Bab 11 Gagal dalam bertugas

Tama ambruk saat itu juga di depan Saga. Pandangannya benar-benar mulai buram. Suara tembakan sayup-sayup mulai tak terdengar di telinganya. Tapi kini hatinya tenang, karena beban di pundak telah ia tunaikan. Ada senyuman lega tercetak di mulutnya yang mulai mengeluarkan da rah.

Ia tau Saga sedang berusaha menyadarkannya, namun langit khatulistiwa terlalu indah untuk ia abaikan, setidaknya ia bisa gugur di pangkuan ibu pertiwi.

"Tam, bangun!" Saga berusaha menarik Tama dari sana, pasalnya ia khawatir jika posisi mereka tak tergapai oleh unit bantuan nantinya, mengingat area ini adalah area berbahaya yang mengintai nyawa, karena di dalam tanahnya tertanam sisa sisa granat aktif.

"Arghhhh!" Saga menarik dan mengangkat Tama di punggungnya. Masih dalam perlindungan tembakan Darius dan Bayu, Saga menggendong Tama yang telah tak sadarkan diri ke tempat yang aman.

Ia sempat terhenti ketika lesatan peluru mulai ramai kaya orang rebutan gunungan satu suro, melintasi setiap inci hutan tanpa permisi. Tak terlihat siapa pemiliknya.

Prasasti melihat Saga yang menggendong Tama, namun tak pula menghentikan berondongan tembakannya, "lapor Pratama Adiyudha gugur," lapornya pada Fasuari.

"Hm, kok bisa...pimpinan silahkan kamu ambil alih," jawabnya. Prasasti menelan salivanya sulit, hanya tinggal menunggu sebentar lagi, maka pesan Tama sampai, dan ia bersama rekan yang lain yang terlibat dalam black mission ini akan dianggap penghianat bangsa, apalah dayanya yang seorang pion, bawahan dan algojo. Jika telunjuk atasan sudah bertitah maka pantang baginya untuk menolak. Prestasi yang telah susah payah diraih akan sia-sia karena nila setitik kali ini.

Prasasti mele nguh berat, butuh bertahun-tahun lamanya ia berjuang di kesatuan untuk menunjukan kredibilitas terbaik, namun cukup satu hari saja untuk membuat semua itu pupus.

"Siap, laksanakan."

Prasasti kembali mengarahkan senjatanya ke arah Saga, namun perlawanan datang dari Bayu dan Darius.

Tak ada umpatan yang mereka keluarkan, sejak mengikuti rencana Tama, maka mereka telah menyerahkan sepenuhnya jiwa raga dalam tugas ini.

Kini para personel tentara satu kesatuan ini saling berhadapan dan menembak.

"Shitt, gila! Susah terlihat!" umpat Darius.

Bayu menganalisa, "aku tau itu siapa, Black shadow...lettu Prasasti Dirgantara. Personel unit khusus dari satuan skadron XX."

Sejak tadi Izan dan Aryo melakukan kontak dengan markas, mengirimkan titik koordinat mereka berada.

Ck...ck...

Selongsong peluru milik Bayu dan Darius habis, "njirrrr, abis." Saga terlihat sudah berlindung di bawah kontur jalanan yang menurun.

Maka disaat begini mereka yang harus berpikir cepat, tak ada senjata api pun mereka masih punya keahlian bela diri, apapun akan menjadi senjata selama mereka masih bernafas demi bumi pertiwi.

Darius dan Bayu hanya tinggal bersembunyi dan menunggu musuh menghampiri untuk kemudian mengajak mereka duel.

Saga tau Darius dan Bayu tak memiliki cukup peluru untuk melindunginya, maka yang ia lakukan adalah segera mencari tempat berlindung.

Ia menggeletakan badan Tama di tanah begitu saja, "gue tau lo masih sadar, Tam. Bangun, lo pikir abis ini bisa kabur dari hukuman." Ucap Saga membuka buff dan helm Tama, ia juga membuka rompi serta seragam Tama untuk melakukan pertolongan pertama.

Masih belum sadar juga, Saga menekan kuat-kuat luka tembak itu dan mengikatnya dengan robekan ujung kaos Tama, ia tak mau susah-susah merobek kaosnya, pasalnya emak-emak yang di rumah pasti ngomel dan menjadikan sisa kaosnya sebagai lap kompor nantinya.

