Pertandingan masih berlangsung.
Wanita di arena sudah mengumumkan banyak nama untuk bertempur dalam pertandingan ini. Sudah banyak nama yang keluar sebagai pemenang.
Giliran Yi Xing, kali ini namanya langsung disebut. Ketika nama itu dipanggil, mata murid-murid di seisi tribun melongos. Melotot heran. Nama ini terlalu asing. Dia juga kurang dikenal. Bincang-bincang mulai terdengar. Ini nama baru. Dia belum pernah tampil di arena pertandingan sebelumnya. Namun banyak sekali komentar buruk tentangnya. Yi Xing tidak terlalu mendengarkan bisik-bisik itu. Dia hanya mau fokus pada pertandingannya.
“Yi Xing, battle ranking dua puluh lima ribu, siap menantang senior You Gang. Mohon bimbingannya!” Yi Xing membungkukkan badannya. Amat sopan.
Sayangnya, lawan Yi Xing terlampau sombong. Dia meremehkan anak itu. Tidak ada di raut wajahnya menghormati juniornya ini.
“Huh, junior, sebaiknya kau mengalah saja. Kau tidak akan bisa menang melawanku.”
“Mohon bimbingan senior.” Yi Xing masih berkata hormat.
You Gang membuang puntung kayu di mulutnya. Tangan mengeluarkan tombak trisula hitam. “Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu.”
You Gang bergerak, membuat sebuah gerakan pembuka pertarungan. Sebuah tarian yang indah. Para murid di luar arena menatapnya lapar. Memuja bocah itu. Gerakannya membuat pendukung You Gang terasa meleleh.
“You Gang, battle rangking tiga puluh lima ribu, menerima tantangan junior Yi Xing!” You Gang berujar.
Yi Xing mengeluarkan tehnik pertamanya. Sayap kupu-kupu roh. Sedangkan You Gang mengeluarkan tehnik terkuatnya. Lagu laut. Dia ingin mengakhiri pertandingan secepat mungkin nampaknya.
“Tehnik pertama, lagu laut, berputar, serang!” Badai air tercipta. Itu menyasar Yi Xing.
Bocah sepuluh tahun itu memicingkan matanya. Dia ingin mencari cara untuk mematahkan tehnik besar ini. Secara keunggulan, memang Yi Xing tidak terlalu unggul. Mereka berbeda sepuluh peringkat BR. Namun perlu diingat, nilai BR tidak mewakili hasil pertandingan. Kecuali You Gang memang memiliki tehnik pertarungan yang cerdik.
Setelah mengamati keadaan, Yi Xing menemukan satu titik celah untuk mengalahkan lawannya dalam sekali serang. Pertama-tama, Yi Xing harus menghindari tehnik pertama You Gang.
Yi Xing memejamkan matanya sejenak. Roh kupu-kupu di keningnya muncul. Satu senti meter lagi tehnik lagu laut itu menghantam tubuhnya. Namun kecepatan cahayanya membawa Yi Xing bergerak cepat. Tiba-tiba sudah berada di belakang You Gang.
Anak itu menyadari serangan dadakan Yi Xing. Reflek, dia mengayunkan senjatanya ke arah Yi Xing. Di saat yang sama, pesona dewi keluar. Waktu bagai berhenti sejenak. Dalam hitungan detik, serangan pesona dewi membuat You Gang terpental. Terdorong kuat. Hingga memasuki badai laut buatannya. Anak itu tergulung ombaknya sendiri.
Sekali serangan?
Orang-orang menatap terkejut. Sungguh di luar dugaan. Saat melepaskan pesona dewi, tanpa Yi Xing sadari kalau dia juga melepaskan hipnotis besar. Murid-murid terhipnotis, memandang Yi Xing penuh pemujaan. Mereka menganggap bocah berambut putih perak itu Dewi kecantikan.
“Yi Xing, hentikan tehnik itu!” Seseorang berkata lirih.
Yi Xing meliriknya. Dia tetua akademi. Dia berkata dari tempat duduknya. Yi Xing mematuhi. Maka ditariknya tehnik pesona dewi. Seketika hipnotis lenyap.
“Hem ..., anak itu membuat kejutan besar,” tetua Wei berkomentar. Dia tersenyum tipis.
Guru Mo mengiakan apa kata tetua di sampingnya. “Pesona dewi telah sampai tahap ini. Yi Xing berhasil membuat perkembangan besar, tanpa harus mengeluarkan tehnik cincin dewa waktu itu.”
Sementara itu, tetua akademi mengeluarkan kekuatannya, membantu You Gang keluar dari serangannya sendiri. Pertandingan berakhir. You Gang keluar dari arena pertandingan.
Bahkan pertandingan di arena dua dan tiga terganggu karena pelepasan pesona dewi Yi Xing.
“Yi Xing menang!” Perempuan arena mengumumkan lagi. Suara sorak tercipta. Kembang api kemenangan juga dilepaskan. Yi Xing dibuat bingung. “Dengan mengumpulkan battle point lima belas ribu, Yi Xing berhasil menjadi MVP pada putaran pertama.”
*MVP: Most Valuable Player (pemain dengan penampilan terbaik).
Yi Xing menarik senyum malu-malu. Hah, seperti ini rasanya dielu-elukan oleh banyak orang. Dia merasa seperti super star. Lalu anak itu kembali ke tribun penonton. Sejak pertandingannya tadi, Yi Xing menjadi pusat perhatian. Para murid gadis di sana mulai menyadari bahwa ada murid akademi yang memiliki paras paling menawan.
••••
“Wah, kau ternyata bisa diandalkan,” ujar Wei Lin.
Dia dan Yi Xing berjalan di pinggir danau akademi. Beberapa murid terlihat malang melintang. Pertandingan hari ini berakhir. Yi Xing memuncaki klasemen sementara saint putra. Apalagi mendapatkan gelar terbaik.
“Di final, aku ingin kau menjadi MVP lagi. Dengan begitu, peluang masuk ke akademi Guiyang sangat besar.” Wei Lin menambahkan.
Yi Xing tersenyum. Tidak terlintas dalam benaknya ingin masuk ke akademi Guiyang. Namun jika itu sudah jalannya, maka Yi Xing tidak akan mundur.
“Kau juga tak kalah hebat.” Yi Xing memuji.
Wei Lin tersenyum kikuk. “Aku hanya memenangkan tempat pertama dalam battle point saint putri.”
“Setidaknya, ada satu calon saint yang akan masuk ke akademi Guiyang dari akademi ini.” Yi Xing sekali melirik Wei Lin.
Gadis itu antusias berbicara. Siang itu mereka sudah di dekat taman danau. Wei Lin dan Yi Xing duduk di pinggirnya. Menikmati matahari bulat sempurna, menyinari semesta.
Wei Lin mendengus. “Aku akan berusaha keras supaya bisa masuk ke sana. Demi keluarga. Demi ayah. Demi semua leluhur klan.”
Wei Lin mengepal tangannya kuat-kuat. Dia ambisius. Tangan Yi Xing menyentuh jemari lentik gadis di sebelahnya. Wei Lin melirik Yi Xing. Tatapan keduanya bertemu.
“Kau pasti bisa,” ucap Yi Xing. Terlihat di mata Wei Lin ada banyak perasaan yang berusaha dipendamnya. “Apa alasanmu masuk ke akademi ini?”
Wei Lin menghela napas sengal. Kepalanya menggeleng pelan. “Aku tidak tahu.”
Yi Xing berkata lagi. “Akademi Tianmen bukanlah akademi besar. Akademi ini berada di peringkat yang sangat jauh dari semua akademi di kekaisaran Guiyang. Alasan kenapa kau bisa di sini, pasti tidak sesederhana itu.”
