Suasana makan tampak sunyi, semua hanya fokus pada hidangan. Hingga seorang paruh baya membuka suara, membuat suasana mulai berubah.
"Bagaimana nilai sekolahmu?" Bertanya singkat, sambil mengunyah makanan.
Paruh baya tak lain kepala rumah tangga keluarga dari Anatasya. Papanya Tasya bernama John Smith. Pria yang selalu bersikap tegas kepada siapapun.
Melihat putrinya hanya diam, sendok dan garpu jatuh begitu saja. Semua di dalam ruang makan tersentak kaget. Begitu gadis yang di tanya semakin menunduk.
"Pah!" Tegur wanita paruh baya yang terlihat cantik di usia menginjak hampir lima puluh tahun.
Dia adalah mama dari Tasya, orang satu - satunya berani membantah dan menegur suaminya.
"Mah, papa ingin nilainya bagus. Kamu berusahalah mendapat rangking satu tahun ini. Jangan pergi keluyuran tak jelas. Dari dulu Karin mempertahankan rangking satu, sementara kamu hanya di bawahnya. Rangking dua atau tiga saja tidak pernah mendapat rangking satu, lihatlah kakakmu! Berhasil mempertahankan rangkingnya secara berturut - turun. Setelah ini belajarlah, tadi papa sudah minta tolong sama kepala sekolah agar besok kamu bisa UH biologi. Ingat!! Jangan sampai turun." Tegas pria paruh baya bernama John. Memiliki sikap tegas sudah menjadi karakter tersendiri baginya. Apalagi dia mengelola perusahaan mendiang orang tuanya. Perusahaan yang hampir bangkrut ketika kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil saat usianya masih muda.
Tasya tidak menangis seperti kebanyakan orang lain, ia hanya diam lalu mengiyakan perintah dari papanya. Hal yang sudah bagian dari hidup sehari-hari, membuat mentalnya kuat.
Pernah dulu kejadian dirinya di marahi habis - habis karena nilai ujian semester awal mendapat nilai tujuh. Papa Jhon tidak memberi dirinya sekedar bermain, harus belajar tiap saat, tiap hari yang di pegang adalah buku dan buku.
Kejadian itu membuat Tasya bertekad mendapatkan nilai bagus dan mendapat rangking. Dan hasilnya tidak mengecewakan harapan, sehingga ia bisa kembali bermain bersama teman-temannya.
Lamunan Tasya buyar saat mendengar suara menggema.
"Ana!!! Kamu dengar papa, hah!"
"I–iya pa, Ana udah siap makan. Aku ke atas dulu, mau belajar." Ujarnya lalu melangkah pergi menaiki tangga dimana kamarnya berada.
Ana adalah panggilan khusus bagi keluarga besar Smith. Singkatan dari Anatasya, sedangkan Tasya nama umum yang ia gunakan saat seseorang menanyakan namanya.
"Lihatlah, semakin hari dia semakin membangkang." Kesal John selalu menyalahkan anak bungsunya.
Rose turut kesal bukan karena Tasya melainkan kepada suaminya yang selalu membanding - bandingkan kedua putrinya. Padahal berasal dari sel dan rahim yang sama.
"Mama udah siap makan," berlalu pergi masuk ke kamar. Rasanya sudah yang muak dengan tingkah suaminya yang tidak ingin disalahkan dan di bantah. Entah sudah berapa banyak atau beribu cara ia lakukan agar sang suami tidak membandingkan kedua putrinya. Namun usahanya selalu gagal.
Dalam kamar, Tasya duduk di kursi belajar miliknya dengan tatapan kosong. Tanpa ia sadari satu tetesan air mata keluar begitu saja. Tak ada tangisan keluar dari bibir mungilnya, yang ada rasa sesak yang tak bisa di jabarkan. Perlahan hela nafas keluar dari mulutnya, mengeluarkan rasa sesak mulai menyerang.
"Kenapa? Kenapa engkau tidak ambil saja nyawaku. Aku sangat lelah dengan semua ini, a–aku sudah berusaha agar papa bangga dan sayang sama ana! Semua cara sudah aku la–lakukan, ta–tapi semuanya salah di mata papa... Ana capek pa, ana juga ingin di sayang sama papa. Seperti papa sayang sama kakak Lena!" Lirihnya sembari menghapus airmata yang terus mengalir tanpa bisa di cegah.
Sekuat apapun menahan dan mencoba terlihat baik-baik saja, nyatanya dia juga hanyalah manusia biasa. Punya sisi lemah dan rapuh. Dan di kamar ini adalah saksi biru, dimana dirinya menumpahkan segala rasa sakit, perih dan beban yang di pikul sendiri.
Malam hari adalah tempat terbaik baginya untuk mencurahkan rasa sakit. Ketika malam hari orang akan tidur nyenyak. Berbeda dengannya, untuk sekedar tidur saja harus menahan ngantuk agar nilainya memuaskan.
Perlahan tangisan itu mulai mereda, berganti menahan sesuatu.
Sesuatu yang belum sempat dihabiskan karena selera makannya hilang begitu saja. Tangan kanannya perlahan membuka laci meja belajar, kemudian mengambil roti dua hari lalu yang ia beli untuk berjaga-jaga. Jika ia lapar dimalam hari ketika sedang belajar.
Senyumannya merekah di bibir manisnya. Tapi, berbeda dengan respon airmata mulai mengalir kembali di pipi cantiknya. Untuk sekedar makan saja dirinya tidak berani mengambil ke bawah. Sungguh miris! Bukan.
Dengan sedikit tangan gemetar Tasya kembali belajar sambil memakan roti rasa coklat kesukaannya. Kedua bola mata indah miliknya, kembali di penuhi dengan genangan airmata di pelupuk. Sambil terus belajar, airmata yang di tahan kembali berjatuhan di buku tulisnya.
.
.
**
"Kak Erina nggak msuk kampus?" Tanya Karin heran, biasanya paling sibuk.
"Enggak, masuk siang." Karin mengangguk sembari mengunyah sarapan di pinggirnya.
Keduanya duduk di meja makan sambil memakan sarapan. Hanya satu orang saya tidak ada, siapa lagi kalau bukan Iqbal. Entah apa yang dilakukannya di dalam kamar.
Erina merasa ada yang aneh dengan adiknya yang satu ini. "Tumben... sarapan di rumah? Biasanya di sekolah?" Erina akhirnya bertanya karena benar - benar penasaran.
Karin terdiam sesaat, masa iya bilang karena nasehat dari Bintang dia akhirnya sarapan di rumah. Kan malu!
"Mmm, pengen aja. Hari ini enggak banyak tugas, jadi ya! Gitu deh." Jawab Karin bohong.
"Ok! Tapi si Iqbal kemana ya? Pasti tuh anak belum bangun! Udah jam segini!! Masih molor, astaga tuh anak benar - benar ya!!" Ucap Erina dengan menggebu-gebu sambil melangkah.
Melihat pergerakan kakak tertuanya, Karin memutuskan menyudahi kemudian dengan tergesa-gesa ia meminum susunya lalu pergi sambil berteriak.
"Kak!! Aku pergi! Yaa.." pamitnya sebelum sesuatu terjadi.
Dan...ya benar saja. Ada sesuatu terjadi!
"Iqbal!!!! Ini udah jam tujuh, bisa - bisanya belum bangun?!. Heh, bangun!! Mau jadi apa kamu nanti? Bangun aja! Masih harus dibangunin!!" Omel Erina spek jadi ibu - ibu tiri mendadak.
Bisa di bilang anak pertama itu adalah ibu pengganti ketika sang ibu tidak ada di rumah. The real!! ibu tiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments