Bab 7 Bukan permintaan melainkan perintah

Musik jawa begitu kental mengisi kediaman Ananta yang biasanya bernuansa serambi mekkah.

Mungkin kali ini umma Salwa ingin sesuatu yang berbeda, jujur saja...sebenarnya ia belum siap untuk mengusung tema adat tanah kelahiran sang suami yang telah berpulang beberapa bulan lalu itu, rasanya separuh jiwanya ikut dibawa ke dalam liang lahat bersama dengan wafatnya sang pejuang keluarga.

Bahkan hingga detik ini, ia merasa jika sang suami masih berada di sampingnya, menggenggam tangannya dan menatapnya mesra.

Disaat acara keluarga beginilah moment yang paling ia rindukan, Zaki yang paling getol mengingatkannya waktu makan dan ibadah karena dirinya yang selalu paling sibuk mengurus keperluan keluarga.

Fath sebagai lelaki tertua di keluarga menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini, "abi sudah tenang disana, mi. Abi juga pasti ikut senang melihat acara ini....Saga dan Zea, mau umi ada disana membersamai kita," bujuk Fath diangguki Salwa dalam derai air mata, "umi cuman---" ia tak mampu lagi berkata demi mendeskripsikan arti kehilangan.

"Fath tau, umi rindu..." peluknya meraih sang ibu.

.

.

Zea nampak cantik dan....bulat dalam balutan jarik coklat tua sepaket ronce melati yang terurai menghiasi surai indah di kepalanya, ia nampak cerah dan berseri dalam keadaan hamil besar begini, meskipun Russel bilang ia lebih mirip personel badut mampang, memang adik sepupunya itu mesti ditumbuk bareng bahan rujak.

Saga pun senantiasa menemani Zea dalam setiap tahap prosesi siraman 7 bulanan Zea.

Disaat semua bergembira, termasuk umma yang sesekali ikut tersenyum diantara apitan anak-mantunya, si cantik Clemira tak begitu lepas tertawa seperti yang lain, meskipun tak ia pungkiri ia pun ikut terhanyut dalam acara.

Beberapa kali ia melirik ponsel dimana harapannya tergantung besar jika Tama akan menghubunginya, "mas Tama udah sampe daerah penugasan, ya? Tumben ngga berkabar." Gumam Clemira.

"Hayook, ngapain disini sendirian. Mau jagain stand siomay?" goda ma cut Zahra.

"Ma cut," ia mengehkeh garing, "iya. Takut Russel ngambil semua siomay buat tamu!" selorohnya menjawab, memancing tawa kecil Zahra, wanita yang sejatinya seorang nurse ini nampak awet muda dan awet cantik persis umma walaupun harus dipusingkan oleh kedua putra badungnya yang bikin ibu manapun rasanya ingin tukar tambah anak saja.

"Gimana kuliah, pak Bowo masih ada, kan?" tanyanya sedikit mengulas kampus, sedikitnya membuat Clemira teralihkan dari kegelisahannya.

"Ada, masih ngajar persepsi sensori." Jawabnya.

"Masih suka genit sama mahasiswi cantik, ngga?" kekeh Zahra lalu tertawa renyah, "iya ih! Temen aku, kasian ma cut----" serunya terpancing untuk bercerita, dan akhirnya sedikit melupakan masalahnya saat ini.

////////

Tak ada yang mencurigakan sampai di titik ini, helikopter berhenti di pangkalan udara, menurunkan semua prajurit dan membiarkan mereka mengisi ruang masing-masing untuk sekedar bersitirahat sebelum bertugas.

Tama mendudukan pan tatnya di atas velbed, begitupun yang lain, sekedar merebahkan badan dan menaruh ransel besar di bawah kaki velbed.

"Merem ayam sebentar, biar nanti bisa melek waktu bertugas!" seru Rio yang seketika langsung memejamkan matanya dengan menutup kedua mata dengan lengan. Dengkuran halus menandakan jika ia sudah menyusuri lorong waktu menuju dunia mimpi. Secepat itu ia dapat terlelap.

Hanya 10 menit, bahkan cacing di perut aja belum sempet rebahan. Oli mesin heli aja belum turun dan ngendap, tapi para serdadu negri ini harus sudah kembali bersiap untuk melakukan breafing misi.

