Cuup
"Abang pergi dulu," pamit Saga setelah memberikan usapan lembut dan kecupan sayang di perut Zea.
Ada seulas senyuman manis mengantarkan Saga sampai di gawang pintu dari Zea, "hati-hati, titip papaku yang bandel, jangan lirik-lirik pan tat mo nyet betina ya abang!" serunya melambaikan tangan.
Bwahahaha!
Izan sampai meledakan tawanya mendengar pesan teraneh yang ia dengar dari seorang istri prajurit saat suaminya akan pergi bertugas.
"Ga, ga...ampun gue, tepok jidat sama bini lo," ujarnya.
Saga menghormat tepat sesaat setelah kedatangan rombongan menteri Rewarangga, tatapan papa Rangga jatuh dengan ramah pada satu persatu prajurit negri yang telah siap dengan seragam loreng kebangaan mereka, beberapanya menggunakan suit penerbang termasuk Saga.
Pandangannya dan papa Rangga bertemu, namun keduanya saling memandang penuh sorot profesionalisme meski hubungan keduanya mertua-menantu.
"Selamat datang di pangkalan udara, pak menteri. Padahal biar kami saja yang mengawal bapak, bapak tidak usah repot-repot sampai datang kesini...." ucap komandan tak enak hati membuat menteri repot.
Alisnya naik sebelah angkuh, namun sedetik kemudian ia tersenyum usil, "kenapa ngga bilang. Jadi saya ngga usah repot-repot bangun pagi biar bisa datang kesini awal!" ia tertawa membuat komandan resimen ikut tertawa, "bapak bisa saja."
"Siapalah saya yang harus repot-repot dijemput. Putri saya sering ngejek saya sudah tua, hari ini saya mau membuktikan kalau saya masih bugar, dan bisa kesini sendiri, kalau bisa saya mau ke perbatasan sendiri...malu sama besan," liriknya pada Saga yang mengulas senyuman tipis.
Komandan terkekeh seraya mengangguk, "baiklah pak, ini...." tunjuknya pada Saga, " lettu penerbang Sagara, yang akan menjadi pilot bapak bersama unit skadron X yang akan mengawal bapak di perjalanan."
Saga langsung maju dan menghormat, "siap! Letnan satu penerbang Teuku Sagara Ananta, siap bertugas!"
"Terimakasih, laksanakan." Balas papa Rangga.
"Mari pak," seorang pasukan pengamanan papa Rangga mempersilahkan papa Rangga untuk masuk ke dalam pesawat.
Mas
Pesan itu hanya ceklis satu saja menandakan jika Tama memang tengah sibuk di sisi lain bumi sana. Memang jika sedang dinas luar begini, akan sangat sulit untuk Clemira menghubungi Tama.
Ia menatap layar ponsel dengan cemberut, lihatlah bibirnya yang sudah maju dan sejajar dengan bibir bemonya si doel, persis kesengat tawon. Besok-besok pemerintah ngga perlu lagi bikin tanggul buat warga pesisir takut kena banjir rob, cukup pake bibir Clemira yang lagi ngambek saja.
Sani terkekeh saat mulutnya masih asik nyedot sisa sisa jus jeruknya, srroott...srupuuttt....sampai tetes terakhir pun akan ia sedot biar uang yang sudah ia berikan untuk penjualnya ngga mubadzir.
"Pantesan bebek tetangga gue ilang satu, nyangkut disini rupanya!" tawanya duduk di samping Clemira yang kemudian meliriknya sinis.
"Si mas-mas gula aren susah dihubungin ya?" tebaknya tepat, "dah lah lupain aja, cari yang baru..."sarannya sungguh menyesatkan persis jalan buntu.
"Ck. Enaknya ngomongggg," sahut Clemira, dan Sani terkekeh.
"Si mas ganteng lagi dinas ya? Kemana?" tanya Sani.
