PANGGIL AKU PANGERAN DAN KAMU RATUKU

Pulang sekolah akhirnya pun tiba, semua para murid bergegas melangkah ke arah parkiran. Mengendarai alat transportasi masing-masing.

Bintang yang dari tadi menunggu kekasihnya di depan mobil miliknya, kini bergegas membukakan pintu di sebelahnya. Saat melihat Karin sedikit berlari ke arahnya.

"Silahkan masuk tuan putri" Ucap bintang memperlakukan kekasih hatinya dengan baik.

"Mpmm, kamu udah izin sama orang tua kamu kalau kita jalan bareng kan?" Tanya Bintang memastikan.

"Udah kak, tadi malam gue di kasih izin. " Karin menoleh ke arah Bintang yang fokus mengendarai mobil.

"Jangan panggil Lo dan gue. Nggak bagus kedengarannya. Kita udah jadi sepasang kekasih." Nasehat Bintang. Sesekali melirik ke arah pujaan hatinya.

Karin menoleh sebentar, "terus aku bilang panggil apa dong?" Tanya Karin dengan polosnya.

Bintang yang mendengar tertawa pelan dengan kepolosan kekasihnya ini. "Panggil aku dan kamu. Lalu nama panggilannya sayang."

"Hah" kedua bola matanya langsung membola. "Ish, nggak ah. Nanti di bilang centil sama Sisy." Jawab Karin cemberut.

"Baiklah kalau gitu, kali ini kamu harus mau. Titik nggak pakai koma. Panggil aku pangeran." Kata Bintang dan langsung di sembur tawa oleh Karin.

"Kak bintang ini ada - ada aja deh."

Bintang memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, "aku serius ratuku!!" Memasang wajah seserius mungkin. Membuat Karin tertawa terbahak-bahak kembali.

"Ratuku, cintanya akuuuu, sayangnya akuuu tolong ya! Panggil aku pangeran." Ucap Bintang memales.

Deg.

Jangan di tanya lagi gimana perasaan Karin. Tentu saja gugup, meleyot, ke-dua pipinya juga memerah merona akibat salting brutal dengan ucapan kekasihnya ini.

"Untung aja aku nggak punya riwayat jantung. Kalau 'iya' udah pingsan aku dari tadi." Kata Karin, namun hanya dalam hati.

Bagaikan tersengat aliran darah Karin mengangguk tanpa sadar, hal itu membuat Bintang tersenyum penuh kemenangan. Bintang mengelus rambut Karin yang menunduk menyembunyikan rona wajahnya.

Pria itu akhirnya kembali menjalankan mobilnya, karena ingin membawa pujaan hati ke sesuatu tempat.

. .

Masih di tempat parkir sekolah, seorang gadis cantik duduk di tempat yang sudah di sediakan pihak sekolah.

Gadis itu terus menggerutu menunggu seseorang yang sudah berjanji padanya tadi. Walau ada sebuh pohon besar dan daunnya pun lebat namun tetap saja ia merasa kepanasan.

"Ini gimana sih, kok belum keluar juga. Udah tiga puluh menitan gue nunggu di sini, tapi belum ada tanda-tanda." Gerutu Sisy, tidak sabaran menunggu Kenzo. "Kalau kartu gue nggak di blokir! Mana mau nungguin orang sampai kayak gini!!" Sisy terus mengeluh dan mengoceh tak jelas.

Orang yang di tunggu - tunggu akhirnya kelihatan dari jauh. Karena tempat parkiran sekolah lumaya jauh, kedua matanya menyipit memastikan jika yang di lihatnya tidak salah.

"Udah lama nunggu?" Tanya Kenzo tanpa beban.

"Lumayan kok kak, tiga puluh menitan" jawab Sisy berusaha terlihat baik. Takut sumber Atm-nya pergi.

"Sorry, tadi ada urusan."

"Iya kak!"

Keduanya pun berjalan ke arah tempat motor Kenzo. Kedua mata Sisy terkejut melihat kendaraan pria tampan di depannya. Bukan maksud sombong atau jahat, tapi motor yang pakai Kenzo adalah keluaran lama bisa di bilang motor jadul.

Lamunan gadis buyar mendengar namanya di panggil. "Lo ngapain di situ? Lo malu naik motor kayak gini sama gue?" Tanya Kenzo pada Sisy.

"E–enggak kok kak"

Kedua anak muda itu pun pergi meninggalkan area parkiran sekolah. Sisy terus berargumen sendiri dalam parkirannya.

"Gue pernah dengar kalau kak Kenzo dapat beasiswa di sekolah ini. Berarti dia orang pekerja keras dan pintar, sehingga bisa bersekolah disini. Benar apa yang di bilang Ella, kalau gue masih lebih beruntung." Pikir Sisy.

"Turun kita udah sampai, beli aja yang Lo mau."

Sisy menurut "Dimana kak?" Sisy mengkerut kening tak melihat mall atau restoran di sekitarnya.

"Itu" tunjuk Kenzo pada pedagang kaki lima tempat langganannya.

Sisy terkejut bukan main, ini untuk pertama kalinya ia beli makan di tempat seperti ini. Kenzo menarik tangan Sisy berjalan ke arah tempat di dekat parkiran mobilnya.

"Mang baksonya dua mangkok ya"

 Mang Andi yang mendengar Kenzo pun langsung mengangkat jempol "Baik den."

"Kak aku nggak usah makan, t–tadi istirahat kan udah makan." Bujuk Sisy merasa ragu.

"Ini den, pesanan seperti biasa nggak pakai daun bawang sama seledri." Ucap mang Andi pada langganannya

"Terima kasih mang." Jawab Kenzo pada mang Andi dan di balas dengan anggukan, walau sebenernya mang Andi penasaran dengan sosok gadis di samping Kenzo namun tetap memilih diam karena itu tidak urusannya.

"Makanlah ini enak" ujarnya lalu memakan bakso favoritnya.

Dengan penuh keterpaksaan Sisy akhirnya memakan bakso di depannya. Mungkin dia belum terbiasa di tempat seperti ini, namun bakso buatan mang Andi ini memang rasanya enak di mulut.

"Mmm...enak kok!" Ujar Sisy mangut - mangut sambil mengangguk kepalanya. Seolah menunjuk ia menyukai makanan itu.

Kenzo menoleh ke arah Sisy begitu lahap pun menyingung senyum tipis. Bahkan kini gadis yang tadi seolah enggan memakan bakso, kini malah meminta satu mangkok lagi dan langsung di lahap cepat.

"Budget pas buat gue seperti saat ini, terlebih lagi enak banget nggak kalah sama di restoran yang sering aku datangi." Gumam Sisy dalam hati, sambil terus fokus mengunyah tanpa menyadari pria di sebelahnya terus memperhatikan dirinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!