Yahhh, beginilah kerja bawahan dan pion, meskipun begitu mereka tetap bangga, selama keluarga dan rakyat negri dapat tidur dengan nyenyak tanpa takut negri akan kacau karena perang, mereka sedia mengorbankan segalanya.

Sesekali Tama mengangguk dan menukikan alisnya kritis tanda paham dengan penjelasan komandan. Pengawalan ya ngga jauh-jauh dari lindungin tokoh pejabat biar bisa blusukan dengan aman dan nyaman, seperti itu pikirnya.

"Ini jalur yang akan dilewati Rusa 1, sterilkan....nanti singgah di point 4 untuk sekedar solat dzuhur."

"Siap, mengerti!!" teriak mereka.

"Silahkan bersih-bersih terlebih dahulu, lalu kembali dalam waktu 10 menit."

"Siap, laksanakan!"

Mulai dari pangkalan mereka digiring menuju tengah kota, tak ada yang mencurigakan pada awalnya. Prasasti bahkan sempat bertegur sapa dengan beberapa anak kecil yang tinggal di perbatasan.

Suasana di dalam begitu kontras dengan di luar, jika di dalam menteri tengah berbincang dengan para orangtua, maka di luar....

"Sini, om punya permen..." bujuknya merayu si anak agar mau mendekat, sementara di dalam sana menteri Fasuari sedang melakukan *penyuluhan*.

"Jangan mau, muka dia seram." Cibir Juan tertawa yang dibalas tawa Rio pula termasuk Tama.

"Si alan." desis Prasasti.

"Nih, kalo mau sama om ganteng satu ini, kalem-kalem tau-tau dikawinin..." ocehnya berbisik menepuk pundak Tama.

"Lebih si alan lagi," tawa Rio kembali meledak. Tama menggeleng, "dikawinin dipikir anak domba," balas Tama.

Meskipun ragu, si anak akhirnya mendekat dan meraup beberapa bungkus permen dari tangan Prasasti dan berlari menjauh secepat kilat, setelah sebelumnya menatap dirinya lama penuh meneliti. Gadis kecil kriwil dengan kulit coklat eksotis itu tinggal di perbatasan yang tidak terja mah kota. Tama sudah sering menemukan hal begini dan berinteraksi dengan orang-orang pedala man.

"Jhon, apa ini bukan bentuk kampanye..." bisik Rio bertanya pada Tama, pria itu menggeleng, "entah."

"Yaaahhh, mau kampanye mau engga, suruhan mah manut ae, Jhon..." ucap Juan, "perintah turun dari atas, yo laksanaken."

Hingga hampir dzuhur mereka berada disana mengawal seorang menteri melakukan sosialisasi dan blusukan politiknya, mendengarkan keluh kesah sampai kini mobil yang membawa mereka mengarah menuju satu rumah dimana letaknya sedikit jauh dari pemukiman.

Tunggu...

Padang rumput gersang, jauh melewati patok desa terluar, dan berada di bibir tebing, apakah ini rumah yang memang disediakan untuk pejabat negri, pemandangan yang langsung jatuh ke laut lepas memang cukup memanjakan mata, namun membuat Tama dan yang lain mulai menaruh curiga, ya kali menteri mau istirahat di bibir tebing begini, mana lumayan panas karena letak rumah yang benar-benar berada di bawah langit siang yang menyengat. Bisa-bisa balik nanti jadi sate.

Padahal dalam breafing sebelumnya, menteri ini akan beristirahat di sebuah hotel pertengahan kota, bukan rumah bibir tebing.

"Apa jalannya tidak salah?" tanya Tama mengetuk-ngetuk mobil 4×4 yang ditumpangi, namun supir di depan tetap melaju, "tidak let, sesuai perintah...saya harus membawa armada kesini."

Jalan mulai terasa bergelombang dan membuat tak nyaman karena kontur jalanannya. Tama dan Prasasti saling pandang melempar sorot mata satu paham, tangan Tama mulai merambah pada pelatuk senjata demi bersiaga.

Roda mobil berhenti berputar, tepat di depan rumah bersama mobil menteri Fasuari di depan, menteri itu nampak tak asing dan justru melengos masuk dengan santainya seperti memang benar ini tujuan akhirnya.

"Aneh," gumam Prasasti, para perwira itu masih mencerna dengan apa yang terjadi seraya mengikuti apa yang dilakukan. Mereka turun dari mobil melakukan pekerjaan mereka meski semuanya terasa aneh saat ini, *tak ada dalam breafing tadi*.

Baru saja Tama dan kawan-kawan memasuki ruang tamu rumah bergaya jadul itu yang sedikit kotor, mungkin karena tak ada yang tinggal disini selain dari orang yang memang selalu menjaganya.

"Angkat tangan!!!"

Dengan refleks Tama dan kawan-kawan mengacungkan senjata ke depan, meski dalam kebingungan dan keterkejutan.

"Taruh senjata di bawah kaki!! SEKARANG!"

Para perwira ini mendapatkan kepungan todongan senjata dari sekelilingnya, "pak menteri," lirih Tama bermaksud untuk melindungi dari orang-orang bersenjata yang wajahnya tertutup masker buff. Tidak dengan seragam atau pakaian hitam, melainkan baju kaos beragam.

Namun alisnya mengernyit saat akan maju mendekati menteri Fasuari, menteri itu tak sedikit pun takut pada mereka, yang sepertinya memang tak mengarahkan moncong senjata pada menteri itu.

"Berhenti di tempat!!" ancamnya pada Tama.

Prasasti masih dalam posisi siap membidik, "siapa kalian, apa maksudnya ini?"

"Saya mau kalian teken kontrak dengan saya. Ini bukan permintaan melainkan perintah..." ucapnya, bukan salah satu dari mereka melainkan menteri Fasuari yang baru saja ingin membuka kancing-kancing kemejanya dengan santai.

Alis para perwira ini semakin mengernyit menatap bapak menteri yang mereka lindungi, yang justru sebenarnya menjebak mereka.

"Apa maksud bapak?" tanya Tama dengan gemuruh hati yang sudah bergejolak, netranya masih memandang satu persatu deretan orang di sekelilingnya yang menodong mereka dengan senjata, salah melangkah dan bersikap puluhan timah panas akan langsung bersarang di sekujur badan.

Ia menyunggingkan senyuman smirk dan mendengus sumbang, tangannya meraih lembaran kertas dari orang di belakangnya dan melempar itu ke depan para perwira.

"Menteri Yanuar, saat ini ia adalah orang berpengaruh di kabinet, dan sedang berada di atas awan karena keputusannya yang menentang perusahaan luar untuk menguasai nusantara. Ia adalah kandidat untuk menggantikan ketua dewan di atas sana...."

Selanjutnya ia melempar kembali lembaran kertas berikutnya, "menteri Rewarangga....kembali dianggap menjadi superhero, atas kinerjanya mengusut tuntas human traffic king dan hak asasi, ia juga berpotensi besar untuk duduk menggantikan ketua parlemen di atas sana...."

"Kursi ketua hanya satu, dan tidak mungkin diduduki oleh tiga manusia sekaligus, semakin sedikit saingan, semakin besar peluang, maka saya harus memaksa mereka gugur. Dengan kata lain, habisi mereka..." demi apapun, kalimat terakhir membuat para perwira itu tersentak.

"Bukan permintaan, atau pilihan...melainkan ini perintah...."

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Danny Muliawati

Danny Muliawati

wah wah di jebak ini gmn ini JD deg deg an

2025-02-04

0

Yeppo🦌

Yeppo🦌

aaah sediiiih 😭😭😭

2024-09-21

1

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Novel mimin Sin semua alurnya serasa alam nyata,Bukan sekadar halu nya novel,Para riders bisa merasakan seakan berada dlm posisi peran masing-masing di setiap novel,Aku salut sama mbak Sin yg pinter banget bikin alur novel yg begitu dekat dengan hati para riders..Dari novel pertama sampai novel yg terakhir ya mbak Sin semua habis ku baca,gak ada yg ketinggalan,Outhor favorite ku no one..

2024-08-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 The sweetest feelling
2 Bab 2 Papan Catur
3 Bab 3 Nikmat Tuhan
4 Bab 4 Home sweet home
5 Bab 5 Mencium aroma busuk
6 Bab 6 Bagimu negri, jiwa raga kami
7 Bab 7 Bukan permintaan melainkan perintah
8 Bab 8 Kami mengabdi bukan untuk disewa
9 Bab 9 Fast rope
10 Bab 10 Melindungi negri hingga tarikan nafas terakhir
11 Bab 11 Gagal dalam bertugas
12 Bab 12 Bantuan
13 Bab 13 Dunia tanpa belas kasih
14 Bab 14 Aku pulang
15 Bab 15 Kasih sayang seorang ayah
16 Bab 16 Berjuang bersama
17 Bab 17 Keep Fighting
18 Bab 18 Lika-liku
19 Bab 19 Siasat kecil pihak musuh
20 Bab 20 Mawas Diri
21 Bab 21 Situasi genting
22 Bab 22 Inhale----exhale
23 Bab 23 Keadilan
24 Bab 24 Idola kaum hawa
25 Bab 25 Dimana ada kamu disitu ada aku
26 Bab 26 Mahasiswa versus Aparat part 1
27 Bab 27 Mahasiswa versus aparat part 2
28 Bab 28 Mahasiswa versus aparat part 3
29 Bab 29 Mahasiswa versus aparat part 4
30 Bab 30 Udah gede, ternyata.
31 Bab 31 Lelah?
32 Bab 32 Meet you again
33 Bab 33 Jealousnya Bapak-bapak tentara
34 Bab 34 Hectic!
35 Bab 35 Requires a sincere heart
36 Bab 36 Kondisi sebenarnya
37 Bab 37 Abdi negara, mengabdi untuk sesama
38 Bab 38 Roger, Brown falcon ambil alih!
39 Bab 39 Bubar jalan!!
40 Bab 40 Muara hubungan kita
41 Bab 41 Cinta Ksatria Yudha
42 Bab 42 ~ End
43 Announcement
44 Extra part 1
45 Kisah kasih Gio
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Bab 1 The sweetest feelling
2
Bab 2 Papan Catur
3
Bab 3 Nikmat Tuhan
4
Bab 4 Home sweet home
5
Bab 5 Mencium aroma busuk
6
Bab 6 Bagimu negri, jiwa raga kami
7
Bab 7 Bukan permintaan melainkan perintah
8
Bab 8 Kami mengabdi bukan untuk disewa
9
Bab 9 Fast rope
10
Bab 10 Melindungi negri hingga tarikan nafas terakhir
11
Bab 11 Gagal dalam bertugas
12
Bab 12 Bantuan
13
Bab 13 Dunia tanpa belas kasih
14
Bab 14 Aku pulang
15
Bab 15 Kasih sayang seorang ayah
16
Bab 16 Berjuang bersama
17
Bab 17 Keep Fighting
18
Bab 18 Lika-liku
19
Bab 19 Siasat kecil pihak musuh
20
Bab 20 Mawas Diri
21
Bab 21 Situasi genting
22
Bab 22 Inhale----exhale
23
Bab 23 Keadilan
24
Bab 24 Idola kaum hawa
25
Bab 25 Dimana ada kamu disitu ada aku
26
Bab 26 Mahasiswa versus Aparat part 1
27
Bab 27 Mahasiswa versus aparat part 2
28
Bab 28 Mahasiswa versus aparat part 3
29
Bab 29 Mahasiswa versus aparat part 4
30
Bab 30 Udah gede, ternyata.
31
Bab 31 Lelah?
32
Bab 32 Meet you again
33
Bab 33 Jealousnya Bapak-bapak tentara
34
Bab 34 Hectic!
35
Bab 35 Requires a sincere heart
36
Bab 36 Kondisi sebenarnya
37
Bab 37 Abdi negara, mengabdi untuk sesama
38
Bab 38 Roger, Brown falcon ambil alih!
39
Bab 39 Bubar jalan!!
40
Bab 40 Muara hubungan kita
41
Bab 41 Cinta Ksatria Yudha
42
Bab 42 ~ End
43
Announcement
44
Extra part 1
45
Kisah kasih Gio

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!