganku!” Guru melangkah pertama.
Mereka berjalan mendekati tiang batu besar di tengah bukit. Tempat bebatuan itu datar. Di kiri dan kanan ada dua batu panjang, tinggi menjulang. Itulah yang disebut bukit kembar. Karena ada dua batu besar itu.
Di atasnya ada pagoda. Menara pengawas akademi. Selama dua tahun tinggal di akademi bersama guru Mo, anak itu belum pernah mengunjungi bangunan pengawas itu. Ini kali pertama Yi Xing datang ke tempat ini.
Tangan kanan guru Mo melipat di depan dada. Mata terpejam sejenak. Dalam satu detik, matanya terbuka lagi. Diikuti dengan aura menekan. Kemudian cincin dewa di belakangnya muncul. Angin besar tercipta. Itu yang namanya aura mendominasi. Angin kencang itu bisa menumbangkan pepohonan di sekitarnya.
“Lakukan seperti yang guru praktikkan!” Guru Mo berujar pendek.
Yi Xing dan Wei Lin segera mematuhi. Melakukan hal yang sama seperti yang guru Mo tunjukkan tadi. Cincin kedua anak itu muncul. Meski aura dominan tidak sekuat milik guru Mo, setidaknya Yi Xing dan Wei Lin tidak pernah gagal membuat guru Mo takjub.
“Lakukan gerakan tangan memutar. Ini berguna untuk mengendalikan aura cincin dewa.” Guru Mo memerintah lagi.
Dia memutar tangannya membentuk lingkaran sempurna. Kekuatannya mengikuti arah tangan itu. Tercipta ilusi kekuatan baru. Milik Wei Lin tetap sama, yaitu cincin dewi malaikat.
Namun kali ini, berkat latihan yang keras, cincin dewa sudah membentuk dunia spritual bulan indah di kegelapan. Wei Lin menamainya Bulan malaikat. Laut di dalamnya tenang.
Sedangkan milik Yi Xing ....
“Apa!” Guru Mo melotot. Seketika aura cincin dewanya lenyap. Diperhatikannya tak percaya anak di depannya ini. “Bagaimana kau bisa ....”
“Guru!” Wei Lin menginterupsi. Guru mengangkat tangannya.
Sedangkan Yi Xing, dia tetap fokus pada pelatihannya, tehnik mengatur aura cincin dewa supaya stabil, tidak cepat hilang. Matanya terpejam, tangan memutar, membuat lingkaran sempurna. Yi Xing takut dia gagal seperti dua tahun lalu, cincin dewanya tidak terlalu jelas terlihat.
Muncullah cincin dewa baru. Cincin dewa yang belum pernah diperlihatkan kepada siapapun. Bahkan Yi Xing sendiri tidak tahu hal ini. Dia hanya tahu dirinya memiliki tehnik dewa bawaan, yakni pesona dewi. Dan cincin dewa samar-samarnya kala itu.
“Guru, cincin dewanya kenapa berubah?” Wei Lin berkata pelan.
Mata guru memicing. Dia mencoba mengingat-ingat. Dia belum mempelajari kasus satu ini. Cincin dewa Yi Xing sekarang adalah alam semesta yang mengerikan. Mereka tegak berada di belakang Yi Xing, seakan alam semesta itu tunduk padanya. Guru merasakan kekuatan besar dari cincin dewa itu.
“Guru saja tidak tahu apa makna cincin dewa ini.” Guru berkomentar.
Sementara Wei Lin dan guru Mo sedang mengamati anak itu, Yi Xing yang memejamkan matanya masuk ke dalam dunia spritual buatannya sendiri. Di sana gelap. Dia berjalan di atas air. Dia tas lautan yang tenang. Seperti kaca.
Di atas lautan kesadarannya itu dipenuhi dengan alam semesta. Puluhan planet besar berjajar membentuk lingkaran. Alam semesta ini indah, meski berada di dalam kegelapan.
“Selamat datang di dunia kesadaranmu, Yi Xing.” Suara wanita menyapa. Menggema. Besar. Saat suara itu muncul, air gemericik dan udara membentuk gelombang.
“Aku di mana?” Yi Xing memandang dunia di sekitarnya. Dunia yang sangat luas, tetapi kosong. Hanya ada dia dan hamparan alam semesta. Membentuk milyaran planet dan galaksi.
“Kau ada di dalam lautan kesadaranmu dan aku. Dunia spritual yang aku ciptakan.” Suara perempuan itu menjawab.
Kemudian tidak lama, muncul sosok bayangan wanita. Dia terbang mendekati Yi Xing. Dia seorang Dewi. Tapi Yi Xing tidak tahu siapa dia.
“Mulai hari ini, dunia spiritual ini akan menjadi duniamu dan juga aura cincin dewa. Aku menggantikan posisi cincin dewa turunan milik ayahmu.”
“Ayah? Dia di mana? Apakah dia masih hidup?” Yi Xing menuntut pertanyaan.
Roh di depan Yi Xing berputar, mengelilinginya. “Kau tidak perlu bertanya tentang itu di sini. Yang harus kau pahami, aku akan memberikan semua kekuatan jiwaku padamu.”
“Kau siapa? Kenapa aku ada di sini?”
“Aku roh dewi pesona. Aku adalah gabungan dua kekutan dewa besar. Sehingga aku tercipta dari darahmu. Dunia ini tercipta karena dua penyatuan dewa itu menghendaki.”
“Apa maksudmu?” Yi Xing mengikuti arah putaran roh dewi itu.
Roh itu lalu berhenti tepat di depan muka Yi Xing. Tangannya menjulur, menyentuh dahi di antara kedua alis matanya yang tebal.
“Mulai sekarang, aku akan menjadi guru spiritualmu. Pesona dewi akan meningkat. Kau akan menjadi orang yang menentang langit.” Roh perempuan itu berkata lirih.
Mata Yi Xing terpejam. Dia merasakan kehangatan yang luar biasa. Perasaan tenang dan damai ini membuatnya nyaman. Dahi bekas sentuhan Dewi roh tadi meninggalkan tanda. Yaitu tanda pesona dewi, bulan sabit dengan satu titik bintang di tengahnya.
Tanda itu bergabung dengan kupu-kupu roh yang sudah Yi Xing latih selama dua tahun ini. Gabungan yang membuat tehniknya meningkat. Dewi roh itu lenyap. Meninggalkan Yi Xing di dunia spritualnya. Tidak lama kemudian, Yi Xing tersadar. Dia kembali pada dunianya saat ini.
“Yi Xing, bagaimana?” Wei Lin bertanya pertama. Dia khawatir.
Guru menoleh ke arah anak itu. “Apa yang kau rasakan?”
“Aku baik-baik saja, guru.”
Guru mendeham sekali, dagunya diurut pelan. “Kita akhiri dulu latihan kali ini. Guru ingin mengamati cincin dewa apa yang kau miliki sekarang.”
“Baik, guru!” Yi Xing mengangguk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Jemmy Mangkey
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
2024-05-16
0