Clemira menggeleng, baru ia sadari selama ini tak pernah banyak bertanya soal dimana tepatnya letak daerah penugasan Tama, hanya secara garis besar saja, mengingat ia yang paham akan pekerjaan prajurit, "perbatasan, ngawal menteri yang mau kunjungan kerja."
Sani mengangguk-angguk paham, meski ia tak tau perbatasan mananya, "keren."
Yeah, keren....bagi sebagian orang pekerjaan prajurit itu keren, bawa bawa pistol layaknya superhero tanpa tau kesulitan dan medan. Tanpa tau ada hati yang menunggu dengan cemas di rumah.
****
Crattt!
Tama menginjak tanah basah yang terkesan meninggalkan kubangan kecil bekas hujan semalam. Ia lantas berkumpul di satu area demi mendengarkan black mission yang kini tengah ia lakoni.
Ia melirik jam di tangan yang menunjukan pukul 10 pagi, degupan jantungnya semakin kencang mengingat sebentar lagi aksinya dan kawan-kawan akan dimulai. Tak ada yang lebih perih lagi bagi seorang prajurit selain dari penghianatan, bahkan meregang nyawa sekalipun.
Di bawah ancaman dan intimidasi dari pihak Fasuari, Tama dan kawan-kawan bergerak bak bayangan hitam diantara rimbunnya belantara.
Sayup-sayup suara helikopter apache terdengar dari kejauhan. Fasuari telah memberi komando.
"Komando, saya ambil alih....habisi siapapun yang menghalangi kalian menghabisi Rewarangga, saya tunggu kabar baik." Suara yang keluar jelas dari alat komunikasi itu kemudian padam. Perintah sudah turun, Tama menghela nafasnya dan kemudian memberikan perintah pada yang lain.
Apa kamu yakin, Tam. Seperti inikah nasib kita? Rio menatap Tama dari kejauhan setelah mereka membagi posisi.
Tama menunjukan kedua jemarinya ke depan sebagai kode untuk maju, lalu mengepalkan tangan agar setelah itu mereka mengunci posisi masing-masing.
Netra mereka mengawasi bak macan diantara seragam yang telah berubah hitam. Helikopter yang membawa serta rombongan menteri yang sekitar 5 orang dari pihak kementrian itu melintas di atas mereka.
Tama menghela nafasnya dalam-dalam, mengacungkan dan mengeceng dengan mata yang menyipit melalui lensa laras panjang kebangaannya, ia lah.... sniper andalan kesatuan saat ini.
Psyuth!
Dorrr!
Tang!
Suasana damai diantara perbincangan hangat serenyah kue krackers mendadak dikejutkan dengan suara badan heli yang diserang oleh beberapa lesatan peluru. Badan heli sempat oleng membuat para penumpang dilanda keterkejutan.
"Loh," papa Rangga mulai panik.
Saga saling menatap dengan Bayu, dan sempat terdiam. Hingga kembali lesatan peluru sukses memberikan retakan di pintu jendela heli, dorrr!
"Eh, apa ini?" papa Rangga celingukan panik, disaat yang sama Saga bermanuver mengubah haluan arah melajunya heli, sementara personel yang lain bersama anggota kementrian mulai panik dan melindungi kepalanya masing-masing.
"Allahuakbar...."
"Pa, Saga bisa minta papa menunduk?" pinta Saga menoleh ke belakang, ia juga meminta papa Rangga mengeratkan sabuk pengamannya.
"Iya, Ga." angguknya.
Saga menghindari serangan yang semakin sini semakin intens. Tama berlari mengejar seraya tetap memposisikan senapannya ke atas dan memberondong helikopter yang dibawa oleh Saga dengan lesatan peluru.
Baku tembak terjadi antara mereka yang ada di bawah dan atas, Izan membuka sedikit celah dan membalas serangan mereka tak kalah cepat.
"Saya tau itu kamu, Ga. Manuvermu memang sulit untuk ditaklukan," benak Tama bergumam.
Saga tak bisa terus bertahan di udara, mengingat badan heli yang sedikit banyaknya tertembus oleh peluru, ia tak mau ambil resiko mati di udara, apalagi ada papa mertuanya di sana.
Psyuthhh, dorrr!!!
Helikopter mendadak oleng, ketika Saga merasakan jika bagian tangki bahan bakar dan balingnya terkena lesatan peluru.
"Si al!"
"Ga, kenapa?" teriak Bayu.
Saga menggeleng, "siapkan parasut dan rompi anti peluru untuk pak Rewarangga, Zan. Kita semua turun."
"Blue eagle masuk, mayday apache 1 mengalami kerusakan, skadron X akan melakukan fast rope, status Manokwari selamat." Ucap Saga lewat intercom.
Saga meminta Darius mengambil alih dan memberinya pengarahan, sementara ia melompat melewati kursi langsung berhadapan dengan papa Rangga, "ada apa ini, Ga?"
"Papa pakai ini, ikuti arahan Izan. Nanti biar Saga bantu turun di ketinggian tertentu." Pinta Saga dengan sorot mata penuh waspada, papa Rangga yang paham mengangguk, "kita berdua harus selamat, Ga. Cucu papa siap lahir ke bumi 2 bulan lagi," ucapnya diangguki Sagara.
Tama memberikan kode kepalan tangannya di udara demi menahan serangan mereka, memberikan Sagara waktu untuk menurunkan rombongan menteri agar tetap selamat meskipun nantinya akan lecet-lecet.
Ia melepas intercomnya, berupaya menutup komunikasi dengan Fasuari barang beberapa detik saja.
Beberapa kali ia dan Prasasti memberi isyarat tanpa suara, hingga 10 detik kemudian ia kembali memasangnya, "status Rewarangga melakukan pendaratan darurat dengan cara fast rope," lapor Tama.
"Bunuh."
Tama mengangguk dan mendekati heli yang sudah tak tentu arah, bahkan heli itu hampir menabrak perbukitan karena mesin yang sudah malfungsi.
"Astagfirullah! Gula da rah papa langsung turun ini, Ga. Kayanya bener kata Zea, abis ini papa bener-bener mau pensiun aja, mau main catur sama cucu aja," papa Rangga melongokan kepalanya ke bawah dan seketika merasa pusing melihat tak ada tempatnya untuk berpijak dalam jarak dekat, kepeleset dikit pindah alam.
"Pa, ayok! Saga bantu, kita ngga punya waktu banyak!" angguk Saga ketika satu persatu para personel sudah turun bersama rombongan anak buah dari kementrian.
Papa Rangga awalnya menggeleng, "papa ngga mau Ga, masih mau idup! Nanti mama mertua kamu ngga ada yang ngelonin."
Darius sampai mengehkeh mendengar itu, bisa-bisanya disaat seperti ini bapak menteri yang wibawanya tak ada obat itu justru mematahkan image yang telah dibangun di depan umum itu.
"Ga, heli tak bisa bertahan lebih lama," ujar Darius, ia pun sudah bersiap untuk terjun.
"Pa, heli tak akan bertahan lama, ayok turun..."
Saga terpaksa meraih dan menarik paksa ayah mertuanya, abis ini mau dikutuk pun Saga pasrah saja yang penting ia tidak diusir Zea dan disumpahi ibu serta ibu mertuanya, karena seingatnya sumpah serapah para ibu jelas lebih di dengar Tuhan.
"Ga! Allahuakbar!" teriak papa Rangga persis simpanse lahiran. Akhirnya Saga tau, Zea tuh doyan teriak-teriak mengikuti gen papa Rangga.
Sretttthhhh!
Dengan kecepatan tinggi Saga membawa papa mertuanya meluncur melewati sling demi menuruni heli.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
jumirah slavina
ya elah sempat²y...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-12-31
2
Lalisa
saravvv nih bumil🤣🤣🤣🤣
2024-11-10
1
ayunia
dari awal baca udah berat konfliknya
2024-09-10
1