...Bismillah cinta.......
...Percaya padaku, percaya cinta... Yakin kita bisa lalui semua.......
...S'gala cobaan yang datang mendera........
...(Ungu--Lesti, Bismillah cinta)...
...*****...
Sungguh, rindu itu terasa menyiksa hati dan pikiran. Tak terhitung jeritan merindu yang Tama dan Clemira gaungkan demi menyampaikan puisi hati pada sang angin kalau mereka ingin bertemu satu sama lain.
Nama Tama selalu ada dalam do'a Clemira, begitupun nama anak gadis Rayyan itu, selalu ada dalam sujud-sujudnya. Seperti malam ini, Tama duduk diantara dua sujudnya, melafalkan kalimat syukur dan memohon ampunnya pada sang pemilik hidup. Meminta kesehatan untuk dirinya, keluarganya dan teruntuk Clemira.
Disaat kegelapan memakan waktu, dimana yang lain tengah tertidur dengan rasa nyaman seadanya di dalam sel tahanannya, Tama memilih mengadukan kegundahan hati pada pemilik-Nya.
Ia tersenyum manakala mengingat ucapan Clemira yang sudah lama tak ia temui.
Anggap aja kita lagi long distance relationship, tanpa hape, tanpa komunikasi. Biar nanti pas ketemu kangennya pol-pol'an.
Dia memang gadis spesial....gumam Tama.
Tama melepaskan songkok yang diberi ibu dengan cara menitipkannya lewat mas Rangga. Ia mendengar kabar, saat sidang pertama nanti, keluarganya akan hadir memberi dukungan.
Yap! Tama sudah bertemu dengan kakaknya itu yang sengaja datang menjenguknya tempo hari dan menyampaikan salam sayang ibu serta bapak.
Rangga juga menyalurkan kekuatan tambahannya untuk Tama disana, bahwa ia dan keluarga akan senantiasa mendukung Tama, meski kini dunia sedang tidak bersahabat.
Belum lagi, kabar yang ia terima dari pengacara sewaan keluarga Ananta untuknya mengatakan jika papa Rangga, jelas-jelas memberikan penangguhan penahanan untuk ia dan Pras, serta pernyataan yang membuatnya dan Pras di telan rasa bersalah amat mendalam. Menteri satu itu memang pantas disebut pejabat bermental pahlawan. Ia mati-matian memperjuangkan haknya dan Prasasti.
Ditatapnya langit-langit sel tahanan bersama suara hati yang semakin menjerit keras, wajah-wajah bersahaja orang-orang sekitar yang mendukung Tama menjadi kekuatannya, jika ia harus fighting! Seperti kata Rayyan.
.....
Seseorang masih berkegiatan sama dengan hari-hari sebelumnya, duduk di kursi pemerintahan dengan nyaman meski dirinya telah dijegal oleh negara, tak bisa pergi kemanapun di luar teritori negri barang sejengkal pun. Setidaknya disini ia masih duduk nyaman tanpa harus kedinginan dan kelaparan.
Bendera negri berdiri gagah di pojok ruangan tak goyah terkena udara sejuk AC, bersama foto presiden dan wakilnya tepat di atas kepala, ruangan ini nyaman, bersih dan mewah. Namun hatinya telah was-was jika nantinya kedua perwira itu angkat bicara maka habislah ia. Semua ini sirna, uang yang selama ini ia kumpulkan untuk memperkaya diri 7 turunan akan hilang seketika, tidak!! Tidak bisa! Kedua perwira itu harus bungkam, membawa serta rahasia rencana pembunuhan itu bersama jasad mereka ke liang lahat.
Diantara kegelisahan pikirannya yang melanglangbuana, dan kegundahan menunggu kabar baik dari para anak buah, ketukan pintu membuyarkan semuanya.
"Pak, ada...." wajahnya terlihat ragu dan resah, pertanda tak baik. Hatinya mulai dilanda badai kerisauan.
"Apa? Ada apa? Ada siapa?" tanya nya berdiri tak tenang.
Beberapa langkah berat para perwira kepolisian menghentak lantai marmer membawa serta surat pemanggilan paksa, karena nyatanya sejak Pras dan Tama mengumandangkan namanya dalam pusara kasus yang kini tengah di dalami, sebanyak itu pula surat panggilan dari pihak kepolisian tak didengarnya.
Bagaimana jika polisi tau, kalau dalang dari kejadian setahun lalu pun, aku? benaknya berkata lirih, berapa lama hukuman yang harus ia terima, atau bahkan bisa saja hukumannya adalah mati.
Tidak--tidak! Kasus itu sudah di tutup dan Ajay cs sudah ditetapkan sebagai pelakunya.
"Bapak harus ikut kami sekarang."
Seluruh pegawai kementrian mendadak geger ketika atasannya itu ditangkap paksa.
Nasi putih, tahu, tempe dan sawi. Rasanya jelas tak sebanding dengan masakan ibu di rumah, atau omelete buatan Clemira yang terkadang gosong separo, Tama tertawa sendiri. Namun baginya ini lebih dari cukup, ketimbang mesti kelaparan di tengah hutan. Sudah seminggu ia dipindah selkan ke rutan khusus bersama Pras hanya saja berbeda sel.
"10 menit lagi waktu sidang." Ujar sipir, diangguki Tama. Tama memotong tahu yang digoreng setengah matang itu, lalu menaruhnya di pojokan ruangan berharap para semut mencicipinya untuknya.
Setelah dirasa tak ada yang aneh, bahkan para semut menggendongnya ke lubang sebagai bahan makanan satu koloni, barulah Tama mau memakannya.
Bukan Tama yang tak bersyukur atas nikmat yang diberi, namun ia harus berjaga-jaga untuk keselamatannya. Tama ingat betul dengan apa yang dikatakan Rayyan sebelumnya, jika ia harus waspada dan bisa menjaga diri.
\****Di dalam rumah tahanan kelas 1***\*
"Mandat dari rubah adalah bagaimana pun caranya buat mereka mati sebelum sidang dan pernyataan kesaksiannya."
"Siap pak."
"Tenang saja, kau tak perlu khawatir. Kehidupan keluargamu terjamin setelah ini."
Seorang sipir penjara yang telah berhasil disuap Fasuari memberikan serbuk putih ke dapur, "yang mana makanan untuk tahanan blok B kamar 68, atas nama Prasasti Dirgantara?"
"Ini troli makanan untuk tahanan di blok B," tunjuk pegawai dapur.
...
Pintu terbuka saat Prasasti telah siap dengan pakaian hitam dan putihnya, dilengkapi dengan rompi. Bukan rompi anti peluru seperti biasa yang ia pakai untuk bertugas namun rompi oren khas tahanan.
"Makan." ia menaruh nampan almunium berisi sarapan Prasasti lalu kembali keluar dari sana. Sejauh ini tak ada hal yang mencurigakan darinya, Prasasti mengangguk dan duduk bersila di depan sarapannya.
Namun baru saja ia akan menyuapkan nasi ke dalam perutnya yang kosong nan lapar, tiba-tiba pintu dibuka secara kasar.
*Brakk*!
"Angkat tanganmu, jauhkan makanan itu dari mulut!"
Makanan itu bahkan baru saja mencium bibir bawahnya saat seseorang berkaos Lembaga perlindungan menghentikan kegiatannya.
"Sipirrr! Ganti makanan ini dengan yang kami bawa!" teriaknya.
Prasasti sempat terkejut dan kebingungan dibuatnya, namun sejurus kemudian ia baru menyadari jika ada yang salah dengan sarapannya pagi itu, untung saja nyawanya masih selamat. Saking laparnya, ia sampai lupa dengan apa yang dikatakan Rayyan waktu lalu, tentang dia yang tak boleh mati konyol di rutan, ternyata ini maksudnya.
"Shittt, gue lupa." umpatnya menyeru lega dan mendorong jauh nampan berisi makanan beracun itu.
.....
Rayyan meneguk kopinya pagi itu dengan ketenangan yang tak pernah setenang danau di tengah hutan, terbukti saat bibirnya baru menempel barang 3 detik demi menyesap hangatnya kopi beraroma wangi itu, ponselnya berdering hebat, bersama Eyi yang duduk di kursi samping.
Netra wanita yang telah menemani marinir itu lebih dari 19 tahun itu memperhatikan mimik wajah suaminya saat menerima panggilan, alisnya terkadang menukik tegang namun setelahnya kembali tenang nan normal.
