EPS 14

Sesampainya di rumah Kayla...

Hari sudah sore, aku menghabiskan banyak waktu di markas ALPHA WOLF sampai membuatku lupa untuk pulang. Ternyata memang seseru itu mengobrol dan bermain bersama mereka anak-anak ALPHA WOLF, padahal awalnya aku pikir geng motor itu menyeramkan. Ternyata dugaan ku salah.

"Thanks ya udah anterin gue pulang," ucap ku kepada Levi, yang posisinya laki-laki itu tengah duduk di atas sepeda motor sembari menerima helm yang aku berikan kepadanya.

"Hm," deham Levi. 

"Gimana suasana hati lo sekarang? Kayaknya mereka sudah berhasil buat mood lo baik lagi," tanya Levi.

"Iya, temen-temen lo gak bisa bikin gue berhenti tertawa, mereka emang lucu banget," balas ku tersenyum jika mengingat-ingat lagi kejadian tadi waktu di markas.

"Alhamdulillah, gue seneng lihat lo senyum lagi, gue sempet khawatir waktu lihat wajah lo sedih," ucap Levi. 

"Iya, gue males bahas soal kejadian di kafe itu lagi."

"Oke deh, kalau begitu gue cabut dulu ya!" ucapnya pamit.

"Iya hati-hati!" balas ku kepadanya lalu menyalakan mesin motor. Akan tepati, sebelum anak itu pergi tiba-tiba saja tangan kanan Levi mendorong kepala ku agar lebih dekat lagi dengan wajahnya.

"Le-Levi, lo kenapa?" tanya ku dengan perasaan terkejut bercampur bingung.

Ia tidak menghiraukan pertanyaan dari ku, tangannya semakin mendorong kepala ku agar lebih dekat lagi dengan wajahnya, lalu membisikkan sesuatu di telinga ku. "Cepet sembuh ya Tuan putri," bisik Levi manis tapi begitu menggelitik.

Seketika jantung ku terasa berhenti sesaat, wajah ku sangat merah seperti kepiting rebus. Tanpa rasa tanggung jawab dengan perbuatan yang sudah dia lakukan, ia lalu pergi begitu saja meninggalkan ku seorang diri di sana dengan perasaan tidak karuan.

"AAAAHHHHH LAMA-LAMA GUE BISA GILA KALAU BEGINI CARANYA!!!" teriak ku seperti orang tidak waras, Valencia buru-buru keluar dari dalam rumah karena mendengar suara teriakan tersebut.

"Kak Kay kenapa?" tanya Valencia terheran-heran melihat Kakaknya berdiri sendirian di depan rumah, tidak mungkin kan dia sudah gila?

"Eh Cia, Ka... Kakak nggak kenapa-kenapa kok," balas ku senyum-senyum malu.

"Sial! Ini semua gara-gara Levi, pasti Cia ngira gue sudah gila sekarang," batin ku sebal.

...********...

Levi kembali pulang ke kediamannya, baru saja anak itu sampai dan memarkirkan sepeda motor ninja nya di teras rumah, lalu segera masuk ke dalam.

Di ruang tamu, kedatangan Levi sudah disambut oleh Abimanyu yakni saudara tirinya yang tengah bersantai di sofa sembari membaca sebuah majalah.

Levi melangkah begitu saja mengacuhkan keberadaan Abimanyu, pandangan remaja itu hanya lurus ke depan.

"Lo gak ada niatan nyapa gue? Main nyelonong," tegur Abimanyu lalu membuat langkah Levi berhenti, dan berbalik menghadap dirinya.

"Emang kenapa? Narsis banget lo pingin gue sapa?" balas Levi dingin. Manik matanya sekilas melirik ke arah meja ruang tamu yang terdapat sebuah piala serta sertifikat di atasnya.

Abimanyu menyadari akan lirikan itu, "lo suka sama piala gue? Piala itu baru aja gue dapet tadi pagi habis menang lomba cerdas cermat, gue denger-denger seharusnya lo dan temen-temen lo yang ikut lomba itu. Tapi karena kalian merasa gak mampu, yaudah gue yang ikut dan hasilnya.... gue menang," ujar Abimanyu terkesan sombong.

