Pada saat aku memasuki markas besar ALPHA WOLF, di dalam sana banyak sekali anak-anak muda berkumpul. Sebagian aku cukup mengenali wajah mereka, karena memang kami berasal dari sekolah yang sama.
Johan dan Ucok mengajak diriku menuju sebuah tempat yang terdapat tiga anak sedang duduk santai di sana. Satu laki-laki dan dua perempuan, kepala mereka menoleh ketika menyadari kedatangan kami.
"Selamat datang Tuan putri, pawang nya kemana nih?" tanya Daren sembari memegang sepuntung rokok yang diapit antara jari telunjuk dan tengahnya.
"Mmm lagi ada urusan sebentar katanya," balas ku canggung.
"Daren rokok lo!" tegur Ucok karena sekarang ada Kayla di sana, mereka berusaha menjaga baik-baik gadis tersebut dari fisik sampai mental. Bukan hanya karena Kayla adalah kekasih dari pemimpin geng mereka, tapi juga karena menurut sepengetahuannya dia anak baik-baik.
"Ups sorry," balas Daren segera mematikan rokok tersebut dan membuangnya ke dalam tong sampah.
Aku berusaha menahan tawa melihat tingkah lucu mereka, benar apa yang Levi katakan, mereka adalah anak-anak yang menyenangkan. Satu perempuan yang semula duduk berdampingan bersama temannya, tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arahku.
"Jadi lo yang namanya Kayla," ucap gadis bermata seperti kucing itu, berdiri di hadapan ku.
"Iya," jawab ku sedikit ragu, sebab merasa takut dengan tatapan matanya yang dingin.
"Kenalin gue Ellen, dan dia Maya. Di sini cuman kami berdua anggota perempuan, kalau lo diganggu sama jamet-jamet ini bilang aja sama gue," ujar Ellen sembari mengulurkan jabatan tangan.
"Oke," balas ku tersenyum sembari menerima jabatan tangan darinya.
"Sini Kay duduk sama gue!" ajak Maya ramah, menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Merasa disambut hangat oleh mereka, dengan segera aku pun duduk di samping Maya.
"Eh Oyen! Maksud lo apa sebut kita jamet, cakep-cakep begini dibilang jamet gak terima gue," sahut Johan emosi.
"Sama gue juga!" tambah Ucok sama-sama kesal kepada Ellen.
Ngomong-ngomong kenapa Ellen dipanggil Oyen oleh mereka? Jawabannya simpel, karena dia memiliki bentuk mata yang unik seperti kucing. Itu sebabnya panggilan Oyen mereka buat khusus untuknya.
"Lo bertiga emang jamet, yang bilang kalian ganteng fix matanya kurang vitamin A," balas Ellen tak mau kalah. "Kalau lo emang gak terima gue panggil jamet, gue juga gak terima lo panggil Oyen. Nama gue Ellen! E L L E N!" sambung Ellen mengejakan namanya, berharap kedua laki-laki itu dapat mendengarnya dengan jelas.
"Palingan juga, lo bertiga punya wajah ganteng cuman buat caper doang sama Adik kelas."
"Idih si paling sok iye, sotoy lo jadi orang. Semua orang pasti pernah caper, terutama cewek!" balas Ucok.
"Kam**pret lo, dasar cowok gak mau ngalah sama cewek!" sebal Ellen.
"Udah-udah, kok malah makin ribut sih? May, bantuin gue lerai mereka juga dong!" pinta ku kepada Maya yang malah asyik memakan cemilan.
"Biarin aja Kay, gak ada gunanya juga dilerai. Nanti juga selesai sendiri," balas Maya acuh, dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Maya sudah terbiasa dengan pertengkaran kecil mereka, pernah dia mencoba melerai tapi malah tidak dihiraukan sampai Levi sendiri yang turun tangan.
"Lo juga pernah caper kan Kay?" tanya Ucok tiba-tiba, membuat diriku sedikit terkejut saat mendengarnya.
"Gu-gue?" ucap ku menunjuk diri sendiri. "Mmmm kalau diinget-inget lagi pernah sih," sambung ku mencoba mengingat-ingat kembali.
"Kapan?" tanya Daren.
"SMP sih kalau gak salah," jawab ku.
"Hah SMP? Yang bener lo Kay, gimana ceritanya gue penasaran nih!" ujar Ucok antusias, kira-kira cowok mana yang pernah membuat seorang Kayla jatuh cinta sebelum bertemu Levi.
"Haha, wajah lo semua serius banget sih kayak habis denger berita apaan. Tapi menurut gue dulu itu hal wajar sih, secara kan gue masih kecil dan pingin kayak orang-orang yang pada punya pasangan. Jadi maklum lah," balas ku.
"Owh, tapi kalau sekarang lo masih suka caper gak sama cowok?" tanya Johan.
"Enggak, kan gue sudah punya Levi," jawab ku dan sontak mendapat sorakan dari mereka.
"Cieee cieeee Kayla!" ucap mereka bersama-sama.
"Ehem, ternyata si Kay bisa bucin juga ya," deham Johan.
"Aduh, kalau gue jadi Levi bakal baper sih," tambah Daren bersikap malu-malu kucing.
Sedangkan di tempat lain, Levi yang merasa tengah dibicarakan oleh mereka tersenyum simpul, bahkan pipi laki-laki itu sekarang menyemu merah. Ia bisa melihat semuanya dari cctv yang terpasang di dalam markas.
Walaupun saat ini ia harus disibukkan dengan beberapa tugas, tapi Levi sama sekali tidak melupakan tanggung jawabnya untuk menjaga Kayla. Dia mengawasi perempuan itu dari layar komputer yang terpasang di dalam ruangan pribadinya.
"Kenapa selama ini lo sembunyikan sifat manis lo itu dari gue Kay?" ujar Levi sembari menatap wajah kekasihnya itu di layar komputer tersebut.
"Halo Jay, gimana? Lo sudah dapat apa yang gue mau?" tanya Levi dalam panggilan telepon.
"Bagus, kirim ke gue sekarang!" balasnya lalu menutup panggilan telepon.
Selang beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi masuk ke dalam komputer Levi, dengan segera ia pun mengecek sebuah file yang telah dikirimkan kepadanya.
"Gue rasa ini bukan kasus pembunuhan biasa," ujar Levi setelah mengecek isi file tersebut dan membacanya dengan teliti di layar komputer, semua informasinya tertulis cukup detail dan beberapa disertai dengan gambar.
"Pasti ada yang merencanakan ini semua," gumamnya dengan alis tertekuk, sebenarnya Levi bukanlah tipikal orang yang terlalu perduli dengan hal-hal berbau seperti ini. Dia rela melakukan ini hanya untuk memuaskan rasa keingintahuan Kayla tentang kasus pembunuhan berantai tersebut.
Ia merasa tidak tega selalu melihat Kayla yang berusaha mencari-cari kebenaran dibalik pembunuhan di rumah tua dekat sekolah mereka, padahal sebelumnya Kayla tidak pernah bersikap senekat ini. Sebenarnya, hal apa yang ingin gadis itu cari? Bukti apa yang ingin dia temukan?
"Gue membawa hal menarik buat lo Kay, gue yakin lo pasti menyukainya," ujar Levi tersenyum kecil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments