Levi memasuki kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Laki-laki itu menangis sembari meringkuk di belakang pintu, pemuda yang terkenal kuat dan kejam tengah menumpahkan air matanya sekarang.
Levi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan agar tidak berteriak. Ia merasa kecewa kepada Ibunya sendiri, bagaimana bisa dengan entengnya dia mengatakan hal seperti itu. Haha, apa boleh manusia semunafik ini?
"Buat apa lo nangis Lev? Untuk apa lo buang-buang air mata lo?" ucap Levi pada dirinya sendiri, sembari menghapus deraian air mata tersebut menggunakan punggung tangannya.
"Orang macam dia sama sekali gak perlu lo tangisi, dia aja gak peduli sama lo," sambungnya tersenyum miring.
Saat ini, kondisi kamar Levi dalam kondisi gelap. Hanya cahaya remang-remang berasal dari rembulan, memberikan sedikit penerangan melalui jendela kamar yang terbuka. Kedua matanya tertutup, merasakan semilir angin lembut menerpa wajahnya, sangat menenangkan.
Tangan kanannya menggerogoh kantong celana dan mengambil sebuah handphone dari dalam sana, jari jempol Levi menari-nari di atas layar handphone tersebut, mencari-cari kontak seseorang.
...-My Kay-...
^^^Levi: Kay^^^
Kayla: iya Lev, ada apa?
^^^Levi: boleh teleponan bentar?^^^
Kayla: malem-malem gini? Lo gak tidur, besok sekolah.
Manik mata Levi sekilas melirik ke arah jam yang terdapat di pojok kanan atas layar handphonenya, pukul satu dini hari.
^^^Levi: udah gak masalah, gue lagi pingin denger suara lo sekarang. ^^^
Sedangkan di tempat lain, aku yang memang posisinya juga belum tidur, mungkin lebih tepatnya terbangun pukul sebelas malam dan akibatnya sekarang tidak mengantuk. "Ish, ini anak maksa banget sih," pikir ku kesal.
Luv is calling you~
"Nelpon beneran lagi," batin ku melihat Levi melakukan panggilan telepon, mau tak mau aku harus mengangkatnya, kalau tidak anak itu pasti akan marah. Asal kalian tahu, membujuk Levi itu sangatlah susah seperti anak kecil.
^^^Kayla: ^^^
^^^"Halo."^^^
Levi:
"Kok ngomongnya lemes gitu sih?"
^^^Kayla:^^^
^^^"Haaloo," lebih semangat namun terpaksa.^^^
^^^Kayla:^^^
^^^"Lo ngapain sih telepon gue jam segini, gak ada kerjaan."^^^
Levi:
"Gue lagi kangen sama lo."
^^^Kayla:^^^
^^^"Kan nanti bisa ketemu di sekolah Lev."^^^
Levi:
"Gak mau kelamaan, gue kangennya sekarang. Kalau gue beneran mau, gue bakal paksa lo tinggal sama gue, biar kalau gue kangen tinggal gue peluk."
^^^Kayla:^^^
^^^"Ish lo ngomong apaan sih!"^^^
Levi:
"Haha, lo baper ya."
^^^Kayla:^^^
^^^"Eng-enggak, lo nya aja kepedean."^^^
Levi:
"Yaudah, tidur sana! Biar lo gak ngantuk di sekolah."
^^^Kayla:^^^
^^^"Emang kenapa Lev? Lo lagi ada masalah? Tumben-tumbenan lo telepon gue jam segini."^^^
"Hm, lo emang paling ngerti gue Kay," batin Levi tersenyum.
Levi:
"Nggak ada, gue cuman mau teleponan sama lo aja."
^^^Kayla:^^^
^^^"Owh."^^^
Levi:
"Gue tutup dulu ya, buruan tidur."
^^^Kayla:^^^
^^^"Hm ya oke."^^^
Levi:
"Cuman gitu doang? Gak ada ucapan selamat tidur buat gue?
"Huuhhh," aku membuang napas berat, anak ini memang sangat manja.
^^^Kayla:^^^
^^^"Selamat tidur Levi, mimpi indah."^^^
Bibir Levi tersenyum kecil selepas mendengar suara manis itu.
Levi:
"Selamat tidur juga Kay, jangan lupa mimpiin gue ya," balas Levi dalam telepon dengan suara beratnya.
Dan setelah itu, sepasang kekasih tersebut menutup panggilan mereka masing-masing. Mereka masih menatap ke arah layar handphone dengan senyuman simpul yang masih mengembang sempurna, sebelum pada akhirnya tertidur dengan perasaan bahagia.
...********...
Pagi ini, lagi-lagi diriku harus terbangun karena suara keributan yang berasal dari ruang tengah. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini aku juga mendengar suara bantingan benda-benda kaca sangat keras.
"Alarm lo bagus banget Kay," ucap ku kepada diri sendiri, benar, suara keributan itu sudah seperti alarm pagi, bukan membuat ku semangat, tapi malah membuat mental ku semakin tertekan.
Apalagi kalau bukan pertengkaran antara Ayah dan Bunda, kalian yang mendengarnya saja sudah bosan, lalu bagaimana dengan aku?
Kedua kaki ku mulai melangkah menuju pintu kamar, suara keributan itu semakin jelas menyiksa telinga. Hingga, baru saja tangan ku membuka pintu coklat tersebut, bola mata ku dikejutkan dengan Ayah hendak memukul Bunda menggunakan botol kaca.
"BUNDA!!!" teriak ku histeris segera berlari menghampiri mereka berdua, dan langsung memeluk tubuh Bunda, melindunginya dari Ayah.
//PYAARR//
Botol kaca itu dihantamkan dan pecah, sukses mengenai pergelangan tangan ku sampai berdarah. Jujur, rasanya sangat sakit, serpihan-serpihan kaca itu seperti menusuk-nusuk tajam kulit ku.
"Hah," cengang Ayah ku tak percaya, kalau yang baru saja ia pukul bukanlah istrinya, melainkan anak perempuannya.
"Apa yang kau lakukan di sini Kayla! Untuk apa kamu melindungi Bunda mu!" belungsang Ayah.
Rahang ku mengeras kuat, aku tidak suka dengan apa yang pria ini katakan. "Kalau Kayla ingin melindungi Bunda memang kenapa?! Ayah mau bunuh Bunda! Yang bener aja Yah!" balas ku membentak dengan mata berkaca-kaca.
"Wanita seperti dia tidak pantas dilindungi Kayla," ucap Ayah sembari menunjuk tepat di wajah Bunda.
"Tapi seorang Ayah, juga tidak pantas mempertontonkan hal seperti ini di hadapan anaknya," jawab ku tajam.
"Haah sudahlah, terserah kalian!" kesal Ayah membuang sisa botol kaca yang ia pegang ke sembarang tempat, lalu berlalu pergi dari sana.
"Bunda, Bunda nggak apa-apa?" tanya ku mengusap air mata di pipi Bunda, dengan kondisi tangan kanan masih berlumuran darah.
"Bunda baik-baik aja Kay, tapi.... tangan kamu berdarah nak," khawatir Bunda melihat kondisi tangan ku.
"Tangan ku nggak kenapa-kenapa kok Bunda, bentar lagi sembuh," balas ku berusaha tersenyum sebisa mungkin.
"Kayla anter Bunda ke kamar ya, biar aku aja yang beresin ini semua," sambung ku lalu mengantar Bunda menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar Bunda.
Aku membantu Bunda untuk tidur di atas ranjang, lalu duduk di sisinya.
"Bunda minta maaf ya nak, sudah buat kamu sedih," ucap Bunda mengelus lembut kepala ku.
"Enggak kok Bunda, Bunda gak perlu minta maaf. Yaudah, sekarang mending Bunda istirahat aja ya, urusan rumah biar Kayla yang ngerjain," balas ku.
"Tapi Kay, kamu hari ini harus sekolah."
"Hari ini aku izin gak masuk dulu Bunda," jawab ku, mengingat kondisi rumah hari ini sangat berantakan.
"Yaudah, Kayla keluar dulu ya Bunda, mau beres-beres," pamit ku dan dibalas senyuman lemah oleh wanita tersebut.
...********...
Aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, membersihkan luka di pergelangan tangan ku menggunakan air. Sesekali aku meringis kesakitan, merasakan guyuran air itu membasuh perih luka ku.
"Hm, kenapa gak sekalian kena nadi aja sih?" gumam ku menatap dingin ke arah luka sayat tersebut.
"Hiks, kenapa.... kenapa gue gak ditakdirkan bahagia! Kenapa hidup gue harus sengsara!" tangis ku menjadi-jadi.
"Kenapa takdir gue seburuk ini Tuhan, kenapa! Gue mau bahagia seperti temen-temen gue yang lain, gue mau punya keluarga yang harmonis," air mata ku mengucur deras, meluapkan semua emosi yang diriku pendam.
"Apa itu sulit? Gue capek setiap hari harus denger pertengkaran mereka! Gue capek harus pura-pura kuat di depan mereka."
"GUE CAPEK!!!!"
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan dari pintu kamar mandi. "Kak, Kakak Kay ada di dalam?" panggil Valencia sembari mengetuk pintu.
Mendengar suara itu dengan cepat-cepat aku langsung mengusap semua air mata ku, membasuh wajah ku dengan air. Berharap agar Valencia—Adik ku, tidak menyadari kalau Kakaknya baru saja menangis.
Aku menatap wajah ku beberapa detik di depan cermin, dirasa sudah cukup, aku pun segera membukakan pintu.
"Cia, kamu udah bangun," ujar ku berusaha tersenyum di depan Valencia.
"Iya, Kakak Kay ngapain tadi? Kok lama," tanyanya polos.
"Habis cuci muka," jawab ku.
"Owh, oh ya Kak di ruang tengah kok berantakan banget, habis ada apa?"
"Tadi Kakak mau beres-beres terus gak sengaja barang-barangnya jatuh, hehe Kak Kay emang ceroboh Dek," balas ku cengengesan, sembari menyembunyikan tangan kanan ku yang terluka di belakang punggung.
"Owh gitu," angguk Valencia percaya.
"Oh ya, kamu laper gak? Kakak masakin ya."
"He em, Cia laper," balas Valencia.
"Yaudah yuk! Temenin Kakak masak."
Sebagai seorang Kakak aku harus terlihat kuat di hadapan Valencia, hanya anak ini alasan mengapa aku bisa bertahan sampai detik ini. Kalau aku pergi, lalu siapa yang akan melindungi Valencia? Jangan sampai senyuman Valencia pudar karena ulah seseorang, aku harus menjaga Adik ku bagaimanapun caranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments