..."Aku sudah mencoba yang terbaik di setiap kesempatan, tapi mengapa kemenangan tidak pernah berpihak kepada ku?"...
...********...
Kelas sebelas B.
Aku membuang napas lega saat mengetahui kursi guru masih kosong tiada siapapun yang duduk di sana, ia baru ingat kalau sekarang waktunya Bu Mirna si guru killer yang terkenal di kalangan anak kelas sebelas. Jikalau ia sampai terlambat, bisa-bisa dihukum tidak boleh mengikuti pembelajarannya selama satu bulan.
"Untung masih sempet ya Allah," batin ku mengelus dada lalu berjalan masuk ke dalam kelas.
"Waduh si Kakap baru datang, darimana aja neng? Jam setengah delapan baru sampe kelas," sapa Cella sembari menepuk-nepuk punggung ku cukup keras.
"Sakit Cel! Orang baru dateng main tabok, lo kira punggung gue gendang?" sebal ku mengerutkan kening. "Kan gue sudah bilang stop panggil gue kakap! Nama gue Kayla, emang name tag gue kurang gede, apa mata lo yang emang minus?!"
Gadis itu tertawa, sampai matanya pun ikut menyipit karenanya. "Hahaha, nama Kayla kurang cocok buat lo, kakap aja udah lebih pas," balas Cella.
"Udahlah bodo, capek emang ngomong sama orang nyebelin macam lo," sebal ku tak mau lagi memperpanjang keributan kecil ini, percuma juga sebab lubang telinga Cella itu terlalu besar, masuk kanan keluar kiri.
"Kayla!" panggil seorang siswa bernama Bian, ketua kelas sebelas B kepada Kayla yang tengah berdiri dekat pintu kelas bersama Cella.
"Iya ada apa?" tanya ku menyaksikan anak itu berjalan mendekat ke arah kami berdua.
"Sekolah lagi ngadain lomba hias mading kelas, lo kan anaknya kreatif. Gue mau lo hias mading kelas kita dibantu sama anak-anak, gimana? Mau ya, kalau butuh bahan apa-apa ngomong aja ke gue," ujar Bian.
"Halah mentang-mentang duit lo banyak, kalau butuh apa-apa tinggal bilang. Emang orang tua lo kerja apaan sih? Heran gue, kok bisa ya orang-orang pada kaya-raya semua," nyinyir Cella.
"Ngepet! Jadi orang kepo amat, rezeki itu sudah ada yang ngatur jadi gak perlu iri, lo masih bisa sekolah sekarang aja harus bersyukur," balas Bian sedikit menanggapinya dengan emosi. Ya begitulah kalau lawan bicaranya Cella, harus ekstra sabar.
"Iye iye Bi, gitu aja marah serius amat hidup lo," respon Cella bersedekap dada, sedangkan aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua.
"Ehem, ya udah deh gue mau. Kapan mulainya, sekarang?" tanya ku kepada Bian.
Laki-laki berambut cokelat gelap itu mengangguk sebagai jawabannya, "iya, kebetulan Bu Mirna izin nggak bisa ngajar hari ini karena ada urusan."
"ALHAMDULILLAH YA ALLAH!" seru anak-anak satu kelas mengucap syukur setelah mendengar apa yang barusan Bian katakan.
"Gak sia-sia gue sholat tahajud tadi malam," lanjut seorang siswa membuka telapak tangannya tinggi-tinggi.
"Cih, dasar barudak," kekeh Bian hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Oke deh, kalau begitu bantu gue lepasin hiasan mading lama ya, besok kita bikin baru sekalian beli bahan-bahannya," ucap ku dan disetujui olehnya.
Dengan dibantu beberapa anak, kami pun bekerja sama untuk melepas satu persatu hiasan di mading lama agar esok harinya bisa kami mulai untuk menghiasnya dengan ornamen yang baru.
Namun, ketika aku mulai mencabut satu-persatu polaroid foto yang berisi gambar anak-anak kelas. Seketika jari-jari ku dibuat gemetar saat menyaksikan ada banyak sekali kejanggalan di sana. Dimana wajah salah satu siswi dalam semua polaroid foto tersebut digunting bahkan ada yang disobek secara paksa.
"A-apa ini? Kenapa cuman foto Faza yang hilang?" batin ku keheranan, seraya memegang beberapa polaroid foto tersebut.
"Siapa yang melakukan ini?" dengan dipenuhi rasa penasaran, tanpa pikir panjang aku langsung memberitahukan hal itu kepada Bian yang juga sedang melepas hiasan manik-manik di tubuh mading.
"Bian, gue mau lo lihat ini!" seru ku dan membuat laki-laki itu menolehkan kepala, menatap ke arah benda yang aku tunjukkan kepada dirinya.
Dari sorot matanya, aku bisa melihat kalau dia juga sama terkejutnya dengan semua polaroid foto yang ku tunjukkan sekarang. Bian tidak mungkin pelakunya.
"Lo tahu siapa yang melakukan ini dan kenapa? Gue bingung kenapa bisa cuman wajah Faza aja yang hilang, kenapa hanya dia?" pelupuk mata ku mulai memanas, sudah hampir dua tahun Faza dikabarkan menghilang tanpa jejak, bahkan sampai sekarang pun masih belum ada kabar terbaru tentang dirinya. Dan sekarang, ia malah menemukan hal mengejutkan seperti ini.
Bian langsung menyahut semua polaroid foto tersebut dan berjalan menuju depan papan kelas, menghadap ke arah teman-temannya.
"Gue minta perhatian lo semua sekarang!" ucap Bian terdengar serius, manik matanya menatap tajam kepada puluhan siswa tersebut.
"Bian, ada apa? Kayak orang kesambet lo," tanya seorang siswa merasa heran dengan sikap ketuanya itu.
"Gue mau lo semua jelaskan soal ini!" bentak Bian melempar semua polaroid foto tersebut ke arah mereka, benda itu melayang-layang lalu jatuh ke sembarang tempat.
"Teman kita Faza, sudah dikabarkan menghilang cukup lama. Bahkan sampai sekarang kita tidak tahu dimana keberadaan dia, dan sekarang.... gue mau lo semua mengakui siapa yang menghilangkan wajah Faza di polaroid foto kelas," ucap Bian tajam.
"Sudah lama kelas kita tidak pernah ada masalah antar satu sama lain, tapi buat lo yang merasa melakukan ini gue sebut lo sampah, sama aja seperti lo matiin mental seseorang."
"Kenapa? Apa lo takut kalah saing sama dia? Atau lo iri dengan apa yang dia punya? Entah kenapa gue rasa ini juga ada hubungannya dengan menghilangnya Faza," pungkas Bian tersenyum smirk, nampak puluhan tatapan aneh menyoroti anak itu. Mereka merasa heran dengan perubahan sikapnya.
"Kenapa diem? Bisu lo, gue tanya siapa yang ngelakuin hal ini ke polaroid foto kelas. Lo semua penghuni kelas ini kan, harusnya lo tahu!" bentak Bian sambil memukul papan tulis.
"Udah cukup Bian, gue rasa tindakan lo terlalu berlebihan," sahut ku mencoba menenangkan keadaan.
"Hah berlebihan? Lo anggap hal sepenting ini berlebihan?" remeh Bian tertawa geli. "Lo sahabatnya kan Kay? Mestinya lo perduli!"
"Gue jadi curiga, apa jangan-jangan emang lo pelakunya, lo sengaja melakukan ini semua dan playing victim seolah-olah posisi lo adalah korban, sebenarnya lo tahu dimana Faza, lo yang menyembunyikan dia dari kita semua. Jujur aja Kay, lo melakukan ini karena iri Faza jauh lebih populer daripada lo di kelas, iya kan?"
"CUKUP!" teriak ku tidak terima dengan semua tuduhan itu. "Berhenti fitnah gue! Lo tahu apa soal persahabatan gue dan Faza, tutup mulut lo kalau cuman mau menjatuhkan harga diri gue Bian!"
"Asal lo tahu, hilangnya Faza bikin gue depresi! Gue sudah berusaha mencari dia kemana-mana tapi hasilnya nihil, lo gak tahu perjuangan gue selama ini untuk menemukan dia Bian!" tanpa sadar sebenih air mata jatuh melewati pipi ku.
"Jadi tutup mulut brengsek lo itu, dan berhenti berlagak seolah-olah lo tahu segalanya!" bentak ku dan berlari pergi meninggalkan kelas.
"Permainan ini semakin menarik," gumam seseorang yang sedari tadi memantau keributan tersebut dari luar kelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments