"Cieeee!!! Ada yang baru di antar pujaan hati." Seru Erina namun penuh dengan ejekan.
Karin menatap kakak tertuanya dengan kening mengkerut. Terlihat perempuan itu duduk santai di ruangan keluarga sambil memangku laptopnya.
"Papa sama mama mana kak?" Tanyanya tanpa berniat menjawab.
"Mama ikut papa ke luar kota. Ada kerjaan di sana selam satu Minggu." Jelas Erina sambil memakan Snack kesukaannya.
"Pantas aja"
Erina merasa aneh dengan ucapan adiknya pun kembali bertanya. " Emang kenapa?"
Karin yang melihat wajah kebingungan kakak tertuanya pun berdecak pelan. "Iya dong! Itu alasan kakak berani nonton Drakor di sini. Nggak akan ketahuan sama papa, mama." Ejek Karin, dan detik itu juga berlari ke kamarnya. Takut di marahi orang yang paling galak di rumah ini.
Dan benar saja suara teriakan langsung memenuhi rumah besar itu. Bahkan pak Dani sampai tersedak kopi panas yang baru saja hendak ia telan dengan nikmat. "Non....non...belum sempat juga saya telan, udah pada tumpah di lantai." Gerutu pak Dani menggeleng kepala. Lalu kembali menyesap kopi yang tinggal setengah gelas lagi. Setelah itu melanjutkan mencuci mobil.
Gadis itu membaringkan badannya ke kasur king size-nya. Tatapannya kembali menerawang kejadian sore tadi, jujur saja itu untuk pertama kalinya di bentak oleh pria. papanya sendiri tak pernah membentak atau berkata kasar padanya, jika dirinya salah maka di nasehatin dengan kepala dingin.
Drt.
Drt.
Dengan penuh malas Karin mengambil ponselnya di dalam tas yang terdengar berbunyi di dekatnya.
Sejenak ia berpikir melihat nomor tak di kenal. Awalnya tak ingin membuka pesan dari nomor tak di kenal, bisa saja modus untuk memeras dirinya. Namun satu pesan kembali masuk dengan bertulisan Bintang.
Walau penasaran dan bingung bagaimana cara Bintang mengetahui nomor ponsel, karena penasaran isi pesan pria itu akhirnya Karin membukanya.
Sudut bibir gadis cantik itu tertarik ke atas membentuk lengkungan senyuman melihat isi pesan kekasihnya.
Keyla yang membaca isi chat Bintang langsung tertawa pelan, bagaiman ke randoman kekasihnya ini.
Tak berbeda dengan seorang pria duduk di atas kasur miliknya, sedang menanti isi chat-Nya di baca oleh pujaan hati.
Pria itu adalah Bintang Zulio Oswald. Siswa populer di sekolahnya, memilik segudang bakat dan kepintaran di atas rata-rata. Tak hanya itu saja, sekolah tempatnya menuntut ilmu juga ternyata milik orangtuanya. Salah satu sekolah termahal dan termewah berbasis internasional.
Melihat centang dua bergaris biru, membuat seorang Bintang bahagia. Seperti anak muda jatuh cinta pada umumnya, yang apa saja senyum - senyum tak jelas layaknya orang gila.
Balasan isi pesan Karin
• Aku nggak marah kok, Jangan minta maaf lagi.
• Mungkin kita belum saling
mengenal lebih dalam saja.
Jadi mungkin belum mengenal
dalam karakter pasangan.
Balasan isi pesan dari kekasih tentu tentu saja semakin membuat Bintang berbunga - bunga. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Bintang pun membalas chat kekasihnya hingga terus berlanjut.
Sampai - Samapi tak menyadari gerak - gerik Bintang di awasi oleh seseorang.
"Opa!! Uncle Bintang sakit jiwa." Jelas bocah laki-laki berusia lima tahun dengan sedikit berteriak menghampiri opanya duduk santai.
Pria setengah paruh baya itu menoleh ke arah cucu tampannya yang hampir mewarisi seluruh wajah anak pertamanya.
"Kenapa bilang seperti itu saka?" bukan opanya yang bertanya, melainkan Oma bocah itu yang baru datang dari dapur membawa minuman dan cemilan.
Saka begitu girang melihat Oma tersayangnya membawa cemilan kesukaannya. Dengan sopan bocah itu duduk lalu memakan cemilan kesukaan dengan riang.
"Itu Oma, tadi saka lihat uncle Bintang ketawa - ketawa terus ponselnya di peluk. Persis sekali yang di katakan Papi, oma." Jelas bocah tampan itu sukses membuat kedua orang itu telaga.
"Apa yang di katakan papi mu tentang uncle saka?" Kini pria paruh baya itu lah yang bertanya dengan penuh penasaran.
Bocah itu terdiam nampak sedang memikirkan perkataan opanya. Lama ketiganya terdiam, sembari memakan cemilan karena ikut menunggu jawaban dari bocah itu.
Bahkan sampai cemilan dua piring penuh tadi kosong tak bersisa, namun belum ada tanda-tanda bersuara.
"Sayang, kenapa aku merasa kita bodoh ya?" Saat menyadari kebodohan atau memang faktor usia.
Wanita cantik di usianya yang memasuki lima puluh tahun itu pun menoleh ke arah suaminya. "Kenapa?" Tanyanya ikut berpikir.
Dengan penuh gemas, pria paruh baya itu mencubit pelan pipi istri tercintanya. "Dari tadi cucu kita ini berpikir, tapi lihatlah cara kita menatap cucu tersayang ini." Jelas pria itu. Wanita itu pun menoleh kembali ke arah cucunya yang ternyata juga menatap dirinya dengan tatapan polos.
Keduanya pun langsung menjauhkan diri, setelah hampir setengah jam menatap cucu tersayang itu hampir tidak ada jarak. Tentu saja bocah itu bingung di tatap seperti itu oleh opa dan Omanya.
"Maafkan Oma sama opa ya nak." Ringis wanita paruh baya tersenyum kikuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments