Clemira begitu seksama memperhatikan berita yang kini sedang tayang di televisi, lebih seksama dari ngerjain soal ujian. Jarang sekali ia menonton acara berita nasional jika bukan karena sedang mengerjakan tugas sekolah.
Dimana jelas-jelas si pembawa berita perempuan yang make up nya lebih tebel dari kulit badak itu mengatakan jika beberapa oknum perwira kesatuan militer negri berniat menghabisi menteri Rewarangga, saat menteri hak asasi itu sedang melakukan kunjungan kerja di perbatasan, atas perintah seorang menteri lain.
Hatinya sudah berdegup kencang persis suara sound hajatan. Firasatnya mengatakan jika Tama terlibat dengan kasus ini.
"Wah, kurang aj ar. Makin buruk citra kesatuan negri di mata masyarakat. Perwira mana yang pengen gue patahin tulangnya?" dengus Pramudya meninju sandaran sofa saking kesalnya, jika setelah ini saat dirinya keluar markas komando ini diteriakin kaya copet atau diperhatiin berlebihan layaknya orang gila, maka akan ia cari oknum itu dan ia ajak bermain di kerak neraka.
"Tawaran menggiurkan kali om," sahut Panji menggidikan bahunya.
"Pengen cepet kaya..." angguk Langit, "tapi abimu prajurit jujur, toh kaya juga..."
Panji tak bisa untuk tak mempause gamenya, "abi udah kaya dari zigot kaleee, om."
"Ck! Ngga bener," Langit menggelengkan kepalanya ketika melihat kembali ke layar tv, "ancurrrr minahhh!" bogemnya lagi di kepala sofa, tanpa keduanya tau jika orang yang ingin mereka habisi itu adalah Tama.
Eyi menatap sengit kedua kawan suaminya itu, "ngambek sih ngambek, itu sofa harganya jutaan...mampu ganti ngga, kalo ntar rusak gara-gara ditonjokin?" sinisnya. Bahu Panji bergerak naik turun terkekeh melihat kedua omnya itu dimarahi sang mama. Pramudya mengusap-usap sandaran kursi kaya lagi ngelusin istri seraya nyengir. Begitupun Langit, emang dari dulu bini sohibnya ini terkenal killer persis pelatih taruna akmil.
Wajah Clemira mendadak suram kaya masa depannya jika Tama benar-benar tak kembali, ia segera beranjak ke kamar demi mencari ponselnya, "kemana lu?" tanya Panji santai, "ke surga!" jawabnya ngasal.
Clemira tak peduli dengan apa yang diobrolkan para penghuni ruang tengah sekarang, sekalipun mereka ingin mengutuk oknum perwira itu hingga isian perutnya, yang jelas sekarang ia terbayang-bayang dengan petunjuk Eyi bahwa ayahnya sedang terbang ke Ma lang, belum lagi Tama yang sulit untuk ia hubungi serta tayangan televisi barusan yang sedikitnya memberikan petunjuk bahwa para pelaku itu mengarah pada Tama serta unit.
Bukan Tama yang ia hubungi sekarang, namun Zea.
Drrttt----
Drttttt....
".....wahai ayahku! Sungguh aku melihat (bermimpi)...." mata Zea sempat memicing ke arah ponsel tergelatak, namun kemudian ia kembali fokus pada ayat-ayat yang tengah dibacanya.
"Sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat : semuanya bersujud pada----" Zea menggantungkan kembali ucapannya di udara persis jemuran. Emang ada aja gangguannya kalo manusia disuruh khusuk ibadah.
Drttttt....
"Ck." Zea berdecak diantara kekhusyuannya dan mengalihkan pandangan dari Al-qur'an ke atas ranjang, dimana ponselnya sudah bergetar sejak tadi kaya minta dipaku di tembok, "siapa, sih?! Ngga tau gue lagi sibuk gituh?! Fix kalo gue tau orangnya, nih orang gue kirim granat segudang." Ia beranjak menarik ujung mukena lalu bangun perlahan dan meraih ponsel, alisnya mengernyit malas, lalu sinis ngegas, "ngapain sih nih anak, ngga pagi, ngga siang, ngga malem....hallo!" ketus Zea.
"Ze, abang udah balik?"
(..)
Zea bergegas ke ruang depan, sempat beberapa kali sikunya membentur tembok dan gawang pintu kamar karena posturnya yang membengkak persis adonan donat, pintu segede gawang lapangan sepakbola aja berasa kaya lubang semut, namun demi mengetahui kabar berita terkini, ia langsung menyambar remote tv.
Tayangan di televisi masih berputar menayangkan berita yang kini sedang trending, "papi?!" Zea masih mencengkram kuat ponsel di tangan, bahkan tak sempat menaruh kitab dan masih mendekapnya di tangan kanan sambil jalan ngang kang persis manten sunat karena panjangnya mukena. Ia besarkan volume tv sebesar speaker adzan di masjid, biar lebih jelas dengernya. Ngga ada adegan yang bikin ia mendadak budeg, karena saking terkejutnya.
Zea mende sah lega, karena papa Rangga dalam kondisi selamat serta baik-baik saja, namun ia pun juga khawatir dengan kondisi Sagara. Untunglah suaminya itu ada menghubunginya dan menceritakan kejadiannya setelah itu.
"Cle, harus tau bang. Dia nelfonin Zea terus suruh nanya ke abang...."
Matanya tak bisa untuk tak berkaca-kaca, bukan mau minta makan atau karena ngga dikasih uang jajan setaun, melainkan tak habis pikir dengan jalan pikiran Tama bisa sampai melakukan itu. Zea tetap memberitahu Clemira masalah ini, meskipun Saga telah melarangnya, perasaannya sebagai seorang sahabat terlalu deras disana, dan ia yakin Clemira adalah gadis dengan pemikiran bijak tak seperti dirinya dulu.
"Maafin Tama, Ze.." lirih Cle. Keduanya kini duduk di sebuah gerai kopi, dimana tempat favorit mereka nongkrong sejak SMA.
"Gue udah curiga dari awal Ze, waktu Tama susah dihubungi, waktu umi bilang abi ke Ma lang..."
"Buat apa?" gumamnya tak terlalu jelas, karena mulut Zea yang dipenuhi chocolate cake, lihatlah bumil satu ini, laki nun jauh disana mempertaruhkan nyawa, dia enak-enakan jajan kue. Mana menu yanh dipesannya berantakan menuhin satu meja. Katanya sih, makanan manis baik untuk memperbaiki mood, biar ngga stress.
Clemira menggeleng, ia rasa ada hubungannya dengan keluarga Tama, entah untuk memberikan kesaksian atau panggilan hukum dan semacamnya, ia tak mengerti mengingat jurusan kuliah yang ia ambil bukan hukum.
"Terus sekarang lo mau gimana?" tanya Zea, "apa yang lo pikirin, Cle?" ia kemudian mengambil gelas berembun berisi ice cream coffee dan kini melahap itu.
Sementara Clemira cukup hanya meminum minuman berbahan ocha, yang menurutnya bisa membuat relax. Jauh sekali di dalam otak pintarnya, ia ingin menyusul ke tempat Tama, namun sepertinya akan sulit, lagipula untuk saat ini Tama pasti begitu sulit ditemui dan dalam pengawasan.
Zea ikut merenung, orang lain yang punya masalah ia yang ikutan resah, ia jadi mengingat kejadian dulu saat ia justru ragu pada Saga, "apa lo juga ngerasain apa yang gue rasain dulu, Cle? Keraguan?" tanya Zea hati-hati, seraya tangannya mendorong piring kecil yang sudah habis isinya.
Clemira kini berwajah da tar, ciri khas lelaki Ananta, mungkin setidaknya gen itu menempel pula di diri si princess Ananta itu, karena Zea merasa melihat wajah Saga juga disana, ini yang bikin betah bareng Cle kalo Saga tak ada di sampingnya wajah Clemira yang sedikitnya satu raut dengan Sagara.
"Apapun alasannya yang dilakukan Tama itu tidak bisa dibenarkan...." ucap Clemira.
.
.
"Tapi gue yakin Tama ngga kaya gitu, karena abang bilang ada hal yang janggal yang mesti diberesin," jelas Zea dengan wajah meringis khawatir melihat wajah Clemira. Mukanya tuh udah tercium aroma tak sedap, persis kalo Saga hendak marah.
Clemira menatap Zea serius namun sedetik kemudian ia justru menunduk menangis, "gue ngerti, gue juga tau. Dan mungkin, kalo gue ada di posisi Tama, gue pun akan melakukan hal yang sama....huwakkkk! Kasian cowok gue, Ze!" meledaklah tangisnya memancing orang-orang sekitar melihat mereka terkejut, membuat Zea seketika dilanda rasa malu, "kamvreet, gue kira lo bakal mutusin Tama, bilang Tama pengkhianat. Sutthhh ih! Malu-maluin tau ngga!" geram Zea justru malah semakin membentak Clemira, mungkin setelah ini orang-orang akan menganggap Zea yang sudah membuat Clemira menangis.
"Balik...balik! Lo tuh ngga pantes galau tau ngga," gusur Zea.
"Cowok gue disana Ze, anu itu apa---huwakkkk, udah makan belum, kalo nanti dia di anu sama anu...."
"Njirrr banget ihhh!" dumel Zea benar-benar menggusur Clemira keluar dari gerai karena percaya atau tidak mereka kini sudah menjadi perhatian semua orang.
"Dalam tempo 10 tahun, sampe nunggu orang-orang yang ada disini nenek-kakek pikun terhitung sejak hari ini... gue ogah, lu ajak kesini lagi, malu tau ngga!" omel Zea.
.
.
"Lapor! Lettu Pratama Adiyudha dan Lettu Prasasti Dirgantara siap dipindahkan ke ibukota," hormat seorang prajurit.
Rayyan tidak memakai seragam kesatuannya disana, dan bukan dalam konteks pekerjaan. Karena sejatinya baik antara ia dan Tama ataupun ia dan Saga berbeda angkatan, tak bisa segegabah itu ia mencampuri urusan berbeda jalur.
Tama dan Prasasti digiring bak pesakitan dalam pengawalan ketat prajurit berseragam loreng dan hitam brigade mobile bersenjata lengkap layaknya buronan kelas kakap.
Papa Rewarangga segera mengangkat kasus ini ke meja hijau dan mengajukan perlindungan untuk Tama dan Pras.
Deru mesin pesawat terdengar begitu memekakan telinga, membuat sekujur tubuh merinding, ditatapnya Rayyan yang berada di pinggiran landasan pacu diantara deretan petinggi bersama papa Rangga, lalu ia mengangguk sopan.
"Hukuman apa yang nanti didapat oleh keduanya, pak Ray?" tanya papa Rewarangga.
Rayyan menatapnya nyalang, "hukuman bui, bisa saja sampai seumur hidup. Selain itu kesatuan juga mungkin akan memecat keduanya secara tidak hormat." jawab Rayyan.
Papa Rewarangga menggeleng, "selama saya masih bernafas, akan saya perjuangkan hak keduanya." Jawab papa Rangga diangguki Rayyan, "terimakasih."
"Siap bertarung di meja hijau?" tanya Rayyan mendekat ke arah Tama sebelum ia benar-benar masuk ke dalam pesawat.
"Saya yakin Allah bersama saya," jawab Tama. Rayyan menyunggingkan senyumnya, "ada yang harus kamu temui dulu di ibukota sebelum itu, saya malas kalo setiap hari melihat wajah murung Clemira."
Tama mengangguk, dalam hatinya kini menjalar rasa hangat mengingat Clemira, meski ia tak tau ke depannya bagaimana reaksi gadisnya itu mengetahui kenyataan jika dirinya adalah seorang pengkhianat bangsa.
"*Cle, aku pulang*..."
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Lalisa
🤣🤣🤣
2024-11-10
2
Lalisa
sepemikiran sama zea🤦🤦
2024-11-10
0
Endah Setyati
Pengkhianat orang yang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan arahan atau perintah awal,, Tama dan Pras sudah melakukan tugas mengawal menteri sesuai perintah awal, dia bukan pengkhianat ,, tindakan selanjutnya yg mereka lakukan karena di bawah ancaman, bukan dilakukan demi keuntungan atau mendapat imbalan,, tapi semata melindungi nyawa,, bukan nyawa mereka tapi nyawa nyawa orang terkasih,, ingat bukan satu nyawa tapi banyak nyawa,, 💪💪💪💪Tama dan Pras
2024-08-06
1