Tangisan Karin

Karin yang masih kesal, melahap banyak makanan tanpa mempedulikan sekitar. Saat ini ia butuh tenaga, salah satu penyembuh diri ketika sedang ada masalah yaitu makan.

"Jangan pedulikan mereka," Karin menoleh. "Apa pun yang di lakukan orang atau sekalipun berusaha mendekati. Orang itu tidak akan berpaling atau mengkhianati kekasihnya. Karena aku sudah janji, dan akan usahakan bagaimana pun caranya untuk membuat kamu bahagia." Ucap Bintang seakan mengerti apa yang di rasakan kekasihnya.

Karin tertegun. Kedua pipi gembung-Nya penuh isi makanan, kini berhenti mengunyah saat mendengar ucapan Bintang. Kedua bola mata indah itu mulai berkaca-kaca. Entah apa yang ada dalam pikirannya, ada rasa sedih dan bahagia secara bersamaan.

"Jangan nangis, maafkan aku." Lirih Bintang mendekat lalu menarik kekasihnya ke dalam pelukan hangat.

Karin semakin terisak, tangisan pecah seketika. Dia membalas dekapan hangat milik prianya.

Pria tampan itu membiarkan gadisnya menangis. Mungkin dengan cara ini Karin dapat menumpahkan segala kesedihan. Tangan kekarnya mengusap lembut punggung Karin.

Suara tangisan Karin mulai meredup kini dengan cepat ia berusaha menguyah dan menelan makanan penuh dalam mulutnya.

Sementara bintang merasa kekasihnya sudah lebih baik melepas pelukan. Hal itu spontan membuat Karin terkejut, tak sempat menahan pelukan. Sehingga pelukan terlepas begitu saja. Dengan menahan malu Karin hanya dapat menundukkan, menutupi wajahnya dengan rambut tebal panjang miliknya.

Tawa Bintang pecah, menyadari sesuatu menempel di baju basket yang ia kenakan. Bekas noda dari mulut Karin saat keduanya berpelukan.

Karin semakin malu tanpa berani menunjukkan wajahnya. Ia terus mengumpat dalam hati.

"Ratuku, lihat aku!" Pinta Bintang dengan lembut, Karin menurut. Perlahan wajahnya dia angkat menghadap ke depan, kedua manik pasangan itu bertemu.

Bintang tersenyum tipis."minum dulu," menyerahkan segelas air kelapa muda yang sudah di tuang ke dalam gelas.

Keduanya melanjutkan makan yang tertunda, sambil menikmati sunset mulai menampakkan diri. Tanpa mereka sadari seseorang menatap dengan senyuman tipis.

Niatnya ingin berdiam memandang langit biru yang mulai berganti. Tempat ini yang dulu sering di datangi oleh geng Xander untuk sekedar bermain atau menenangkan diri.

Lama dengan lamunan ia memutuskan untuk beranjak dari sana. Membawa motor sport berwarna hitam ke jalan raya dengan kecepatan sedang.

Lampu merah lalu lintas menandakan kendaraan berhenti. Motor sportnya yang ia kendarai terhenti. Keringat dekat keningnya membuat ia membuka helm yang di pakai. Tatap kagum para pengendara terpesona dengan ketampanan pria itu. Namun dirinya tak menyadari, ia hanya fokus mengelap keringat. Terlebih lagi tatap para kaum hawa.

"Gila! Dia ganteng banget." Bisik anak muda berseragam sekolah pada temannya yang mengendarai.

"Iya, benar kata kakak ku! Sekolahnya banyak cowok - cowok ganteng. Terlebih lagi geng di sekolah mereka, terkenal banget!! kata kakakku." Balasnya, membuat temannya menganggu tanda setuju.

"Nanti kalau udah tamat, kita sekolah di sekolah mereka aja." Balasnya menatap baju sekolah pria itu yang tertera nama sekolah.

Begitu pengendara lain ikut berbisik - bisik pria tampan yang pasti keturunan campuran.

Motor sportnya dia melaju kembali setelah lampu berganti bewarna hijau. Mengitari jalan raya, sesampai di gerbang rumahnya. Matanya tak sengaja melihat seorang perempuan duduk di taman sambil melirik ke arah balkon kamar miliknya. Hanya sekilas, kemudian memarkirkan motornya ke bagasi lalu berjalan ke rumah.

Sementara gadis itu melihat kepulangan pria yang sudah ia tunggu - tunggu hingga sore hari, akhirnya menampakkan diri.

"Syukurlah, kamu udah pulang." Lirihnya menatap ke arah balkon di mana pria itu duduk. Pandangannya tak berpaling sedikitpun, ia bahkan lebih leluasa menatap pria itu saat gorden kaca di buka.

"Non..."

"Astaga!! Bik, Tasya terkejut loh.." ucap Tasya mengusap dadanya. Sangking terfokus pada pria itu sampai - sampai ia tak menyadari seseorang datang.

Bik Ina merasa bersalah dan lucu melihat wajah terkejut nona mudanya. "Maaf non, saya di suruh nyonya manggil nona Tasya untuk makan. Ini udah sore loh, non." Bagi bik Ina ia sudah menganggap nona Tasya seperti anaknya sendiri begitupun sebaliknya.

Tasya menurut, kemudian kedua berbeda generasi itu masuk ke dalam rumah. Meninggalkan seseorang menatap sulit di artikan.

*****

Jangan lupa beri dukungannya dengan cara like, komen dan gift ya. Agar karyanya semakin berkembang.

Terimakasih 😊😊 semoga sehat selalu dimana pun kalian berada.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!