"Terimakasih banyak atas bantuan abang," jawab Rayyan mengakhiri panggilan.
"Siapa?" tanya Eyi penasaran.
"Bang Hendi dari Mabes," Rayyan meneruskan acara minumnya sebelum nanti kembali datangnya gangguan. Rayyan juga kembali menscroll nama-nama yang ada di kontak firma om Afrian demi menemukan tim lawyer yang sengaja ia kerahkan untuk Tama dan Prasasti, "belum tau dia, siapa Ananta." Gumam Rayyan.
"Apa katanya?"
Alis Rayyan bermain jungkat-jungkit disana, "sepertinya kasus ini akan semakin seru dek, mau racunin bocah-bocah rupanya si rubah."
Mata Eyi membeliak keluar dari tempatnya, "gilak! Tama sama temennya mau diracun, bang?" nadanya naik beberapa oktaf saking terkejut.
Rayyan mengangguk seraya mengernyit karena sikap istrinya yang berlebihan, "biasa aja dek. Ngga usah kaget gitu, kenapa? Khawatir? Jangan-jangan kamu suka sama dua bocah perwira itu?" tembaknya menuduh, emang sifat playboy tuh ngga jauh-jauh dari cemburuan dan posesif. Karena dulu ia pernah begitu.
Eyi meringis prihatin pada pria yang sudah tidak muda lagi itu, "abang sehat?" gelengnya beranjak daripada meladeni ketidakwarasan suaminya ia lebih baik masuk ke dalam memancing Rayyan untuk menyusulnya, "dek. Jawab dulu!"
Panji yang menjiwir sepatunya sudah tak aneh lagi melihat drama kekasih tak dianggap yang diperankan kedua orangtuanya itu.
"Canda dek." Ujar Rayyan lagi mengehkeh. Clemira yang sudah gundah gulana sejak semalam turun tergesa dan sudah siap dengan pakaian rapinya, "bi...abi...kakak ikut liat sidang mas Tama ya..."
"Engga usah. Kamu kuliah, ngapain ke pengadilan." Larang Rayyan memantik kekecewaan, tak taukah ayahnya itu, saat ini dialah kekasih yang merindu, kisah kasih mereka terhalang tembok penjara.
"Kakak pengen support Tama, bi."
"Ini bukan mau nontonin bola.." jawab Rayyan mengundang bibir mengerucut Clemira untuk berkomat-kamit menyumpah.
"Bilang aja pengen pacaran." Seru Panji menyahut.
"Jomblo diem." sarkasnya tegas.
"Kenapa jadi bawa-bawa status sih?!" balas Panji, "emang...jomblo tuh selalu salah dimata lo..mau nafas aja salah."
Asisten rumah tangga sesekali terkikik tanpa suara melihat kegaduhan di rumah pak letkol satu ini, baginya ini adalah hiburan di tempatnya mencari nafkah.
Rayyan menjiwir kedua anaknya itu, "berisik. Kamu..." tunjuknya pada anak perempuannya, "ngampus. Setau abi, waktu jamannya ma cut kuliahnya nurse itu banyak banget materi sama prakteknya, tapi pas liat kamu...kok santai banget?! Jangan-jangan kamu banyak bolosnya lagi?! Kuliahnya ngga bener?" tuduh Rayyan.
Panji adalah orang pertama yang menjadi kompor dan bara api saat itu, "iya tuh bi! Kak cimoy tuh emang gitu kalo abi pengen tau!"
"Kamu..diem!" tunjuk Rayyan pada jagoannya.
Sontak saja Clemira melotot dan hendak menyerang Panji, "enak aja! Ngga gitu bi, itu karena guenya pinter, ngga kaya lo! Tugas, makalah, praktikum gue selalu dapet A atau B, tanya umi!" serunya tak terima. Kini tatapan Clemira nampak mengemis pada Rayyan seraya mengatupkan kedua tangannya memohon.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Lalisa
anak muda mah lewat.. ckckck kelakuan ooii malu ma anak 🤣🤣🤦
2024-11-10
1
Lalisa
jiahh Abi ingat dosa masa lalu ya bi😂
2024-11-10
0
Lalisa
Alhamdulillah
2024-11-10
0