Pagi itu papa Rangga meminta kepada pihak kepolisian agar keluarga Tama dan Prasasti segera mendapatkan perlindungan dari lembaga perlindungan negri.
"Apakah tidak akan menimbulkan masalah, pak. Jika bapak mendahului pihak berwenang menghubungi LPSI tanpa penyelidikan terlebih dahulu?" tanya Baihaqi, namun pertanyaan itu justru memancing alis papa Rangga untuk menukik tajam, "biar saya yang bertanggung jawab."
"Urusan ini juga berada di bawah tanggung jawab kesatuan militer negri, pak...jangan sampai kita ikut campur urusan aparat terlalu dalam," ringis Dewi hati-hati, ia tak habis pikir pada atasannya itu yang malah menjamin perlindungan keselamatan untuk orang-orang yang akan menghabisinya.
"Kamu tidak dengar, Wi? Saya yang bertanggung jawab. Justru karena mereka yang bertindak sebagai algojo saya, maka terserah saya, mau saya apakan mereka!"
Semuanya diam, semuanya hanya bisa mengangguk setuju ketika menteri dengan segala tindak-tanduk tegasnya di bidang politik itu bertitah, papa Rewarangga adalah salah satu pejabat paling berpengaruh di atas sana, segala image baik nan lugas menempel padanya membuat namanya selalu dipertahankan oleh presiden selama 2 periode pemerintahan, jarang sekali ia mencederai kepercayaan, meskipun tak jarang ia mendapatkan aksi teror dari oknum tak bertanggung jawab, entah itu sesama pejabat atau warga biasa.
Saat mendengar kabar berita ini, pimpinan parlemen bersama anggota lainnya langsung terbang menuju perbatasan utara negri demi menemui papa Rangga.
"Saya mau, berita ini jangan sampai di ekspos di linimasa media. Ini adalah aib pemerintahan, masyarakat tak perlu tau." Ujar ketua parlemen meneguk secangkir kopi, padahal sejak datang kesini papa Rangga saja belum memakan atau meminum suguhan apapun selain dari air putih.
Di luar dugaan papa Rangga menggeleng, "tidak. Masyarakat berhak tau, bukankah sikap transparansi pemerintah akan dipertanyakan nantinya, jika kasus ini disimpan rapat-rapat, karena serapi-rapinya kita menyimpan bangkai maka akan tercium pula, biarkan saja...." jawab papa Rangga sesantai orang berjemur di pantai, namun ucapannya itu seperti menunjukan kegeramannya selama ini.
"Biar saja, rakyat tau. Bagaimana bobroknya akhlak manusia-manusia yang ada di atas sini gara-gara kekuasaan, gara-gara tahta," sengit papa Rangga lagi, jika menteri hak asasi ini sudah berkata, maka semua akan diam.
"Bukankah itu akan menimbulkan sikap ketidakpercayaan rakyat pada pemerintahan, warga yang apatis akan semakin bertambah, pak?" tanya anggota parlemen lain.
"Memang."
Papa Rangga menatap semua yang ada disana, "namun bagi rakyat yang bijaksana, mereka jelas akan menjadikan ini sebagai suatu pembelajaran, kenali orang yang kau pilih sebagai wakil suara hati khalayak ramai. Kasus ini adalah pelajaran. Baik untuk saya, untuk anda, dan untuk kita semua, jika tahta mampu membutakan hati nurani dan sifat kemanusiaan kita, naudzubillah!"
"Saat ini pilihannya hanya dua, saya yang mati atau dia yang tertangkap?! Saya sudah lelah melihat orang tak bersalah menjadi korban dalam duel saya dan dia, maka sekarang kita lihat siapa yang akan menang. Bukan hanya hukuman menurut hukum negri saja yang berlaku untuknya, namun ia pantas juga mendapatkan hukuman sosial dari seluruh rakyat," lanjut papa Rangga menyudahi obrolan di ruang komandan itu, ia beranjak dari kursi menuju pintu, meninggalkan mereka bersama rasa menggantung akibat pendapat yang belum sepenuhnya tersampaikan.
"Saya lapar, disini ada yang menjual nasi kuning tak?" tanya nya, bukan pada Dewi atau Baihaqi, melainkan pada salah seorang prajurit di pangkalan itu. Mimpi apa ia semalam, bisa bertegur sapa dengan orang berpengaruh di negri dalam konteks nasi kuning.
"Siap, akan saya cari pak!" jawabnya.
Ia mencari dari ujung ke ujung, memang sulit mencari pedagang nasi kuning di pulau yang notabenenya bukan pulau Java.
Tama terpisah ruang dari Prasasti, ia menatap kedua tangan yang biasa memegang senjata dan masih dikotori noda tanah, serta bercak da rah kering.
Pantang baginya untuk menangis namun beban kali ini sungguhlah berat, setitik air mata membasahinya tanpa ia ijinkan untuk keluar.
Ia membutuhkan pelukan hangat seorang ibu dan pundak kokoh seorang ayah untuknya bersandar. Prajurit pun manusia, bukan mesin yang tak memiliki hati.
*Tap*...
*Tap*...
*Tap*....
Bukan papa Rangga, atau Sagara yang datang, melainkan....
"Pantang untuk seorang prajurit menangis, sesakit itukah tertembak? Saya rasa kamu tau, kehidupan militer dan politik itu...*no mercy*."
Sosok yang tak diduga-duga kini berdiri di depan Tama yang terduduk di bawah sambil menekuk lutut.
"Siap, salah!" Tama segera berdiri lalu menghormat, tak mengindahkan seluruh rasa sakit di badan. Bahkan di saat hampir remuk begitu, Tama tetap berdiri tegap tanpa mau mengeluh, Rayyan menyunggingkan senyumannya seraya mengangguk-angguk, mengakui keberadaan Tama? *May be*.
Bapak 2 anak itu mendengus, "butuh perhatian ekstra demi membuat putri saya tersenyum belakangan ini. Sesulit ini punya anak gadis yang sudah mengenal cinta. Saya belum siap jika Clemira lebih memikirkan lelaki lain selain saya dan keluarganya..." jelas Rayyan, Tama masih setia mendengar dalam posisi berdiri, padahal raganya sudah hampir tak sanggup dan terjatuh.
"Tapi rupanya, masa tetap berputar...saya tak bisa menolaknya, semakin saya beralasan bahwa semua pria tak cocok untuk putri saya semakin menunjukan kalau saya adalah ayah yang buruk."
Rayyan berdiri tepat di depan Tama, "lihat saya." Titahnya membuat Tama menatap Rayyan sedikit ragu, jakunnya naik turun menelan saliva sulit.
"Kali ini saya percaya, jika pilihan putri saya tidak salah. Saya butuh perwira tangguh dan berakhlak untuk mendampingi Clemira."
Tama sedikit bisa bernafas, namun raut wajahnya tak menunjukan kelegaan, "maaf." Tama menunduk, karena ia sudah mengecewakan Rayyan kali ini dengan menjadi pengkhianat bangsa dan itu kesalahan fatal.
"Saya sudah mengecewakan bapak, saya sudah mengecewakan kedua orangtua dan keluarga saya. Terlebih saya sudah mengecewakan negara. Memupuskan harapan semua orang yang menumpukan harapannya di pundak saya."
Rayyan mendengus, "istirahatlah. Hati kamu sudah mulai melunak. Sebelum besok kita bersiap menghadapi Fasuari entah di lapangan atau di meja hijau," seringai Rayyan, "jangan merasa kerdil karena kau bukan siapa-siapa, negri ini memang kejam...namun tak semuanya manusia disini jelmaan se tan."
"Ya?" beo Tama.
Rayyan menggosok kedua tangannya seperti sedang mengumpulkan hawa panas, "kita lihat setangguh apa dirimu menghadapi masalah begini, karena klan Ananta itu tidak menerima manusia lembek. Oh ya ngomong-ngomong, kamar kamu di Ma lang itu bocor bagian dekat lemari baju, suruh tukang benerin. Jangan bapak kamu, atau kamu suruh adik kamu itu." Rayyan berlalu keluar dari ruangan sepetak yang menjadi sel tahanan Tama untuk sementara.
Tama benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi. Memang benar, Tuhan tidak pernah tidur, ia mendengar setiap do'a-do'anya dan mengumpulkannya jadi satu untuk kemudian Dia kabulkan hari ini.
Clemira celingukan, sampai detik ini ia belum melihat kembali batang hidung mantan playboy kebangaan keluarga itu.
"Abi mana, mi?" tanya nya duduk di sofa menumpukan kedua kaki yang terbalut celana piyama panjang di atas bantal yang ada di pangkuan Panji, seketika membuat Panji menepis dan mendorongnya jauh-jauh, keusilan ini membuat Clemira tertawa, "Ck. Clemira!!!" seru Panji jika kesal pada sang kakak. Terang saja ia marah, lagi enak-enaknya main game online ponselnya sampai hampir terjatuh karena tumpuan kaki seenak jidat itu.
"Elah, jadi cowok kasar banget sihhh. Gimana mau dapet cewek..." godanya.
"Kalo bukan lo ceweknya, udah gue greee peee-greee peee." Jawab Panji memantik seruan Clemira, "ihhh!" matanya membola hampir keluar dari tempatnya, ia juga menggeplak bahu adiknya itu, pipis aja belum lempeng udah maenan permainan orang dewasa.
"Umiii! Panji mesum miii! Ketauan lo ya, belajar dari mana lo yang begituan?! Gue aduin sama abi, biar ditenggelamkan!" tembaknya. Kini Panji yang tertawa, "dari video. Emang lu pikir gue bocah, ya tau lah. Tanpa harus diajarin, itu naluri lelaki."
"Ini pasti kerjaan si Russel, ngaku lo, jangan bilang virus bandel nular ke lo sama Kalingga, gue tabok ya Ji. Umiiii!" adu Clemira.
Perseteruan adik kakak itu memang selalu memancing riuh orang sebatalyon, padahal yang berantem hanya kedua anak Rayyan namun satu komplek ikutan sakit kuping, apalagi jika si cantik Clemira sudah teriak-teriak persis sirine ambulan.
"Berisik oyyy! Umur udah pada gede juga masih pada berantem kaya bocah, aturan kalo udah pada bujang--gadis gini jam segini tuh lagi pada ngapel di luar..." Pramudya datang bertandang.
Bahkan Langit sudah memisahkan Clemira dan Panji yang saling memukul dengan bantal sofa. Eyi keluar dari arah kamarnya dan baru saja mematikan panggilan dari Rayyan.
"Bang Langit, bang Pram..." sapa Eyi yang segera memindahkan channel televisi ke acara berita terkini lalu membesarkan volume.
"Ray belum balik, hari ini dia ijin---"
"Ke Ma lang," tukas Eyi sukses menghentikan tangan Clemira di udara, "ke Ma lang? Buat apa abi ke Ma lang?" tanya nya. Eyi menunjuk televisi dengan dagunya sebagai jawaban atas pertanyaan Cle.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Anthi Aswandi Panrelly
cie Abi sda dr survei nih
2024-11-30
1
Lalisa
Alhamdulillah
2024-11-10
0
Lalisa
Abi Rayyan ❤️❤️❤️❤️
2024-11-10
0