EPS 6

Sudah lima belas menit sejak perlombaan balap liar dimulai, namun masih belum ada salah satu dari mereka yang melewati garis finis.

"Woy, itu Jeno!" seru anak-anak PHOENIX mendapati ketua geng mereka dalam perjalanan menuju garis finis, yang menaiki sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

"GAASS JEN!" teriak mereka menyemangati, ditambah lagi Levi pasti tertinggal jauh di belakangnya. Hal ini semakin menambah keyakinan geng PHOENIX kalau merekalah pemenang dalam game kali ini.

Akan tetapi, disaat-saat motor Jeno kurang setengah jalan lagi bisa mencapai garis finis, tiba-tiba terdengar suara motor mengebut sangat kencang dari arah belakang, dan menyalip seperti kilatan petir melewati Jeno.

"Hah," cengang Jeno terkejut betapa cepatnya motor tersebut, dan reflek langsung memberhentikan motornya, menyaksikan sang lawan—Levi melewati garis finis begitu saja.

"Ba-bagaimana bisa? Bu-bukannya dia jauh di belakang gue tadi," batin Jeno masih tak percaya, bagaimana Levi bisa secepat itu menyusul ketertinggalannya.

Gelar Raja balap liar memang bukan omong kosong belaka, hari ini Levi sudah menunjukkan kemampuannya tepat di depan Jeno.

"Gue sudah yakin lo pasti menang bro," senang Daren menepuk-nepuk punggung Levi.

"Memang sejak kapan gue kalah?" balas Levi dingin.

"Sorry, maksud gue lo pasti menang kalau soal ini," ujar Daren mengangguk paham, leader geng nya itu memang sombong, tapi dia tidak pernah mengkhianati perkataannya sendiri.

"Gila keren Lev, gue kira tadi lo bakalan kalah," sahut Ucok dan mendapat pukulan kecil dari Johan.

"Jaga omongan lo, Levi pasti menang lah, lo kayak gak paham dia aja," balas Johan.

Jeno yang baru saja datang, dengan mengendarai sepeda motor menunju ke tempat gerombolan anak-anak PHOENIX berkumpul. Wajah laki-laki itu nampak murung, ia merasa kecewa sekaligus bersalah, sebagai ketua dia telah gagal membawa nama baik gengnya.

"Its okay Jen, yang penting lo sudah berusaha," ujar Mark—wakil ketua geng PHOENIX, mencoba memberi semangat kepada Jeno.

"Maaf, sekali lagi gue bikin malu lo semua," ucap Jeno merasa bersalah.

"Aduh, kayaknya anak Mama mau nangis nih, butuh susu gak?" remeh Levi bersama seluruh pasukan ALPHA WOLF berada di belakangnya. Mereka kompak menatap remeh kepada geng PHOENIX yang kalah.

"See Jen, Lo bukan apa-apa di hadapan gue, cuman tikus kecil," ujar Levi.

"Padahal gue sudah beri lo kesempatan, gue biarin lo pimpin balapan cukup lama, tapi apa ujungnya? Kemampuan balapan lo buat gue bosen," sambung Levi tidak merasakan gairah apapun ketika pertandingan tadi.

"Jadi dia sengaja, itu cuman rencana dia yang mau ngetes gue," batin Jeno tercengang mengepalkan tangannya kuat, rahang anak itu mengeras. "Dia bikin gue kalah telak."

"Sebagai tim yang kalah, lo harus terima hadiah dari kita," Levi melakukan sedikit pemanasan ringan, disusul dengan semua anggotanya yang mulai mengeluarkan senjata dari dalam saku dan jaket mereka, seperti pisau dan pistol.

"Bang**sat! Maksud lo apa?! Lo melanggar perjanjian," umpat Mark.

"Hah, melanggar perjanjian? Emang siapa suruh geng lo kalah?" balas Levi menyungging senyum smirk. "Sudah menjadi tradisi geng ALPHA WOLF, kita akan selalu beri hadiah manis untuk tim yang kalah dengan cara unik," pungkas Levi mengakhiri senyumannya, dengan tatapan tajam.

"HABISI MEREKA!!!" titah Levi dan dibalas gemuruh sorakan oleh pasukan ALPHA WOLF, puluhan pemuda itu langsung berlari sambil mengangkat senjata menuju geng lawan. Geng PHOENIX yang memang dalam kondisi tidak siap, bahkan mereka tidak membawa senjata apapun yang dapat membantunya melawan geng ALPHA WOLF, dalam kurun waktu beberapa menit saja Levi bersama para pasukannya berhasil mengalahkan mereka dengan mudah.

Setelah puas menyaksikan seluruh pasukan PHOENIX diratakan oleh geng ALPHA WOLF tanpa ampun, laki-laki dengan ciri khas manik mata tajam itu berjalan menghampiri seorang pemuda yang sudah terkapar tak berdaya di tanah.

Tangan Levi menjambak kasar rambut Jeno, sampai membuat anak itu mendongak ke atas menatap wajah Levi. "Bagaimana rasanya kalah? Menyedihkan bukan?" ucap Levi, dan dibalas tatapan mata penuh kebencian oleh Jeno.

"Kalau lo mau menang, lo harus kuat. Kalau gue punya leader sampah macam lo, gue pasti malu," pungkasnya dan menghempaskan cengkraman nya dari rambut Jeno.

"Hm, kita cabut!" titah Levi meminta kepada seluruh anggota ALPHA WOLF untuk meninggalkan lokasi balap liar, meninggalkan geng PHOENIX yang terkapar tak berdaya penuh luka-luka.

...********...

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Levi dengan mengendarai sepeda motor ninja hitamnya memutuskan untuk pulang, dan sampailah di sebuah rumah bertingkat yang tampak megah dari luar.

Ia memarkirkan kendaraan tersebut di teras rumah, lalu segera masuk ke dalam sana. Tak disangka, kedatangan laki-laki itu disambut oleh seorang wanita cantik yang duduk santai di sofa ruang tamu, sembari menikmati secangkir teh.

Nyonya Andriana—Ibu kandung dari Levi.

"Kau baru pulang," ujar Nyonya Andriana, menaruh kembali secangkir teh itu ke atas meja.

"Apa kau berkumpul lagi bersama geng berandalan itu? Sudah Ibu katakan, tinggalkan hobi buruk mu itu Levi," sambung Nyonya Andriana melirik kepada putra kandungnya itu.

Seusai mendengar perkataan tersebut, kedua ujung bibir Levi terangkat sinis. "Memang apa peduli Ibu?" balas Levi.

"Sejak kapan Ibu peduli kepada anak kandung Ibu sendiri," pungkasnya sontak membuat Nyonya Andriana berdiri dari duduknya.

"Jaga bicara kamu Levi!" bentak Nyonya Andriana.

"Kenapa Bu? Apa aku benar? Ibu sudah tidak pernah peduli kepada aku lagi sejak kematian Ayah, mmm mungkin tidak, tapi sejak Ibu berselingkuh dan mengkhianati kami berdua," ujar Levi santai, walaupun saat ini wajah Nyonya Andriana nampak marah.

Benar, arti sebuah keluarga sudah hancur tak tersisa bagi anak itu. Sejak peristiwa tersebut, rasa percaya akan kasih sayang telah lenyap sepenuhnya dari dalam dirinya. Haha, menghancurkan keluarga yang lama dan begitu cepat digantikan dengan yang baru. Kadang Levi tertawa, menyaksikan betapa lucunya manusia berakting.

"Aku mau tidur," ujar Levi mengambil langkah menuju kamarnya, ia tidak mau semakin dibuat muak oleh seorang wanita yang kerap dia panggil Ibu itu.

"Apa yang harus Ibu lakukan supaya kamu mau mendengarkan perkataan Ibu!" bentak Nyonya Andriana sekali lagi, mampu menahan langkah Levi.

Tubuh Levi mematung dalam beberapa saat, lalu menoleh ke belakang menatap wajah Nyonya Andriana. "Apa yang aku mau?" ujar Levi mengulang kembali kata-kata itu.

"Kalau begitu, aku mau Ayah kembali hidup, dan keluarga kita pulih seperti dulu lagi. Apa bisa Ibu?" sambung Levi mengeluarkan keinginannya, Nyonya Andriana hanya bisa terkejut saat mendengarnya, seketika mulut wanita tersebut terbungkam.

"Kenapa Ibu diam? Mustahil? Ibu sendiri yang bilang mau turuti kemauan aku kan, aku mau itu Bu, apa bisa?" tanya Levi sekali lagi, namun tidak mendapat balasan apapun dari Nyonya Andriana.

Menyaksikan sang Ibu terdiam seribu bahasa, membuat Levi tersenyum kecut. "Seandainya.... seandainya Ayah masih hidup, aku lebih memilih tinggal bersama dia, daripada tinggal di rumah neraka seperti ini bersama kalian," ujar Levi tanpa sadar pelupuk mata Nyonya Andriana memanas.

"Urus saja suami baru mu dan anak kesayangan mu itu Bu, aku bisa mengurus diriku sendiri," pungkas Levi kecewa, dan berjalan pergi meninggalkan sang Ibu seorang diri di sana.

"Levi," batin Nyonya Andriana dengan setetes bulir air mata jatuh membasahi pipinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!