“Hei, kau dari mana saja? Kenapa selarut ini kau baru kembali?” Wei Lin menegur di depan pintu masuk asrama.
Yi Xing tidak menjawab. Dia dingin hari ini. Wei Lin menyadari perubahan sikap anak desa itu. Wei Lin memerhatikan tubuh Yi Xing. Dia terluka. Bajunya robek beberapa bagian. Ada noda darah juga.
Saat kaki Yi Xing menginjak lantai masuk asrama, dia hampir tumbang. Wei Lin segera menyambut badannya sebelum jatuh pingsan. Yi Xing hampir tidak bertenaga dan lelah.
“Kau terluka. Kau dari mana? Apa yang kau lakukan seharian ini.” Wei Lin memberondong pertanyaan. Kakinya membawa langkah Yi Xing menuju ke tempat tidur.
Yi Xing menarik napas sengal. Dia sudah berbaring di atas tempat tidur. Wei Lin pergi sesaat, membawa ember kayu dan kain untuk membersihkan badan Yi Xing.
Anak itu terkenang kejadian tadi. Saat dia hampir mati diserang binatang iblis harimau. Cakar itu tajam, mengerikan. Kurang dari satu senti meter, hampir mencungkil bola mata Yi Xing. Jika saja dia tidak gesit menghindar. Untungnya kecepatan cahayanya berhasil membawa Yi Xing mengelak.
Dia terbang di udara. Dalam sekian detik, dia mengeluarkan lagi tehnik berikutnya.
“Tehnik ketiga, pesona dewi, serang!” Kekuatan Yi Xing memerangkap tubuh binatang iblis.
Yi Xing menyerangnya dari udara. Binatang itu terdorong mundur. Memanfaatkan kesempatan, Yi Xing mengeluarkan kekuatannya yang lain.
“Tehnik pertama, hujan pedang!” Roh pedang lagi-lagi menjadi tehnik Yi Xing berikutnya. Tehnik ini menghujani badan binatang iblis berkali-kali. Bahkan ratusan kali. Tidak ada hentinya.
Yi Xing kehabisan tenaga. Dia kelelahan. Tubuhnya tumbang. Perlahan sayap kupu-kupu kembali lenyap. Batasannya berakhir. Yi Xing terjun pelan ke tanah. Dia memuntahkan darah. Semua tehnik telah dicoba. Satu-satunya tehnik yang tidak dipakai adalah tehnik kupu-kupu roh. Itu belum cukup kuat menghadapi musuh kuat. Tehnik ini hanya untuk bertahan dan terbang saja.
Yi Xing mengira kalau semuanya sudah berakhir. Sayangnya belum. Binatang Iblis meskipun terluka, tetapi masih memiliki tenaga untuk menyerang. Battle ranking-nya lima puluh ribu, binatang iblis ini cukup tangguh.
Cakar tajamnya menyangsang wajah Yi Xing lagi. Bocah sembilan tahun itu menahannya dengan pedang di tangan. Pedang besar. Sekuat tenaga dia menghalau. Sayangnya, satu pukulan cakar kiri binatang iblis mampu menumbangkan Yi Xing.
Bocah itu terpental jauh. Punggungnya menabrak batu di belakangnya. Badan terguling-guling. Sampai retak bebatuan itu. Binatang iblis melancarkan serangan lagi, berlari cepat, cakar siap menerkam mangsa.
Dalam situasi ini, Yi Xing tidak mau mati. Dia akan berusaha melawan. Belum saatnya dia tewas mengenaskan. Sebab masih banyak hal yang harus diselesaikannya di dalam kehidupan ini. Matanya terpejam, tangan kanan di depan dada.
“Tehnik penyatuan, pesona dewi, tehnik keempat, serangan mematikan. Lenyapkan!”
Bum! Serangan ini adalah serangan terkuat Yi Xing. Dia menghabiskan seluruh tenaga untuk mengumpulkannya. Sebelum cakar harimau iblis merobek kulit Yi Xing, cahaya tajam berhasil memutuskan leher binatang itu.