Wei Lin melirik Yi Xing sekali lagi. “Aku terpaksa.”
Yi Xing mendengarkan. Memang kalau dipikir-pikir, agak aneh rasanya seorang tuan putri keturunan bangsawan masuk ke akademi ini. Tianmen memang bukan akademi yang jelek, secara bangunan di sini sangat megah. Hanya saja, dari pemeringkatan, jelas bahwa akademi Tianmen kalah jauh dari akademi manapun di kekaisaran.
“Bagaimana denganmu?” Wei Lin balik bertanya. Ditatapnya wajah sendu Yi Xing. Anak lelaki itu terdiam sebentar. Kisahnya jauh lebih pelik.
“Aku sendirian.”
“Di mana orang tuamu?”
Yi Xing menggeleng. “Entah. Aku tak tahu.”
“Kau tidak pernah melihat mereka?”
Yi Xing menggeleng lagi, agak lemah. “Belum pernah sama sekali.”
“Kau ditinggalkan sejak kecil?” Wei Lin menebak.
Ya, itu jawabannya. Yi Xing tidak menyangkal sama sekali. Helaan napasnya terdengar susah payah. Yi Xing sejak lahir diasuh bibi Ning. Hanya dia keluarga Yi Xing satu-satunya. Wei Lin sejenak merasa iba, tetapi juga takjub dengan kisah Yi Xing. Dia anak desa yang mau menjadi temannya saat ini.
Ketika sedang membincangkan hal-hal sederhana seperti tadi, satu anak panah nyaris bersarang di kepala Yi Xing. Untungnya dia peka. Sehingga anak panah itu jatuh masuk ke dalam air danau.
“Siapa!” Yi Xing berseru. Lekas berdiri. Menatap sekitar.
Ah, dia menemukannya. Tian Heng. Dia lagi. Kali ini dia datang membawa pasukan.
“Tian Heng .....” Wei Lin mendesis marah.
Tian Heng tertawa. “Kalian berdua calon saint payah. Aku muak melihat pertandinganmu tadi. Kau mengambil MVP-ku!”
Tian Heng menatap benci Yi Xing. Tangannya menarik lagi anak panah. Dia menyerang tanpa pikir dua kali. Yi Xing menahannya. Pesona dewi menjadi andalan Yi Xing saat itu.
“Tian Heng, aku akan menghajarmu!” Wei Lin menantang. Tangannya menunjuk kasar bocah nakal itu.
Pedang guntur Wei Lin telah dikeluarkan. Sayap kupu-kupu juga sudah terbentuk. Dia akan membalas serangan di udara. Tetapi, Yi Xing berhasil menahan Wei Lin. Dia gegabah.
“Biarkan saja. Tidak perlu membalasnya,” kata Yi Xing lirih.
Wei Lin menahan kepalan tangan. Sejujurnya dia ingin mengajar Tian Heng yang angkuh sampai babak belur.
“Tian Heng. Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu. Sebaiknya kau berhenti sekarang!”
“Kenapa? Kau takut?”
Yi Xing menyipitkan matanya. Yi Xing tidak takut. Dia bisa saja menghajar Tian Heng sampai mampus. Tetapi ini di dalam akademi. Yi Xing juga harus menahan diri. Sebab banyak hal yang harus dilakukannya.
“Tian Heng, jika kau benar-benar ingin mengalahkanku, maka kau harus bersiap di dalam arena pertandingan nanti!” Yi Xing menawarkan.
Tian Heng tidak berpikir panjang. Dia mengiakan kata anak itu. “Baiklah. Aku tunggu tantanganmu. Kuharap kau jangan sampai kalah, hingga kita bertemu di final nanti.”
Setelah mengatakan itu, Tian Heng pergi. Kali ini dia melepaskan Yi Xing amat mudah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 214 Episodes
Comments
Jemmy Mangkey
⚡⚡⚡⚡⭐⭐⭐⭐⭐⭐
2024-05-16
0