..."Gak perlu susah-susah cari malaikat maut, gue bisa lakuin kalau lo mau. Santai, bayarannya gratis."...
...-Manuel-...
...********...
Suara derap langkah kaki berasal dari sepatu boots hitam menuruni anak tangga basement, seorang pemuda tampan mengenakan jaket hitam berlogo singa tersenyum menyeringai menyaksikan apa yang terjadi di bawah sana.
Terdapat seorang remaja laki-laki dengan posisi terikat di sebuah kursi besi, dan kedua tangannya diborgol di atas meja.
"Bang**sat lo! Lepasin gue!" sarkas anak laki-laki itu, berusaha melepaskan diri dari jerat tali yang mengikat tubuhnya.
Pemuda tampan itu tertawa, lalu menghampiri sebuah tombol merah yang tertempel di dinding dan menekannya.
Seketika, aliran listrik langsung menyalur kepada kursi besi itu, sampai membuat anak yang duduk di atas benda tersebut tersetrum. "AAAAARGHHHH," teriaknya kesakitan.
Menyaksikan lawannya tersiksa, sekilas senyuman puas terukir di bibirnya. Sebelum pada akhirnya menekan kembali tombol tersebut, untuk mematikan.
"Sekali lagi lo gonggong kayak an**jing, gue pastikan lo mati dalam kondisi hangus," ujar pemuda itu menatap dingin.
"Cih," decak anak tersebut merasakan seluruh tulang-tulangnya remuk. "Hati lo macam iblis Manuel," pungkasnya benci.
"Haha, gue emang iblis, GUE MINTA LO HANCURIN GENG ALPHA WOLF TAPI MALAH SEPARUH ANAK BUAH GUE HABIS!!!" bentak Manuel kembali menekan tombol merah tersebut, dan kembali membuat anak itu tersetrum.
Namun, sekali lagi Manuel kembali mematikan mesin tersebut, ia tidak mau peliharaannya mati begitu cepat. "Mumpung suasana hati gue lagi baik sekarang, gue bakal beri lo hukuman kecil," ucap Manuel mengambil pisau lipat dari dalam saku celananya.
//SSRAAKKK//
Manuel memotong jari telunjuk anak itu menggunakan pisau lipat tersebut. Ia berteriak sangat keras, darah mengalir deras dari dalam sana. Sedangkan di sisi lain, Manuel tertawa terbahak-bahak.
"B-ba**jingan!" rintihnya kesakitan.
"Sekali lagi lo ulangi kesalahan yang sama, gue pastikan selanjutnya dua tangan lo yang hilang," ucap Manuel santai.
...********...
"Aduh nasinya habis lagi, ini mah cuman cukup buat Cia aja," gumam ku membuka magic com, dan mengambil sebuah piring.
Lalu, aku menyiapkan wajan penggorengan dan menuangkan cukup minyak di dalamnya. Hanya tersisa satu telur saja di dalam kulkas, aku pun menggorengnya di atas wajah yang sudah panas.
Setelah matang, aku menaruh telur mata sapi tersebut ke dalam piring yang sudah terdapat nasi dan memberikannya kepada Valencia yang duduk di kursi makan. "Ini Cia," ujar ku sembari meletakkan piring tersebut.
"Loh kok cuman buat aku aja, buat Kakak Kay mana?" tanya Valencia sebab hanya tersedia satu makanan saja untuk dirinya.
"Kakak gak laper kok, kamu makan duluan aja," balas ku.
"Kalau Kak Kay gak makan, Cia juga gak mau makan," ujar Valencia sedikit mendorong piring makan itu menjauh darinya.
"Loh Dek kenapa? Cia harus makan, katanya tadi laper," jawab ku.
"Cia mau makan kalau Kak Kay juga makan, kita bagi dua aja ya Kak," ucap Valencia lalu turun dari atas kursi, mengambil satu sendok lagi untuk Kakaknya.
"Ayo Kak kita makan bareng!" ajak Valencia memberikan sendok makan itu kepada ku.
"Hm iya deh," angguk ku tersenyum menerima sendok tersebut, dan kami berdua pun makan bersama. Aku hanya mengambil dua suap saja, lalu sisanya aku berikan kepada Valencia, aku tahu dia pasti lapar.
"Kakak Kay gak mau makan lagi?" tanya Valencia.
"Enggak, Kakak sudah kenyang kamu habisin ya!" balas ku menaruh sendok makan itu, lalu meneguk segelas air putih.
"Kakak pergi belanja dulu ya, gak lama kok, kamu di rumah aja jaga Bunda."
"Siap! Kakak Kay hati-hati ya, jangan lupa beli telur yang banyak ya Kak, Cia suka banget sama telur mata sapi masakan Kakak," balas Valencia, mampu membuat hati ku terasa hangat, senyuman anak kecil itu memang bagaikan sihir ajaib.
"Iya, Kakak pergi dulu ya!" pamit ku lalu lekas pergi keluar rumah untuk membeli bahan-bahan masak untuk nanti malam.
Dalam perjalanan menuju toko yang menjual bahan-bahan masakan, semuanya cukup berjalan lancar karena memang keadaan jalan yang tidak ramai. Mungkin karena sekarang masih jam sekolah.
Beberapa menit kemudian, aku telah selesai membeli barang-barang yang aku butuhkan. Sembari menenteng dua kresek putih berukuran sedang, aku memutuskan untuk kembali pulang.
Di tempat pemberhentian bus, aku melihat seorang pemuda yang berdiri membelakangi diri ku. Dari postur tubuhnya, sepertinya aku mengenal siapa dia.
"Levi, kok dia ada di sini?" ucap ku bingung, sekarang masih pukul sepuluh pagi. Masih terlalu lama untuk waktunya pulang sekolah.
Kedua kaki ku melangkah menghampiri anak tersebut, setelah sampai dan berdiri di belakangnya, tangan kanan ku terangkat berniat untuk menepuk pundak laki-laki itu.
"Levi!" panggil ku sembari menepuk pelan pundaknya, si pemilik tubuh itu pun berbalik dan menghadap ke arah ku.
Bola mata ku membulat, betapa terkejutnya diriku setelah mengetahui kalau anak itu ternyata bukanlah Levi. Aku dapat merasakan aura menyeramkan saat berada di dekatnya, ditambah lagi senyuman kecil itu semakin membuat bulu kuduk ku merinding.
"Hai cantik, siapa yang lo panggil tadi? Levi?" ucap Manuel kepada ku. "Sorry, gue bukan Levi, kenalin gue Manuel," sambungnya tersenyum manis, sambil mengulurkan jabatan tangan.
"Ma-maaf, gue salah orang," balas ku tidak enak, bahkan tangan ku saja merasa ragu untuk menerima jabatan tangannya.
"Nggak apa-apa kok, gue boleh tahu siapa nama lo? Untung-untung sebagai bayaran karena lo sudah salah panggil nama gue," ujar Manuel.
"Name gue-"
"Owh, jadi ini yang katanya izin sakit," tiba-tiba terdengar sahutan suara Levi dari arah belakang. Hal itu sontak membuat kepala ku menoleh ke sumber suara.
"Levi," batin ku terkejut.
"Ngapain lo ada di sini?" dingin Levi menarik lengan ku untuk menjauh dari Manuel, tatapan kedua laki-laki itu saling beradu satu sama lain.
"Jadi ini cowok lo," ujar Manuel menatap sinis. "Lain kali kalau punya cewek dijaga Lev, lo gak takut kalau cewek lo gue apa-apain," sambung Manuel memperjelas senyuman smirk nya.
"Hm basa-basi lo terlalu basi, gak usah sok ikut campur sama urusan pribadi gue," balas Levi lalu segera mengajak ku pergi dari sana. "Ikut gue!"
"I-iya," balas ku dibuat bingung dengan keadaan. "Dia kenapa?" batin ku merasa heran dengan suasana menyeramkan barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments