"Lo serius nih, udah sehat? Kalau belum pulih 100 % lebih baik istirahat dulu, sampai pulih total." Tanya Sisy penuh khawatiran di ikuti oleh Karin.
"Iya nih, kita antar ke UKS." Tasya menggeleng sembari tersenyum.
"Gue udah pulih total kok, udah jangan berlebihan. Lagian ya, kalau di rumah terus gue juga bosan kali." Celetuknya dengan gaya arogan, layaknya benar - benar menyakinkan. Tapi Ella hanya diam sekilas melirik lalu fokus pada ponsel genggamannya.
Bel sekolah berbunyi, semua para murid memulai mata pelajaran dengan diawali memberi hormat kepada guru lalu berdoa.
Pelajaran di mulai, semua para pelajar begitu fokus pada pelajaran. "Tasya," panggil guru Hana (HS) tiba - tiba.
Tasya menoleh, namun bukan hanya dirinya saja. Melainkan ketiga sahabatnya juga ikut menatap guru Hana.
"Ibu hampir lupa! Tadi kamu di panggil ke ruangan guru, di sana jumpai buk Xila." Titah Hana, Tasya segera bangkit lalu melangkahkan keluar dari kelas.
"Baiklah, kita lanjutkan materi berikutnya."
Guru dan para murid kembali fokus pada pelajaran, tapi tidak dengan Karin dan sahabatnya. Namun tetap mencoba fokus pada pelajaran. Hingga akhirnya jam Hana sebagai guru fisika berakhir selesai, setelah dua sesi.
Tak lama dari situ juga Tasya datang, "Lo di kenapa? Buk Xila marah karena Lo enggak masuk. Kalau iya biar gue tegur! Enak aja! marah - marah." Cetus Sisy tanpa berpikir panjang.
"Lo pikir di hukum karena itu, yang enggak mungkin dong. Masak iya, nggak bisa absen karena sakit! Siapapun enggak bakal bisa prediksi sakit. Ada - ada aja deh Lo Si!" Karin ikut gemas melihat satu sahabatnya ini, hobi sekali berbicara tanpa berpikir panjang.
"Hehehe! Iya juga sih."
"Enggak kenapa-kenapa kok, tadi guru Xila nyuruh gue UH. Katanya sih, biar enggak kosong." Jawab Tasya apa adanya.
Percakapan keempat sahabat saling menyayangi itu berakhir, ketika guru mata pelajaran selanjutnya masuk.
"Baiklah! Sesuai kesepakatan kita kemarin, hari ini yang persentasi di pimpin oleh kelompok satu. Ingat! Bagi kelompok siapa yang tidak bisa menjelaskan materi yang di berikan akan..."
"Mengulang kembali, sampai tuntas dan mengerti." Jawab para muridnya dengan serentak, pak guru bernama Raisa Andita itu tersenyum.
Sebagai guru, ia harus dapat membuat para siswa mengerti dengan materi. Dia juga tak ingin di pecat karena tak becus, guru - guru di sini semua di asa dengan kemampuan. Bisanya para guru akan berkerjasama mengasah ilmu pengetahuan masing-masing, sesuai dengan bidang. Dimana biasanya di lakukan setelah para murid pulang setiap dua atau tiga kali dalam seminggu. Tapi walau begitu, gaji dengan tenaga mereka sepadan.
Di tengah pelajaran berlangsung, Sisy malah tidak bisa konsentrasi. Sesuatu di bawa sana mendesak ingin keluar, keringat dingin mulai bercucuran di keningnya. Entah sudah berapa banyak hela nafas keluar dari mulutnya, berusaha menahan. Tapi mau gimana lagi, seharusnya sebelum bel berbunyi dia sudah selesai buang hajatan.
Ella menatap sahabatnya bingung, tatapannya tertuju ke bawa meja. kedua kaki Sisy terus bergerak, seolah sedang menhan sesuatu. Untung saja meja dan lorongnya bersebelahan.
Sisy menyadari seseorang menatapnya menoleh, pandangannya bertemu dengan Ella seketika wajah memales terpampang jelas. Seolah meminta bantuan, Ella yang mengerti pun langsung mengangkat tangan kemudian berjalan ke arah guru lalu membisikkan sesuatu.
Seketika itu juga wajah cerah Sisy tercetak jelas. Dengan sedikit tergesa - gesa Sisy melangkah keluar.
"Terima kasih buk." Setelah menghilang di balik pintu, secepatnya kilat pula ia berlari ke arah toilet tanpa memperdulikan seseorang yang bari saja ia tabrak.
Tapi dirinya yakin orang itu pasti pria, tercium dari aroma parfum yang melekat ditubuh orang itu.
"Tidak sopan sekali," decak pria itu lalu pergi melanjutkan langkahnya.
.
.
****
"Akh... akhirnya! gilak..! gila..ini..hah.. benar - benar melegakan... hehehe." celetuk Sisy terkekeh pelan, untung saja dirinya punya sahabat yang bisa diandalkan. kalau tidak, entahlah!! apa yang akan terjadi, bisa - bisa hari memalukan sesungguhnya selama masa hidup.
Tapi ngomong - ngomong sahabat baik, Sisy sendiri jadi penasaran apa yang di katakan Ella pada guru RA (Raisa Andita). Dia juga ingin berterima kasih kepada Ella sebab sudah jadi peraturan umum bagi seluruh murid sebelum istirahat pertama di larangan permisi.
Bukan tanpa alasan juga, karena biasanya banyak murid mengandalkan izin ke toilet agar bisa menghindari pelajaran atau ketika sesi jawab dilaksanakan pada guru. Sekolah ini memang amat tertib, Sisy sendiri mengakui hal itu. Sekolah berbasis internasional ini bisa jadi salah satu jembatan para murid melanjutkan pendidikan di luar negeri. Karena pihak sekolah sudah bekerjasama dengan para pihak universitas terbaik di beberapa luar negeri.
Di tempat kelas Karin, Ella dan Tasya baru saja keluar setelah bel lonceng istirahat pertama.
"Lo seriusan ngomong gitu sama buk RA?" Tanya Karin dengan tatapan tak percaya, kalau sampai Sisy mendengar hal itu sudah ia pastikan akan ada terjadi antara keduanya.
Ella mengangkat kedua bahunya dengan sangat santai, lah niatnya kan baik! dan satu - satunya cara ya! hanya itu.
"Parah sih kalau dia tau," balas Tasya.
"Apa yang enggak gue tau?" tanya Sisy entah dari mana secara tiba-tiba datang menepuk pelan pundak Ella.
Melihat para sahabatnya diam mematung tentu saja Sisy semakin tambah curiga. Tadi niatnya ingin mengejutkan ketiganya dengan diam - diam berjalan dari belakang, tapi seketika buyar dengan ucapan para teman terbaiknya ini.
****
Jangan lupa beri dukungannya, terimakasih 😊😊😊😊.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments