Setiap langkahnya adalah penantian, akses bertemu Tama mudah untuk ia lewati kini, apakah ini akan jadi pertemuan terakhir keduanya? Ya Tuhan, jangan sampai!
Dibukanya pintu kayu bernuansa biru langit senada dengan warna bangunan, Clemira hafal setiap seluk beluk gedung bangunan militer, namun tidak sampai disini...lorong panjang yang mengecil dan nampak sedikit sepi dengan suara obrolan dan kehidupan yang mulai terdengar sayup-sayup.
Hatinya mendadak gelisah, kenyataan jika sebuah markas militer memiliki sel tahanan benar adanya, karena ia tak pernah mengira jika ini akan seseram sarang monster gorong-gorong.
Bukan Rayyan yang mengatakan, namun Pram dan Langit yang sering melontarkan ancaman pada Clemira kecil, jika ia nakal maka akan di masukan ke dalam sel tahanan tentara yang banyak badut di dalamnya, Clemira tersenyum miring, "om Pram sama om Langit boong, katanya sel tahanan tentara ada gambar badut jokernya," kekeh Clemira yang waktu itu mau-maunya saja dikibulin oleh kedua om kurang akhlaknya itu.
Tangan putih nan lembut itu mengetuk pintu jeruji besi dimana besi-besi yang berjarak hanya sebesar jendela ventilasi saja, ia tebak...di dalam sana gelap dan pengap, belum apa-apa hatinya mendadak sesak, matanya yang gampang sekali bocor belakangan ini tak dapat menyembunyikan linangan air matanya ketika menatap pergerakan diantara jeruji besi.
Celahnya terbuka kian melebar, yang langsung membuat Clemira menghambur memeluk seseorang bertubuh tegap di baliknya, seolah ia sudah begitu hafal sosok siapa itu.
Gadis itu bergetar menumpahkan segala keresahan pada si pemilik hati. Untung saja Tama sudah makan sebelumnya, jika tidak ia ikut ambruk dibuatnya, "dek." Mulutnya meringis menahan dadha yang masih belum kering lukanya, mungkin saja ia akan mengeluarkan da rah kembali karena ditubruk dan di peluk begitu erat.
Wajah semanis gula kapas itu mendongak demi memastikan jika yang sekarang sedang ia peluk benar Tama-nya. Bibirnya sampai bergetar melengkung mengetahui jika matanya ternyata masih sehat.
"Kamu jahat," dua kata pertama yang Clemira ucapkan untuk dirinya dengan mulut cemberut. Ditatapnya dengan getir wajah yang sepenuhnya menyedihkan itu, luka lebam, tergores dan lecet serta garis wajah kotor karena rambut-rambut halus sudah mulai tumbuh bak rumput liar, "aku orang terakhir yang tau kalo kamu begini." Telunjuk jenjang itu menusuk-nusuk dadha tepat di jantung.
Tangan itu lembut terasa menyentuh garis wajah Tama, dan Tama membiarkan itu, "hampir sepuluh hari ngga ketemu, muka kamu kusut, dekil, udah kaya pengemis di depan RS..." akui Clemira membuat senyuman kecil terlukis di wajah Tama, "moso sih? Ya...jelek dong!"
Plak!
Clemira menggeplak dadha Tama tanpa tau ada apa di balik kaos yang kini tengah dipakainya, namun Tama enggan untuk mengeluh atau sekedar mengadu, menurutnya Clemira tak perlu tau.
Pria itu justru terkekeh geli, senang sekali rasanya melihat tingkah manja nan ketus ini lagi karena ia sangat merindukannya.
Namun sejurus kemudian wajah manyun nan cemberut itu tak dapat lagi menyembunyikan perasaan sedihnya, bibir bawah Clemira tak bisa menahan getaran pilu yang sampai dari hatinya, "kamu ngga pantes diginiin...siang, malem, tiap hari kamu dinas. Sampe lebaran bela-belain ngga pulang kampung, ibu sakit pun ngga lebih penting dari tugas negara, tapi sekarang yang kamu dapet justru dikhianati bangsa sendiri..." lirihnya dengan suara bergetar diantara isakan.
Netranya masih menatap Clemira yang sesekali menunduk mengeluhkan nasib Tama yang sudah seperti si upik abu, beberapa kali pula senyuman jenaka menghiasi wajah yang menurut Clemira dekil itu, entah apa yang lucu menurutnya, padahal rasanya Clemira tidak sedang bercanda.
Keduanya duduk di bawah lantai hanya beralaskan karpet hijau tipis, "maaf cuma ngapelin kamu di atas karpet tipis gini, di dalem sel tahanan pula...anti mainstream ya? Next kita pergi ke bioskop." Alis Tama naik dan turun mengajak Clemira bergurau, namun jelas gadis itu sedang tak ingin bercanda untuk saat ini.
Clemira hanya memandangnya dengan senyuman getir tanpa mau tertawa tergelak, "selama hampir 20 tahun jadi anak prajurit, aku paham betul gimana kerjaan seorang prajurit..." adu Clemira, dan seperti biasa Tama akan pasang kuping lalu memainkan perannya sebagai pendengar yang baik.
"Selama hampir 20 tahun jadi anak prajurit, aku tau resiko pekerjaan abiku..." tangannya masih setia berada di dalam genggaman tangan Tama lalu memainkan telapak-telapak besar Tama yang kasar itu sambil sesekali meneliti apakah itu luka bekas pertempuran?
"Tapi baru sekarang aku tau bentuk cinta sesungguhnya seorang ksatria yudha untuk negrinya, dan itu dari kamu..." kini Clemira benar-benar menunduk lama demi memandangi tangan-tangan yang senantiasa memegang senjata demi melindungi setiap inci teritorialnya.
"Kamu ngga kuliah?" pertanyaan Tama sejak tadi justru melenceng dari topik pembicaraan, ia sungguh tak tau harus bagaimana membalas ucapan Clemira barusan, lagipula ia sudah muak membahas masalah yang tengah di hadapi, sekalinya datang Clemira ia harus kembali membahas tentang kemalangan nasibnya itu, cih! Memuakan. Ia tak mau terlihat rapuh dan bernasib malang di depan sang pujaan hati.
Clemira menggeleng, "aku bolos," kekehnya.
Tama berdecak tanda tak suka, yang mengundang seruan menggerutu dari Clemira, "demi ketemu kamu, tau ngga!" serang Clemira.
"Kalo gitu aku lelaki kurang aj ar. Udah ditolongin bapaknya malah bikin anaknya mbolos kuliah," Tama hampir menjiwir hidung Clemira jika gadis itu tak segera menangkap tangan Tama di udara.
"Iya emang!" Clemira membenarkan seraya tertawa kecil lalu kemudian tawa itu menular pada Tama.
Kini Tama menatap wajah cantik yang tak pernah terlupa walaupun hampir seminggu ia mandangin pan tat mony et di hutan, surai indah yang tergerai itu diperhatikannya hingga alis Tama mengernyit kecil melihat perubahannya.
Sadar dengan apa yang terjadi, Clemira segera mengklarifikasi, "waktu acara Zea aku warnain rambut, biar senada sama warna baju seragaman."
Tama beroh singkat, "bagus. Kaya rambut jagung." Tama tak sangka jika rambut jagung justru jadi trend saat ini.
Plak!
Kembali, tatapan sinis itu mengiringi geplakan keras di bahu Tama dari Clemira, "ngga ada yang lebih bagus lagi selain rambut jagung, gituh? Ngeselin ih! Dasar kuno.." cibir Clemira yang tak serta merta membuat Tama sakit hati, dan justru tertawa.
"Maaf, aku ngga bisa pulang dalam waktu dekat." lirih Tama menghapus jejak geram di wajah Clemira, "aku tungguin," ucapnya serius.
Tatapan Tama kini menyiratkan penyesalan mendalam, "aku takut kamu lelah. Jika kamu sudah bosan---"
Plak!
"Jangan ngomong gitu!!" pelotot gadis itu, "tuh kan. Kamu gitu, aku ngga suka kamu yang suka gitu...kesannya tuh kaya minta---" Clemira tak bisa meneruskan ucapannya yang menurutnya terlalu sakit untuk diucapkan.
Jelas Tama menggeleng, "engga---engga. Hanya aku tak mau lagi memberikan harapan palsu dengan kondisiku yang sekarang..." Mata Clemira telah mengilat menatap Tama seolah siap menikam lelaki itu seandainya Tama meneruskan ucapan unfaedah yang cuma bisa merusak suasana.
Hingga akhirnya Tama menarik nafasnya dan berucap mantap, "kalo gitu tunggu aku sampai semua urusanku selesai, mau kan?"
Clemira kini mengurai senyumannya, dan mengangguk cepat, "semangat. Jangan menyerah, aku yakin kamu bisa...seperti apapun nantinya kamu, aku bakalan nunggu.."
"Di perempatan markomar? Kaya biasa?" tanya Tama berseloroh memancing tawa diantara keduanya.
Waktu begitu cepat berlalu, hingga akhirnya detik terakhir memaksa Clemira untuk segera pamit pada Tama, meskipun hatinya enggan meninggalkan Tama sendiri disana. Maunya dikantongin terus dibawa pulang.
Rayyan melihat anak gadisnya yang telah kembali dari sana, "terimakasih bang, atas bantuannya." Ia kini menjatuhkan kedua tangan yang semula bersidekap lalu menjabat tangan seorang komandan batalyon disana.
Ia terkekeh kecil, "sama-sama, Ray. Tenang saja, kita usut bersama kasus yang mencoreng institusi prajurit negri. Karena saya pun yakin Tama dan Pras hanya sebagian kecil dari sekian banyak kasus penyalahgunaan kekuasaan di negri ini."
Rayyan mengangguk, "lalu kemana dia sekarang? Apakah sudah dijegal?"
Pria dengan kerutan di sudut matanya itu mengangguk, "Yusro sudah mendapatkan surat penjegalan. Ia tak bisa pergi kemanapun."
Kemudian Rayyan mengangguk bangga, "semoga kita bisa menemukan dalangnya, dan menuntaskan kasus ini. Kalau begitu saya pulang dulu, terimakasih atas semua bantuannya."
.
.
"Argghhh! Si alan, kemana mereka dibawa sekarang?!" geram Fasuari ketika surat panggilan dari pihak kepolisian telah ia dapatkan, bahkan sudah menjadi sobekan-sobekan kecil akibat dari kekesalannya. Baru saja ia membereskan harta bendanya untuk bergegas lari kekuar negri, namun pergerakannya terlalu cepat dicegah negara.
"Markas udara, pak. Sesuai angkatan tempat keduanya bernaung." Ringis anak buahnya, sedikit menjauh takut jika terkena amukan sang bos.
"Gob lokkk! Apakah kita bisa menyusup ke sana, dan habisi Tama serta Pras?!" cercanya habis-habisan, kini ia mulai tersudutkan karena nyatanya senjatanya makan tuan.
"Waduh, sedikit sulit sepertinya pak."
"Bagaimanapun caranya, keduanya tak boleh buka suara tentangku! Aku mau habisi keduanya, entah racuni makanan atau oksigen yang mereka hirup, apapun itu mereka harus mati." geram Fasuari mere mass kertas-kertas laporan kerja dan mulai mengamuk tak karuan.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Lalisa
jahat anda
2024-11-10
0
Lalisa
sokooorr
2024-11-10
0
Sari Pratiwi
bahkan setan & iblis pun tidak pernah membunuh.
jadi yang seperti ini di sebut apa?
2024-10-17
0