"Haahh kenapa gak dari awal-awal aja guru-guru nunjuk gue yang ikut lomba duluan, kenapa harus lo? Secara kan, gue lebih pinter daripada lo," sambungnya semakin menjadi.

"Baru dapetin satu piala tapi sombong lo sudah segede gunung, gue gak bisa bayangin seandainya lo kalah pasti psikis lo rusak dan hasilnya gantung diri di kamar," balas Levi tersenyum sinis, ia sama sekali tidak merasa iri dengan prestasi yang baru saja anak itu dapatkan.

"Itu cuman piala kosong, tapi terlalu lo bangga-banggain kayak bisa dibawa mati aja. Haha miris gue lihatnya."

"Gue sama sekali gak iri sama lo, gue sudah nyumbang lima puluh piala di lemari kaca sekolah kalau lo belum tahu. Lo boleh ambil satu biar piala kecil lo itu punya temen," pungkas Levi lalu berlalu pergi meninggalkan Abimanyu.

"Cih, sialan!" gumam Abimanyu emosi.

Levi dan Abimanyu adalah rival dalam bidang mengukir prestasi di sekolah mereka, pada awalnya Levi hanya berlaku biasa-biasa saja. Namun sejak Abimanyu menantang dirinya, dan selalu saja mencari cara untuk bisa mendapat perhatian lebih dari Nyonya Andriana. Sejak saat itu juga Levi tidak mau kalah.

...********...

/Tok tok tok/ terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Levi.

"Siapa?" tanya Levi sedikit mengeraskan suaranya.

"Nyonya Andriana meminta anda agar segera turun ke bawah Tuan muda, untuk makan malam bersama," balas pelayan tersebut.

Levi membuang napas kasar, "oke, saya segera ke sana," balas Levi.

"Makan malam bersama keluarga palsu lagi, kapan ini akan berakhir," ujar Levi lalu turun dari atas tempat tidur, dan bergegas pergi keluar kamar menuju ruang makan.

Sesampainya di ruang makan, Levi mengambil duduk dekat Nyonya Andriana, sedangkan Abimanyu di sebelah Tuan Vans. Makan malam pun dimulai, tidak ada satu pun yang mencoba memulai pembicaraan, hening... hanya suara denting sendok saja yang mengisi suasana.

"Oh ya Pa, aku baru dapet juara cerdas cermat loh, keren kan!" ucap Abimanyu kepada Tuan Vans, pria itu pun tersenyum dan menepuk bangga pundak putranya.

"Bagus, kalau Levi? Gimana sekolahnya tadi?" tanya Tuan Vans menoleh kepada Levi yang sibuk memakan makanannya.

"Levi sayang, dijawab dong kalau ditanya," ujar Nyonya Andriana.

"Biasa aja," balas Levi dingin.

"Hm, buat apa Papa harus perduli sama dia, dia aja gak perduli sama Papa," sindir Abimanyu merasa tak suka.

/Tak/

Levi menaruh sendoknya cukup keras, sampai air dalam gelas sedikit bergoyang karenanya. "Aku sudah kenyang," ucap Levi kehilangan nafsu makannya, dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

"Levi!" panggil Tuan Vans namun tidak dipedulikan olehnya, anak itu terus saja berjalan menaiki tangga.

"Abimanyu! Lain kali jangan bicara seperti itu kepada saudara mu," tegur Tuan Vans kepada Abimanyu.

"Cih!" decak Abimanyu kesal dan ikut meninggalkan ruang makan.

Melihat kepergian kedua putranya dari sana, Tuan Vans menghela napas berat sembari memijat-mijat keningnya. "Haah, kapan mereka bisa akur?" ucapnya lelah.

"Mas," panggil Nyonya Andriana merasa kasihan, memegang punggung tangan suaminya.

"Aku mau menemui Levi dulu, dia belum makan banyak. Anak itu pasti masih lapar," ujar Tuan Vans mengambilkan sepiring makanan lagi untuk Levi, lalu pergi menuju kamarnya.

"Andai kau tahu sayang, kalau Papa mu sangat menyayangi dirimu," batin Nyonya Andriana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!