EPS 02

Dini hari, pukul tiga pagi. Aku terbangun dari tidur ku, karena disebabkan suara berisik yang sangat menggangu dari ruang tengah. "Gue ketiduran di sini," gumam ku baru menyadari, kalau aku masih berada di dalam kamar Valencia.

Manik mata ku menatap teduh wajah Valencia yang sedang tertidur pulas itu, lalu segera pergi keluar kamar untuk mengetahui darimana asal suara berisik tersebut.

Sesampainya di ruang tengah, ternyata suara berisik yang sangat menggangu itu berasal dari televisi yang masih menyala, dengan volume cukup keras. Bibir ku mendecak kesal, "ck, kenapa gak dimatiin sih?" gumam ku dan mengambil sebuah remote yang tergeletak di atas meja.

Jari jempol ku hendak menekan tombol power pada remote tersebut, namun. "Lagi-lagi, ditemukan beberapa potongan daging manusia hasil mutilasi. Polisi beranggapan bahwa kasus ini hampir sama seperti kasus satu tahun silam. Para anggota berwenang masih berusaha untuk menangani kasus ini lebih lanjut," ujar pembawa acara televisi.

Setelah mendengar berita tersebut, bola mata ku terbelalak. Aku tak percaya, dengan apa yang baru saja aku saksikan. "Apa orang itu kembali lagi?" batin ku mengepal kuat kedua tangan.

...********...

Keesokan harinya, aku berangkat sekolah lebih awal daripada biasanya. Aku beralasan kepada Bunda, kalau ada pelajaran tambahan di kelas. Tidak, itu tidak benar, aku melakukan ini agar bisa pergi ke rumah tua dekat sekolah.

"Lo yakin mau masuk Kay?" tanya ku pada diri sendiri, yang telah berdiri di depan rumah tua itu. Ck! Lihat film horor aja masih takut, mau sok-sokan masuk ke sana. 

Kepala ku menggeleng cepat. "Gak! Gue harus berani," batin ku dan mulai melangkah penuh keraguan ke dalam rumah tersebut.

Pintu kayu yang sudah tua, bahkan sedikit berlubang. Suara decitan menusuk telinga saat ku buka. Sangat kotor keadaan di dalam sana, banyak sarang laba-laba dan berdebu. "Uhuk uhuk."

"Ruangannya kosong, semua barang bukti pasti sudah dibawa sama polisi waktu itu," ujar ku tidak berhasil menemukan apapun.

"DOR!!!" kejut seseorang dari arah belakang, sontak bahu ku bergetar karena terkejut.

"Berlian!" marah ku kepada perempuan tersebut, yang malah puas melihat ekspresi terkejut ku. Dia adalah Berlian—sahabat ku.

"Hahaha sorry Kay, lagian lo ngapain ada di sini? Kurang kerjaan banget, entar diculik sama setan tahu rasa lo," balas Berlian masih belum bisa berhenti tertawa.

"Ya lo kali, lo kan satu jenis sama mereka," ketus ku sebal.

"Yaudah mending keluar aja yuk! Gue gak nyaman nih," ajak Berlian merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Lo tahu kan, berita satu tahun yang lalu, yang terjadi di rumah tua ini? Gue masih penasaran," ujar ku.

"Maksud lo, tentang manusia yang dimutilasi itu? Setahu gue, sampai sekarang kasus itu masih ditutup," jawab Berlian.

"Tapi Kay, apa yang membuat lo sangat penasaran soal kasus itu? Gak mungkin kan, lo tiba-tiba begitu terobsesi sampai seperti ini. Pasti ada alasan lain," tanya Berlian penasaran.

"Karena...." jeda ku, tiba-tiba melintas potret wajah seseorang dalam pikiran ku.

"Yaudah lah lupain! Mending sekarang kita balik aja yuk! Gue gak mau lama-lama di tempat serem kayak begini," sahut Berlian tidak kuat, dan segera mengajak diriku pergi dari sana. Lalu berangkat bersama-sama menuju sekolah.

...********...

Sesampainya di sekolah, baru saja aku dan Berlian sampai dan berjalan di sekitar lapangan basket. Dari arah sana, terdengar suara keributan yang cukup ramai, serta banyak sekali gerombolan siswa dekat pintu gerbang sekolah.

"Pagi-pagi ribut bener Ber," ucap ku pada gadis itu.

"Cih, itu kan ulah cowok lo," balas Berlian tersenyum miring.

Benar, suara keributan besar tersebut berasal dari geng ALPHA WOLF, yang tengah memasuki gerbang sekolah dengan menaiki motor-motor besar mereka. Mengenakan jaket kulit hitam berlogo tiga kepala serigala, mereka semua tampak gagah terutama Levi yang memimpin para anggotanya di barisan depan.

Teriakan semakin bergemuruh ketika motor-motor besar tersebut masuk ke dalam sekolah menuju area parkir khusus anak-anak ALPHA WOLF. Kasta tertinggi di SMA ini ada tiga tingkatan, pertama guru, kedua geng ALPHA WOLF, dan yang terakhir siswa biasa.

"Gawat!" batin ku cemas, aku baru ingat kalau kemarin Levi sempat mengatakan akan menjemput ku berangkat sekolah. Tapi dia malah sibuk untuk pergi ke rumah tua itu.

"Dia marah nggak ya?" gumam ku takut.

"Kay! Kay, lo kenapa? Ngelamun bae," ucap Berlian membuyarkan lamunanku.

"Gue nggak apa-apa kok, mmm gue pergi ke kelas dulu ya!" balas ku.

"Owh oke, kalau lo pulang sendirian gue bareng ya!" ujar Berlian.

"Beres, entar gue kabarin, bye!" pamit ku lalu berjalan pergi menuju ke kelas, begitupun juga dengan Berlian. Kami harus berpisah, sebab kelas kami berbeda.

Aku berjalan melewati lorong sekolah, tiba-tiba, dari arah belakang tangan ku ditarik oleh seseorang, dan tubuhku di dorong bersandar ke tembok.

Wajah kami saling berdekatan, dengan posisi tangan kanannya menempel di dinding samping kepala ku.

"Le-Levi," kejut ku melihat laki-laki itu, sial ini terlalu dekat.

"Lo berani ninggalin gue," ucap Levi dengan suara beratnya, sorot mata laki-laki itu sama persis seperti pertama kali kami bertemu.

"Maaf, gue lupa," balas ku sedikit merasa takut dengan tatapan tajamnya.

"Hm, maaf aja gak cukup," ujar Levi tersenyum smirk, lalu menarik lengan ku menuju ke suatu tempat. "Gue harus beri lo hukuman."

"Eh tunggu! Lo mau bawa gue kemana?!"

Terpopuler

Comments

Nia࿐

Nia࿐

apa orang itu ada hubungannya dengan masa lalu Kayla, sampe² Kayla pengen banget tau soal dia.

2024-02-28

1

Filanina

Filanina

ih, bahaya tahu

2024-02-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!