...Anugrah Tuhan yang aku syukuri...
...Pratama Adiyudha...
...****************...
Krikk...kriikkk....
Hanya suara jeritan kalbu saja mungkin yang terdengar diantara keduanya, bersamaan dengan kucuran air terjun mini buatan di sudut kanan taman rumah kediaman Rayyan.
Netra Tama asik memandang dedaunan pohon jambu air citra yang tertiup angin sepoi-sepoi sore hari, dimana daunnya nampak segar sepertinya baru di siram. Jika harus iri, maka Tama akan iri pada dedaunan yang nampak segar dan berseri itu, tak seperti dirinya saat ini yang tengah layu nan bermuram.
Sementara Rayyan, lebih banyak bergelut dengan suasana hati yang berkecambuk di dalam sana.
Ia ingat pembicaraannya dengan Al Fath minggu lepas, saat abangnya itu melihat kegelisahan Rayyan akan Clemira.
Sungguh menurut Rayyan, ia dan Tama tidak cocok, ia sebut Tama lebih cocok dengan abangnya itu yang ngga asik! Kenapa Al Fath tidak punya anak perempuan saja, biar abangnya itu bisa merasakan bagaimana putrinya didekati perwira pendiam seperti dirinya.
Begitu banyak alasan tak logis yang Rayyan sebutkan demi terlihat benar dalam hal menolak Tama, salah satunya adalah ketakutan jika Tama adalah prajurit yang banyak tugas di luar, bagaimana nasib putri kesayangannya kalo ditinggal-tinggal mirip ibu khong guan.
Ia juga sudah bersuudzon ria kalau Tama akan memiliki banyak selingkuhan di luar sana dan menghianati Clemira. Pokoknya, menurut Ray, Tama tak bisa membahagiakan Clemira.
"Percuma abi Fath, nasihat orang waras ngga akan masuk di pikiran orang galau. Abi takut karmanya berlaku sama kak cimoy..." kekeh Panji yang langsung dilempari bantal sofa oleh abinya itu saat mereka tengah berkumpul di kediaman Ananta di acara pengajian 100 hari wafatnya abba Zaki.
Tama masih memasang wajah ramah, meski urat wajahnya sudah benar-benar pegal, sepulang dari sini mungkin ia harus melakukan akupuntur biar saraf-saraf wajahnya tidak putus. Ia tak terlalu datar seperti Saga, juga tak dingin macam Al Fath, namun pula tak se-slengean Rayyan.
Lelaki ini tak pandai merayu, apalagi merayu perwira yang lagi cosplay jadi singa begini. Semua kosakata mendadak hilang dari otak, jadinya Tama memutuskan untuk bicara jika diperlukan saja, karena sudah pasti jika ia bertanya maka jawaban ketus akan Rayyan lemparkan padanya seperti gadis pms.
Cukup lama mereka berdiam dalam keheningan kaya lagi acara renung malam di Perkemahan sabtu--minggu, hingga akhirnya Tama memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu karena waktu yang terbuang begitu sia-sia jika tidak dipakai mengobrol, tak peduli dengan Rayyan yang akan menembaknya setelah ini, "saya dengar tentara kesatuan negri akan melakukan latihan gabungan di markas laut, masih hawar-hawar sih..." Tama tersenyum bermaksud mencairkan suasana, meski senyum itu begitu sulit ia lepaskan.
"Tapi sepertinya jikalau ditawari saya akan sangat senang, bisa berjumpa dengan bapak. Perwira yang disegani dan berprestasi. Nama bapak sudah begitu terkenal bahkan sampai luar matra."
Benar saja, delikan sinis nan sombong Rayyan tunjukan demi membentengi diri, "kamu sedang merayu?"
Senyum itu memudar menjadi kaku, namun beda halnya di dalam rumah. Rupanya obrolan kaku man to man antara Rayyan dan Tama sedang disaksikan live oleh Panji, Eyi dan Clemira. Panji cekikikan melihat itu, "mau taruhan? Abis ini, bang Tama langsung mutusin lo, kak."
"Sembarangan! Mas Tama itu perwira tangguh, ya. Cinta doi buat gue itu sekokoh batu karang!" sarkas Clemira, padahal hatinya sudah dag, dig, dug takut jika Tama semakin kapok dan ciut hingga akhirnya menyerah, lalu berimbas pada kandasnya hubungan mereka, seperti yang sudah-sudah.
Sebenarnya Clemira sempat dekat dengan beberapa lelaki termasuk teman sekolah, dulu. Namun melihat betapa galaknya sang ayah, mereka semua gugur di awal perjuangan. Ia berharap Tama akan setangguh ekspektasinya.
Eyi menggeplak bahu putranya yang sejak tadi tertawa melihat Tama dan Rayyan, menurutnya lucu saja, abinya yang terkenal konyol jadi mirip abi Fath ketika bertemu Tama, "abi kaya pak Janu, guru astronomi killer sekolah gue..."
**Plak**!
"Pak Janu tuh botak di tengah, abi tuh masih cakep! Rambutnya masih lebat," debat Eyi, tak terima kalau sang suami disamakan dengan guru anaknya yang memiliki masalah dengan rambut itu.
"Umi sekata-kata kalo ngomong. Itu artinya yang dipikirin pak Janu tuh masalah galaksi, bima sakti, planet, antariksa, mengkaji revolusi dan rotasi bumi..." ujar Panji dengan refleks tangan menunjuk ke arah atas, meski maksudnya menunjuk langit namun yang ia tunjuk adalah ee cicak yang nempel di plafon.
"Kalo yang botaknya di belakang?" tanya Eyi.
"Kalo yang rontoknya di belakang, itu artinya dia mikirin masa lampau, sejarah, arkeolog, situs megalitikum, dinosaurus." Jelas Panji.
"Kalo yang botaknya di depan?" tanya Eyi lagi, sudah mesam mesem geli, sementara Clemira...wajahnya bahkan sudah keruh kaya air kopi.
"Kalo yang botaknya di depan tuh mikirin masa depan. Matematika, pemecahan masalah, ngitungin berapa lama lagi bumi bertahan..."
"Kalo yang botaknya semua?" tanya Eyi sudah mengehkeh geli mendengar jawaban Panji dari setiap pertanyaannya.
"Kalo yang botaknya semua itu....tatap mata saya..." Panji menajamkan penglihatan dengan alis yang menukik.
Eyi meledakan tawanya membuat Clemira berdecak keras, "ini berdua apa sihhhh!" kesalnya beranjak meninggalkan ibu dan adiknya, masih sempat-sempatnya mereka bercanda saat hatinya sedang khawatir tak karuan.
...
Clemira memutuskan untuk menghampiri keduanya di luar, melihat wajah Tama yang sudah serba salah dan mengibarkan bendera putih.
"Bi, dipanggil umi." Katanya mengada-ada, sengaja biar abinya itu segera pindah tempat, kalo bisa pindah planet.
Rayyan sempat tak percaya, namun kemudian ia menatap penuh wanti-wanti seperti memberikan sebuah peringatan pada anak gadisnya itu.
Sampai bola mata Clemira mengikuti pergerakan ayahnya yang beranjak, ia masih diam di tempatnya berdiri.
"Maaf," lirih Cle, membuat Tama mengernyit, "untuk?" ia mulai bisa tersenyum hangat melihat Clemira, sepertinya raut pucat kini memudar setelah Rayyan masuk.
"Sikap abi, masih begitu..." gadis ini duduk di tempat bekas Rayyan.
Tama menyunggingkan senyumnya, "abimu sudah benar. Ia harus benar-benar selektif memilih calon pasangan untuk putri satu-satunya. Ngga apa-apa, mas maklum..."
Clemira melebarkan senyuman meski hanya beberapa centi saja.
"Sudah hampir magrib, mas pamit pulang..." dan demi apa, ucapan pamit itu membuat Clemira merengut, sisi manja si cimoy keluar juga akhirnya, "kok pulang...baru juga ngobrol 5 detik, masa lama-lama sama abi aja betah, sama aku cuma sekejap. Mas ngga seru ah!" marahnya mendekap kedua tangan di dhada.
"Bisa antar mas ke depan gerbang batalyon?" tanya Tama.
\
Motornya tak bermasalah, namun Tama memilih berjalan mendorongnya bersampingan dengan Clemira, benar-benar definisi irit bensin. Suasana senja di markas marinir masih menyisakan rasa hangat nan jingga. Menatap langit indah anugrah sang kuasa terasa menenangkan saat ini, apalagi bersama gadis tersayang.
Putaran roda motor seiras dengan langkah kaki kedua insan yang tengah bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Mas mau ngomong apa?" Clemira bukan gadis bo doh yang tak tau maksud ajakan Tama, meskipun Tama tak secara terang-terangan mengajaknya bicara, namun ajakan yang tak masuk akal ini sudah pasti memiliki maksud.
Senyumnya tersungging, sudah pasti kekasihnya itu paham, "mas mau pulang ke rumah bapak. Mas sudah pernah bilang kan, kalau ibu sakit? Minggu lalu mas Rangga yang pulang, mumpung dikasih cuti singkat, mas mau liat ibu..."
"Ah iya," Cle mengangguk-angguk, membuat surai panjang nan indah itu ikut bergerak di ujungnya.
"Gimana ibu sekarang, udah sehat?" tanya nya, sesekali Clemira memperhatikan jalanan arahnya melangkah, takut nginjek ee kucing atau sekedar hole in the world.
"Alhamdulillah. Beliau sempat menanyakan kamu," jawab Tama, ada senyuman lebar di wajah Clemira, sampai-sampai rona pipinya terpancar menyamai warna langit.
"Salam buat ibu, bapak sama Gio. Mau ikutttt..." rengek Cle.
"Suatu hari nanti, pasti mas ajak." Pungkasnya.
"Kapan berangkat, naik apa?" tanya Clemira lagi.
"Besok malam. Naik kereta, turun di stasiun kota lama, biar sampe pagi, ngga lama...malamnya sudah kembali ke ibukota."
"Kalo gitu, Cle anter kamu..." ujarnya, namun Tama menggeleng menolak, jelas sekali Tama menolak, ia berangkat malam hari, "mas berangkat malam, jangan keluar malam."
"Ngga apa-apa, Cle pokoknya mau anter kamu!" kekeh Clemira, mentang-mentang anak petinggi, dilahirkan di keluarga berada, dan hidup berkecukupan, membuat Clemira memiliki sisi bosy dan keras kepala, ia tak senang jika ditolak atau dilarang.
"Nanti abi marah."
Clemira menggeleng, "abi ngga akan marah, kalo taunya aku pergi sama Zea."
Dan hal itu yang lebih tidak membuatnya setuju, membawa orang lain ke dalam hubungan mereka, mengorbankan orang lain hanya untuk keuntungan keduanya, terlebih Zea sedang hamil besar.
"Kalo gitu aku bahayain dua perempuan sekaligus, sepaket calon bayinya Saga."
Clemira hampir putus asa, "anggap aja salam kangen, masa ngga mau ketemu Cle dulu sebelum pergi!" manyunnya ngambek.
Jika sudah berdebat begini, Tama akan selalu kalah dari Clemira, "jangan minta temenin sama bumil, nanti suaminya marah, bukan cuma kamu yang kena marah, tapi mas juga." Ucap Tama kini menghentikan langkahnya, mengulurkan tangan demi menghentikan lambaian nakal anak rambut Clemira dan membawanya ke belakang telinga gadis itu.
Menatap Clemira diantara suasana syahdu ini semakin membuat Tama terkesima, betapa indahnya bumi yang ia pijaki dan ia bersyukur atas itu.
Clemira mengangguk cepat seperti boneka dashboard, "pergi jam berapa?"
.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
jumirah slavina
ssstttt....
jan sampe Dedy C denger ya....
🤣🤣🤣😂
2024-12-30
2
Hazelnutlatteice🪷
Innalillahiwainnailahirojiun,, ih sedih banget abi zaki kok tahu” udah meninggal aja sih kak author. Ya tinggalah umi salwa same nyak Fatime donk 😢. Tidak sempat lihat cicit cicit nya dong
2024-12-14
1
apasih panji
mksdnya Dedy Corbuzier kalo botak semua /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-11-18
1