..."Bercanda lah sewajarnya, karena bisa jadi lelucon konyol mu itu menyakiti hati orang lain."...
...-Berlian-...
...********...
"Ber, lo kenapa gak pamitan dulu sama Ibu lo tadi?" tanya ku kepada Berlian, dalam perjalanan menuju ke sekolah.
Berlian tidak menjawab, ekspresi wajahnya nampak datar. Seperti pura-pura tidak mendengar dengan pertanyaan yang aku berikan. "Ber!" panggil ku sekali lagi, merasa diacuhkan olehnya.
"Apa sih Kay!" balas Berlian sedikit membentak. "Lo bisa gak sih diem?! Stop ngebahas soal Ibu gue lagi," ucapnya risih.
"I-iya... gue minta maaf," pinta ku merasa bersalah selepas mendapat bentakan dari Berlian. Aku tidak menyangka kalau topik ini akan sangat sensitif untuk dirinya.
"Sorry Kay, gue gak bermaksud," balas Berlian dengan nada suara lembut, dia merasa tidak enak karena telah membentak Kayla.
"Gue cuman gak suka kalau lo ngebahas tentang dia," sambung Berlian sendu.
"Iya, gue juga minta maaf, gara-gara gue lo jadi marah. Mmmm, oh ya Ber.... kalau lo emang lagi ada masalah, jangan sungkan-sungkan cerita sama gue," ucap ku.
"Thanks Kay, gue tahu lo sahabat gue. Tapi gak semua masalah mesti gue ceritain ke lo kan, ada kalanya beberapa kisah harus gue simpan sendiri," jawab Berlian membuat ku sedikit terkejut mendengarnya.
Aku rasa diriku sudah sepenuhnya menjadi sahabat Berlian, mungkin juga rumah untuk tempat dia berkeluh kesah. Nyatanya tidak, aku masih belum sepenuhnya diterima oleh dirinya. Ya, aku tidak bisa memaksa Berlian agar menceritakan seluruh hidupnya kepada diriku. Ada beberapa kisah yang mesti kita simpan sendiri, dan faktanya rumah terbaik jatuh kepada diri kita sendiri.
Mendengar hal itu aku mengangguk paham seraya tersenyum. "Ya Ber, tapi kalau lo butuh tempat untuk cerita, gue ada untuk lo," ujar ku tersenyum simpul.
"Haha oke, makasih Kay. Yaudah sekarang cepetan yuk jalannya, malah nge sad di sini," gelak Berlian menyadari perjalanan mereka untuk sampai sekolah kurang sedikit lagi.
"Oh iya gue lupa, haha malah kebawa suasana kan gue. Gara-gara lo sih, jadi berasa kayak main sinetron," balas ku ikut tertawa.
"Dih yang mulai duluan siapa? Udah ayo cepetan! Yang sampai sekolah terakhir jodohnya brewokan!" ujar Berlian langsung berlari sekencang-kencangnya menuju gerbang sekolah.
"Curang!" teriak ku juga bergegas berlari menyusul ketertinggalan.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Berlian sudah sampai terlebih dahulu dan menunggu kedatangan ku di dekat pos satpam. Gadis itu tertawa puas setelah melihat diriku masih berlari ke arahnya.
"Hahaha Kayla kalah jodohnya brewokan," ejek Berlian tertawa terbahak-bahak.
"Hosh hosh hosh," napas ku terengah-engah dengan tangan kanan memegang tiang listrik, aku berusaha menormalkan kembali pernapasan ku yang masih ngos-ngosan. Sedangkan Berlian, dia terus saja tertawa menyaksikan sahabatnya tersiksa.
"Sialan lo Ber!" kesal ku menatap sebal kepada anak itu. "Lo curang lari duluan, ya pasti menang lah."
"Lo aja yang lemot larinya, jadi bener entar jodoh lo brewokan Kay."
"Biarin jodoh gue brewokan, nanti gue suruh dia cukur," jawab ku.
"Kalau dia gak mau? Kalau brewoknya tebel banget kayak sapu ijuk?" ucap Berlian.
"Iiihhh lo nyumpahin gue ya Ber!" sebal ku tersulut emosi, tapi malah dibalas senyum mengejek dari Berlian.
"Kalian berdua bisa diem gak? Ini SMA bukan TK," sahutan suara dari seorang siswa yang baru saja sampai, menatap dingin ke arah kami berdua.
"Terutama lo, cih anak haram," sinis nya memandang jijik kepada Berlian, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Setelah mendapat perlakukan seperti itu, kepala Berlian tertunduk. Kedua tangannya mengepal sangat kuat.
"Ber, lo nggak kenapa-kenapa?" tanya ku kepada Berlian, namun sekali lagi dia tidak menjawab dan memilih diam.
"Gue anterin lo ke kelas ya!" ucap ku dan mendapat anggukan dari anak itu.
Mengenai laki-laki yang baru saja memarahi kami berdua tadi. Dia adalah Zidan—Kakak Berlian, tapi aku tidak pernah melihat mereka mengobrol bersama ataupun bersikap seperti halnya saudara pada umumnya. Bahkan pada saat bertemu pun, mereka tidak pernah bertegur sapa, malahan Berlian selalu terlihat takut sampai tertekan.
Jujur, aku merasa janggal dengan hubungan persaudaraan mereka berdua. Namun, aku berusaha mengubur rasa penasaran itu dalam-dalam. Karena aku tidak berhak mencampuri urusan mereka.
...********...
Kelas sebelas F.
"Mau gue anter sampai dalem kelas?" tanya diriku yang telah tiba di depan pintu kelas Berlian.
"Gak perlu, lo juga harus balik ke kelas lo, sebentar lagi bel masuk bunyi," balas Berlian menolak.
"Hm oke, kalau begitu gue pergi dulu ya! Byee!" pamit ku berjalan pergi sambil melambaikan tangan, Berlian menanggapinya dengan tersenyum lalu segera masuk ke dalam kelas.
Dalam perjalanan menuju ke kelas, yang memang jaraknya cukup jauh antara kelas Berlian dengan kelas ku. Aku memilih jalan dekat lapangan basket agar mempersingkat waktu.
Di sana, kedua bola mata ku dikejutkan dengan keberadaan Zidan—Kakak Berlian sedang sibuk mempersiapkan sesuatu bersama beberapa anak OSIS, mengingat dia adalah ketua OSIS di sekolah ini.
Aku memutuskan berjalan menghampiri mereka, mungkin lebih tepatnya kepada Zidan.
"Permisi!" ucap ku, lalu kompak membuat perhatian mereka semua teralih kepada ku, hanya Zidan saja yang terlihat acuh, melirik sekilas dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Iya, ada perlu apa ya?" tanya seorang siswi berambut sebahu.
"Maaf kalau gue mengganggu waktu kalian sebentar, ada sesuatu yang mau gue omongin sama ketua kalian, boleh gak?" pinta ku, sontak mereka saling bertatapan satu sama lain. Aku bisa merasakan perasaan canggung di antara mereka.
"Boleh, Zidan! Ada yang mau ngomong sama lo!" serunya kepada laki-laki tersebut. Sang pemilik nama itu pun menoleh, dan berjalan menghampiri ku.
"Hm, bicara aja langsung gue sibuk," dingin Zidan.
"Gue gak bisa omongin di sini, kalau lo gak keberatan, kita bicara deket pohon situ," balas ku sembari menunjuk tempat yang aku maksud.
"Oke," setuju Zidan, kami berdua pun menjauh sebentar ke sebuah pohon cukup besar untuk membicarakan sesuatu.
"Lo mau ngomong apa? Langsung to the point aja," ujar Zidan malas berbasa-basi.
"Huh oke," hela ku mencoba tetap sabar. "Jadi gini, gue gak tahu apa masalah lo sama Berlian. Tapi bisa nggak sih, lo bersikap baik sama dia? Kalian berdua saudara kan?"
Zidan tersenyum smirk, "lo suruh gue jaga sikap sama dia? Memang lo siapa berani ngatur-ngatur hidup gue?" jawabnya.
"Kalau lo nggak paham apa-apa, jangan sok tahu jadi orang. Cih, andai lo tahu latar belakang dia, gue jamin lo nggak bakal mau sahabatan sama dia lagi," pungkas Zidan lalu pergi begitu saja meninggalkan diriku.
"Latar belakang.... Berlian?" batin ku penasaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments