"WHAT!!! Bisa - bisanya Lo ngomong gitu. Ella..." Teriak Sisy penuh amarah, pipi cabiy berwarna merah.
Tidak bisa di bayangkan lagi, jika dirinya berhadapan dengan guru Raisa. Bagaimana mungkin sahabat geseknya ini, bisa mengatakan hal menjijikan menurutnya pribadi. Oh, tidak! siapapun yang mendengar pasti akan merasa hal yang sama.
"Buk, Sisy mau permisi tapi tidak berani. Katanya kotoran di celana udah keluar buk. Jadi mohon beri izin buat dia permisi!" Ucap Ella berbisik tepat di samping telinga kiri guru RA.
Bayangkan saja! Mau di taruh di mana mukanya ketika harus berhadapan langsung kepada guru muda itu. Akh!! Benar - benar memalukan, membayangkan kotoran menempel akibat tidak tahan di celana itu belum pernah di alaminya. Kecuali, sewaktu masih kecil! Ya kan enggak ada yang tau.
Tanpa membuang waktu lagi Sisy langsung mengejar Ella yang hendak melarikan diri. Dan, terjadi lagi! Kedua manusia yang hobi sekali ribut sekarang sedang berlarian mengitari sekolah luas ini.
Sampai - sampai Karin dan Tasya melongo kedua sahabatnya itu menghilang entah kemana.
"Mau kasihan, tapi ucapan Ella itu menyeramkan sekali." Lirih Karin masih mengingat ucapan Ella tadi, pantas saja guru Raisa menatap aneh kepada Sisy.
"Iya, tapi itu satu - satunya cara. Lagian kalau misalnya tidak ngomong gitu, ya mungkin aja hal itu terjadi." Jawab Tasya, malah membayangkan Sisy buang kotoran di lantai karena tak tahan lagi. Seketika pula ke-dua menggeleng-gelengkan.
"Ish! Jamu nih, jahat amat membayangkan hal itu. Tapi benar juga sih!?" Balas Karin namun tersirat menyetujui perkataan Tasya.
keduanya melirik satu sama lain, lalu tertawa pelan dengan kekonyolan para sahabat yang ide di luar kendali.
"Sya! temani aku ke basecamp geng anggota Xander yuk, aku mau ngasih ini. Tadi pangeran ku nitip ini!" Karin mengajak sahabatnya ini yang terlihat kebingungan.
Tasya mengkerut kening dengan perkataan Karin. "Pangeran? maksudnya siapa!? ketua geng Xander pacar Lo itu kan, namanya Bintang zulio Oswald. Trus maksudnya pangeran!! itu siapa sih?" Tanya Tasya dengan wajah polosnya, pasalnya ia bingung nama pangeran itu siapa.
Gadis itu diam sesaat menyadari kesalahan yang baru saja di ucapkan. Suara tawa dengan mata menari - nari ke atas bawah, berusaha mengalihkan perhatian sahabatnya. Dengan sedikit tepukan pelan yang dia berikan pada Tasya.
"Em, i–itu....e..h maksudnya! salah sebut nama. Iya benar!! salah sebut, maksud aku kak Bintang."
"Udah yuk, kita mending pergi aja! Nanti kita enggak kebagian makan pagi." lanjut Karin dengan segera menarik legan temannya menuju arah tangga basecamp.
.
.
"Hah..! hah! huh...! capek banget! malah panas lagi, hah!" deru nafas Ella ngos-ngosan setelah berlarian entah berapa jauh.
Sisy di samping Ella merasakan hal yang sama, setelah acara perang kedua akhirnya Ella menyerah. Dengan bujukan maut, yaitu Ella berjanji mentraktir sahabatnya ini jajan dalam seminggu. Dan yang kedua, membelikan tas incaran terbaru yang sempat keduanya bahas di dalam mobil dua hari yang lalu.
"Lelah banget, woyy!! mana haus lagi! Disini enggak ada jual minuman apa?"Udah haus, lapar, keringatan lagi." Keluh Sisy terus mengomel sambil sesekali menghapus keringat di pelipis.
"Lo sih, ngapain pakai kejar - kejar coba! mana kita udah keliling sekolah, ditambah dilihatin satu sekolah." Balas Ella tidak mau mengalah.
Sisy adalah manusia tidak sabar dan mudah emosi langsung tidka menerima. "Lo kira! kita kayak gini!! persis orang gila, gara - gara siapa?"
Keduanya malah berdebat kembali, walaupun adu argumen saja. Tanpa berlarian, kedua gadis cantik itu berdebat terus - menerus sampai seseorang datang menghampiri.
.
**
Jangan lupa beri dukungan 🤗🤗.
Terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments