EPS 15

Sekarang Tuan Vans sudah sampai di depan pintu kamar Levi, dengan membawa sepiring makanan. Pria itu merasa ragu hanya untuk mengetuk pintu berwarna coklat tersebut.

"Levi!" panggil Tuan Vans sambil mengetuk pintu beberapa kali. "Levi!" panggilnya sekali lagi, sebab tidak ada sahutan jawaban dari dalam.

Hingga, beberapa detik kemudian muncullah seorang pemuda dari balik pintu itu. Ia memasang raut muka dingin saat bertemu dengan pria tersebut. "Ada apa?" tanya Levi datar.

"Papa membawa makanan untuk kamu, kamu pasti masih lapar kan?" balas Tuan Vans lembut.

Manik mata Levi menatap ke arah sepiring makanan tersebut, lalu kembali menatap kepada Tuan Vans. "Hm, terima kasih," ucap Levi sembari menerima sepiring makanan itu dari tangan Tuan Vans.

Tubuh Levi berputar, hendak kembali masuk ke dalam kamar. "Levi!" akan tetapi, panggilan dari Tuan Vans membuat anak itu mengurungkan niatnya.

"Apa kau masih tidak mau memanggil ku Papa?" tanya Tuan Vans terdengar sedih, sejak mereka menjadi satu keluarga sampai sekarang Levi tidak pernah memanggil Tuan Vans dengan sebutan Papa. Benar, anak itu belum bisa menerima keberadaan dirinya dalam hidupnya.

"Untuk apa?" tanya Levi. "Untuk apa saya harus mengakui anda sebagai orang tua saya? Mengakui seseorang yang sudah menghancurkan keluarga saya, keberadaan kalian berdua di sini hanyalah parasit. Kalau Ibu tidak memaksa saya untuk tetap tinggal bersamanya, dari dulu saya sudah pergi jauh dari rumah ini," balas Levi dingin, lalu masuk ke dalam kamarnya sembari menutup pintu sedikit keras.

"Apa yang harus saya lakukan, agar kamu bisa menerima keberadaan saya Levi?" batin Tuan Vans kecewa, dengan kondisi kepala menunduk ke bawah.

...********...

Keesokan harinya, aku sudah siap untuk berangkat sekolah, sepertinya semangat empat lima sedang memenuhi jiwa ku sekarang. Walau peristiwa kemarin sempat membuat ku down, tapi untunglah semuanya terasa lebih membaik saat ini.

"Tumben Levi belum jemput gue," gumam ku bingung seraya melirik ke arah sebuah jam tangan, yang melingkar di pergelangan tangan kanan ku.

"Mungkin dia lupa," aku pun berinisiatif mengirimkan pesan singkat kepada Levi.

...-Luv-...

Kayla:

Lev gue berangkat sekolah duluan, lo gak perlu jemput gue. Gue mau bareng Berlian.

Setelah mengirim pesan singkat tersebut, aku segera berangkat sekolah, tapi sebelum itu aku berpamitan terlebih kepada Bunda.

Sesampainya di depan rumah Berlian....

Sebuah bangunan yang sederhana dan masih bergaya seperti rumah-rumah jaman dahulu. Terdapat induk ayam bersama anak-anaknya tengah bermain di halaman, serta sebuah pohon belimbing yang cukup besar untuk tempat berteduh.

"Assalamualaikum!" salam ku sembari mengetuk pintu rumah. "Berlian!"

"Waalaikumussalam," balas seseorang sembari membukakan pintu, seorang wanita tua mengenakan daster batik dengan kondisi rambut sedikit beruban, berdiri di hadapan ku.

"Berlian nya ada Bu?" tanya ku sopan seraya mencoba salim kepadanya, akan tetapi hanya diacuhkan begitu saja.

"Ada di kamar, masuk saja ke dalam!" balas wanita tua itu membiarkan tangan ku mematung, lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Aku hanya bisa menghela napas panjang, pagi-pagi sudah mendapat perlakukan seperti ini. Sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan. Bagi kalian yang belum tahu siapa wanita tua itu, dia adalah Ibu Saras—Ibu kandung Berlian.

Sebagai awalan, kaki kanan ku melangkah masuk ke dalam rumah Berlian. Sebab merasa sudah mendapatkan izin dari Ibu Saras untuk langsung menemui Berlian di kamarnya.

"Berlian!" panggil ku sembari mengetuk pintu kamarnya.

"Iya," balas Berlian membukakan pintu. "Eh Kay, kok lo ada di sini?" kejut Berlian melihat keberadaan ku.

"Hehe gue mau jemput lo berangkat sekolah bareng," balas ku tersenyum.

"Owalah, yaudah yuk masuk!" ucap Berlian mengajak diriku agar masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar Berlian, aku dibuat terkejut dengan pemandangan yang diriku lihat di dalam sana. Terdapat banyak sekali boneka patung yang dia pajang dengan ukuran cukup besar, dan hampir memenuhi setiap sudut kamarnya.

"Berlian, lo suka banget ya sama boneka?"

"Iya," balas Berlian tengah sibuk memakai dasi. "Lo mau? Ambil aja satu, boneka-boneka gue spesial loh, gak ada yang punya di kota ini selain gue," sambung Berlian.

"Halah gaya lo, emang pabrik cuman bikin buat lo doang?" jawab ku tak percaya.

"Bener Kay, semua boneka-boneka ini spesial untuk gue," ujar Berlian menghampiri salah satu boneka patung, lalu membelai lembut rambutnya sama seperti halnya manusia.

Menyaksikan hal itu aku merasa cukup aneh dengan sikap Berlian, apalagi senyuman yang gadis itu berikan saat bertatapan dengan boneka miliknya.

"Berlian, kita berangkat sekarang yuk! Takut telat."

"Oke," balas Berlian dan mengambil tas ranselnya yang tergeletak di atas kasur, kami berdua pun berjalan keluar dari dalam kamar itu.

"Berlian, lo gak salim dulu sama Ibu lo?" bisik ku kepada Berlian, yang posisinya Ibu Saras tengah menyapu di ruang tengah.

"Gak perlu," balasnya dingin tanpa melirik sedikit pun kepada wanita tua tersebut.

"Owh oke," respon ku canggung, lalu berjalan bersama-sama keluar dari dalam rumah dan berangkat menuju sekolah.

Jujur, aku merasa cukup penasaran sebenarnya ada masalah apa yang terjadi dalam keluarga Berlian. Pikiran ku memaksa untuk menanyakan hal itu kepada dirinya, namun hati ku menolak. Sebab aku paham karena ini adalah masalah pribadi mereka, dan aku tidak mempunyai hak untuk ikut campur di dalamnya. Terkecuali jika Berlian mau menceritakannya sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!