EPS 01

Aku berjalan menuju gerbang sekolah, bersama Levi yang sedang menuntun sepeda motornya. Keadaan sekarang benar-benar sepi, hanya ada Pak satpam tidur lelap di dalam pos dengan wajahnya ditutupi topi.

"Ayo naik!" titah Levi meminta ku agar segera naik ke atas motor.

Kepala ku mengangguk beberapa kali, "oke." Mesin kendaraan pun menyala, dan melaju meninggalkan area sekolah.

Dalam perjalanan, tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya, sedikit bahkan bisa dihitung dengan jari. Mungkin karena sudah sore, langit berwarna oranye keemasan dengan sedikit goresan awan putih. Mata ku benar-benar tengah dimanjakan, ditambah matahari di ujung sana yang sebentar lagi akan tenggelam.

"Lev!" panggil ku kepada laki-laki itu.

"Iya?" balas Levi sembari sibuk mengendarai sepeda motor.

"Lo habis tawuran lagi?" tanya ku baru menyadari ada bekas luka sayat cukup panjang, di tengkuk leher Levi. Luka itu masih berwarna merah, bahkan belum sembuh sempurna.

"Hm," balas Levi mengakui.

Aku menghela napas, anak ini memang keras kepala. Aku tahu kalau Levi adalah pemimpin geng motor, tapi tidak harus setiap hari mesti dihabiskan untuk berkelahi.

"Kenapa tawuran?" tanya ku malas.

"Mereka yang nantang geng gue duluan, yaudah gue ladenin," jawab Levi.

"Tapi seminggu ini lo sudah tawuran empat kali Lev, badan lo gak capek apa? Gue tahu lo kuat, tapi pikirin kesehatan lo juga lah," tutur ku malah mendapat senyuman simpul dari laki-laki itu.

"Iya Kay," balas Levi lalu tertawa kecil. Tuan putrinya ini memang menggemaskan.

"Kalau besok lo tawuran lagi, gue gak mau kasih lo puk puk," ancam ku.

"Heee jangan gitu dong Kay, gue tetep mau puk puk, iya deh besok gue gak bakal tawuran lagi. Janji!" jawab Levi panik.

"Hm pinter," senang ku dan menepuk-nepuk gemas kepala laki-laki itu.

Tak terasa, kami berdua telah sampai di depan gerbang rumah berwarna hitam. Levi mulai melambatkan laju kendaraannya, dan berhenti.

"Mau masuk dulu?" tawar ku kepada Levi.

"Boleh," balas Levi lalu memarkirkan sepeda motor tersebut di sana, dan berjalan bersama-sama menuju pintu rumah.

Baru saja aku dan dia memijakkan kaki pada satu buah keramik. Tiba-tiba suara teriakan, disusul bentakan cukup keras terdengar dari dalam rumah.

Aku menelan ludah, dengan tatapan sendu bersama hati yang marah. Yah, mereka bertengkar lagi, orang tua ku bertengkar lagi.

"Lev," Levi menyadari akan perubahan sikap dari Kayla, tubuh gadis itu menjadi lemah, bahkan suaranya pun tidak lagi semangat.

"Sorry ya, setiap kali lo mau mampir ke rumah gue, selalu gue kasih wejangan seperti ini. Gue tahu, ini pasti membuat lo gak nyaman," sambung ku tersenyum kecut.

Levi yang tak kuasa menyaksikan kekasihnya dalam kondisi terpuruk seperti itu, ia langsung meraih tangan Kayla dan memeluknya. "Tenang aja, gue gak masalah kok," ujar Levi berbisik di telinga ku.

"Hm," deham ku merasakan tubuh kekar itu membungkus hangat tubuh kecil ku. Selama ini, jarang ada yang mengulurkan tangan bahkan mau memperlakukan ku secara istimewa seperti ini. Hanya dia.

Levi melonggarkan pelukannya, setelah dirasa aku sudah tenang. "Gimana kalau kita nikah aja? Gue bakal bawa lo pergi jauh dari sini dan buat lo bahagia," ujar Levi sukses membuat diriku terkejut.

Reflek aku langsung mencubit kecil pinggang laki-laki itu, "lo pikir nikah itu mainan? Main ceplos aja kalau ngomong," balas ku.

"Kalau gue serius, lo mau?" sahut Levi menatap intens ke arah ku. Jujur, saat ini kondisi jantung ku berdetak tidak karuan, pipi ku menyemu merah.

"Eng-enggak! udahlah gue mau masuk dulu," jawab ku gugup, dan memutuskan segera masuk ke dalam rumah.

"Bye Kayla! Besok gue jemput!" ucap Levi senang melihat ekspresi malu gadis itu.

...********...

Di dalam rumah, lebih tepatnya di ruang tamu aku masih berdiri di belakang pintu. Mencoba menormalkan kembali detak jantung ku yang masih berpacu cepat. "Dasar Levi!" gumam ku sebal sembari memegang dada.

Sedikit penasaran, aku mengintip sedikit dari jendela rumah. Levi sudah pergi dari sana.

"Jaga omongan kamu Mas! Kamu memang gak becus jadi kepala rumah tangga!" namun, seketika perasaan senang itu hilang selepas aku mendengar kembali pertengkaran mereka.

Aku berjalan memasuki ruang tengah, tempat dimana pertengkaran antar dua orang dewasa itu tengah berlangsung. Pandangan ku menatap datar ke depan, tidak ada ekspresi yang mampu aku tunjukkan, aku sudah bosan dengan ini semua.

Kadang aku penasaran, bagaimana kehidupan anak-anak remaja di luar sana? Apa kepulangan mereka dari sekolah juga disuguhkan suasana seperti ini oleh orang tuanya.

Kaki ku terus melangkah, hingga sampailah di depan sebuah pintu berwarna coklat, dengan terdapat tempelan nama 'Valencia' bergambar hello Kitty.

"Cia!" panggil ku sembari membuka pintu tersebut, samar-samar aku bisa mendengar rintih suara tangis anak kecil. Ternyata dia adalah Valencia—adik perempuan ku. Ia tengah menangis meringkuk, di tepi kasur.

"Hiks hiks hiks," tangis Valencia sembari menutup kedua telinganya rapat-rapat, anak itu pasti sudah mendengar pertengkaran orang tuanya cukup lama.

Terasa aura hangat mulai menyelimuti tubuh Valencia, anak kecil berusia sembilan tahun itu bisa merasakan, jari-jari lentik memegang kedua tangannya. "Cia, jangan nangis ada Kakak di sini," ucap ku duduk membungkuk di depannya.

Valencia yang sadar akan kedatangan Kakaknya, tubuhnya seketika tertarik untuk memeluk Kayla. "Kakak hiks, Ayah sama Bunda bertengkar lagi Kak," tangis Valencia pecah di pelukan ku.

"Iya, Cia jangan sedih lagi, sudah ada Kakak di sini. Maaf ya, Kakak pulangnya lama," ucap ku seraya mengelus-elus punggung adik perempuan ku.

"Hm iya Kak," jawab Valencia sesegukan.

Ya, beginilah kehidupan ku yang sebenarnya. Terkadang aku terlalu takut meninggalkan rumah terlalu lama, bahkan untuk sekolah sekalipun. Aku takut dengan kondisi Valencia, cukup aku saja yang menjadi korban, jangan adik ku.

"Cia mau tidur?" tanya ku dan mendapat anggukan dari anak itu.

"Iya," balas Valencia lalu naik ke atas kasur, dan menidurkan tubuhnya pada ranjang empuk itu. Sedangkan diriku berada di samping tubuh Valencia, sembari membelai lembut kepala anak itu sampai tertidur.

"Selamat tidur Cia," ucap ku melihat mata Valencia perlahan tertutup.

"Kakak berjanji akan membuat kamu bahagia, Kakak berjanji peristiwa tiga tahun yang lalu tidak akan terjadi lagi," batin ku serius.

Terpopuler

Comments

Nia࿐

Nia࿐

pasti berat bagi Valencia dan Kayla, Krn setiap harinya slalu mendengar pertengkaran orang tua. semoga kalian ttp kuat ya

2024-02-27

0

Filanina

Filanina

Nanti saya lanjut. Jangan lupa mampir di karyaku ya, Thor.

2024-02-24

0

Filanina

Filanina

Nah, Thor. Ada lagi POV bocor. Apa tadinya ini POV 3 diganti jadi POV 1 kah?

2024-02-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!