...Semua perasaan hangat akan tetap kembali memeluk, rumahku surgaku.......
...Pratama Adiyudha...
...****************...
Riuh suasana stasiun pasar senen di jam malam tak ubahnya pasar malam, binar mata bening kontras dengan lampu-lampu stasiun diantara pekatnya malam.
"Kabarin aku, kalo kamu udah sampe."
Tama mengangguk mengiyakan, sambil menunggu kereta terparkir sempurna, keduanya menikmati roti yang barusan dibeli, "dijemput om Septian?" gadis itu menggeleng, "taksi online," singkatnya tak menimbulkan curiga dari Tama, lelaki itu hanya berohria, tanpa tau jika di parkiran sana seseorang sedang menunggu di mobil sambil misuh-misuh.
"Gilak, malem-malem bumil disuruh nungguin orang pacaran..." ocehnya mengomel, "mana gue pengen pipis lagi..."
Bunyi bel dan gemuruh kedatangan kereta menyadarkan keduanya untuk segera mengakhiri moment makan secomot berdua itu. Ditatapnya wajah Clemira dengan perasaan campur aduk, "hati-hati pulangnya. Langsung pulang, jangan mampir sana-sini..."
Clemira mengangguk sekali, "aku masuk dulu," pamitnya, tidak dengan menggusur koper atau tas besar seberat beban di pundak presiden, hanya tas ransel berisi beberapa benda pribadi nan penting lain. Pelukan Clemira mengendur dan merenggang seiring langkah Tama yang menjauh.
Hingga wajah tegas Tama terbingkai jendela KA Majapahit dan hilang ketika kereta mulai beranjak dari persinggahannya, Clemira masih berdiri melihat ular besi itu semakin kecil dan pergi.
Perasaan yang hanyut dikejutkan oleh suara bunyi ponsel yang berdering, "dimana?! Buru udah malem, peak! Ntar gue dimarahin abang lo! Kaya yang ngga tau aja kalo bang Saga ngambek kaya gimana," tanpa mukadimah atau salam sapa, suara teriakan seseorang meledakan gendang telinga Clemira.
"Iya, iya..."
Kelopak matanya terpejam walau sekedar mengistirahatkan netra kelamnya barang seabad dua abad, meskipun ia tak benar-benar sampai hilang kesadaran. Bias mentari sudah tak lagi menyilaukan, berganti suasana malam stasiun Pasar Senen.
Hanya KA Majapahit kelas ekonomi, tapi mengingat jarak yang jauh membuat harga tiketnya cukup menguras dompet prajurit macam Tama, jadi Tama tak bisa pulang setiap saat.
Tak ada oleh-oleh yang ia bawa juga, sekedar membawa diri dan tubuh yang sudah lelah mengabdi pada ibu pertiwi, kembali ke pelukan ibu terkasih.
Setiap kali matanya terpejam, Tama semakin mengingat kerinduannya akan kampung halaman. Ia rindu menikmati jemblem buatan ibu yang dinikmati bersama teh tubruk berebut dengan mas Rangga dan Gio sesaat setelah salat isya, atau jika cuaca abis turun hujan.
Berangkat malam, beberapa kali berhenti di stasiun lain, akhirnya ia sampai di stasiun kota Lama sekitar pukul 10 pagi.
Aroma rumput basah sudah mulai hilang dari penciuman karena hari yang mulai siang.
"Matur suwun mas, ongkos sudah ta kirim lewat aplikasi, yo.." ujar Tama ketika roda ban sepeda motor terhenti di sebuah rumah sederhana pun tak jelek, ayahnya yang seorang guru mati-matian menyekolahkan ketiga putranya dibantu ibu yang mau bekerja apa saja agar ketiga anaknya menjadi manusia sukses, tak seperti kedua orangtuanya.
Dan see....perjuangan tak pernah menghianati hasil, mas Rangga kini adalah seorang anggota Brigade mobile dari satuan polisi negri, dan sekarang sedang bertugas di kota kembang, sementara si bungsu Gio tengah mengenyam pendidikan di universitas ternama dengan jurusan petroleum engineering, biaya pendidikan putra-putranya tentulah mahal membuat bapak dan ibu belum mampu merenovasi rumah warisan yang udah hampir sama dengan sarang berang-berang.
"Nggeh, matur nuwun."
Dari tempatnya berdiri, Tama melihat rumah tempatnya besar tetap sama seperti saat ia meninggalkannya terakhir kali dengan penuh kerinduan.
"Assalamu'alaikum..."
Ia mengetuk pintu rumah lalu membuka handle pintu besi, bukan besi baru namun masih tetap terawat.
Suara desisan air menyentuh wajan panas terdengar dari belakang, bersama obrolan santai bapak dan ibu.
Aroma oseng kangkung dan tempe mendoan favorit Tama menyeruak, pertanda ibu sedang menyambut kedatangannya.
Tama menaruh tas ranselnya di kursi depan dan tak sabar menghampiri sepasang manusia berusia senja dimana surganya berada.
Senyumnya melebar, perasaan membuncah menyeruak tatkala melihat bapak yang berjongkok sambil menyemprotkan air memandikan si tole, burung perkutut bapak yang ke sekian sambil mendebat ibu yang ngotot kalo harga bahan dapur semakin hari semakin mahal.
"Ndak enak kalo minta terus anak-anak, mungkin mereka pun punya kebutuhan lain...menunggu pensiunan saja," ujar ibu mematikan kompor lalu menaruh kangkung di mangkok ayam, saat ia memutar berbalik, netra ibu berbinar melihat putra keduanya sudah berdiri di hadapan.
"Le...!"
///
"Dasar cah gendheng!" umpat Gio masuk ke dalam rumah dengan menutup pintu kasar seraya menggelengkan kepalanya.
Tama terkekeh melihat wajah kecut pemuda pujaan kampus yang masih jomblo itu, entah apa penyebabnya, adiknya itu banyak sekali menolak teman perempuannya sampe mewek. Seperti ia yang tak suka dengan perempuan saja.
"Baru balik, kamu yo?" Tama yang sudah berganti pakaian itu duduk di sofa tengah bagian rumah sambil bawa kopi susu instan yang dibuatnya sendiri.
"Mas," alisnya naik sebelah diantara kumpulan rambut yang tak sependek Tama maupun Rangga, ia lebih stylish dibanding kedua kakaknya, meskipun sang ayah mencekoki ketiganya dengan obsesi yang bikin kedua anak lainnya jadi memutar haluan cita-cita jadi abdi negara, Gio tetap teguh pendirian menjadi seorang engineer, karena prospek kerja yang lebih menjanjikan kekayaan.
Pemuda itu menyugar rambut yang terbelah duanya macam personel boyband kimchi itu, meskipun paras gula aren.
"Inget balik to?" balasnya cuek saja, ia menjatuhkan badannya di sofa samping Tama dan memejamkan mata barang sejenak demi meluruhkan rasa lelah tubuh dan otaknya, jakunnya bahkan naik turun menelan pahitnya dunia luar, Tama menyunggingkan senyuman dan menggeplak perut bidang si remaja yang sudah mulai dewasa itu hingga ia membuka matanya.
"Yo inget lah. Belum pikun!"
"Kirain lebih penting tugas negara ketimbang ibu."
"Gio..." tegur ibu yang datang membawa pisang goreng, pokoknya saat putra-putranya yang jauh merapat, mereka harus kenyang, selalu begitu pemikiran seorang ibu, meskipun raga lelah dan masihlah pegal-pegal usai sakit.
"Bu, ndak usah repot-repot. Ibu biar istirahat aja." Ujar Tama, namun ibu hanya tersenyum hangat diantara kerutan wajahnya, "ndak apa-apa, ndak tiap hari kamu disini, Le."
Gio memutar bola matanya dan memilih beranjak menuju sarangnya, namun ia memutar badannya sejenak demi terlupa sesuatu.
"Bu, bilangin bulek Yuni...cah wedoknya itu mesti di ruqyah, kelakuane koyo demit! Ganggu terus orang sabar, udah aku per kosaaa baru tau rasa!"
"Weyy Le! Lambemu ituu, ck..ck.."
Tama tertawa terbahak, selalu begini kondisi si bungsu yang tak pernah akur dengan Alleta, salah satu alasan yang membuat ia rindu dengan suasana rumah.
"Sopo sih, Alleta?" tanya Tama menebak, diangguki ibu, "siapa lagi."
Anak gadis yang masih kelas 2 SMA itu anak dari bulek Yuni, kerabat jauh yang tinggalnya tetanggaan, sejak smp gadis itu mengikrarkan jika ia menyukai Tama namun kerjaannya bak kucing dan tikus dengan Gio.
***
Kamarnya disini tak beda jauh dengan mess di markas sana, jadi Tama tak syok saat menemukan kamarnya bak kamar mayat, sempit! Beda halnya dengan Clemira yang bak princess. Lahir dari keluarga berada, dengan nama besar sang ayah dan keluarga yang cukup bikin cowok-cowok minder, tapi ia....ia lelaki nekat yang memuja si princess itu.
Tama selesai dengan ibadahnya, dan keluar masih sarungan, menemukan bapak dan ibu yang tengah nonton acara berita siang.
"Le, berapa lama disini? Gimana negara?" tanya bapak.
"Maaf Tama ndak bisa lama pak, bu, cuma cuti hari in----"
"Negara mah gini-gini aja pak, makin bobrok..." sahut Gio seperti seorang antipati duduk memangku sepiring nasi dengan lauk sederhana, porsinya itu loh! Mahasiswa teknik apa tukang becak?! Sampe munjung-munjung gitu kaya lagi bikin gunung, padahal harga beras makin mahal.
Tangan Tama terulur ke kaki ibu yang ia bawa ke pangkuan pa hanya, dan memijitnya lembut memakai sedikit tenaga, percayalah! Reaksi yang ditunjukan ibu adalah ekspresi yang bikin putra-putrinya dapat tersenyum lega. Bahagia orangtua memang sederhana.
"Sembarangan!" sahut Tama, "selama mas mu ini yang jadi abdinya, negara aman terkendali..." ujarnya bangga.
Gio berdecih, "mas tuh cuman bidak kecil, kuda ibaratnya...ditendang bidak lain sesuai keinginan penguasa ya mati. Cuma bagian algojo doang abis itu tetep aja raja ratu yang ambil kendali..."
Sejenak Tama terdiam, ucapan Gio cukup menyentil hatinya, namun tanpa keraguan ia hanya bisa berkata sarkas, "bocil tau apa?!"
Perdebatan inilah yang terkadang ia rindukan juga, Gio memang lawan bicara yang kritis.
"Wes..wes, yang lagi makan ya makan saja..nanti keloloden."
Baru saja ibu berucap Gio sudah terbatuk-batuk dan segera menaruh piringnya untuk kemudian berusaha meraih gelas minum.
Tama tertawa renyah melihat si bungsu menderita begitu, coba kalo ia jadi tentara, air udah abis segalon cuma buat ngabisin sepiring nasi sambil diburu waktu, terkadang ia jarang mengunyah makanannya hingga lembut.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Onik Widiastuti
gloloden kangkung ya mas? 😭🤣🤣
2024-11-19
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ●Maldini●⑅⃝ᷟ
my family 🥺🤗
2024-05-04
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ●Maldini●⑅⃝ᷟ
ttp ajj ajakin Zea🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2024-05-04
2