Bagimu negri, jiwa raga kami....
...----------------...
Selepas menemani Prasasti sarapan menuju siangnya, yang ujung-ujungnya ia pun menumpuk lemak jahat karena tergiur makan gorengan, Tama memutuskan berkabar pada gadis cantik pujaan hatinya, takut-takut kalau ia bakalan mode barongsai jika tak berkabar.
Tapi tunggu, apakah perlu ia merengek dan memasang wajah memelas persis dolce maria biar Clemira tidak ngamuk, karena untuk ke sekian kalinya ia harus kembali membuat gadisnya kecewa, yaahhh...meskipun seharusnya sudah resiko Clemira memilih memacarinya yang merupakan seorang prajurit.
Ponsel ditempelkan di pendengaran, setiap detik nada sambungnya merupakan penantian panjang yang mampu membuat Tama seperti sedang menunggu penghakiman.
Apakah setelah ini Clemira akan lelah menunggunya, atau Clemira akan menyerah dengan hubungan keduanya yang selalu sukses membuat gadis itu makan hati dan makan harapan palsu?
Padahal jika dipikir-pikir, mudah untuk Clemira memilih pemuda lain untuk menjadi kekasihnya, tinggal pilih mau modelan kaya apa, anak mamih, anak alay, anak kota, anak tajir menteng, anak tuyul, anak setan, atau bahkan anak rimba lainnya, macam milih jajanan di warung, tak seperti dirinya yang mesti nunggu bedug lebaran untuk menautkan hati pada seseorang.
(...)
Clemira kembali dari arah dapur rumah dinas Saga, seraya menggenggam ponsel dan menghela nafasnya kasar, ia sengaja menerima panggilan Tama di dapur rumah karena menganggap sinyal dan jaringan provider disana lebih kuat, mungkin gelombang elektromagnetik nya mantul lewat pan tat panci dan kawan-kawan. Selain itu, ia juga merasa lebih private saja berada disana.
Lebih baik yang denger cuma wajan dan panci ketimbang mesti di denger Zea si bumil yang sering nyinyir akhir-akhir ini, biarlah ia berteman cicak dan toke yang sepertinya jadi saksi jika Tama tak dapat hadir di acara 7 bulanan Zea sekaligus membatalkan acara ngapel mereka malam ini.
Gadis itu menghempaskan pan tatnya di sofa, masih enggan beranjak ke kamar mandi untuk bersiap kuliah, Clemira justru merebahkan kepalanya di sofa males-malesan, rambut yang semrawut, belek yang masih setia menyatu dengan maskara menjadi pemandangan menjijikan Zea pagi ini, untung saja masa morning sickness nya sudah lewat.
"Lo ngga kuliah?" Zea nyengir risih, pantas saja sejak tadi berasa nyium bau asem ketek gorilla dan napas siluman got di rumahnya padahal ia sudah bersih-bersih, sampai setiap incinya saja ia semprot pake parfum channel, ia kira sedang ada kematian massal kecoa di rumahnya, rupanya adik ipar plus temannya itu enggan bersih-bersih, sebau itu ternyata aroma orang kecewa....
Lihatlah bumil kece yang satu ini, udah siap-siap dari bedug subuh dan wangi semerbak bunga sejak sejam lalu, biar dikata ngalahin bunga melati yang baru mekar di pagi hari, biar saja! Yang penting saat Saga kembali berangkat bertugas, ia tidak meninggalkan kesan istri bau terasi. Katanya sih biar Saga selalu terbayang-bayang wajahnya persis bayangan bon utang, dan ngga mampir di lain hati.
"Mager.." jawabnya singkat.
"Yang hamil tuh gue, tapi yang pemalesan elu. Awas minggir, mau gue bersiin! Ntar siang gue sama abang langsung balik ke rumah umma, jadi disini sepi. Makanya jangan nyisain kotoran sedikit pun, takut entar pas balik, rumah gue jadi sarang semut." Usirnya. Tak tanggung-tanggung, Zea menepuk dan mengusir Clemira dengan sapu persis ngusir lalat sampah.
"Adoohhhh! Punya kakak ipar galak banget, ngalahin gurunya nobita!" aduh Clemira, namun ia hanya menggeser duduknya setengah meter saja dari tempat asal yang sontak membuat Zea melongo dan semakin geram.
"Bener-bener nih anak. Tau minggir ngga sih?!" sengitnya geram, lama-lama bukan hanya ditepuk saja, tapi sapu itu akan ia sumpalkan juga ke mulut Clemira.
Clemira justru tertawa, "terus lo pikir gue maju barusan?" debatnya.
"Wah, nantangin nih....galau bikin lo nambah rese, Cut."
Rumah kediaman Ananta sudah disulap persis keraton Surakarta, tapi tak serta merta membuat hati Clemira berbunga-bunga layaknya taman keraton. Ke-alpaan Tama sedikit banyaknya berpengaruh pada suasana hatinya saat ini.
"Cie, jomblo baru balik!" seru Russel menggodanya yang melintas melewati samping rumah, dimana sarang para bujang berada. Udah persis
"Cie, yang cintanya ditolak guru!" balas Cle, Kalingga tertawa renyah melihat sepupu-sepupunya itu saling samber kaya petir.
"Si jomblo dan si gamon saling lempar serangan !!!" seru Panji duduk di hammock yang dipasang diantara dua pohon mangga tanpa permisi sambil meneguk soda.
"Ralat ya, gue ngga jomblo!" ujar Clemira, diantara para cucu Ananta, mungkin Clemira sering menjadi bulan-bulanan para sepupunya karena ia adalah perempuan satu-satunya.
"Apa namanya kalo bukan jomblo, sering ditinggal nugas tanpa berkabar, kemana-mana seringnya sendiri...hati-hati di tiap daerah penugasan bang Tama punya cadangan..." goda Ryu membuat wajahnya merah padam tak dapat menahan kesal.
"Terserah lo, jomblo ko teriak jomblo!"
Kesal selalu digoda, Clemira memilih pergi dari kawanan alphanya cucu Ananta yang selalu menggoda dirinya, demi kesehatan jiwa dan raganya.
Ia lebih memilih bergabung dengan para emak dan calon emak yang lagi ngumpul ngomongin hari H esok, hingga petang menjelang semuanya semakin sibuk dengan urusan masing-masing termasuk Eyi sang ibu.
Gadis itu berdiri di depan balkon kamar bekas kamar Ma cut di lantai atas. Sengaja ia pilih mengingat di bawah sana begitu riuh karena persiapan acara. Dipandangnya langit malam yang pekat kebiruan, menandakan jika hari ini cukup cerah di siang hari.
Saga yang baru hadir mendapatkan salim takzim dari Zea, "lama amat, abang pulang ke rumah dulu?" tanya Zea menyerahkan segelas air putih untuk Saga minum.
"Engga. Barusan ada acara dulu di kantor," jawabnya diangguki Zea yang kembali melilitkan samping dengan motif batik solo dan memutar melihat dirinya sendiri dari kaca bufet berisi gelas keramik, "ini warnanya ngga ketuaan, mih? Ntar Ze kebawa tua..." tanya nya pada mama Rieke.
Saga menyunggingkan senyuman kecil melihat betapa centilnya istrinya itu, beranjak dari sana ia menyerbu kumpulan bujang di samping rumah tempat dimana biasanya abba Zaki duduk bersama putra-putranya. Kalingga yang asik berkutat dengan laptop, Panji, Russel dan Ryu masih setia berkelana di dalam game online sambil teriak-teriak kaya mo nyet kawin.
Lalu dimana Clemira? Princess satu-satunya di keluarganya? Saga ingat betul semalam adiknya itu begitu gelisah memikirkan Tama, Abi Ray dan hubungan mereka. Saga beredar mengelilingi rumah Ananta mencari dimana Clemira, jika masih tepat feelingnya mengatakan si centil cimoy pasti di depan balkon kamar bekas ma cut, gadis itu memang gemar berada disana.
"Tama, bisa hadir besok?"
Clemira tak langsung menoleh, karena ia sudah tau pasti itu suara abang tertuanya, ia menggelengkan kepala lesu, "mas Tama nugas ke utara perbatasan. Katanya ngawal menteri..."
Saga mengangguk, "abang tau kamu akan jauh lebih paham dibanding siapapun pekerjaan tentara."
Cle menghembuskan nafas kasarnya sebagai jawaban atas pernyataan Saga, "pernah ngga sih Zea ngeluh selalu jadi nomor 2 sama abang?"
"Bagimu negriiii, jiwa ragaaa kamiiii....." Saga justru menggaungkan sebait lagu nasional negri dan berlalu meninggalkan adiknya dengan raut wajah mengernyit, "dihhh, ga jelas!" teriaknya mengehkeh sendiri, lama kelamaan abang dinginnya itu ketularan Zea.
.
.
.
Hentakan senjata laras panjang dengan berat yang cukup membuat pundak pegal mengisi gudang senjata markas komando udara malam ini. Tama menatap langit malam sejenak, menyampaikan puisi rindu untuk Clemira, berharap setiap baitnya sampai.
Derap langkah berat sepatu delta mengisi sunyinya malam disana, netranya meneliti satu persatu perwira yang hadir disana, begitu mengetahui semua lengkap sesuai formasinya, senyumnya tersungging.
"5 menit lagi kita berangkat. Selesaikan persiapan..."
"Opo menteri ora turu, yo? Kunjungan negara wayahe rakyat merem...." oceh Juan terkekeh mencibir, berbisik pada teman-temannya termasuk Tama.
"Lambemu. Ambil sisi positifnya Jhon, siapa tau beliau kepengen tidur nang utan..." balas Prasasti dikekehi Tama. Sejauh ini kecurigaan masih di jalur dapat dimaklumi, dan Tama tak berpikiran negatif akan itu.
Pakaian loreng memeluk dirinya malam itu, ketika serbuan angin malam berkumpul karena putaran baling-baling helikopter.
Kaca jam tangan diketuk-ketuk pertanda sudah waktunya mereka pergi, Tama menarik tali ransel demi mengeratkan barang bawaan di belakang, serta memposisikan senjata tetap on position di tangan.
"*Ring angkasa, ring angkasa!!!! Mengabdi tanpa menghitung untung dan rugi, bertugas sepenuh hati melindungi bumi pertiwi, sampai tarikan nafas terakhir*!"
*Padamu negrii....kami berjanji*,
*Padamu negrii....kami berbakti, Padamu negrii....kami mengabdi, Bagimu negrii...jiwa raga kamii*....
Meski dengan suara yang tak begitu merdu dan terkesan bernada barriton nan datar, seruan dan nyanyian itu mereka gaungkan sebagai sumpah setia untuk negri tercinta.
Gemuruh mesin heli perlahan mulai meninggalkan markas, membawa serta para perwira muda nan berprestasi.
*Ufuk khatulistiwa, kutitipkan separuh hatiku bersama dia yang tersayang*.....
Tama memejamkan matanya menikmati perjalanan singkat menuju daerah penugasan.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ●Maldini●⑅⃝ᷟ
semangat bang tama
2024-05-11
5
Lisa aulia
resiko ditinggal2 klw pacaran ma tentara ya...heh...capek deh...
2024-03-26
3
El aisya
selalu ada perjuangan dulu dong, biar greget😍
2024-03-22
3