Dalam satu detik, dia tewas. Tubuhnya terpisah dua. Darah binatang itu hijau pekat. Yi Xing menatap jijik. Napas anak itu terengah-engah.
Pedang tajamnya merobek belakang punggung binatang iblis. Yi Xing mengeluarkan sesuatu dari sana. Tulang dewa dua puluh ribu tahun. Ini akan cocok dengan Wei Lin. Tipe serangan mereka sama-sama di samping.
“Kau membuatku penasaran. Latihan apa yang membuatmu bisa terluka separah ini?” Wei Lin berbicara sembari tangannya mengobati luka luar Yi Xing.
“Tidak ada.”
“Huh.” Wei Lin mendengus. Urusannya sudah selesai.
Yi Xing sudah diobati. Sudah berganti pakaian. Gadis kecil itu akan pergi, beranjak dari sana. Tapi tangan kanannya ditarik Yi Xing.
“Aku memiliki hadiah untukmu.”
“Apa?”
Yi Xing mengeluarkan tulang dewa yang didapatkannya siang tadi. Diserahkan kepada Wei Lin. Gadis itu sempat mengerutkan keningnya. Tulang dewa itu bisa dipakai untuk mengisi tehnik pertama cincin dewa.
“Kau mendapatkannya dari mana?” tanya Wei Lin.
“Ambilah. Itu cocok untukmu. Sama-sama tipe penyerang sayap kiri.”
Wei Lin menghela napas. Otaknya jadi berpikir banyak hal. Rupanya ini alasan kenapa Yi Xing terluka seperti ini. Untungnya dia tidak kenapa-kenapa. Dan ini juga alasan kenapa Yi Xing hilang seharian ini. Pergi entah ke mana.
“Jika guru tahu, dia pasti akan sangat marah.”
“Jangan katakan apapun padanya.” Yi Xing meminta.
Wei Lin menggeleng pelan. Jika diminta demikian, maka Wei Lin bisa memenuhinya. Perempuan kecil itu menerima pemberian Yi Xing, sesaat sebelum akhirnya meninggalkan asrama. Mengembalikan ember kayu ke tempat semula.
••••
Hari-hari berlalu.
Guru Mo takjub dengan kemajuan Wei Lin dan Yi Xing. Setiap hari dia memerhatikan perkembangan dua anak itu. Seperti hari ini, guru Mo memerhatikan Yi Xing melatih ilmu pedang bersama Wei Lin. Di tempat biasa. Di padang rumput hijau luas. Dekat dengan hutan akademi.
Kemarin Wei Lin dan Yi Xing berlatih di perpustakaan akademi, mempelajari teori-teori serangan dalam pertandingan seleksi calon saint. Wei Lin ketularan hobi membaca manuskrip-manuskrip kuno peninggalan tetua akademi.
“Semenjak mengenal anak itu, Lin’er menjadi lebih disiplin.” Kakek tetua di keluarga Wei Lin berkomentar.
Dia berdiri tidak jauh dari tempat cucunya berlatih. Di sampingnya ada guru Mo. Tetua itu mengurut janggut putihnya yang tebal. Tangan kanan memegang tongkat besi dengan kepala ukiran singa. Dia sudah bungkuk. Amat sepuh. Umurnya di atas dua ratus tahun.
“Kebersamaan membuat mereka menjadi memahami sifat satu dan yang lainnya.” Guru Mo menambahkan.
Kakek menatap guru Mo. “Terima kasih atas pengajaran Anda selama ini, Master Mo.”
“Anak-anak memiliki kemauan yang keras. Mereka sangat berusaha. Itu adalah usaha terbaik mereka.”
“Ehm ..., kompetisi calon saint sebentar lagi akan tiba. Apakah anak-anak ini mampu berdiri di lima besar calon saint terkuat?” Pak tua menggiring opini ke percakapan berikutnya. Tangan mengusap janggutnya lagi.
“Melihat perkembangan mereka, aku yakin keduanya bisa berdiri di puncak. Terlebih, aku melihat beberapa murid masih belum menunjukkan perkembangan signifikan. Kecuali Wei Lin dan Tian Heng.” Guru Mo balas menjawab.
Kakek balik badan, melangkah pelan. “Aku berharap mereka bisa masuk ke dalam akademi Guiyang. Membuat perubahan besar untuk nama baik akademi Tianmen.”
Setelah percakapan itu, kedua memilih kembali ke akademi. Sedangkan Wei Lin dan Yi Xing tetap melanjutkan latihan mereka. Sekali serangan ilmu pedang Wei Lin menyasar ke arah batu. Membuat batu besar di sana hancur berkeping-keping. Tidak puas hanya sekali, tehnik hujan seribu pedang masih menyasar batu-batu yang lebih besar di sana.
“Kau ingin mencobanya denganku?” Wei Lin menantang. Dia sudah menyelesaikan tahap kultivasi cincin dewanya. Tentu saja berkat tulang dewa yang Yi Xing beri.
Yi Xing memerhatikan lamat-lamat. Wei Lin telah memasuki BR tiga puluh satu ribu. Yi Xing tertinggal. Padahal tiga tahun lalu dia masih di atas anak ini.
Waktu juga tidak terasa cepat berlalu. Sudah tiga tahun Yi Xing bersembunyi di akademi ini. Tinggal di asrama, kadang kala berkeliling kota, mencari pekerjaan sampingan.
“Aku tidak yakin aku bisa mengalahkanmu.” Yi Xing berkata lirih.
Namun demikian, dia tetap mengangkat senjatanya. Pedang pemberian guru. Tetapi pedang itu sudah dimodifikasi. Yi Xing menempanya dengan menambahkan bebatuan mulia, hasil membeli di pasar kota. Yi Xing tiga tahun terakhir juga banyak mempelajari ilmu pedang dari buku-buku di perpustakaan akademi.
Wei Lin menyeringai. Dia juga mengeluarkan pedangnya. Pedang guntur. Dia bisa hilang dan datang sesuka hati saat Wei Lin memanggilnya.
“Siapa bilang kau akan kalah dariku? Ingat, battle ranking hanyalah angka. Keterampilan yang menentukan. Lagi pula, kau pernah mengalahkan binatang iblis yang level BR-nya lima puluh ribu. Kau jangan lupakan itu!” Wei Lin mengingatkan.
Ya, Yi Xing tidak akan lupa. Dia memang pernah mengalahkan iblis binatang itu. Bahkan tulang dewanya berhasil Yi Xing berikan kepada gadis di depannya ini.
“Tehnik kedua, pedang roh!” Yi Xing mulai menyerang.
Pedangnya terbang ke sana-sini, menyerang Wei Lin pertama. Dia mengendalikan dengan pikirannya. Yi Xing hanya menggerakkan tangannya. Sedangkan pedang itu bergerak menebas Wei Lin.
Gadis itu melakukan perlawanan. Dua-tiga serangan Yi Xing dipatahkan. Beberapa pedang roh terpental, jatuh menancap ke tanah. Wei Lin menyeringai lagi, ini kesempatannya membalas serangan pedang roh Yi Xing.
“Tehnik kedua, pedang guntur, serang!” Wei Lin terbang di udara. Sayap kupu-kupu roh mengangkatnya setinggi tujuh meter.
Dengan gerakan tangannya, pedang guntur melakukan serangan balik. Yi Xing menangkis setiap serangan beruntun pedang itu. Suara dentingan tak terelakan.
“Tehnik pertama, pesona dewi!” Yi Xing mengeluarkan kekuatannya yang sudah biasa Wei Lin lihat.
Tehnik itu berhasil memblokir serangan pedang guntur. Pedang itu menyerang cepat dan berkali-kali, membuat dentingan ribut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Jemmy Mangkey
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
2024-05-16
0
Sintapriyanti Andini
kyaya mc nya perlu berpetualang tuk menaikan ilmuya deh biar lbih byk komplik n lbih seru bcaya..jgn hnya sebatas bljar di akademi..
2024-05-05
1