Kelas sebelas B.
Fanny terlihat murung, duduk seorang diri di tempat duduknya, sebab teman sebangkunya—Kayla tidak masuk sekolah hari ini.
Beberapa menit yang lalu, gadis itu baru saja mendapatkan pesan singkat dari Kayla, kalau ia tidak dapat masuk sekolah hari ini dan meminta tolong kepada dirinya untuk menyampaikan hal tersebut kepada guru pengajar. Seusai mengetahui kabar tersebut, mood Fanny sedikit berubah.
Fanny bukanlah tipe anak yang pandai bergaul, dan mempunyai teman yang banyak. Menurut dirinya, menjalin hubungan pertemanan itu terlalu sulit dan begitu menguras tenaga. Satu-satunya anak yang begitu dekat dengan dirinya di kelas ini hanyalah Kayla.
"Ck, kenapa gak masuk segala sih Kay, kalau begini gue sendirian," gumam Fanny yang sedari tadi hanya memain-mainkan bolpoin nya saja, anak itu bosan, tidak ada anak yang dapat ia ajak bicara.
Kepala Fanny melihat sekeliling, golongan anak laki-laki berkumpul menjadi satu di depan dekat papan tulis, sedangkan murid perempuan, mereka berpencar sendiri-sendiri menjadi beberapa kelompok.
Bibir Fanny tersenyum smirk, "hm, ini yang buat gue males, jaman sekarang mainnya circle," batin Fanny.
Bukannya Fanny tidak mau bergaul bersama mereka, hanya saja anak itu sudah dibuat trauma ketika dirinya masih duduk di bangku SMP. Dulu, anak itu adalah perempuan yang pandai bergaul bahkan mudah akrab dengan orang lain.
Namun, sebuah peristiwa membuat kepribadian Fanny berubah. Disaat tubuh anak itu sedikit membesar atau bisa dikatakan gemuk, teman-teman perempuannya mengejek Fanny bahkan sampai berlaku kasar, dari hinaan fisik sampai mental ia dapatkan. Fanny diperlakukan seperti boneka yang harus menuruti apapun perintah mereka.
Padahal, yang awalnya anak itu diperlakukan layaknya ratu, hanya karena bentuk fisiknya sedikit mengalami perubahan. Pola pandang mereka seketika berubah, dan menjadikannya bagaikan makhluk kotor yang pantas dihina.
Sejak saat itu juga, Fanny tidak percaya lagi apa itu teman yang tulus. Semuanya akan berakhir dan digantikan dengan yang baru, terkadang ia tertawa saat seseorang begitu membangga-banggakan temannya. Itu tidak benar, mereka hanya berakting agar tidak terlihat kesepian.
Terdengar suara hentakan sepatu high heels, lalu disusul dengan kemunculan seorang wanita berkerudung, berjalan memasuki kelas sebelas B. Sontak, murid-murid langsung berlari bergegas kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Akhirnya, pembelajaran pagi ini pun dimulai, Ibu guru terlihat menerangkan materi sembari menuliskan sesuatu di papan tulis.
...********...
Jarum jam terus berputar, sampai tak terasa bel istirahat berbunyi menggelegar ke seluruh sudut-sudut sekolah.
"Baiklah anak-anak, silahkan istirahat dulu ya," ujar Ibu guru menutup pembelajaran di jam pertama, dan akan dilanjutkan lagi setelah istirahat selesai.
Sama seperti anak-anak yang lainnya, Fanny juga ikut membereskan beberapa buku-buku pelajaran miliknya ke dalam ransel. Ia berencana untuk pergi ke kantin sendirian hari ini, biasanya dia selalu berangkat bersama Kayla. Berhubung hari ini anak itu tidak masuk, jadi terpaksa harus pergi sendiri.
"Fan, sendirian aja, si Kay kemana?" tanya Berlian yang kebetulan bertemu dengan Fanny di koridor sekolah.
"Kayla gak masuk, lagi sakit katanya," jawab Fanny, membuat sang lawan bicara mengangguk paham.
"Owh."
"Sekarang lo mau pergi kemana?" tanya Berlian.
"Gue mau ke kantin," balas Fanny.
"Gue boleh ikut? Kebetulan nih, gue lagi gak ada temen."
"Boleh, yuk!" ajak Fanny dengan senang hati, dan akhirnya mereka berdua pun berjalan bersama-sama menuju kantin sekolah.
Dalam perjalanan, Fanny dan Berlian membicarakan cukup banyak hal. Walaupun awalnya sedikit canggung, tapi mereka berdua mulai bisa beradaptasi satu sama lain. Dan sekarang Fanny berpikir, kalau Berlian adalah gadis yang baik.
//BUGH//
Dari arah tempat lemari loker siswa berada, tiba-tiba suara hantaman keras terdengar dari arah sana. Membuat Fanny dan Berlian yang kebetulan melintas dibuat penasaran. Untuk menuntaskan rasa keingintahuan, mereka mencoba mencari tahu dari mana asal suara tersebut.
Satu orang siswi yang duduk membelakangi lemari loker siswa, yang diduga suara hantaman tersebut pasti berasal dari dirinya, bersama dua murid perempuan dan satu murid laki-laki.
"Lo!" bentak salah satu murid perempuan itu sembari menjambak rambut anak yang duduk di lantai itu. "Lo makin berani ya sama gue! Dasar jala*ng!" sarkasnya lalu menghempaskan cengkeramannya, membuat kepala si korban terdorong ke belakang.
"Cih, udah jelek, belagu lagi lo! Lo gak ngaca kalau wajah lo itu gak pantes ada di circle kita," sindirnya begitu pedas.
"Bener tuh, modal tampang minus aja sok gaya-gayaan di depan kakak kelas. Cih pick me banget," tambah teman perempuannya.
"Haha, cewek kayak gini enaknya diapain guys?" sahut siswa laki-laki kepada dua teman perempuannya.
"Kita dandanin aja wajah dia, gue denger-denger sih dia lagi suka sama kakak kelas sebelah."
"Sip, gue suka ide lo!"
Sedangkan di sisi lain, Fanny yang menyaksikan aksi pembullyan tersebut merasa geram bercampur kesal. Melihat orang lain diperlakukan seperti itu, serasa ia tengah melihat duplikat dirinya sendiri waktu dulu.
"Fan, lo nggak kenapa-kenapa?" tanya Berlian menatap Fanny, yang masih saja fokus menatap mereka.
"Gue kadang bingung sama mereka yang suka bully temannya sendiri, kenapa mereka sangat suka menyaksikan orang lain tersiksa, apa itu terlalu menyenangkan?" ujar Fanny sembari menoleh ke arah Berlian.
"Mereka masih sempet-sempetnya tertawa, mereka menganggap kalau tangisan anak itu palsu, dia cuman akting, apa dimata mereka dia itu boneka? Dia juga punya perasaan," sambung Fanny teringat kembali akan masa lalunya. Masa dimana ia menjadi korban bullying semasa SMP.
"Dunia ini benar-benar keras yah Ber, soal fisik aja bisa menjadi masalah terbesar lo sama manusia. Mereka terlalu gila tentang kesempurnaan, padahal diri mereka sendiri juga banyak kekurangan."
"Orang baik jaman sekarang gak terlalu dibutuhin, otak, apalagi skill. Yang penting cuman fisik, kalau lo cantik lo aman. Lo bakal dapat apapun yang lo mau, bahkan kedudukan tertinggi sekalipun."
"Gue bisa ngerti apa yang dia rasain. Disaat lo berusaha menerima kekurangan diri lo sendiri, disaat lo berusaha mencintai diri sendiri. Tapi orang lain dengan seenaknya ngomong dan membuat lo jatuh lagi, sekarang gue tanya yang bang**sat gue apa mereka?"
Berlian hanya bisa diam, ia tidak tahu harus menjawab apa perkataan dari Fanny.
"Lalu, kalau lo emang tahu apa yang dia rasain, kenapa lo gak tolong dia sekarang, kenapa lo cuman nonton aja? Bukannya itu sama aja lo dengan mereka," tanya Berlian.
"Hm, satu-satunya yang bisa menolong dia sekarang adalah diri dia sendiri. Dia harus bisa melawan mereka, dia harus punya keberanian, gue tahu itu gak mudah karena gue juga pernah mengalami."
"Apa lo tahu kenapa dia nggak berani melawan mereka, meskipun dia tahu kalau mereka salah?" ucap Fanny kepada Berlian.
"Mmm karena dia takut?" tebak Berlian.
"Termasuk, tapi alasan lainnya adalah dia takut sendirian, dia takut tidak punya teman, sebenarnya dia tahu kalau mereka jahat. Terkadang si protagonis terpaksa menjalin hubungan dengan si antagonis, untuk mencapai tujuan mereka masing-masing."
"Si protagonis punya teman, tapi si antagonis menjadikannya boneka mainan. Lo paham kan maksud gue?" pungkas Fanny.
"Ya," angguk Berlian. "Oh ya, ngomong-ngomong, kita jadi ke kantin kan? Perut gue makin laper nih."
"Jadi kok, hehe sorry ya jadi kebawa suasana gini gue. Maaf sudah buat lo nunggu," balas Fanny menepuk jidat.
"Santai aja, gue ngerti kok. Yaudah sekarang ke kantin yuk! Keburu masuk entar."
"Oke," balas Fanny.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments