"Turunkan senjata!" perintah salah seorang yang menodongkan senjata. Jika mereka berpikir para perwira ini akan menatap dengan sorot mata takut mereka salah.
"Kami mengabdi bukan untuk disewa," lirih Tama tanpa rasa takut.
Dari sorot matanya pun terlihat jelas Tama tak takut mati saat ini, jikalau memang sampai sini saja dirinya bernafas, maka janjinya pada bumi pertiwi sudah ia tunaikan, melindungi nusantara hingga tarikan nafas terakhir.
Menteri Fasuari meledakan tawa jahatnya, bahkan menggema melebihi suara deburan ombak di belakang sana. Ia merogoh ponselnya dan menunjukan itu pada Tama, "ini orangtuamu, kan?"
"Dan ini...." ia menggeser layar menunjukan wajah seorang yang tersayang, "anak letnan kolonel Rayyan? Cantik..."
"Bank sat..." gumam Prasasti.
Seketika moncong senjata itu tiba-tiba menempel di pelipis Tama, menekannya keras memaksa Tama untuk berada dalam posisi berjongkok, "jongkok kamu!!"
"Angkat tanganmu di kepala!!" paksanya.
"Seorang perwira pantang berlutut di depan orang lain selain dari bumi pertiwi dan ibunya." jawab Tama dingin.
Bugh!
Ditendangnya kaki Tama dari belakang hingga ia berlutut dengan sebelah kaki, "Wawww...." menteri Fasuari bertepuk tangan melihat sikap setia Tama dan kawan-kawan.
"Saya salut dengan apa yang telah kalian beri untuk negara. Tapi apa yang telah negara beri untuk kalian? Kalian cukup bangga hanya dengan menjadi bawahan begini?! Jangan naif!!" decih Fasuari.
"Saya akan berikan apa yang kalian mau, harta? kenaikan pangkat dan jabatan? Dan teruntuk kamu...." tunjuknya ke arah Tama.
"Saya tau kamu sedang berurusan dengan keluarga jendral Al Fath. Saya bisa urus itu, menjadikanmu seorang berpangkat agar dilirik calon keluarga barumu itu...." tunjuknya keras di helm Tama.
"Bekerja samalah dengan saya, maka urusan kalian beres seketika." tawarnya pada para perwira ini.
"Jika tetap ngeyel, saya tidak akan menghabisi kalian, melainkan orang rumah...." ancamnya, "agar saya tidak menderita sendiri...namun ada yang menemani," tambahnya.
Tama menatap lurus masih dengan keteguhan hatinya, namun terlihat jelas kini di hatinya tengah terjadi badai hebat.
Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda...tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata......bayangan ibu dan bapak yang tersenyum hangat dan memeluknya mesra begitu lekat di ingatan Tama, hati-hati le, jaga kesehatan.....
Sesulit ini menjadi seorang pion, persis seperti apa yang Gio ucapkan tempo hari.
"Roger, Ma lang tujuan berikutmu---" ucapnya di ujung telfon.
"Jangan."
Tama merasa harga dirinya tercoreng, ia sudah benar-benar tak pantas disebut perwira, menghianati kesetiaan yang selama ini ia junjung tinggi.
Pernah di suatu siang di masa lalu, ia dan bapak menonton pawai karnaval hari kemerdekaan, diantara barisan para penonton, Tama digendong di atas pundak bapak, "Tama mau jadi tentara, pak."
"Iya, le. Biar bisa lindungi negara dan rakyatnya...jadi tentara yang jujur ya, le."
***
"Tam," gumam Prasasti.
Tama benar-benar berlutut di depan Fasuari, dengan perasaan yang sudah hancur, mungkin setelah ini ia akan menjadi penghianat negara, jika tugasnya adalah mengejar dan melumpuhkan pembelot, maka sekarang ia jadi pembelot itu sendiri.
Tama meraih pisau lipat dari sakunya dan menyobek lambang bendera negri di seragam kebangaannya.
"Tama!" bentak Prasasti. Sementara Fasuari tertawa, "welcome to the club, dude."
Tama berbalik menodongkan moncong senjatanya tepat di kening Prasasti dengan tatapan tajam dan membunuh.
Kedua perwira ini kini saling beradu tatapan tajam seolah intuisi mereka sedang berbicara tanpa mengeluarkan kata, ada helaan nafas dari Prasasti, "baiklah." Ia melakukan hal yang sama dengan Tama yang kemudian diikuti juga oleh perwira lain.
"Good boy."
"Saya tau kamu alpha'nya," Fausari menepuk-nepuk pundak Tama jumawa.
Penghianatan ini akan selamanya berada dalam ingatan, "maaf."
"Ck, disuruh pensiun dini juga!" omel Zea sesaat setelah acara, ketika papa Rangga ijin pulang duluan mengingat tugasnya yang harus melakukan kunjungan kerja di perbatasan.
"Ngga bisa gitu, selama masa tugas belum selesai tetap harus pro..." selorohnya pada anak perempuannya yang manjanya ini ngga ilang-ilang, udah ada suami tetap saja masih minta ditemenin bapak. Zea bahkan tak sungkan menerima suapan-suapan nasi ketika papa Rangga makan.
Saga sudah tak aneh lagi dengan sikap manja Zea yang ngga ada obat itu.
"Ngga malu sama status, ngga malu sama suami..." omel mama Rieke menggerutu menyaksikan sikap Zea, lihatlah bumil itu, sering disuapin papa, padahal ia saja makan---makan sendiri, suami terkadang ke luar kota ngadain kunjungan kerja kenegaraannya.
"Papih tuh ih, udah lah, Zea ngga tau harus bilang apa....bandel lah, udah tua mah..." omelnya melengos untuk mengambil minum. Fara tertawa melihat tingkah menantunya itu yang kini sering ngeselin, rasanya lucu melihat orang-orang sekitarnya geram tapi cuma bisa pasrah, dengan dalih Zea yang hamil.
Sepasang tangan menjalar melingkari perut besar itu dari belakang, "makin gede makin sensi sama orang sekitar," bisiknya. Zea menggidikan telinga geli mendengar ucapan Saga lalu memutar badannya di depan kitchen set.
"Papa tuh waktu itu udah janji bang, katanya mau pensiun dini...tapi, jangankan pensiun dini malah makin getol datangin warga, khususnya warga perbatasan. Kayanya bener kata gosip yang beredar, papa ada niatan nerima pinangan buat jadi ketua dewan parlemen disana..." Zea kini berucap sendu, seolah permintaannya itu tak lebih penting dari tawaran kedudukan, "papah ingkar sama Zea, bang."
"Hey," Saga mengangkat dagu yang terlihat berlipat milik Zea, "pasti ada alasannya, mungkin papa merasa belum puas mengabdi dan ingin lebih mensejahterakan rakyat, menyentuh hingga lapisan terluar dan paling bawah. Bukan kamu yang ngga penting, tapi mungkin papa tau karena akan ada abang di samping kamu...."
Zea mengulas senyuman kecilnya dan mendengus, "ngomong-ngomong, ini kok makin gemoy gini.." seloroh Saga.
"Abang ihh!" tepuknya di punggung Saga
"Emhh...emhh...terus aja terus, bikin iri!!" seru Clemira.
Zea tertawa, "uluh, kasian yang ditinggal nugas...sabar ya dek...abang nugas buat beli sebongkah berlian buat lamar adek...bwahahahaha!" tawanya kembali meledak.
"Cih, si alan. Ini juga malah ngeledek!" pelotot Clemira pada Saga yang mengehkeh tanpa suara.
"Yakin. Tama bakalan baik-baik aja. Abang yakin abi Ray pasti akan luluh, sejatinya Tama adalah seorang yang jujur nan setia, dia juga fighter. Abi Ray pun bukan seorang yang gila harta dan tahta...bukan Ananta," ucap Saga kini merangkul Clemira juga, menenangkan hati sang adik yang gundah gulana.
Clemira mengangguk, "tapi sekarang Cle ngga tau kabar mas Tama, bang."
"Kalo besok ketemu, abang sampaikan salam dari Cle." Lirihnya membuat kedua perempuan ini melihatnya dengan kernyitan.
"Abang mau nugas juga besok? Ke daerah penugasan perbatasan juga?!!" seru Zea terkejut.
Clemira mengusap kasar wajah Zea yang terlihat syok itu, "biasa aja kaleee, sistah.. Kaya yang ngga biasa ditinggal nugas. Sabar..."
Saga mengangguk, "ngawal kunjungan kerja mertua, karena ngga mungkin kan menteri sekelas menteri Rewarangga ke perbatasan pake odong-odong?" seloroh Saga yang kemudian sukses membuat Clemira tertawa, abangnya itu datar persis abi Fath tapi sekalinya bercanda mirip umi Fara.
"Pengawalan papah?!" Zea tak bisa lebih terkejut lagi, Saga dengan jahilnya meniru ekspresi Zea, "iyaa!!"
Clemira sudah benar-benar meledakan tawanya melihat sepasang suami istri ini, "somplak nih berdua." gumamnya meninggalkan keduanya beranjak menuju ruang tengah.
"Besok, Rewarangga akan terbang dari ibukota ke pangkalan udara menggunakan pesawat militer, turun di pangkalan lalu pergi menuju desa perbatasan terluar dan melakukan kunjungannya ke setiap desa yang telah ia pilih menggunakan helikopter apache membawa serta barang-barang."
Seorang berwajah sangar itu menurunkan buff lusuhnya sehingga Tama dan kawan-kawan dapat melihat wajah aslinya.
Ia menggeser batu diatas peta pulau utara nusantara dan meletakan pion di atasnya, "kita menunggu rombongan mereka disini, kawasan yang dulu dipakai sebagai jalur pemberontak, agar dianggap sebagai serangan dari sisa-sisa pemberontak negri."
Rio yang baru saja akan bersuara ditahan Tama, Tama menatapnya tajam pertanda agar Rio menutup mulutnya.
"Ya? Apa yang ingin kau katakan?" tanya Fasuari.
Rio diam, namun Fasuari menodongkan pistol kaliber 7 di depan jidat Tama, "aku tau, kau yang lebih tau, lettu." Ia justru menatap Tama dengan menyeringai.
Jakunnya naik turun menghela nafas, "jalur itu jalur tengkorak," lirih Tama.
"Terlalu banyak sisa-sisa ranjau darat yang pernah dipasang oleh angkatan bersenjata negri dan belum sempat dibersihkan." Lanjut Prasasti, ia begitu ingat dengan peristiwa penumpasan pemberontakan yang memakan korban prajurit lebih dari puluhan.
Fasuari justru tertawa, "itu sebabnya saya menyewa kalian," lirihnya berbisik dengan memajukan wajah.
.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
waduhh
abot tenan Urip mu Tama... ini aku mau maju baca tapi gk tatak, gk Moco penasaran 😌
2024-11-18
1
Lalisa
demi keluarga dan demi orang yg di sayangi Tama mau ga mau ngelakuin ini
😭😭😭😭😭
2024-11-10
0
Lalisa
bangsadh kasuari 😡
2024-11-10
0