Yang ditunggu-tunggu sudah datang. Pertandingan calon saint di aula akademi Tianmen akan dimulai. Para tetua akademi sudah ambil posisi, duduk di kursi kehormatan. Jumlah mereka banyak.
Lalu tribun aula dipenuhi oleh murid-murid akademi. Di sisi barat tribun, diisi oleh para guru. Mereka ikut menyaksikan pertandingan ini. Yi Xing dan Wei Lin tidak bertemu dengan guru Mo. Sebab dalam pertandingan ini, guru tidak boleh lagi memberikan arahan kepada para murid.
Sesekali guru Mo menatap dua anak didiknya. Ini pertandingan penentuan. Dia hanya berharap, apa yang diajarkan kepada Wei Lin dan Yi Xing bisa membuatnya tidak kecewa.
“Ehm ..., kepercayaan dua anak itu lebih baik dari kemarin.” Tetua Wei berkata. Dia memerhatikan lingkungan di sekitarnya.
Suasana aula akademi heboh dan ribut. Banyak murid bersorak, saling mendukung. Ini adalah pertandingan paling banyak peserta sepanjang penyelanggaraan. Saking banyaknya, bahkan harus dibagi dalam dua tim.
“Bagaimana menurutmu Wei Lin dan Yi Xing menghadapi lawan-lawan mereka?” Suara parau tetua bicara lagi.
Guru Mo melipat tangan di dada. Tatapan guru Mo sangat dingin. Ekspresinya datar. Tetapi lebih dari itu, dia paling memahami pertandingan kali ini.
“Yi Xing bekerja keras sepanjang waktu. Seharusnya semua ini sepadan dengan kerja kerasnya yang tidak kenal lelah itu. Dia murid yang sangat ambisius dan tidak takut pada apapun.” Guru Mo menjelaskan.
Dia pernah melihat Yi Xing belajar hingga larut malam di asramanya. Anak berambut putih perak itu dibuat terjaga. Dia mempelajari teori-teori ilmu pedang. Setumpukkan buku hasil meminjam di akademi memenuhi meja tempatnya belajar. Yi Xing murid yang menghargai segalanya. Bahkan pedang rongsokan pemberian guru Mo, sekarang sudah disulap jadi pedang yang sangat cantik. Padahal pedang rongsokan itu di mata guru Mo tidak ada nilainya sama sekali.
“Semuanya, terima kasih telah hadir dalam acara pembukaan pertandingan dunia dewa di akademi Tianmen.” Perempuan yang berdiri di arena pertandingan memberi tahu. Tepuk tangan menggema. Murid-murid antusias. “Atas arahan ketua akademi, maka pertandingan dibuka. Kalian pasti tidak sabaran untuk menyaksikan pertandingan tunggal saint putra. Maka dari itu, langsung saja kita undi pertandingan pembuka hari ini.”
Sorak-sorai kembali menggema. Gadis cantik di arena sudah mengumumkan pembukaan. Maka tinggal menunggu peserta pertama dalam pertandingan ini yang akan maju. Dia adalah Dewi arena, sebutan cantik untuk seorang yang mengarahkan jalannya pertandingan seru tahun ini.
Gadis di dalam arena itu berkata lagi, suaranya kian menggema. “Di tempat pertama, kita memiliki Tian Heng yang akan melawan Lin Xuya. Di arena kedua, ada He Feng melawan Lin Fei. Dan di arena ketiga, ada Yu Xanxi menantang Xue Bing.”
Sorak-sorai kembali tercipta. Lebih bergemuruh. Arena pertandingan seketika langsung diatur. Lingkaran besar sempurna di lantai itu bergerak dikendalikan mesin di bawahnya, membentuk tiga lingkaran kecil. Yang mana itu adalah arena pertandingan. Pintu atas aula tertutup. Bentuknya seperti bunga lotus. Uap mengepul di udara sewaktu tuas-tuas mesin menggerakkan panggung pertandingan.
Orang-orang memerhatikan. Tian Heng turun pertama. Inilah yang mereka tunggu. Pertandingan murid dari keluarga bangsawan. Disusul murid lain. Pertandingan ini lekas dilaksanakan bersamaan. Perintah untuk memulai pertandingan sudah digaungkan. Maka tanpa banyak bicara, Tian Heng segera menyerang lawan. Dia jenius nomor satu. Tak terkalahkan. Para murid mengelukannnya.
“Tehnik pertama, badai salju!” Serangan Tian Heng menyasar lawan.
Yi Xing memerhatikan. Sekian lama tidak melihat tingkat kekuatan anak itu, Tian Heng sekarang sudah semakin hebat. Battle rangking-nya juga tak kalah dengan Wei Lin. Nampaknya Yi Xing tertinggal.
Lawan Tian Heng berhasil menghindar. Dia memiliki kecepatan. Melewati badai salju yang berputar menyerangnya. Lawan itu tersenyum menyeringai, lalu mengeluarkan serangan balasan.
“Tehnik pertama, iblis kehancuran!” pekiknya.
Serangan merah darah menyerang badai salju. Angin besar itu melibas ke sana kemari. Tian Heng tidak tinggal diam. Dia mengeluarkan tehnik berikutnya. Mereka saling serang dengan tehnik. Hingga pada puncaknya, Tian Heng memiliki kesempatan. Dia berhasil menyusup, dengan anak panahnya yang diperkuat armor, dia melepaskan satu tembakan.
Lawan berusaha menahan. Sayangnya lawan itu cukup kuat. Anak itu terpental. Tian Heng berdiri di udara. Senyum bangga tercipta. Kemudian matanya melirik Yi Xing di atas tribun penonton. Dia ingin menantang anak itu nanti.
“Tian Heng menang!” Wanita tadi menyerukan.
Para pendukung Tian Heng bersorak lagi. Kebanggaan mereka menang. Anak bangsawan kota Guiyang yang terhormat. Dalam pertandingan ini, pesertanya sangat banyak. Sehingga pertandingan akan dilakukan selama empat hari, di bagi dalam tiga pertandingan.
“Peserta dalam ronde kedua, ada Wei Lin dengan battle rangking tiga puluh satu ribu, melawan Yan Yan dengan battle rangking tiga puluh dua ribu.” Wanita itu kembali mengumumkan.
Ini giliran Wei Lin. Dia langsung melompat ke dalam arena. Tetua Wei dan guru Mo memerhatikan. Yan Yan tersenyum remeh. Dipandanginya anak bangsawan di depannya.
“Junior, lebih baik mengalah. Kemenangan ini milikku!” kata Yan Yan.
Wei Lin tak mau kalah. “Sebaiknya kau yang mengalah. Kau belum mencoba seranganku.”
Yan Yan tertawa sombong, “Haha. Kita berbeda seribu battle rangking. Kau kira bisa mengalahkan aku?”
“Oh? Kau belum mencobanya, kenapa harus sombong!” Wei Lin mengeluarkan tehnik pertama. Roh kupu-kupu. Dia terbang.
Pedang petir keluar, Wei Lin menariknya. Itu metode rahasia dari keluarganya. Dia lumayan hebat dalam tehnik pedang petir. Wei Lin langsung menyerang, tidak banyak bicara.
Yan Yan mengeluarkan tehnik pertama, pesona iblis rubah. Wei Lin menyadari satu hal. Pesona iblis rubah, ini mengingatkannya pada serangan melawan iblis rubah sembilan ekor. Dia ingin menghipnotis Wei Lin dengan cara itu. Untungnya guru Mo sudah mengajarkan cara menghindari tatapan ini.
“Tehnik kedua, kupu-kupu pelindung!” pekik Wei Lin.
Kupu-kupu raksasa terbang, menahan pesona iblis rubah. Kemudian ketika tehnik itu berhasil menahan pesona iblis rubah milik Yan Yan, gadis itu bergerak cepat. Gerakan gunturnya membawa Wei Lin sudah di belakang punggung Yan Yan.
“Tehnik pertama, pedang guntur, hancurkan!”
Bum! Serangan itu berhasil menghantam punggung Yan Yan. Dia terpental jatuh. Berguling-guling di lantai arena. Guru Yan Yan menatap marah pertandingan ini. Kenapa Yan Yan bisa kalah? Tidak mungkin pikirnya! Yan Yan adalah murid terbaiknya. Dia tidak akan mungkin kalah oleh lawan seperti gadis itu. Tangan guru Yan Yan sudah terkepal keras, memukul pembatas tribun penonton. Melampiaskan amarahnya di sana.
“Bagaimana? Kau ingin melawan lagi?” Wei Lin berkata kembali. Dia masih terbang di udara.
Yan Yan menghapus darah di sudut bibirnya. Tangannya bergerak, membentuk formasi, cincin dewa keluar. Pesona iblis rubah sembilan ekor muncul. Sangat besar. Yan Yan langsung melepaskan satu serangan besar. Nampaknya ini serangan pamungkas.
Wei Lin memutar pedang di tangannya, membentuk lingkaran sempurna. Cincin dewanya muncul, kemurkaan Dewi malaikat.
“Tehnik pertama, serangan dewi malaikat!” Wei Lin memekik tajam.
Dua cincin dewa saling beradu. Rubah ekor sembilan milik Yan Yan bergerak cepat, mengejar lawan. Sedangkan serangan dewi malaikat berupa perempuan berambut emas, menghunuskan pedang kepada lawan.
Jelas bahwa dua cincin ini tidak sebanding. Meski BR Yan Yan lebih unggul, nyatanya cincin dewi malaikat milik Wei Lin pemenangnya.
Sinar silau pecah, tabrakan dua cincin kuat. Cincin dewa Yan Yan dipatahkan. Yan Yan dipukul mundur. Dia terpental keluar arena. Wei Lin masih kokoh di udara berkat bantuan sayap kupu-kupu roh ajaran guru Mo.
Napas Yan Yan terengah. Dia kalah.
“Wei Lin menang!” Wanita arena pertandingan mengumumkan. “Kemenangan pertama Wei Lin membuatnya mendapatkan delapan ribu battle point!”
*BP (BATTLE POINT) ADALAH POIN PERTEMPURAN.
Wei Lin tersenyum bahagia ketika hasil kemenangan diumumkan. Matanya sampai terkejut. Battle point-nya di atas Tian Heng yang hanya mengumpulkan enam ribu battle point.
Seketika seisi aula membicarakan nona jenius dari keluarga Wei itu. Tak terkecuali guru Yan Yan. Dia marah. Wajahnya sudah ketus.
“Hemp ..., kurang ajar.” Tangan guru itu meninju pembatas tribun aula. Dua kali dia melakukan itu.
Guru Mo menatap tenang. Sudut bibirnya menarik simpul. Wei Lin kembali ke tribun, menemui Yi Xing yang menonton pertandingannya tadi.
“Selamat. Kau sudah menempati posisi pertama.” Yi Xing berkata sopan.
Wei Lin menjawab pura-pura angkuh. “Kau harus melakukan hal yang sama. Jika kau kalah di arena, aku akan menghajarmu di asrama.”
Yi Xing hanya mengangguk. Dia tidak ingin mendebatkan masalah ini. Wei Lin menang. Yi Xing kalah soal adu mulut.
“Aku akan berusaha,” kata Yi Xing. Senyum kikuk tercipta.
Wei Lin masih menatapnya agak sombong, tetapi itu bukan sikap sarkasme. Melainkan sebuah sikap tantangan supaya Yi Xing melakukan lebih baik dalam pertandingannya nanti.
“Buktikan saja semuanya di atas arena.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Jemmy Mangkey
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⚡⚡⚡⚡⚡⚡
2024-05-16
0