Kini Tama mengerang sakit, "arghh."

Saga menyenderkan kepalanya dengan lutut menekuk di samping Tama, menjatuhkan semua lelahnya disana.

Tama mengerjap menatap langit dengan jakun yang naik turun akibat menelan saliva, bukan dirinya yang telah bersimbah da rah yang ia khawatirkan, melainkan keluarganya. Ia bangun dan menggeser duduknya di samping Saga.

"Clemira titip salam buatmu," ucap Saga, setidaknya janjinya sudah ia tunaikan pada sang adik. Tama mengulas senyum miris dan tawa sumbang, "semakin jauh restu pak Rayyan, untukku."

Saga menoleh, sebenarnya keduanya mengobrol disaat tak tepat mengingat disana sedang terjadi perkelahian.

"Jika abi Ray melihatmu sebagai penghianat bangsa, maka seperti itu adanya. Tapi jika abi Ray melihatmu dari sisi prajurit, maka ia akan memberikan applausenya."

Ada dengusan miring yang Tama keluarkan seraya memegang dadha kirinya, bukan area vital namun tetap terasa menyakitkan.

"Lukamu harus tetap ditekan agar tak mengeluarkan da rah, letak lukamu sedikit sulit untuk dibalut."

Tama melihat kaosnya yang sudah koyak menyisakan dadha bidang bersama perut tahu miliknya, ia kembali memakai seragam hitam berbahan drill itu dan rompi anti pelurunya.

"Di depan sana, Manokwari sedang menunggu bantuan. Pesan yang kau sampaikan barusan bisa langsung kau sampaikan pada beliau."

Tama mengangguk, ia meraba intercom di dekat leher namun sepertinya Saga telah mencabut dan membuangnya.

Saga sudah beranjak dan kini ia membantu Tama untuk menghampiri posisi papa Rangga.

"Pasukan khusus bo doh!" umpat Fasuari, "untuk apa aku menyewa mereka dengan harga tinggi!" ia mengacak-acak meja yang terdapat botol minuman dan gelas, "Uta! Kirim bantuan, obrak-abrik hutan dan habisi Rewarangga! Kepalang tanggung gila!"

\*\*\*\*

Baru saja berjalan beberapa langkah, seragam Saga tertarik ke belakang oleh Prasasti membuat Tama ikut ambruk.

Saga sempat terjatuh dan ambruk, Prasasti menodongkan senjatanya ke arah Saga dan menarik pelatuk, namun Tama segera menubruk Prasasti hingga lesatan peluru tak sampai mencium Saga, Saga bangkit lalu menyerang Prasasti. Begitulah kondisi bawahan, memperjuangkan titah dan misi sepenuh jiwa hingga titik da rah penghabisan, sementara yang di atas asik berpesta dan karokean.

Saga melayangkan tinjuan dan pukulan telak di wajah Prasasti, mengamankan senjatanya meskipun tak ia pungkiri, Saga pun kewalahan melawan Prasasti yang notabenenya adalah personel satuan khusus.

Prasasti terkapar meski tak mati, dengan wajah yang telah babak belur, begitupun Saga.

"Dimana Rio?" tanya Tama.

"Gugur, bersama yang lain." Ucap Prasasti menatap langit nyalang. Tama mengangguk paham, setelah sebelumnya ia mendengar ledakan cukup keras tanda ranjau darat yang aktif terinjak.

Sebuah pesawat militer terdengar melintasi hutan, itu artinya bantuan untuk evakuasi papa Rangga sudah datang.

Saga bangkit lalu meludahkan saliva bercampur cairan merah ke tanah, kemudian mengulurkan tangannya pada Prasasti untuk membantunya bangkit setelah sebelumnya saling menghabisi.

Ketiga perwira yang telah hampir bubuk ini berjalan menyusuri hutan.

Papa Rangga menatap menengadah, para personel militer dan aparat seragam coklat menggelar tangga darurat hingga terjuntai ke bawah, mengingat medan yang tidak memungkinkan untuk mereka melakukan pendaratan.

Beberapa prajurit berseragam loreng sepaket senjata dan rompi keselamatan turun bak air terjun, membentuk lingkaran pengamanan untuk papa Rangga, mereka langsung memasang posisi waspada dengan mengacungkan senjata dan siap menarik pelatuk jika melihat pergerakan mencurigakan.

"Pak, ayok cepat!" pinta personel lainnya yang baru saja turun, namun papa Rangga mendahulukan para bawahannya, "Wi, kamu duluan." Ujarnya, sampai-sampai mereka semua menatap tak percaya, disaat pejabat lain akan lebih mementingkan dirinya sendiri, papa Rangga justru mementingkan para bawahannya.

Dengan segera Dewi melangkah naik dibantu seorang prajurit. Riak dedaunan tersapu angin dari baling-baling pesawat menjadi pemandangan lumrah.

Beberapa kali papa Rangga melirik ke sekeliling, khawatir akan Saga yang masih tertinggal.

"Masih banyak tentara disana, termasuk pilot saya!" ucap papa Rangga berteriak pada seorang personel yang membantunya, beradu keras dengan suara mesin pesawat.

"Bapaklah prioritas kami saat ini."

Papa Rangga menggeleng dengan alis menukik, "Tidak! Saya tidak akan pulang tanpa mereka yang telah melindungi saya!" kerasnya.

"Tidak bisa, pak. Mereka tau resiko pekerjaan. Itu sudah menjadi pekerjaan para perwira..." jawabnya menelan saliva sulit, karena memang seperti itulah adanya. Mungkin termasuk dirinya.

"Apa?!" Papa Rangga mendekat dengan wajah keruh dan menatap tajam, "Salah satu dari mereka, adalah menantu saya!!! Anak jendral kamuu!"

Ia menunduk demi mendengar kenyataan, namun apapun alasannya perintah kesatuan tetaplah perintah, mau dia anak jendral, mau dia anak emas, yang namanya prajurit tetap saja.

"Maaf pak, tugas kami adalah membawa bapak ke tempat aman. Masalah prajurit yang mengawal bapak, itu tidak ada dalam surat tugas."

Papa Rangga menggeleng, "gilaa..mereka itu prajurit negri, kalian anggap apa nyawa orang!" teriaknya.

Namun diantara perdebatan mereka tentang nyawa seseorang, dari balik pepohonan ketiga sosok perwira yang berjalan tergopoh-gopoh dengan saling membantu keluar bersama wajah dan tubuh yang sudah tak lagi sama saat ia melihat terakhir kali.

"Saga,"

Tama dan yang lain mengangkat tangan di udara saat menghampiri ring penjagaan lengkap dengan senjata yang siap menghujam tubuh.

"Lapor ndan, tiga perwira dengan senjata tanpa peluru selamat."

Saga langsung melenggang menghampiri papa Rangga, "astagfirullah, Ga."

Ia menghormat pada papa Rangga, "lettu penerbang Sagara melapor kembali."

Namun pandangan papa Rangga jelas bukan pada laporan, namun melihat fisik Sagara, hatinya terasa teriris bukan hanya saat melihat Saga saja, namun pula ketika dua orang lain yang kondisinya lebih parah kini justru berlutut di bawah todongan senjata di belakang Saga.

"Mereka?"

"Lapor, lettu Pratama Adiyudha telah gagal menjalankan black mission bapak menteri Fasuari untuk menghabisi bapak menteri Rewarangga." Jawab Tama, membuat semua ikut tercengang namun tidak dengan Saga.

"Lapor, lettu Prasasti Dirgantara telah gagal menjalankan black mission bapak menteri Fasuari, untuk menghabisi bapak menteri Rewarangga." Prasasti turut serta.

Papa Rangga tak bisa lebih tercengang lagi dengan pengakuan itu. Mereka prajurit kebangaan negri, yang bahkan rela berkorban hingga helaan nafas terakhir, dengan teganya manusia laknaatt itu memperalat mereka.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lalisa

Lalisa

luar biasa mas tama

2024-11-10

1

Susilawati

Susilawati

huaaa kasihan Rio dan yg lain nya nggak selamat.

2024-07-24

3

Cherry🍒

Cherry🍒

dan 1 mati beneran hiks sedih nya jalan cerita Tama sama cimoy

2024-04-23

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 The sweetest feelling
2 Bab 2 Papan Catur
3 Bab 3 Nikmat Tuhan
4 Bab 4 Home sweet home
5 Bab 5 Mencium aroma busuk
6 Bab 6 Bagimu negri, jiwa raga kami
7 Bab 7 Bukan permintaan melainkan perintah
8 Bab 8 Kami mengabdi bukan untuk disewa
9 Bab 9 Fast rope
10 Bab 10 Melindungi negri hingga tarikan nafas terakhir
11 Bab 11 Gagal dalam bertugas
12 Bab 12 Bantuan
13 Bab 13 Dunia tanpa belas kasih
14 Bab 14 Aku pulang
15 Bab 15 Kasih sayang seorang ayah
16 Bab 16 Berjuang bersama
17 Bab 17 Keep Fighting
18 Bab 18 Lika-liku
19 Bab 19 Siasat kecil pihak musuh
20 Bab 20 Mawas Diri
21 Bab 21 Situasi genting
22 Bab 22 Inhale----exhale
23 Bab 23 Keadilan
24 Bab 24 Idola kaum hawa
25 Bab 25 Dimana ada kamu disitu ada aku
26 Bab 26 Mahasiswa versus Aparat part 1
27 Bab 27 Mahasiswa versus aparat part 2
28 Bab 28 Mahasiswa versus aparat part 3
29 Bab 29 Mahasiswa versus aparat part 4
30 Bab 30 Udah gede, ternyata.
31 Bab 31 Lelah?
32 Bab 32 Meet you again
33 Bab 33 Jealousnya Bapak-bapak tentara
34 Bab 34 Hectic!
35 Bab 35 Requires a sincere heart
36 Bab 36 Kondisi sebenarnya
37 Bab 37 Abdi negara, mengabdi untuk sesama
38 Bab 38 Roger, Brown falcon ambil alih!
39 Bab 39 Bubar jalan!!
40 Bab 40 Muara hubungan kita
41 Bab 41 Cinta Ksatria Yudha
42 Bab 42 ~ End
43 Announcement
44 Extra part 1
45 Kisah kasih Gio
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Bab 1 The sweetest feelling
2
Bab 2 Papan Catur
3
Bab 3 Nikmat Tuhan
4
Bab 4 Home sweet home
5
Bab 5 Mencium aroma busuk
6
Bab 6 Bagimu negri, jiwa raga kami
7
Bab 7 Bukan permintaan melainkan perintah
8
Bab 8 Kami mengabdi bukan untuk disewa
9
Bab 9 Fast rope
10
Bab 10 Melindungi negri hingga tarikan nafas terakhir
11
Bab 11 Gagal dalam bertugas
12
Bab 12 Bantuan
13
Bab 13 Dunia tanpa belas kasih
14
Bab 14 Aku pulang
15
Bab 15 Kasih sayang seorang ayah
16
Bab 16 Berjuang bersama
17
Bab 17 Keep Fighting
18
Bab 18 Lika-liku
19
Bab 19 Siasat kecil pihak musuh
20
Bab 20 Mawas Diri
21
Bab 21 Situasi genting
22
Bab 22 Inhale----exhale
23
Bab 23 Keadilan
24
Bab 24 Idola kaum hawa
25
Bab 25 Dimana ada kamu disitu ada aku
26
Bab 26 Mahasiswa versus Aparat part 1
27
Bab 27 Mahasiswa versus aparat part 2
28
Bab 28 Mahasiswa versus aparat part 3
29
Bab 29 Mahasiswa versus aparat part 4
30
Bab 30 Udah gede, ternyata.
31
Bab 31 Lelah?
32
Bab 32 Meet you again
33
Bab 33 Jealousnya Bapak-bapak tentara
34
Bab 34 Hectic!
35
Bab 35 Requires a sincere heart
36
Bab 36 Kondisi sebenarnya
37
Bab 37 Abdi negara, mengabdi untuk sesama
38
Bab 38 Roger, Brown falcon ambil alih!
39
Bab 39 Bubar jalan!!
40
Bab 40 Muara hubungan kita
41
Bab 41 Cinta Ksatria Yudha
42
Bab 42 ~ End
43
Announcement
44
Extra part 1
45
Kisah kasih Gio

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!