Percayalah, ada perasaan lega saat melihat senyum ibu dan bapak saat ini.
Melihat kedua orangtuanya dapat tertawa lepas dan bangga akan dirinya serta kedua saudaranya adalah kepuasan tersendiri untuk seorang anak.
"Bu,"
Wajah pucat ibu yang menghangat adalah pemandangan paling cantik saat ini, meski kalimat yang akan ia sampaikan mungkin akan merubah raut wajah cantik itu, "Tama ndak bisa lama disini. Yang penting ibu sudah sehat, bapak pun sehat." Ujarnya memancing tatapan dari bapak dan Gio pula. Jika bapak mengangguk paham, lain halnya dengan Gio sang adik yang melihatnya setengah mencibir.
Ibu tersenyum, "ndak apa, melihatmu sehat dan baik-baik saja, sudah repot-repot jenguk ibu...ibu sudah senang." Usapan lembut ibu selalu menjadi pelukan terhangat untuknya.
"Kapan balik, Le?" tanya bapak.
"Malam ini, pak. Besok sudah harus kembali bertugas."
Kerutan di kulit pipi bapak yang keriput, menandakan jika ia bangga atas pencapaian Tama, "jangan khawatir dengan bapak dan ibu, bumi pertiwi memanggil...bergegaslah le."
Di samping, Gio memutar bola matanya, menurutnya bapak terlalu berlebihan, patriotisme yang dijunjung tinggi tak memberikan kontribusi apapun untuk kehidupan mereka, ngga bikin kaya, ngga bikin terpandang tidak pula memiliki jabatan tinggi yang disegani orang-orang. Cuma dapet capek dan sakit hati doang.
.
.
"Tama pamit, pak, bu...jaga kesehatan, jangan makan yang bikin hipertensi naik," pesannya sambil memeluk sang ibu, ibu hanya bisa menguarkan senyuman sejak tadi, meski mata sudah berkaca-kaca.
Orangtua mana yang tak sedih saat putra yang sekian lama berjauhan baru saja kembali ke pangkuan sudah harus kembali lagi bertugas, terpisah jarak yang membentang.
"Jaga diri, kesehatan. Sing inget gusti Allah, solat 5 waktu, tetap berada di jalan lurus, le...jujur," pesan bapak.
Diantara rasa haru berpamitan yang terjadi di depan pintu rumah, mereka dikejutkan dengan seruan dari rumah sebelah, menyadarkan mereka jika ternyata di bumi ada makhluk lain selain keluarga mereka dan termasuk ke dalam golongan manusia berisik bervolume toa.
"Mas Tama! Ya Allah!" serunya.
Gadis berseragam SMA lengkap itu bahkan melompati rumpunan tanaman teh siam setinggi perut orang dewasa yang memagari rumahnya dan rumah Tama dengan lihainya, persis bajing loncat saking antusias melihat sang pria yang menjadi idolanya sejak kecil.
"Mas'e....makin gagah aja kaya arjuna!" Alleta menghampiri, "budhe, padhe..."
"Pulang sekolah kamu, Ta? Sekolah apa jam segini baru pulang?" ujar ibu berseloroh, menerima salim takzim dari Leta.
Alleta tersenyum, "iya budhe. Biasalah, kalo siswa teladan kan sibuk OSIS, ngga kaya anak budhe yang onohhh..." seketika kulit pipinya menggembung saat lidah Letta menunjuk ke arah Gio dari dalam mulut.
"Mmm, dasar gethuk lindri.. " bapak bahkan bisa tertawa dengan sikap Leta, yang biasa ada membantu mereka layaknya anak perempuan sendiri.
"Mas apa kabar to? Lama banget ngga pulang! Makin ganteng kaya Arjuna Wiwaha!" pujinya membuat Tama tersenyum, "baik."
"Kamu makin berisik, kaya hanoman!" seseorang menyugar rambut basahnya beranjak dari kursi rotan di teras ke arah motor, setelah rampung memakai sepatunya.
"Opo sih, biji salak ndak usah ikutan ngomong!" sewotnya.
"Kamu yang biji semangka!" debat Gio, "hush! Mulih, sudah mau magrib. Udah masuk rumah orang tanpa ijin pake lompatin pager persis maling!"
Leta sudah hendak menghampiri dengan kepalan tangan yang jauh dari kata besar, sebesar biji lada malahan. Tapi Tama, ibu dan bapak segera menangkap gadis itu.
"Wes...wes...sudah...sudah, mau magrib kok ya malah ribut, malu sama burung yang sudah pada balik sarang! Cah ayu masuk, ibumu pasti sudah nunggu koe mulih."
"Yo, buruan. Mas ngejar kereta..." ujar Tama.
"Loh..loh...mas Tama mau kemana lagi to, baru juga balik?" tanya Leta.
"Mau nugas lagi Ta, sudah dari tadi pagi mas pulang..."
"Oalah, telat tau aku...sibuk OSIS. Ya, ngga bisa dipending gitu mas tugasnya, jalan-jalan dulu gitu ke alun-alun, traktir Leta gitu..."
"Oalah lambemu! Bilang saja minta makan gratis!" sarkas Gio menstaterkan motornya. Leta terkekeh.
"Lain kali yo, mas pamit dulu..." Tama mengacak rambut Leta yang sudah ia anggap seperti adik sendiri dan memang mereka memiliki tali kekerabatan.
"Yo wes lah, budhe, padhe, cah ayu pamit setor muka dulu sama ibu!" kekeh Leta.
"Cah gemblung!" ralat Gio menyunggingkan senyuman miringnya.
"Cih!" matanya sinis mendelik melewati Gio namun sejurus kemudian ia menendang ban depan dan berlari sambil memeletkan lidahnya pada Gio dan masuk ke dalam rumah.
"Wey! Cah gendheng! Sini koe! Ta sumpahi kawin sama anak luthung!" teriak Gio.
Tama terkekeh dan naik ke jok belakang lalu menepuk pundak Gio, "wes. Kamu anak luthungnya. Buruan, mas takut telat...tadi komandan sudah telfon dan kasih waktu buat balik cepet-cepet."
"Hm," Gio menghela nafasnya bernada sumbang, antara paham dan mencibir pekerjaan sang kakak yang begitu loyalitasnya terhadap negri yang belum tentu mengerti dirinya.
Zea melempar kunci mobilnya di meja begitu saja, "untung gue bisa sat set, kalo engga...ngga tau deh nyampenya kapan di rumah, abang juga masih piket," ocehnya berjalan masuk semakin ke dalam rumah dinasnya bersama Saga membawa serta soto ayam yang ia inginkan, meninggalkan suara sayupnya di pendengaran Clemira yang kini justru sedang galau di ruang tengah.
Niat hati ditemenin nyari soto ayam, malah ujung-ujungnya bablas nemenin Clemira ke stasiun, emang dasar adik ipar sekaligus teman minus akhlak! Tau gitu beli sendiri, atau ngga nyuruh orang!
"Mas Tama tuh balik mau curhat atau ngadu dizolimi sama abi bukan, ya? Kok gue jadi ngga tenang gini..." gumamnya duduk melipat kedua kakinya di atas sofa, tangannya terulur menarik toples cemilan di atas meja dan memakannya, "Ze! Abang balik jam berapa sih?!" tanya Clemira berteriak.
"Mau ngapain?! Minta ne te sama abang?!" baliknya bertanya, "heran deh! Abang tuh baru mau punya anak, tapi berasa udah punya anak banyak!" omel Zea.
...
Demi menunggu Saga, ia rela menginap di rumah Saga dan Zea, nemenin bumil yang ditinggal piket.
"Lo ngga niat balik gitu, Cle?" tanya Zea secara halus mengusir adik iparnya itu. Aneh saja, adik-adik iparnya itu doyan banget ngungsi di rumah Saga ketika galau, dua hari sebelumnya ada Russel yang katanya diusir ma cut, lalu sekarang Clemira. Besok-besok Zea mesti masang plang di depan rumah dinasnya nama yayasan panti galau.
Bukannya tersinggung, Clemira justru duduk manis nan anteng di bangku depan Saga yang sedang sarapan.
"Abi Ray tau apa yang harus dia lakuin tanpa kamu ngemis-ngemis gini, Cle."
Saga yang baru saja pulang bahkan sama sekali belum berganti pakaian selepas pulang piket dikejutkan dengan rengekan Clemira yang memintanya membujuk Rayyan agar bersikap manis dan menerima Tama sambil gelayutan kaya anak kingkong.
"Justru dengan kamu kaya gini, kamu tuh sedang menurunkan harga diri Tama." Ujar Saga, netranya kinu berpaling melihat bumil itu masih asyik nambah nasi untuk kedua kalinya. Perut yang sudah membuncit diperkirakan berusia hampir 34 minggu.
"Tapi bang...abi tuh jutek sama mas Tama...kaya ngga suka, curiga bakalan di depak dari kesatuan, atau diteror ngga sih?! Apa karena mas Tama bukan dari kalangan petinggi militer, atau mas Tama bukan orang kaya?"
Saga menggeleng prihatin, senegatif itu pikiran Clemira terhadap abinya, "ngaco! Suudzon kamu!"
"Atas dasar apa abi Ray depak Tama dari kesatuan, karena deketin anaknya? Lebay. Abi Ray ngga mungkin melihat orang dari segi harta atau tahta," Jawab Saga yang mengundang tawa Zea, "kekhawatiran lo tuh ngga beralasan, sistah. Kebanyakan nonton film drakor sih. Lagian gue yakin om Ray bukan orang seperti itu. Ngga mungkin doi memanfaatkan koneksinya cuma buat misahin Tama dari lo, yaaa kecuali kalo om Ray mau jodohin lo sama yang lain." Ujar Zea, semakin membuat Clemira dilanda khawatir, "dih! Ngga jaman jodoh-jodohan! Lo curhat ya, Ze?"
Zea menggeleng, "berbagi pengalaman." Zea tertawa setelahnya, ingat kelakuan konyolnya demi menolak setiap perjodohan kedua orangtuanya dulu.
"Bujuk abi lah bang! Buat terima mas Tama. Seenggaknya bagus-bagusin mas Tama di depan abi." pinta Clemira memohon, "kasian mas Tama, gue takut kalo dia bakalan nyerah buat perjuangin gue, karena sikap abi yang kaya gituuuu."
Zea berdecak, "mewek...mewek...ngacak-ngacak septic tank abis ini!" cibir Zea.
Tama baru saja kembali ke ibukota, mendapati panggilan darurat yang mengharuskannya menghadap komandan unit khusus. Bahkan ia belum sempat mengabari Clemira akan kedatangannya, dirinya sudah masuk ruangan komandan.
"Tugas pengawalan di tanggal 7 Desember..." ucapnya menatap satu persatu personel unit pasukan yang baru ia panggil, Tama mele nguh berat saat mendengar waktu penugasan, karena itu artinya ia harus kembali mengingkari janjinya menghadiri acara 7 bulanan Zea.
Tama juga sempat curiga namun ia tak berani berkata. Pasalnya orang-orang yang tengah berjajar bersamanya, ia ketahui mereka yang memiliki nama besar di bidangnya, diantara prajurit udara skadron tempatnya bernaung. Salah satunya Prasasti, kawan satu letting yang kemudian mendapatkan julukan Black shadow, karena mampu membawa pesawat siluman layaknya bayangan musuh.
Satu bundel map, dengan data diri dan foto seorang pejabat negri menjadi target pengawalan mereka dilempar di atas meja oleh komandan.
"Menteri Fasuari, beliau akan melakukan kunjungan kerja ke daerah perbatasan bagian utara negri. Saya memilih kamu semua sebagai personel dari unit terbaik..."
"Siap laksanakan!" teriak mereka termasuk Tama.
Pintu terbuka, satu persatu perwira keluar dari sana termasuk Tama, "Tam, lama tak jumpa!" sapa Prasasti menyusul dan menepuk pundak Tama.
Tama tersenyum, "iya. Kamu yang terlalu sibuk wara-wiri tugas luar, Pras."
"Ah bisa saja! Kamu juga," jawab Prasasti, "mau ngopi bareng? Sambil nyari sarapan yang kesiangan? Lapar saya, Tam..." ia melirik jam tangannya yang masih menunjukan waktu pagi menuju siang, Tama mengangguk pertanda menyetujui.
"Kamu dipanggil juga Tam," kekehnya sumbang.
Rupanya bukan hanya Tama yang merasakan kecurigaan atas misi yang akan mereka emban, "tumben sekali...tugas isinya orang-orang dengan skill mumpuni...padahal menurut saya, beliau bukan orang nomor wahid." kekehnya yang dibalas sikutan Tama, "ngawur, beliau menteri, Pras."
Prasasti menggelengkan kepalanya setengah mencibir, keduanya berjalan bersama keluar dari gedung mencari kantin tempat untuk keduanya mengobrol sambil minum kopi, "aneh. Tiba-tiba saya dihentikan dari tugas di Borneo dan diminta menghadap komandan Yusro. Hanya untuk misi pengawalan seorang menteri, apa ngga aneh?" tanya Prasasti pada Tama, memantik kernyitan di dahi Tama, "oh ya?"
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Lalisa
🤣🤣🤣🤣
2024-11-07
1
Lalisa
anak lutungnya kamu ya gio 😂😂
2024-11-07
0
Raden Ajeng Safitri
ank lutungnya gio kali
2024-08-28
0