Dengan hati - hati Karin membuka pintu. Tempat di mana para Xander berkumpul. Karin sedikit lega melihat ruangan itu sunyi, yang artinya anggota Xander sedang tidak berada di tempat.
Pandangan terhenti melihat banyak makan di meja dekat sofa. Namun bukan itu masalahnya, Karin belum menemukan pria yang menyuruh dirinya datang.
Clek.
Pintu tiba - tiba terbuka, Karin yang tak menyadari seseorang masuk dan berhenti tepat di belakangnya.
Sesaat Karin terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, bulu- bulu tangannya ikut merespon. Seseorang memegang pundaknya.
"Bukannya tadi enggak orang? Lalu siapa ini." Pikiran Karin membayangkan hantu, semakin membuatnya ketakutan.
"Kamu udah sampai?" Karin memutar tubuhnya mendengar suara yang ia kenali.
Tanpa kata gadis catik itu langsung memeluk kekasihnya. Tadi ia sempat berpikir yang tidak-tidak. Bisa di bilang dirinya memang penakut.
Bintang terkejut melihat respon dari kekasihnya. Untuk pertama kalinya ia di peluk oleh pujaaan hati. Senang, tentu saja.
Tanpa ragu ia membalas pelukan dari Karin. Mengusap pelan punggung gadisnya, ia sadar jika wanita itu sedang ketakutan. Badan Karin sedikit bergetar. Tapi kenapa?
"Kamu dari mana? Nyuruh orang kesini, tapi kamu nya enggak ada. Tadi aku mikir hantu pegang pundak aku, tahu!!" Omel Karin dengan sebal. Di tambah lagi mendengar tawa sang kekasih, membuat ia semakin kesal.
Plak.
Plak.
"Aduh! aw.... ampun sayang. Aku enggak ada niatan buat kamu takut." Ringis Bintang memohon kepada kekasihnya, yang dengan brutal memukul lengannya.
Karin menurut tapi tidak dengan mulutnya yang terus mengomeli pada Binatang. "Kamu tuh ya, nyebelin... banget!!! Aku ketakutan! Kamu malah tertawa." Karin merasa sebal pada pria di hadapannya itu. Apa pria itu tidak tau? Jantungnya terasa mau copot. Tapi respon tak terduga dari kekasihnya membuat ia emosi.
Bintang menyadari kesalahan memilih kembali menarik gadisnya ke dalam dekapannya.
"Maaf ratuku. Aku pergi mengambil ponsel di parkiran. Tadi ke tinggalkan di mobil, jadi pas turun enggak sengaja ketemu sama kekasih Allon jadi sekalian minta tolong buat manggil kamu." Jelas pria bertubuh tinggi itu apa adanya.
"Sekarang kita makan ya! Aku pesan tadi." Ajak Bintang keramik pelan pergelangan Karin lalu duduk di sofa.
"Kok kita makan disini? Aku tadi udah makan di kantin."
"Aku tau. Tapi ini hukuman buat kamu, lain kali aku enggak mau dengeran kamu tidak sarapan pagi. Paham! Kesehatan itu lebih penting di banding kesuksesan ataupun kamu takut nilainya turun. Kalau udah sakit, sebanyak apapun mimpi dan uang Kamu itu tidak ada gunanya." Ucap Bintang memberi nasehat, namun tersirat kata tegas dalam makna ucapannya.
Karin mengembangkan senyuman manisnya, lihatlah sekarang kekasihnya itu dengan telaten mengambil makanan untuk dirinya. Bintang juga menegur dirinya jika salah, perhatian pertama kali ia rasakan dari lawan jenis.
"Jangan pernah berubah ya pangeranku! Mungkin belum ada rasa cinta, tapi aku yakin lambat laun rasa cinta ini tubuh dengan sendirinya." Kata Karin. Namun hanya terucap dalam hati, karena ia tak ingin menyakiti perasaan kekasihnya.
Keduanya makan bersama diselingi cerita. Tawa dan senyuman tercetak jelas di raut wajah keduanya.
"Keponakan kamu lucu." Komentar Karin bersamaan keduanya selesai menghabiskan makanan yang mengunggah selara itu.
"Lain kali aku bawa kamu buat ketemu dia." Ajak Bintang dan langsung di anggukkan kekasihnya.
"Makanannya juga enak." Ucap Karin kembali berkomentar dengan jujur.
Pria itu tersenyum mendengar pujian pujaan hati. "Itu buatan mommy. Aku pinjam ponsel Kenzo tadi waktu di kelas."
Respon Karin terharu dengan perhatian Bintang. Bagaimana bisa pria yang terkenal dan terpopuler di sekolah begitu baik dan memperjuangkan dirinya. Di saat ia menolak mentah - metah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments