Selepas sarapan, pagi ini guru Mo dan Yi Xing berangkat. Meninggalkan kediaman dan desa saint jiwa. Sebenarnya guru Mo pulang ke desa tempatnya tinggal saat libur akademi. Liburan akademi berlangsung setiap akhir tahun.
Dia dekan di akademi Tianmen sana. Beberapa murid akademi Tianmen adalah penduduk desa saint jiwa. Lama perjalanan setengah hari. Kuda dengan gerobak beratap itu sudah membawa guru Mo dan Yi Xing pergi. Kereta kuda itu salah satu kendaraan paling mahal biayanya di desa saint jiwa.
Yi Xing menatap keluar jendela kereta kuda. Kereta mewah ini sudah melewati beberapa desa. Desa yang jauh lebih maju dan modern daripada desa saint jiwa. Anak itu takjub dengan apa yang dilihatnya. Bangunan di sana tertata rapi, dicat seragam, warna putih keperakan. Kadang orang-orang menyebutnya desa perak.
“Guru, kita sekarang ada di kota apa?” Yi Xing bertanya, memecahkan keheningan.
Kota yang sekarang dilaluinya ini sangat ramai. Banyak sekali penduduk berjalan kaki. Pasar di pinggir jalan sesak. Para bangsawan tengah malang melintang, menaiki kereta kuda paling elit milik mereka. Prajurit berzirah emas berpatroli. Memakai penutup kepala dari besi perunggu, juga dengan tombak panjang mereka. Ada sehelai bulu di atas topi kepala itu.
“Kita berada di kota Xi An. Kota ini berbatasan dengan kekaisaran Tianjin dan Han Timur.” Guru Mo menjawab.
Yi Xing masih bertanya, “Apakah kota Guiyang masih lama?”
“Di depan sana perbatasan kota Guiyang dan Xi An. Tidak lama lagi kita akan sampai di ibukota kekaisaran.” Guru Mo kembali menjelaskan.
Yi Xing mengerti. Perjalanan itu hampir tiba. Tidak terasa. Yi Xing merasa perjalanan ini sangat istimewa. Inilah perjalanan terjauhnya. Sekaligus perjalanan terlamanya.
Semilir angin meniup rambut putih peraknya. Menerbangkan anak rambut bermata cokelat itu. Ketika dia mengeluarkan kepalanya di jendela kereta, para penduduk setempat yang melihat anak itu tertawa ramah menggoda dan hangat.
Sampai tibalah mereka di pintu masuk utama ibukota kekaisaran. Melewati kota Guiyang yang padat, balai besar, aula kekaisaran dan akademi yang luas. Akademi Guiyang. Ada tulisan di depan pintu gerbang. Cat biru terang.
“Guru, akademi Guiyang itu seperti apa?” Yi Xing kembali menarik kalimat pertanyaannya.
Guru Mo tidak ada bosan dan sabar untuk terus menjawab. “Akademi Guiyang adalah salah satu akademi yang cukup kuat. Mereka berada di urutan kelima dari sebelas akademi kekaisaran di pertandingan dunia dewa.”
“Sehebat itu?” Yi Xing menggebu-gebu merespon penjelasan guru Mo.
Sedangkan guru Mo sendiri malah menggelengkan kepalanya. “Tidak. Dibandingkan dengan balai dewa, mereka bukanlah tandingannya.”
“Balai dewa?”
Guru Mo lanjut menjelaskan. “Balai dewa adalah tempat final pertandingan dunia dewa yang mempertemukan semua murid di dunia dewa. Tim terbaik dan teratas akan secara terhormat bisa menantang tim balai dewa. Guru sendiri tidak tahu sekuat apa para murid akademi balai dewa. Mereka merahasiakannya.”
“Bagaimana dengan akademi Tianmen?” Yi Xing menyinggung.
Guru Mo menelan ludah tercekat. “Akademi Tianmen secara taktik tidak bisa bersaing melawan lima akademi teratas di kekaisaran Guiyang. Namun bukan berarti tidak ada murid akademi Tianmen yang tidak bisa masuk ke akademi kekaisaran.”
“Guru memang tidak bisa membuat tim kuat untuk maju ke dalam pertandingan dunia dewa di balai dewa. Namun setiap tahun guru memastikan satu atau dua nama bisa direkrut oleh akademik besar dan kuat, seperti akademi Guiyang.”
“Guru, di mana balai dewa itu berada?”
Guru Mo menatap keluar jendela. “Terletak di kota suci balai dewa, di antara kekaisaran Bulao, Jianhui dan Muiliang.”
“Guru, apakah aku bisa mengikuti pertandingan dunia dewa ini?”
Guru Mo melirik ke arah Yi Xing lagi. Tangannya mengusap rambut perak itu. “Tentu saja bisa. Jika battle ranking mencukupi, kau bisa dipromosikan untuk ikut serta dalam pertandingan itu.”
Yi Xing mengepal tangannya kuat-kuat. Mendengar cerita guru Mo, bocah itu merasa tertantang. Bahkan ingin sekali masuk ke dalam pertandingan dunia dewa. Dia ingin tahu banyak hal. Guru mengukir senyum tipis. Anak di depannya penuh ambisi. Tidak banyak anak seumuran Yi Xing memiliki semangat ini.
Kereta kuda sudah sampai di depan pintu gerbang akademi Tianmen. Sekeluarnya dari kereta mewah itu, si pedati kuda langsung melanjutkan perjalanan.
Guru Mo membawa Yi Xing menuju ke gerbang utama. Masuk lewat sana. Jalan akademi luas. Banyak murid berjalan-jalan di halaman dalam. Gerbangnya tinggi. Jalannya terukir rapi. Namun saat akan masuk, mendadak langkah guru Mo dan Yi Xing dihentikan oleh penjaga gerbang akademi.
“Tanpa identitas, orang luar dilarang masuk.” Penjaga itu berkata arogan. Tangannya memegang senjata tombak. Memakai zirah besi bercorak emas. Mirip prajurit di kota Xi An.
“Aku dekan di sini!” Guru Mo menjelaskan singkat.
Alih-alih dipercaya, guru Mo malah diolok-olok. Penjaga itu tertawa terbahak-bahak. “Tidak ada dekan sepertimu di akademi ini. Lihatlah pakaianmu. Kau terlihat seperti pengemis kota.”
Mendengar cemoohan itu, mendadak hati guru Mo mendesis marah. Desiran darahnya terasa mendidih. Tidak ada orang yang berani menghinanya seperti ini. Guru Mo tersinggung.
Saking marahnya guru Mo, cincin dewanya keluar. Cincin dewa dengan warna emas itu membuat penjaga di depannya ketakutan. Tidak hanya itu, penjaga itu harus dibuat bergetar. Aura intimidasi cukup kuat. Membentuk gelombang angin kencang yang mampu meruntuhkan apapun yang dilaluinya. Bahkan bisa menyapu pohon-pohon di sekitarnya.
“Guru!” Yi Xing memegang tangan guru Mo. Sontak angin kuat tadi mendadak menghilang. Yi Xing berhasil meredam amarah sang guru.
“Kau masih mau menahanku di sini atau kubiarkan kau tinggal nama!” Guru Mo mengancam, tetapi jelas ini tidak sungguh-sungguh.
Si penjaga badannya telah bergetar hebat. Ketakutan. Sampai terjatuh badannya di paving jalan. Sekali lagi, kekuatan guru Mo keluar, mencoba mengintimidasi.
Memang itu berhasil. Namun kali ini aura intimidasi guru Mo lenyap, sebab seorang yang lebih besar kekuatannya datang, menyela pertikaian.
“Guru Mo, kau hendak menghancurkan akademi?” Suara pria tua nan parau menginterupsi.
Guru Mo lantas langsung melenyapkan cincin dewanya. Satu pria berambut putih muncul di depan mata.
“Dia penjaga baru. Dia tidak tahu kau dekan di sini.” Pria tua itu menjelaskan singkat.
Guru Mo yang mendengarnya jadi paham. Dia berusaha mengerti. Orang yang berbicara tadi dekan akademi juga. Yao Hao. Namanya sangat terkenal di akademi Tianmen.
“Lain kali dia perlu di-disiplinkan!” Guru Mo berkata pendek.
Lalu dia melangkah masuk ke dalam akademi. Tidak menggubris penjaga arogan tadi. Yao Hao tersenyum melihat rekan dekan akademi. Lalu melirik bocah yang berjalan mengekorinya.
“Kau membawa murid baru rupanya.”
“Dia akan menjadi murid keduaku di dalam akademi ini.” Guru Mo memberitahu.
Yao Hao tertawa lagi. Pikirnya sebuah keajaiban ketika guru Mo memilih memiliki murid lagi selain Wei Lin. “Aku sungguh tidak menyangka.”
Guru Mo menghentikan langkahnya. Pak tua Yao Hao juga, diikuti Yi Xing. “Dia akan menjadi murid inti akademi.”
“Haha, tidak ada yang salah dengan itu. Asal kau tetap memprioritaskan Wei Lin.” Yao Hao balas berkomentar.
Guru Mo memahami itu. Dia takkan melupakan tugasnya, mengajari Wei Lin. Gadis itu seumuran Yi Xing. Temperamennya agak arogan. Dia putri bangsawan dari kota pinggiran. Entah ada suatu hal, seharusnya anak bangsawan itu masuk di akademi Guiyang, bukan di akademi Tianmen ini.
“Apakah gadis kecil itu sudah datang ke akademi?” Guru Mo bertanya.
Kali ini mereka telah di depan halaman akademi. Ada air mancur, kolam dan taman yang indah. Akademi bagian dalam di Tianmen ini benar-benar luar biasa. Bahkan memiliki air terjun sendiri. Tidak lupa, didirikan bangunan juga di atas air terjun itu.
“Dia sudah berada di asramanya. Aku akan meminta seseorang mengantar muridmu ke sana.” Yao Hao menjawab.
Tangannya terangkat. Satu pelayan akademi datang, menghampirinya. Dia tetua di sini. Semua perintahnya tak ada yang berani membantah
“Bawa anak ini ke asrama.” Yao Hao memerintah.
Pelayan akademi mengangguk. Dibawanya Yi Xing pergi ke asrama. Guru Mo sempat mengangguk, mengode Yi Xing supaya mengikuti arahan tetua Yao Hao. Kedua dekan itu melanjutkan langkah pelan menuju ke kantor dekan. Sembari itu, mereka berbincang santai.
“Yi Xing. Bagaimana dengan battle ranking-nya? Kau tahu, aturan akademi hanya menerima murid dengan angka di atas sepuluh ribu.” Yao Hao menyinggung.
“Dia telah sampai di angka dua puluh lima ribu. Kau jangan khawatir, muridku yang satu ini memenuhi kualifikasi akademi!” Guru Mo kembali menjelaskan.
Saat mengatakan itu, Yao Hao dibuat terpaku tak berdaya. Dia terkejut bukan main. Dua puluh lima ribu? Angka battle ranking sebesar itu belum pernah ada yang memilikinya sejauh ini di usia yang masih belia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
y@y@
🌟👍🏻👍🏿👍🏻🌟
2024-05-20
0
Jemmy Mangkey
⭐⭐⭐⭐⭐😤😤😤
2024-05-16
0
Sintapriyanti Andini
bgus suka.. critaya mudah di mgerti kata2ya pun di bca tdk belibet... nama2 tokohya simple
2024-05-05
1